Home » Film Pendek » One Hundredth of a Second | Etika Dalam Foto Jurnalisme

One Hundredth of a Second | Etika Dalam Foto Jurnalisme

Blog Stats

  • 2,054,288

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Bismillah …

Film pendek: “One Hundredth of a Second” yang berdurasi 6 menit karya Susan Jacobson dan Alex Boden ini telah memperoleh penghargaan di Eropa sepanjang tahun 2006 – 2007.

Berkisah tentang Kate, seorang jurnalis foto yang mempunyai talenta dan ambisius.

Suatu ketika ia berada dalam situasi yang menegangkan di dalam zona perang Eropa Timur. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada gadis kecil yang berlari di tengah-tengah kekacauan perang. Bagi seorang jurnalis foto, fotografer atau siapapun, adanya anak atau gadis kecil yang berada di area peperangan adalah momen yang tidak boleh terlewatkan untuk diabadikan. Begitu juga dengan Kate yang baru meniti karir sebagai jurnalis foto, ia pun kemudian lebih banyak fokus memotret gadis kecil tersebut, dan mengikuti kemanapun perginya. Kate berharap bidikannya bakal menjadi karya yang spektakuler sekelas Pulitzer Award.

Dan tiba saatnya Kate pun berada dalam situasi dimana ia melihat gadis kecil tersebut diinterogasi orang bersenjata dengan senapan AK-47 ditodongkan pada kepalanya. Maka Kate yang telah mengikuti gadis kecil itupun dihadapkan pada dua pilihan:

1. Apakah tetap fokus membidik si gadis kecil itu demi sebuah penghargaan “New Photografer of the Year”?

ataukah

2. Menyelamatkan nyawa si gadis kecil itu yang sempat kontak mata dengannya, sebagai sinyal memohon bantuan?

Selamat menonton.



So, how how do you think … if a person is in mortal danger, do you continue to do your job by taking a photograph rather than getting involved and helping?

This film is a reminder of the horror behind the images of war that face us in the media every day.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
09.02.2015

Advertisements

20 Comments

  1. […] One Hundredth of a Second | Etika Dalam Foto Jurnalisme […]

  2. esti kristikasari says:

    Tadinya berharap dia menolong 😥

    • Foto yang memenangkan Pulitzer Award di bawah ini sangat terkenal hingga hari ini …

      Sang photo-journalist fokus mengabadikan sang anak kelaparan yang sedang mengais-ais sisa-sisa makanan di tanah, sementara di belakangnya burung pemakan bangkai seperti tahu kapan anak itu akan meninggal dunia akibat busung lapar.

      Lewat tulisan yang ditemukan setelah sang photo-journalist tsb ditemukan bunuh diri, ia mengakui sangat menyesal karena tidak bisa menolong anak kelaparan tsb.

    • esti kristikasari says:

      Yaa Rabb 😥 … Keputusan jurnalis mnunjukkan betapa fitrah manusia yg selalu cenderung kpd kebenaran tak pernah bisa tertipu. Prnh lihat foto ini..cuma baru tahu crita di baliknya. Mksh pak Iwan

    • Film pendek ini mungkin terinspirasi dari kisah orang-orang seperti Kevin Carter pemenang Pulitzer Award, adegan Kate yang muntah di akhir film seperti menunjukkan kembalinya kesadaran dan nilai-nilai kemanusiaan dalam dirinya.

      Salah satu berita terkait Kevin Carter: http://www.unbelievable-facts.com/2013/12/kevin-carter-committed-suicide-3-months.html

      Carter won the Pulitzer Prize for this photo but couldn’t enjoy it because he regretted not helping the child. He was consumed by the violence he had witnessed and haunted by questions about the fate of the girl. He told an interviewer that after this he smoked cigarettes under a tree and cried. 3 months after receiving the price, Carter committed suicide.

  3. pilihan yang menguras emosi jiwa….., jadi ingat foto anak yang lari telanjang di perang vietnam….memang fotonya bisa dapat pulitzer…sang anak juga konon sudah besar saat kini…..,
    keep happy blogging always…salam dari makassar 🙂

  4. itsmearni says:

    Sungguh sebuah pilihan yang sulit
    Tapi sebenarnya ketika fotografer punya hati dan rasa kemanusiaan tentunya bukan hal yang sulit menentukan pilihan

  5. anotherorion says:

    suka emosi klo liat jepretan korban baik musibah/perang, apa pemotretnya ga punya rasa kemanusiaan untuk mengesampingkan kesempatan mengabadikan momen dan memilih mengedepankan rasa kemanusiaannya?

  6. dewa putu am says:

    langsung bengong liat videonya mas, g tau musti biang apa

  7. kasamago says:

    jd teringat kisah ttg para manusia sociopath..

    • Manusia-manusia sociopath cenderung hypocrisy, memiliki pesona namun penuh dengan kepalsuan.

      Kalo ada contoh kasusnya yang diangkat dalam sebuah film, monggo berbagi, mas.

  8. People who chose journalism over life should watch Cannibal Holocaust. Sickening as it is, the movie gives us a valuable question: which one is the true savage?

  9. dani says:

    Jadi penasaran nonton film ini. Nightcrawler juga saya lihat tapi baru separoh.. Jadi merinding deh membayangkan kisah di balik sebuah foto..

  10. ayanapunya says:

    jadi ingat fotografer yang fotonya ttg anak yang kelaparan menang pulitzer. meski fotonya dapat penghargaan, tapi dia menyesal seumur hidup karena nggak nolongin anak itu

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat