Home » Ghazwul Fikri » [Dialog] Menjawab Tuduhan: Islam Kejam, Menganjurkan Perbudakan

[Dialog] Menjawab Tuduhan: Islam Kejam, Menganjurkan Perbudakan

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

perbudakan, slavery

Bismillah …

Dunia saat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertamanya adalah dunia yang masih dalam titik nadir peradabaan. Seluruh dunia tenggelam dalam perbudakan sampai Islam datang melakukan revolusi. Satu per satu dunia kemudian bangkit menuju kemuliaannya. Perbudakan hilang perlahan tapi pasti. Seluruh pintu perbudakan ditutup rapat, kecuali pintu oleh sebab tawanan dalam perang muslim melawan kaum kafir; sedangkan budak yang masih ada didorong untuk dibebaskan. Agama Islam mempunyai solusi paling canggih yang termuat dalam kitab suci terkait perbudakan.

……….

Di Sabtu siang, di dalam saung di samping rumah Nadia, selesai menyantap makan siang, terjadilah dialog antara Nadia dengan teman sekolahnya, Jenny, yang berpandangan liberal.

“Nadia, di dalam Qur’an, Allah menghalalkan berhubungan seks dengan budak-budak wanita, seperti ayat yang berbunyi:

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” [QS. Al-Mu’minun (23) :5-6]

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu.” [QS. Al-Ahzab (33) :50]

Wah wah wah … laki-laki muslim enak juga ya punya budak, bisa menyetubuhi tanpa dinikahi. Berarti Islam itu gak adil dong, di satu sisi bilang mau membebaskan perbudakan, tapi dalam ayat Quran kok Tuhan malah memperbolehkan umat Islam menyetubuhi budak. Katanya Islam melarang perzinahan… Aneh …”

=====##=====

Pemikiran Jenny di atas adalah mewakili mereka yang sering mencaci maki ajaran Islam yang kemudian dikait-kaitkan dengan tentang negara Arab yang perlakuannya buruk terhadap TKI. Padahal agama Islam jelas-jelas tidak membenarkan adanya penindasan dan pemerkosaan terhadap TKI yang dianggap budak oleh orang-orang Arab. Mereka yang melakukan itu karena terpengaruh oleh budaya jahiliyah. Sejatinya, Islam sudah berhasil menghapuskan sistem perbudakan yang notabene bukan berasal dari Islam melainkan warisan jahiliyah budaya peradaban besar sebelumnya.

Islam bukan Arab dan Arab belum tentu Islam. Jadi tidak ada kaitannya antara kelakuan oknum orang Arab dengan ajaran Islam selama bertentangan dengan hukum Al-Qur’an dan Hadits. Dan ingatlah, Islam pernah membebaskan Arab dari keterpurukan moral. Jika seandainya Arab kembali lagi kepada keterpurukan tersebut, maka itu bukan kesalahan Islam, melainkan kesalahan mereka sendiri yang telah melupakan hukum Islam yang sempurna.

Bagaimana Nadia menyikapi sindiran dan pertanyaan dari Jenny tersebut?
Mari kita simak dialog mereka di bawah ini.

=====##=====

“Jen, pembolehan itu kalau kita lihat di abad 21 sekarang ini, dimana perbudakan sudah menjadi barang yang asing, maka sekilas memang terasa aneh dan gak sesuai dengan rasio kita. Kalau sampai kita membaca ayat Al-Qur’an yang seolah menerima konsep perbudakan, bahkan pemiliknya sampai boleh menyetubuhinya, tentu saja ini aneh dan janggal rasanya.”

“Naah… khan”

“Tapi, Jen, kamu kalo bawa dalil Al-Qur’an itu lho .. mbok ya pahami dulu bagaimana proses turunnya ayat itu, kapan terjadinya, dan apa yang melatar-belakanginya. Apa kamu pikir kata ‘budak’ dalam ayat-ayat Al-Qur’an tersebut kategorinya sama seperti TKW, atau pembantu yang melalui penyalur?”

“Memang kalo dibandingin dengan budak jaman dulu, ya gak sama, Na. Tapi saat ini masih ada lho sang tuan yang memperlakukan budaknya di luar batas. Kenapa tadi kubilang aneh? karena Al-Qur’an membenarkan bahwa si budak boleh disetubuhi tuannya.”

“Jen, budak yang dimaksud dalam ayat-ayat Al-Qur’an itu benar-benar budak yang menjadi bagian dalam tatanan masyarakat, tatanan hukum dan tatanan ekonomi yang mengakui sistem perbudakaan itu. Secara formal atau hukum negara, budak diakui sebagai komoditi yang bisa diperjual-belikan. Budak tersebut jelas bukan pembantu, bukan TKW, karena tidak punya hak untuk memiliki sesuatu harta, tetapi sebaliknya, dia malah dimiliki sebagai sebuah harta. Budak tidak dianggap sebagai manusia, secara de jure dan de facto. Realita ini oleh hukum positif yang berlaku saat itu diakui sebagai sesuatu yang legal.

Zaman dulu budak boleh dikerangkeng, dan tamu yang berkunjung ke rumah tuan dari budak tersebut dapat melihatnya tanpa perlu merasa kasihan karena memang demikianlah hukum internasional yang berlaku. Pembantu jelas tidak boleh diperlakukan seperti itu.
Nahh .. itu dulu. Setelah Islam datang, segala perangkat dan sistem perbudakan telah dihapus.”

“Lha, kalo sistem perbudakan sudah dihapus … ngapain ayat dan hukumnya tetap ada dalam Al-Qur’an?”

“Yang dihapus adalah fenomenanya, perbudakannya. Namun hukum yang terkandung pada ayat itu tetap berlaku, tidak pernah di-nasakh atau dihapus dalam Al-Qur’an.”

“Hukumnya tetap berlaku? Ya itu sama aja dong dengan tidak menghapus perbudakan”

“Biar kamu paham maksudku, saya ambil contoh tentang hukum miras, … mungkin saja suatu saat nanti, manusia bisa sadar sepenuhnya akan bahaya miras, kemudian memusnahkan semua jenis miras. Hingga gak ada lagi miras di muka bumi untuk kurun waktu berabad-abad. Maka dengan tidak adanya miras dalam peradaban manusia, apakah ayat Al-Quran yang mengharamkan miras lantas dihapus? Jawabnya tentu tidak.

Ayat Al-Quran tidak akan pernah dihapus, baik hukumnya atau pun lafadznya. Sebab kalau kita mengatakan bahwa ada ayat yang dihapus, maka kita telah mengingkari salah satu dari ayat Al-Quran. Dan itu hukumnya kufur, Jen.”

“Tapi, Na, .. aku masih gak bisa terima kalo ayat-ayat perbudakan tetap ada di dalam Al-Qur’an, itu khan sama aja dengan membolehkannya.”

“Jen, yang terhapus itu bukan ayat dan hukumnya, tetapi kondisinya. Namanya juga kondisi, pasti bersifat sementara, sebab pada masanya nanti bisa berubah. Mungkin sekarang ini sistem perbudakan sudah gak ada, tetapi siapa yang bisa jamin bahwa perbudakan akan hilang selamanya?
Gak ada yang bisa jamin, … sebab kejahiliyahan manusia selalu berulang. Kebobrokan umat terdahulu yang telah Allah hancurkan, di masa mendatang bisa saja kembali terjadi. Juga seandainya suatu saat nanti terjadi perang dunia yang melumat banyak kehidupan manusia. Lalu pasca perang itu peradaban umat manusia hancur lebur, mungkin juga peradaban kembali kepada kehidupan purba. Bila suatu saat nanti umat manusia kembali jatuh ke jurang perbudakan, agama Islam telah mempunyai hukum-hukum suci yang mengatur masalah perbudakan. Al-Qur’an dan Hadits itu adalah peninggalan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang didalamnya terdapat solusi yang berlaku hingga akhir zaman.”

“Solusi mengawini budak? Hahahaha…”

“Bukan itu tujuannya, Jenny! Lebih tepatnya solusi memperbaiki peradaban manusia di muka bumi!”

Kata Nadia dengan suara tegas hingga membuat Jenny berhenti tertawa.

“Jen, Hukum Islam diturunkan secara pelan-pelan namun pasti ketegasannya di periode berikutnya. Misalnya tentang penghapusan khamar alias minuman keras, awal ayat yang pertama kali turun sama sekali tidak mengharamkan khamar, saat itu penduduk Arab biasa nyekek botol, nenggak miras. Kemudian ayat tentang khamar yang kedua turun juga sama sekali tidak mengharamkannya. Baru pada ayat yang ketiga, ada sedikit larangan untuk minum, yaitu saat menjelang shalat. Dan akhirnya pada ayat keempat yang turun, khamar diharamkan sama sekali. Begitulah, perlahan-lahan namun pasti ketegasan hukumnya.

Kalo kamu baca Al-Qur’an sepotong-potong kelihatannya ambigu. Padahal kalo dipelajari latar belakang masalahnya, mungkin bisa akan semakin jelas. Yang jelas perbudakan bukanlah produk agama Islam.”

“Kalo bukan produk agama Islam, nyatanya ada di dalam Al-Qur’an. Jangan ngarang kamu, Na. Hmm.. okey, gini aja deh… buktikan bahwa perbudakan itu secara tegas dihapuskan oleh Islam.”

“Sebelum saya jelaskan, coba deh kamu telusuri gimana keadaan sosial kemasyarakatan di masa itu sebelum abad ke-7 Masehi. Nih, kamu bisa jelajahi situs Organisasi Antiperbudakan yang juga sister-organization Anti-Slavery International,” kata Nadia sambil menyodorkan ipad yang sudah terbuka laman situs: https://www.freetheslaves.net/page.aspx?pid=303

–: ZAMAN PERBUDAKAN SEBELUM KEDATANGAN ISLAM

Setelah Jenny selesai membaca sekilas beberapa artikel di situs tersebut. Nadia melanjutkan pemaparannya.

“Jen, sebelum Islam diturunkan pertama kali, perbudakan itu sudah menjadi pola hidup seluruh umat manusia. Perbudakan itu sudah ada jaaaauuuh sebelum Al-Qur’an diturunkan. Bukan hanya di tanah Arab saja, tetapi juga di berbagai kerajaan baik yang ada di benua Eropa, Afrika, maupun Asia. Nyaris di semua peradaban manusia, pasti ada perbudakan. Di zaman Romawi kuno, Yunani, Persia, China dan hampir seluruh peradaban manusia di masa lalu telah mengenal perbudakan. Di zaman Musa sampai Yesus pun juga sudah mengenal perbudakan, dan semua keadaan itu berlangsung berabad-abad lamanya sebelum Islam datang di jazirah Arabia. Sedangkan para tokoh Yunani, seperti Plato dan Aristoteles yang hidup di zaman perbudakan pun hanya mendiamkan tindakan ini.

Negeri Arab termasuk negeri yang belakangan mengenal perbudakan, sebagaimana belakangan pula dalam mengenal kejahiliyahan dan kebejatan moral. Miras, perjudian, menyembah berhala, dan budaya-budaya kotor lainnya bukan berasal dari negeri Arab, tetapi justru dari peradaban-peradaban besar manusia lainnya. Ini penting kamu pahami terlebih dahulu, Jen, sebelum nge-judge ajaran Islam. Bangsa Arab adalah peradaban yang terkemudian mengenal budaya-budaya kotor dari hasil persinggungan mereka dengan dunia luar, karena orang Makkah itu biasa melakukan perjalanan dagang ke berbagai negeri. Justru dari peradaban-peradaban maju lainlah, masyarakat Arab mengenal kejahiliyahan. Berhala-berhala yang jumlahnya sekitar 360 buah yang pernah ada di depan dan mengotori Ka’bah itu adalah produk impor. Yang terbesar di antaranya adalah Hubal yang asli produk impor dari negeri Yaman.

Saat itu, perbudakan sudah diakui oleh hukum positif, artinya dibenarkan oleh undang-undang semua peradaban manusia. Memiliki budak, menjual, menukar dan mempertaruhkannya, adalah tindakan yang sesuai dengan hukum yang berlaku secara universal. Tiap budak ada tarif dan harganya. Hal ini sangat berpengaruh pada mekanisme pasar dunia pada masa itu. Bisa dikatakan bahwa budak adalah salah satu komoditi suatu negara, bisa diperjual-belikan dan dimiliki sebagai investasi layaknya ternak. Zaman dulu, semua tawanan perang secara otomatis menjadi budak pihak yang menang meski itu adalah keluarga kerajaan dan puteri-puteri pembesar. Bila budak yang melarikan diri dari tuannya, tidak bisa begitu saja dibebaskan oleh orang lain. Secara hukum, mengambil budak yang lari dari tuannya adalah tindakan melawan hukum. Membebaskan budak dengan tebusan adalah satu-satunya jalan yang dibenarkan saat itu.”

“Kalo tuannya berhak apa saja terhadap budaknya, apakah hukum international saat itu juga membenarkan menyetubuhi budak milik sendiri?”

“Ya. Hal tersebut sudah menjadi konvensi bahkan sebuah kelaziman. Hukum positif berlaku di masa itu untuk semua bangsa tentang budak. Jadi bukan hal yang aneh atau melanggar hukum. Ini semua terjadi bukan cuma di Arab, tapi hampir diseluruh peradaban dunia saat itu.

Nah, di tengah kondisi nyata seperti inilah Islam diturunkan. Bukan hanya untuk dunia Arab, karena kejahiliyahan bukan milik bangsa Arab sendiri. Maka wajar bila Al-Qur’an banyak menyebutkan fenomena yang ada pada masa itu termasuk perbudakan dan kebolehan menyetubuhi budak. Itu semata-mata bukan ajaran Islam dan bukan berarti Al-Qur’an menganjurkannya, tetapi merupakan petunjuk untuk melakukan kebijakan di tengah sistem kehidupan yang masih mengakui perbudakan.”

“Saat kedatangan Islam, mengapa Islam tidak langsung menghapuskan saja sistem perbudakan itu?”

“Jen, dari paparanku sebelumnya mustinya kamu paham betapa kompleksnya sistem perbudakan yang telah diakui secara internasional saat itu. Pahamilah bahwa perbudakan bukan semata-mata penindasan manusia atas manusia, tapi di sisi lain, perbudakan adalah bagian utuh dari sendi dasar perekonomian suatu bangsa. Pahamilah bahwa di masa itu perbudakan adalah komoditi. Ya, komoditi. Sehingga menghilangkan perbudakan berarti meruntuhkan sendi-sendi dasar perekonomian. Harga budak saat itu cukup mahal, Jen, seseorang dalam sekejap akan jatuh miskin bila secara tiba-tiba perbudakan dihapuskan. Contoh kasus gini, … Bayangin bila harga seorang budak 100 dinar emas, sebagaimana salah satu riwayat menyebutkan tentang harga Bilal saat dibebaskan. Padahal kita tahu bahwa satu dinar emas itu senilai dengan harga seekor kambing. Kalau seekor kambing seharga sejuta rupiah, berarti seorang budak seharga 100 juta rupiah. Bayangin kalau satu orang tuan di Makkah memiliki 10 budak, maka nilai assetnya sekitar 1 Milyar. Nahh, kalau tiba-tiba budak dihapuskan dalam satu ketukan palu, maka jelas sekali ekonomi akan goncang dan runtuh. Tentu saja Islam tidak akan meruntuhkan sendi-sendi ekonomi suatu bangsa.

Oleh karena itu Islam tidak secara tiba-tiba menghapuskan perbudakan dalam satu hari. Islam menghapuskan sistemnya melalui proses kultural dengan pendekatan yang smooth, agar tidak ada orang yang dirugikan secara finansial, sehingga sendi-sendi ekonomi tidak akan rusak atau runtuh.”

–| PROSES ISLAM MENGHAPUSKAN PERBUDAKAN

“Aku jadi penasaran gimana Islam menghapuskan perbudakan yang caranya kamu bilang smooth itu?”

Sebelum menjawab pertanyaan Jenny, Nadia minum jus buah naga yang ada dihadapannya dan menikmatinya sejenak.

“Jen, Islam membuat aturan bahwa ada banyak pintu untuk membebaskan budak, diantaranya:

Pintu Pertama: lewat hukuman atau kaffarah atau denda. Seorang yang melakukan suatu dosa tertentu, ada pilihan denda yaitu membebaskan budak. Misalnya, melakukan hubungan suami isteri siang hari di bulan Ramadhan, kafarah karena melanggar sumpah (dalam QS Al-Maidah:89) dan lain-lain, begitu juga jika melukai budak tersebut.

Pintu Kedua: lewat mukatabah, yaitu perjanjian yang dibuat oleh seorang budak agar diberi hak untuk membebaskan atau menebus dirinya sendiri dengan angsuran yang tidak boleh dihalangi oleh tuannya. Sebelum Islam datang, budak tidak memiliki hak untuk itu. Perjanjian ini dianjurkan oleh Al-Qur’an:
“… Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka …” [QS. An-Nuur (24) : 33]

Pintu Ketiga: lewat sedekah atau tabarru’. Seseorang tidak melakukan dosa, tapi dia ingin punya amal ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, maka dia pun membebaskan budak miliknya, atau membeli budak milik orang lain untuk dimerdekakannya.

Pintu Keempat: lewat menikahi budak. Islam menetapkan bahwa semua budak yang dinikahi oleh orang merdeka, maka anaknya pasti menjadi orang merdeka. Sehingga secara nasab, perbudakan akan hilang dengan sendirinya. Itulah salah satu rahasia mengapa menikahi budak sendiri dibenarkan dalam Islam, jawabnya karena anak yang akan lahir dari rahim wanita itu akan menjadi orang yang merdeka. Tanpa harus kehilangan hak atas nilai asset yang dimiliki secara langsung.

Pintu Kelima: lewat alokasi penyaluran zakat.

Dan masih banyak lagi pintu-pintu lain yang bisa dimanfaatkan untuk mengantarkan para budak menemui kebebasannya. Umat Islam telah didorong untuk membebaskan perbudakan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan Kami telah menunjukkan dua jalan. Tetapi ia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” [QS. Al-Balad: 11-13]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa saja seorang muslim yang membebaskan seorang budak yang muslim, maka perbuatannya itu akan menjadi pembebas dirinya dari api neraka.“ [HR.Tirmidzi, Imam al-Mundziri berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan beliau mengatakan hadits ini Hasan Shahih (No. 1547)]

Jadi, kalo kamu baca ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits hampir semua hukum yang berkaitan dengan perbudakan itu berintikan pembebasan mereka dengan dua cara yaitu: [1] Semua pintu yang mengarah kepada pembebasan budak terbuka lebar. Dan sebaliknya, [2] semua pintu menuju kepada eksisnya perbudakan tertutup rapat. Dengan demikian, secara sistematis dan proses yang alami, jumlah budak akan habis seiring perjalanan waktu. Perbudakan telah hilang dari dunia Islam jauh sebelum orang Barat meninggalkan perbudakan. Di dunia dengan negara-negara yang marak perbudakan, Islam lah yang sebenarnya mulai menghapuskan perbudakan yang kemudian berangsur-angsur diikuti oleh negara Barat setelah universalisme Islam menyebar.”

–: MENJAWAB TUDUHAN

“Lha, trus, gimana dengan ayat-ayat yang membolehkan laki-laki menyetubuhi budaknya seperti yang kupaparkan tadi, Nadia?”

“Al-Quran memang membolehkan laki-laki menyetubuhi budak perempuannya, Jen, tapi itu budaknya sendiri, bukan budak orang lain. Sesuai dengan ruh Islam yang datang dengan tujuan yang salah satunya adalah membebaskan perbudakan di muka bumi ini, maka salah satu pintu pembebasan adalah dengan menganjurkan kepada para tuan untuk mengawini budaknya, sehingga secara otomatis terbebas dari perbudakan. Perhatikan ayat ini:

“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. An-Nisaa (4) :24]

Kaum orientalis dan para pembenci Islam hanya mengutip satu ayat di atas, dan juga ayat yang kamu sebut tadi, padahal ayat lanjutannya itu penting …

“Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An-Nisaa (4) :25]

Intinya, bahwa dalam ayat tersebut memuat sebuah pernyataan bahwa kita diharamkan menyetubuhi budak-budak tersebut tanpa ada ikatan perkawinan/pernikahan. Ayat lainnya yang artinya:

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.” [QS 24:33].

Selain menjelaskan maksud pembebasan pintu ke-empat, ayat ini juga menegaskan bahwa jangankan melakukan perzinahan, mau mengawini budak pun tetap saja harus menghargai dan menjaga kehormatan mereka, ketika mereka menginginkan sebuah perjanjian kita harus menerima perjanjian itu, dan selain itu kita juga diharamkan memaksa mereka untuk melakukan pelacuran.

Jadi, jelas sudah semuanya, bahwa tidak ada unsur perzinahan dalam hal ini. Dan ketika budak tersebut menginginkan perjanjian atas perkawinan yang kita inginkan, itu artinya tidak ada unsur pemaksaan pula dalam hal itu.

Akan menjadi suatu kesalahan besar apabila kita hanya membaca beberapa ayat tanpa memperhatikan apakah ada ayat lain yang merujuk pada penjelasan tentang hal dimaksud.”

“Argumentasimu tentang Islam menghapuskan perbudakan itu bisa kuterima, Nadia, tetapi mengapa Islam tidak melarang atau mengharamkan saja praktek perbudakan?”

–: ISLAM MEMPERLAKUKAN BUDAK DENGAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN

“Jen, Islam memang tidak mengharamkan secara mutlak perbudakan, dan tadi kita pun telah mendiskusikan definisi yang sebenarnya siapa itu budak? Namun, kamu juga harus mempelajari bagaimana mendapatkan budak yang benar dalam Islam? Bagaimana perlakuan terhadap budak yang sesuai ajaran Islam? Apa saja hak budak? Semua ini TIDAK SAMA seperti yang berlaku pada zaman kegelapan dimana sistem perbudakan diterapkan.”

“Baiklah, sekarang aku tanya, .. oleh sebab apa seseorang bisa menjadi budak?”

“Perbudakan yang diterima oleh agama Islam terbatas pada tawanan perang, Jen, gak ada sebab-sebab lainnya.”

“Mengapa tawanan perang itu dijadikan budak?”

“Ya karena itulah satu-satunya jalan yang terbaik, bijaksana dan adil dalam memperlakukan mereka, daripada sekedar mendekam dalam penjara. Dengan cara itu tawanan perang yang berasal dari golongan kafir dididik dengan ruh Islam, sehingga perlahan-lahan mereka menjadi bagian dari masyarakat Islam yang bebas dan merdeka.”

“Selama menjadi budak, bagaimana perlakuan sang tuan terhadap budaknya dalam ajaran Islam, apakah ada guidance?”

“Alhamdulillah, ada, Jen. Sembari menghapus perbudakan secara bertahap, Islam pun mengatur agar budak yang masih ada harus diperlakukan dengan baik.

“Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan), dan budak yang kamu miliki …” [QS. An Nisaa :36].

“Bagaimana bentuk penghambaan diri seorang budak terhadap tuannya dalam ajaran Islam?”

“Kalau makna penghambaan dalam Islam ialah tunduk, merendahkan diri serta patuh kepada Allah, dengan mentaati perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-laranganNya. Sedangkan dalam perbudakan manusia, Islam membatasinya menjadi hanya kepatuhan fisik. Ibnul Qoyyim dalam I’lamul Muqi’in menyatakan bahwa pemilik budak hanya berhak atas jasmani, bukan pikiran dan nurani budaknya. Karena itulah pemilik budak tidak boleh memaksa budaknya untuk memeluk agama Islam. Kepatuhan fisik pun dibatasi hanya untuk perintah yang tidak menyuruh berbuat maksiat.

“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi.” [QS.An Nuur: 33].

Kepatuhan fisik pun dibatasi untuk tidak berlebihan dalam memberi pekerjaan kepada budaknya. Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bagi seorang budak (wajib diberikan) jaminan pangan dan sandangnya. Dia tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya.” [HR. Muslim].

“Tadi kamu sampaikan bahwa dalam sistem perbudakan jaman dulu, status budak sangatlah hina. Budak dianggap sebagai makhluk setengah binatang dan setengah manusia yang tidak memiliki dirinya sendiri, lantas bagaimana Islam memperlakukan seorang budak dalam sebuah keluarga?”

“Ketika Islam datang, justru Islam memposisikan budak sebagai anggota keluarga. Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Budak-budakmu adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka bernaung di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa saudaranya yang berada di bawah naungan kekuasaannya hendaklah mereka diberi makan serupa dengan yang dia makan dan diberi pakaian serupa dengan yang dia pakai. Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka tunaikan. Jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikut membantu mereka.” [HR. Bukhari].

Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Bila budak salah seorang di antara kamu membuatkan makanan untukmu, kemudian dia membawanya padahal ia sudah merasakan panas dan asapnya; maka hendaklah kamu mengajaknya duduk bersama, lalu makan. Jika makanannya sedikit, maka hendaklah kamu menaruh di tangannya (memberinya) satu suap atau dua suap.” [HR Bukhari, Muslim, Tirmidzy dan Abu Dawud. Muslim memuatnya dalam bab “Memberi makan budak,” Tirmidzy dalam bab “Hadits-hadits mengenai makan bersama budak dan keluarga”].

Karena menganggap budak sebagai bagian dari keluarga, Islam pun memberikan hak bagi para budak untuk menikah”

“Oh ya?! Wah, bisa sampai perhatian begitu …”

“Perhatikan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang (sudah) layak (menikah) dari budak-budakmu yang lelaki dan budak-budakmu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.” [QS.An Nuur: 32].

Kalau sudah menikah, maka status budak tersebut bebas, menjadi hamba yang merdeka.

“Apakah dalam tatanan masyarakat Islam, seorang budak dianggap sebagai warga negara kelas dua?”

“Jen, Islam tidak mengenal kelas-kelas manusia, seperti istilah kasta dalam praktek agama Hindu. Semua manusia sama kedudukannya di hadapan-Nya, yang membedakannya adalah tingkat ketakwaan. Bahkan Islam tidak melarang seorang budak mengimami jamaah sholat. Imam Bukhari ada meriwayatkan bahwa bunda Aisyah pernah diimami shalatnya oleh budaknya yaitu Dzakwan yang membaca dari Al-Qur’an (bukan dari hafalan).

Berdasarkan tingkat ketakwaannya, bila ia wanita budak yang mukmin malah dikategorikan lebih mulia derajatnya daripada wanita merdeka yang musyrik.

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” [QS. Al-Baqarah (2) :221].

“Dalam hukum positif di masa perbudakan dulu, seorang tuan boleh melakukan apa saja terhadap budaknya bila budak tersebut melakukan kesalahan. Bagaimana dengan Islam?”

“Dalam Islam, pemilik budak dilarang menganiaya budaknya. Ada hadits-hadits yang berkenaan dengan hal itu sebagai berikut:

Abu Sa’id Al Badri berkata: Aku sedang menyambuk budakku yang muda, lalu aku mendengar suara orang menyeru dari belakangku. Orang itu berkata, “Ketahuilah hai Aba Mas’ud (panggilan Abu Sa’id).” Sungguh aku tidak tahu suara siapakah itu karena ketika itu aku sedang marah. Ketika orang itu mendekatiku tahulah aku ternyata yang datang adalah Rasulullah saw. Beliau berkata, “Ketahuilah hai Aba Mas’ud…Ketahuilah hai Aba Mas’ud.” Mendengar perkataan itu aku campakkan cambuk dari tanganku. Beliau kemudian melanjutkan ucapannya, “Ketahuilah, hai Aba Mas’ud, sesungguhnya Allah lebih mampu bertindak terhadapmu daripada tindakanmu terhadap anak muda itu.” Aku spontan menjawab, “Ya Rasulullah, dia sekarang ini aku merdekakan karena Allah.” Nabi Saw berkata, “Kalau kamu tidak memerdekakannya maka api neraka akan menjilatmu.” [HR. Muslim].

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Jangan memukul budak perempuanmu hanya karena dia memecahkan barang pecah-belahmu. Sesungguhnya barang pecah-belah itu ada waktu ajalnya seperti ajalnya manusia.” [HR. Abu Na’im dan Ath-Thabrani].

Khalifah Umar bin Khattab pernah menghukum pemilik budak yang memperlakukan budak wanitanya secara kasar, dan Umar kemudian memerdekakan budak tersebut (Ibnul Qoyyim dalam I’lamul Muqi’in, dan At Tahayuib An Najjar dalam Al Mawaliy fi Ashril Umawy).

Para ulama pun mengatakan bahwa Hakim berhak memerdekakan budak yang diperlakukan kasar oleh majikannya. [Fiqih Sunnah, Op. Cit. hal. 66].

“Dalam masa perbudakan di jaman kegelapan, budak-budak dibiarkan dalam kebodohan dan keterbelakangan, lantas bagaimana dengan Islam?”

“Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa sallam justru memotivasi umatnya dengan menyerukan keutamaan orang yang memberikan pendidikan bagi budaknya.

Abu Musa berkata, Rasulullah saw bersabda: “Tiga (golongan) mendapat dua pahala, yaitu seorang Ahli Kitab yang beriman kepada Nabinya kemudian beriman kepada Muhammad saw; budak yang menunaikan hak Allah Ta’ala dan hak majikannya; dan seorang laki-laki yang mempunyai budak wanita yang dididiknya secara baik serta diajarnya secara baik, kemudian dimerdekakannya dan lalu dinikahinya, maka ia mendapat dua pahala.” [HR Bukhari].

Masih banyak lagi keterangan tentang bagaimana hukum Islam dalam memperlakukan budak. Kamu bisa baca artikelnya Elif Eryarsoy Aydin, yang berjudul: Prophet Muhammad’s Attitude towards Slavery from the Perspective of Human Rights. Referensi lainnya akan kukirim ke emailmu, agar menambah wawasanmu, sehingga gak gampang nge-judge tapi dangkal.”

—–| Dialog Berakhir |—–

KESIMPULAN DIALOG:

Sungguh suatu kebohongan besar bila ada yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang menganjurkan perbudakan serta perlakuan buruk terhadap budak. Perkataan itu menunjukkan kedangkalan ilmunya karena Islam lah yang memulai menghapuskan perbudakan. Maka siapapun yang mengatakan Al-Qur’an melegalisasi aksi perbudakan dan penyetubuhan terhadap budak, maka dia perlu belajar sejarah lebih dalam sebelum berbicara atau beropini. Dengan sudah berakhirnya era perbudakan manusia oleh sebab turunnya agama Islam, maka otomatis urusan kebolehan menyetubuhi budak pun tidak perlu dibicarakan lagi. Karena perbudakan sendiri sudah dilenyapkan oleh syariah.

Selain menerima sistem perbudakan, Islam juga telah menetapkan rangkaian hukum dan ketetapan yang tegas untuk menjaga hak-hak dan maslahat para budak serta untuk membebaskan mereka. Di samping menetapkan undang-undang wajib yang memudahkan kebebasan budak, Islam juga sangat menekankan kepada pengikutnya untuk menjaga hak-hak mereka dan menyikapi mereka dengan punuh kelembutan serta kasih sayang, maka tidak heran jika peneliti non muslim sekali pun menilai sikap masyarakat muslim terhadap kaum budak jauh lebih adil dan bijaksana dibanding sikap bangsa-bangsa lain terhadap mereka, bahkan budak masyarakat muslim seolah-olah menjadi anggota keluarga mereka sendiri dan hidup mulia. Selain itu semua, di bidang hukum pidana, Islam juga telah membuka peluang besar untuk meringankan hukuman mereka.

Untuk membebaskan perbudakan, agama Islam lah pelopor dan gurunya, sebagaimana toleransi. Islam sudah bicara tentang pembebasan budak 1400 tahun yang lalu sebelum dunia bicara tentang itu. Dunia datang berikutnya dengan kondisi telah melihat dunia Islam bebas dari perbudakan. Jadi, mengambil tema perbudakan untuk menyerang Islam itu blunder, karena ini justru bagian dari kecanggihan sistem Islam.

Sedangkan negara Barat yang dipuja-puja para pembenci Islam nyatanya menghapuskan budak hanya dalam kosa kata. Penjajahan Amerika Serikat atas Irak, Afghanistan; Israel atas Palestina. Itu istilahnya apa?
Sejatinya Amerika Serikat tidak menghapuskan perbudakan, ia sekedar menghapus istilah perbudakan. Karena perbudakan individu atas individu, bangsa atas bangsa masih terus terjadi, merampas dan mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia. Itu apa namanya?

Wallahu a’lam bishshawab.

Salam #IndonesiaTanpaJIL,

Iwan Yuliyanto
09.02.2015

Advertisements

24 Comments

  1. […] Kamis sore, di penghujung tahun 2015 ….. Setelah meluruskan pandangan Jenny yang menganggap Islam kejam karena menganjurkan perbudakan, Nadia kembali mengajaknya berdiskusi. Kali ini tentang topik yang pada hari itu menjadi headline […]

  2. Perbudakan merupakan salah satu hal yang saya pertanyakan sejak saya mulai aktif belajar islam. Alhamdulillah artikel ini menjawab semua keraguan saya, dan insya Allah membukakan pikiran saya yang dulu salah memahami persoalan ini. Ternyata saya dulu tidak membaca terjemahan ayat-ayat al Quran mengenai perbudakan dengan seksama sehingga saya salah paham. Menariknya, Anda juga memaparkan fakta sejarah yang mendukung argumentasinya. Terima kasih atas artikelnya.

    • Alhamdulillah, kini sudah tak salah paham lagi.

      mbak Ranhae bisa menyimak dialog fiktif lainnya antara Nadia dan temannya yang beraliran liberal pada menu:
      This is Islam >> Ghazwul Fikri
      Semoga bermanfaat.

  3. Duh harusnya saya dari dulu mencari artikel hukum Islam tentang perbudakan ini ya Mas Iwan. Nyesel dulu sempet ada yang nanya, tapi saya sendiri kebingungan.
    Tulisan yang penuh ilmu dari Mas Iwan seperti biasa 🙂

    • Alhamdulillah, semoga kini tidak kebingungan lagi ya, mbak Zahra.

    • Alhamdulillah terima kasih lho Mas Iwan. Alhamdulillah sudah setahun kerja ga terasa, blog ini baru bisa dibuka lagi sekarang makanya baru sempat bales hehe.

      Mas, saya request untuk bahas tantang jurnal keislaman lagi dong.. 🙂

    • Alhamdulillah.. semoga lancar pekerjaanmu.
      Jurnal keislaman misalnya fokus tentang apa, mbak Zahra?
      Saya juga gak terasa nih, hampir sebulan ini saya gak ngisi blog, fokus ngisi workshop. Sekarang sudah mulai rada longgar, semoga weekend ini bisa meluangkan waktu buat nulis. Rencananya nulis sesuatu yang lagi panas saat ini tentang Ujaran Kebencian. Saya coba kemas dalam pandangan Islam.

  4. anotherorion says:

    intinya kena banget, biarpun perbudakan sudah hampir tidak ada, hukumnya di Qur’an tidak dihapus biar tetep dijadikan pegangan seandainya suatu saat nanti ada fenomena semacam ini lagi akibat perang dsb.

    maturnuwun mas iwan, seperti biasa tulisane joss banget, semoga bisa memuaskan mbak yang kemarin itu 🙂

  5. itsmearni says:

    Baca tulisan ini harus pelan-pelan dan menjauhkan diri dulu dari pikiran negatif, karena klo tidak nanti jatuhnya malah gagal paham
    Saya ikut baca ya mas Iwan
    Makasi sharingnya 🙂

  6. esti kristikasari says:

    Jujur awalnya saya tak terlalu paham ttg mslh perbudakan ini, pak..skrg terang benderang..

    • Alhamdulillah, jadi gak perlu minder kalo disampaikan argumen sesat seperti ini:

      Salam #IndonesiaTanpaJIL

    • esti kristikasari says:

      Minder enggak lah, pak 🙂 kan yakin betul dg kebenaran dan kesucian Al Qur’an.. Hanya sj penjelasan utuh dan mudah dipahami shg mudah jg utk kita transfer ke pihak lain ttg hal2 ‘sensitif’ itu yg kdg tak kita miliki krn minim ilmu, shg sdh pasti ga bisa jg mjelaskannya dg gamblang hehee… Nha tulisan ini betul betul mpjelas kebenaran itu.. Jzk pak Iwan *bertekad ingin punya byk waktu utk baca tulisan2 bpk yg lain :D*

    • Alhamdulillah. Benar, mbak Esti, memang harus seperti itu, punya keyakinan tinggi akan kebenaran dan kesucian Al-Qur’an.

      Maksud saya tadi saya tujukan kepada kita semua, termasuk saya, agar tidak mudah silau dan terpedaya oleh hal-hal yg kelihatan ilmiah, namun menyalahi kedua wasiat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

  7. If ignorant people want to criticize the Quran with the argument that mentioning slavery is a sign that Islam approved slavery, tell them to read the Old Testament.

    When will people learn that understanding the historical, anthropological, and sociological context is necessary to appreciate those holy books?

  8. indri says:

    Harusnya jalal belajar soal islam lebih banyak nih.

    Jalal itu dr sine india jodha akbar pak.
    Raja islam yg menikahi ratu hindu. Yg menghapus perbudakan di istana malah ratu hindu nya.
    Bny kontrofersi soal islam di sine yg 1 ini.
    Terimakasih narasinya pak. Sgt mencerahkan

    • Sebagian besar cerita dlm sine Jodha Akbar adalah palsu, digambarkan kerajaan Islam Mughal dgn sangat negatif, penuh dgn kebusukan, persaingan tidak sehat, kedengkian, menghalalkan segala cara bahkan zalim, seperti menyerang tempat ibadah agama lain (sungguh jauh dari ajaran Islam dan sejarah aslinya).

      Sebaliknya, tokoh Jodha yg merupakan representasi umat Hindu / kerajaan yg berhasil ditaklukkan kerajaan Muslim Mughal digambarkan sangat positif, spt taat thd ajaran agamanya, digambarkan sbg “korban yg tertindas”, selalu berpikir jernih, dsb.

      Secara gestur dan penampilan tokoh Muslim terlihat begitu bengis dan kejam, sementara tokoh Hindu terlihat lebih santun.

      MUI sudah mendesak penghentian film tsb karena kepalsuan itu:
      http://www.muslimdaily.net/entertainment/mui-hentikan-penayangan-film-jodha-akbar.html

  9. darsonogentawangi says:

    Sudah mjd sunatullah bahwasanya kebaikan akan selalu dihadapkan pd kejahatan…. Janji iblis utk menggoda anak2 Adam, mulai dari depan, belakang, samping kiri, kanan adalah nyata apa adanya…
    termasuk mereka2 yg dg seenaknya main potong ayat…. hmmmm….

  10. Dyah Sujiati says:

    Liberalis dan orientalis itu kan emang kebiasaan motong2 ayat seenak jidatnya. Kalau pun sudah dijelaskan mesti masih membantah. Istilahnya mereka ini bebal. 😀

  11. isnadiyah says:

    Pembenci-pembenci islam akan terus mencari celah ya pak iwan untuk terus menyerang islam, padahal mereka gak tau bahwa islam sdh bgitu sempurna dengan alquran dan hadist yg sdh d wariskan buat qt.

    • Betul, mbak Isna. Maka kalo mereka bersemangat merusak Islam dari dalam, maka kita harus lebih bersemangat lagi memberikan pencerahan.

    • isnadiyah says:

      Iya pak, bener..qt harus semangat..tp sebelumnya qt harus harus bener2 paham ilmunya, jgn sampai justru kr krn ilmu qt yg dangkal d jadikan celah buat mereka, so..thanks ya pak buat tulisan nya, nambah ilmu banget.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: