Home » Film Review » Eksodus dari Tanah Surga

Eksodus dari Tanah Surga

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Bismillah,

Ada kabar mengejutkan dalam beberapa hari terakhir ini. Berdasarkan keterangan anggota DPRD Nunukan, Ramli, ada satu desa perbatasan Indonesia-Malaysia di Nunukan, Kalimantan Timur sudah pindah seluruh penduduknya menjadi warga Malaysia. Dan kini ada 10 desa lainnya di perbatasan yang sebagian penduduknya sudah menjadi warga Malaysia [Detik, 13/11/2014]. Mereka sudah eksodus kewarganegaraan. Ramli mendapat laporan setelah meninjau ke lokasi dan berdialog dengan masyarakat perbatasan pada Rabu (12/11/2014). Penduduk ini pindah kewarganegaraan karena diperhatikan, suplai barang dan kesejahteraan juga diberikan Malaysia.

Kabar lainnya yang lebih mengejutkan datang dari Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan, Tommy Harun. Menurutnya ada tiga desa di Kecamatan Lumbis Ongong yang sudah diklaim Malaysia. Ketiga desa tersebut adalah Sumantipal, Sinapad, dan Kinokod, dengan luas wilayah 54 ribu hektare memang sudah lama menjadi sengketa antara Indonesia dan Malaysia. Karena koordinat, Malaysia mengklaim itu masuk ke wilayah mereka. Sedangkan Indonesia juga sama mengklaim itu masuk wilayahnya. [Tempo, 13/11/2014]. Permasalahan ini sebenarnya sudah lama terjadi sejak dua puluh tahun silam. Namun, tidak ada upaya dari pemerintah pusat untuk menanggulanginya. Pemda setempat sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah klaim Malaysia itu. Namun warga setempat justru lebih rela bergabung ke negeri jiran ketimbang Indonesia.

Namun, kabar ini kemudian dibantah oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), menurut Kemendagri persoalan yang terjadi di tiga desa tersebut hanya menyangkut masalah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Desa Simantipal dan Desa Sinapad berada dalam kawasan yang di dalamnya terdapat batas negara. Oleh pemerintah Indonesia dan Kerajaan Malaysia belum dipastikan bersama mengenai patok perbatasannya, lantaran pihak negara tetangga masih menangani dan memastikan batas negara yang ada di kawasan lain di wilayah Borneo/Kalimantan. Di sisi lain, pemerintah Indonesia tidak bisa melakukan pengukuran dan pemetaan secara sepihak. [Republika, 14/11/2014].

Nahh.. pendapat siapa yang benar?
Apakah persoalan hanya batas wilayah (menurut Kemendagri)?
Ataukah justru eksodus dan pencaplokan wilayah itu benar terjadi?
Anggota DPRD dan Sekda sudah blusukan ke lokasi. Apakah pihak Kemendagri ada yang sudah blusukan juga ke sana?
Ini masalah serius.

Sambil menunggu perkembangan informasi lebih lanjut dan akurat, saya teringat dengan sebuah film nasional yang dirilis 2 tahun lalu yang menggambarkan desa tersebut. Minggu siang kemaren saya nonton kembali bersama keluarga dan mendiskusikannya. Film tersebut adalah “Tanah Surga … katanya” yang mengisahkan kehidupan di perbatasan (daerah terluar Kalimantan). Film yang disutradarai oleh Herwin Novianto ini mencoba menelisik kehidupan nyata antara rasa cinta tanah air dan kenyataan sulitnya mencari penghidupan di negara sendiri.

SINOPSISnya sebagai berikut:

Hasyim, mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965 hidup dengan kesendiriannya. Setelah istri tercintanya meninggal, ia memutuskan untuk menduda dan tinggal bersama Haris, anak laki-laki satu-satunya yang juga menduda dan bersama dua orang anak Haris, Salman dan Salina. Hidup di perbatasan Indonesia-Malaysia membuat serba dilematis, karena masih didominasi oleh keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Masyarakat perbatasan harus berjuang sangat keras untuk mempertahankan hidup mereka. Namun demikian, kesetiaan dan loyalitas Hasyim pada bangsa dan negara membuat ia bertahan tinggal.

Haris kemudian memilih hijrah ke Malaysia karena menurutnya Malaysia jauh lebih memberi harapan bagi masa depannya. Persoalan semakin meruncing ketika Hasyim tahu bahwa Haris ternyata sudah menikah dengan perempuan Malaysia dan bermaksud mengajak Salman dan Salina. Salman yang dekat dengan sang kakek memilih tetap tinggal di Indonesia.

Sikap kukuh Hasyim, jelas mengharukan karena ia tetap percaya pada pemerintah Indonesia di tengah beratnya kehidupan sosial ekonomi.

Astuti, seorang guru SD di kota datang tanpa direncanakannya. Ia mengajar di sekolah yang hampir roboh karena setahun tidak berfungsi. Tak lama berselang dr. Anwar, seorang dokter muda datang ke daerah itu, yang kemudian oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan dokter intel.

Suatu hari, Hasyim sakit. Dr Anwar berusaha memberikan perawatan rutin plus obat-obatan. Namun, keterbatasan sarana dan obat, membuat kondisi Hasyim memburuk. Dr Anwar memutuskan untuk membawa Hasyim ke rumah sakit kota. Dengan uang hasil kerja keras Salman (selama meninggalkan sekolah untuk sementara waktu), Hasyim dibawa pakai perahu. Mereka berangkat ditemani oleh Astuti dan dr. Anwar.
Apakah Hasyim berhasil disembuhkan?
Silakan temukan jawabannya dengan menyaksikan film yang bermutu ini.

Secara keseluruhan, pesan-pesan dalam film ini tergambar dalam puisi yang dibawakan Salman di bawah ini.

Tanah Surga
oleh Salman

Bukan lautan hanya kolam susu … katanya.
Tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang minum susu.

Kail dan jala cukup menghidupimu … katanya.
Tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara.

Tiada badai tiada topan kau temui … katanya.
Tapi kenapa ayahku tertiup angin ke Malaysia?

Ikan dan udang menghampiri dirimu … katanya.
Tapi kata kakekku .. awas ada udang dibalik batu!

Orang bilang tanah kita tanah surga,
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman … katanya.
Tapi kata dokter intel belum semua rakyat sejahtera, banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.

Trailer:


Film yang telah dinobatkan sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia 2012 ini layak ditonton agar terbuka mata kita semua. Satu pesan penting yang ingin disampaikan sutradara, Indonesia yang kaya raya sesungguhnya masih banyak warga terlunta terutama di wilayah perbatasan. Di tengah himpitan hidup dan kesempatan terbuka di negeri seberang, sebagian rela meninggalkan Indonesia.

Dalam film ini digambarkan berbagai ketimpangan kehidupan antara masyarakat Indonesia dan Malaysia yang tinggal di perbatasan, diantaranya:

  • Keadaan di daerah Malaysia jauh lebih modern (mulai dari kondisi jalan, sarana transportasi, sekolah, pasar, sarana kesehatan, dan prasarana lainnya) dibandingkan daerah Indonesia yang kondisinya memprihatinkan.
  • Mata uang Ringgit lebih dikenal daripada Rupiah, karena masyarakat perbatasan RI lebih banyak berbisnis di pasar Malaysia.
  • Sinyal komunikasi di Malaysia lebih lancar dibandingkan wilayah RI perbatasan.
  • Banyak anak penduduk RI perbatasan yang yang tak bisa menggambar bendera merah putih.
  • Masyarakat Indonesia di perbatasan lebih mengenal lagu-lagu di radio ketimbang lagu kebangsaannya sendiri, bahkan dalam film tersebut ada anak yang menganggap lagu “Kolam Susu” Koes Plus sebagai lagu kebangsaan.

Persoalan perbatasan memang sangat krusial, karena terkait masalah ekonomi, infrastruktur, pendidikan, air bersih dan listrik.

Bila kita hidup di daerah perbatasan dengan keadaan seperti itu, jelas akan dihadapkan pada pilihan dilematis: Nasionalisme atau Kesejahteraan?

KUNCI PENYELESAIAN

Kabar dicaploknya beberapa desa di Nunukan adalah kabar serius yang harus segera diklarifikasi Presiden Jokowi. Isu ini sangat sensitif. Isu pencaplokan wilayah adalah isu keutuhan negara dan harga diri Bangsa.

Kita patut risau apabila desa-desa tersebut penduduknya menjadi warga Malaysia, maka kawasan perbatasan pun akan bergeser. Apalagi di kawasan itu masih berstatus abu-abu. Semoga pemerintah pusat segera bertindak untuk menuntaskan itu, seperti lewat perundingan. Jangan sampai soal penduduk dan perbatasan ini menjadi bumerang.

Status lahan di sekitar perbatasan juga perlu diperjelas. Bila sebagian penduduk itu benar-benar telah berpindah kewarganegaraan, mereka tidak lagi berhak atas tanah tersebut. Mereka akan kehilangan kewarganegaraan Indonesia karena kita anut Dwi-Kewarganegaraan Terbatas hanya berlaku sebelum usia dewasa. Padahal, sesuai dengan UU Agraria, warga negara asing tidak bisa memiliki hak milik tanah di republik ini.

Kunci menyelesaikan masalah perbatasan adalah meningkatkan kesejahteraan penduduk. Pertumbuhan ekonomi di sana bisa didorong dengan memaksimalkan peran Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), yang dipimpin Mendagri. Kendati anggaran ini ‘hanya’ ratusan miliar rupiah, BNPP berwenang mengkoordinasikan proyek-proyek perbatasan bernilai triliunan rupiah. Anggaran pembangunan perbatasan tahun ini mencapai Rp 16,2 triliun, tersebar di sejumlah program kementerian dan daerah. Jika digunakan efektif, niscaya anggaran ini lebih dari cukup untuk memperbaiki infrastruktur dan mengembangkan perekonomian di perbatasan. Itulah pekerjaan Mendagri Tjahjo Kumolo, yang merangkap Ketua BNPP. Ia mesti mengevaluasi anggaran yang besar itu agar lebih tepat sasaran. BNPP, yang sudah beraktivitas selama 4 tahun, seharusnya memberikan hasil yang bisa dinikmati langsung oleh penduduk di perbatasan.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
17.11.2014

Catatan:
Film lainnya tentang kehidupan di daerah perbatasan adalah “BATAS” [2011], Sutradara Rudy Soedjarwo, Produser Marecella Zalianty, Penulis Slamet Rahardjo.

Advertisements

24 Comments

  1. anotherorion says:

    masalah ngene iki cuma tinggal tunggu meledak kemudian para pejabat rame2 ngeliat dan berteriak

  2. Sementara yang lainnya masih asik beradu pendapat sembari menyumpah serapah akan topik kenaikan BBM. Ah, kita-kita yang berada di perbatasan memang selalu kalah dengan topik yang sedang panas-panasnya di media…

  3. Mau dikatakan sebagai buah simalakama mungkin bisa saja ya Pak Iwan… siapa yang bisa bertahan dengan semangat nasionalisme bila nyatanya pejabatnya malah ga nasionalis, nyuruh rakyatnya berobat di negeri sendiri, para pejabat malah hobi tamasya berobat ke luar negeri. Jadi mikir juga, untuk apa teriak-teriak tentang terorisme yang katanya mengancam nasionalisme NKRI, tapi pejabatnya malah jadi teroris bagi rakyatnya sendiri, pajak mencekik leher, kesejahteraan dikapling-kapling. Blum lagi untuk kasus contoh bidang saya, para dokter dipaksa untuk mengabdi di daerah terpencil tanpa dukungan fasilitas memadai untuk menolong rakyat, malah tak jarang kita dengar berita mengenaskan dokter mati di daerah perifer: tenggelam, terkena bahaya konfilik lokal, masuk jurang, dsb. Pembangunan kesehatan yang parsial, mintanya pelayanan kesehatan merata tapi pembangunan lainnya tak merata, siapa yang betah hidup di perifer? Ya jangan salahkan kalau mereka hijrah untuk penghidupan yang lebih baik… mesti mereka gampang bilang: omong kosong dengan nasionalisme… pragmatis tapi alamiah alias sesuai fitrah kan…

  4. isnadiyah says:

    setuju dengan mas iwan, untuk meminta “nasionalisme” dari warga perbatasan, pemerintah harus terlebih dahulu meningkatkan kesejahteraan mereka. Kita tdk tau bagaimana usaha pemerintah mengatasi persoalan ini, tapi hal seperti ini biasanya biasanya baru ramai dan pemerintah baru bicara setelah terekspos di media, tp, dr kondisi yg ada di daerah perbatasan..wajar, klo sebagian qt menganggap kecil upaya pemerintah untuk masalah ini.

  5. dzikrina says:

    pernah belajar 4 tahun di Malaysia dan memahami dilema tersebut, jualan nasionalisme saja tidak cukup….

  6. JNYnita says:

    Kalau aku tinggal di perbatasan, pasti akan dilema juga.. 😦

  7. lambangsarib says:

    Seorang teman yang kini bermukim di negeri singa mengatan, “se-enak enaknya hidup di Singapura, lebih enak disini. Disana tidak bebas merdeka layaknya di Jawa. Kalau mungkin, ia ingin balik ke tanah jawa saja.”

    Lalu saya tanya, “kenapa tidak balik saja ?” Mendengar pertanyaanku, ia pun terdiam sejenak. Kemudian menjawab, “sebenarnya saya dan istri pingin pulang. Masalahnya, anak anak yang terlahir di sana tidak mau. Mereka tidak mau pulang dan tinggal di negeri leluhur.”

  8. Dyah Sujiati says:

    Dengan presiden dan pemerintahnya yg hasil pencitraan, akankah kedaulatan negara kita terjamin atau makin sebaliknya?
    Kenapa mendagri malah geger mau mengosongkan kolom ktp sedang masalah seperti ini diabaikan?
    #asyiknyaIndonesia XD

  9. ya Robb, negrikuu…. T.T

  10. Tertampar lagi kita. Dan baru bangun lagi…Semoga pemerintahan yg sekarang tak tidur mulu seperti yang lalu

  11. nyonyasepatu says:

    aku liat juga mas kemaren di berita, sedih juga ya 😦

  12. Kabar memprihatinkan dari Nunukan, Kalimantan Timur, memperlihatkan belum tuntasnya pemerintah mengatasi masalah perbatasan. Kendati kawasan rawan sengketa ini telah diperhatikan, banyak penduduk masih memilih menjadi warga negara Malaysia. Seorang politikus lokal mengungkap realitas yang terjadi di Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, itu. Ratusan orang Desa Sumantipal, Sinapad & Kinokod diperkirakan ganti kewarganegaraan. Ada juga yang ber-KTP ganda Indonesia & Malaysia.

    Kondisi dimana desa yang tanahnya adalah wilayah Indonesia, tapi penduduknya orang Indonesia yang pindah jadi penduduk Malaysia ini tidak bisa diremehkan. Sebab lamban laun Malaysia akan mengklaim desa perbatasan itu sebagai wilayah negaranya.

    Begini Cara Malaysia Kuasai Kawasan Indonesia Di Daerah Perbatasan [Tempo, 17/11/2014]

    Problem yang lebih serius muncul karena kawasan ini masih dalam sengketa. Sikap penduduk Lumbis Ogong tsb akan merugikan Indonesia. Malaysia berusaha mengklaim sebagian daerah di sana dengan mengoreksi garis batas 4 derajat 20 menit Lintang Utara. Negara tetangga ini menginginkan agar perbatasan itu dicocokkan dengan kondisi di lapangan. Padahal tapal batas ini sesuai kesepakatan Belanda & Inggris 1915, yang sudah diterima Indonesia & Malaysia sbg batas permanen.

    Selain 3 desa itu, di KalTim & KalBar, terdapat beberapa titik lain, spt P. Sebatik, Tanjung Datu, Gn Raya, Batu Aum, & Sungai Buan.

  13. Larasati says:

    sedih bacanya….semoga ada tindakan lanjut dan nyata dari pemerintahan yg sekarang.

  14. Sedih ya Mas Iwan, tanah kita yang katanya tanah surga tapi rakyanya banyak yang sengsara.

    Aku sih secara pribadi memahami keputusan mereka untuk pindah warga negara karena kondisi yang mas iwan jelaskan… patriotik, cinta negara tapi negara ngga memperhatikan mereka…

    • Kabarnya yang pindah kewarganegaraan disinyalir makin banyak. Saya baca perkembangannya di sini:

      http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/11/19/nf9xik-desa-yang-ingin-gabung-ke-malaysia-bertambah

      Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar, mensinyalir bakal bertambahnya jumlah desa di Kalimantan Utaa yang akan bergabung dengan Malaysia.

      Tiga desa di wilayah itu sudah kosong yakni Desa Labang, Sinapak, dan Tao Lumbis. Ada juga desa-desa yang masih ditempati namun warganya sudah mempunyai identitas Malaysia.

      Eksodus yang terjadi di tiga desa itu sebenarnya dilakukan bertahap selama puluhan tahun. Masalahnya, keadaan ini tidak terlalu disikapi pemerintah dengan serius.

    • Semoga ke depannya pemerintah sekarang menyikapi masalah ini dengan serius. Membangun sarana dan prasarana umum daerah perbatasan dan sarana prasaranna yang menuju daerah perbatasan tersebut.

  15. adejhr says:

    Mirip film katanya tanah kita tanah surga.

  16. jampang says:

    patriotisme seluruh Indonesia sedang diuji

  17. lazione budy says:

    serem euy.. Endonesah oh endonesah…

  18. dani says:

    Pas lihat berita tentang ini semalem miris juga Mas..

    • Iya, mas. Sudah berkali-kali pemda setempat minta perhatian pemerintah pusat, tapi tidak ada respon positif.
      Maka soal kerasnya kehidupan di sana dg segala keterbatasannya, kita jangan mudah menyalahkan mereka yg nasionalismenya luntur.. karena godaan untuk beralih kewarganegaraan begitu besar.
      Harapan mereka yg beralih kewarganegaraan Malaysia itu agar mendapat kemudahan urusan dalam aktivitas kehidupannya, seperti berbisnis, sekolah, berobat, dll.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: