Home » Media & Journalism » Framing : Cara Media Memanipulasi Informasi

Framing : Cara Media Memanipulasi Informasi

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Bismillah …

Dalam jurnal terdahulu, saya sajikan tentang Sepuluh Elemen Jurnalisme, dimana kita bisa belajar bagaimana suatu media massa seharusnya menerapkan Kode Etik dan Prinsip Jurnalistik. Meski media secara disiplin menerapkannya, bukan berarti berita yang disajikan bisa dipercayai begitu saja. Sebab ada strategi media untuk menggiring opini pembaca, pendengar, atau pemirsa. Salah satu strategi tersebut adalah framing berita.


Framing berita merupakan perpanjangan dari teori agenda setting, yaitu cara media mengemas sebuah informasi atas peristiwa yang terjadi. Framing tidak berbohong, tapi ia mencoba membelokkan fakta dengan halus melalui penyeleksian informasi, penonjolan aspek tertentu, pemilihan kata, bunyi, atau gambar, hingga meniadakan informasi yang seharusnya disampaikan.

Framing bertujuan untuk membingkai sebuah informasi agar melahirkan: citra, kesan, makna tertentu yang diinginkan media, atau wacana yang akan ditangkap oleh khalayak. Dengan kata lain, framing berita menyangkut seleksi beberapa aspek dari realitas sosial dan menjadikannya menonjol dalam sebuah berita, teriring harapan tertangkapnya wacana yang sedang diinginkan media tersebut.

Saat musim pemilu maupun pemilukada, akan mudah kita temukan contoh kasusnya dalam media yang cenderung mendukung salah satu kontestan.

Misalnya ada pemberitaan tentang Calon A yang berkomentar tegas dalam menyikapi masalah luar negeri, sedangkan media tersebut tidak memberikan kesempatan kepada Calon B untuk berkomentar masalah yang sama. Media menggiring opini bahwa Calon A adalah orang yang LEBIH TEGAS dibanding Calon B. Padahal kalau mau ditelisik lebih lanjut, secara kedudukan dan jabatannya, Calon A tidak mempunyai kapasitas untuk menyikapi masalah luar negeri tersebut.

Contoh lainnya, media memberitakan Calon A yang mempunyai kebiasaan belanja ke pasar rakyat, menyapa warga dan makan bareng di angkringan, namun media tersebut tidak memberitakan Calon B yang bisa jadi mempunyai kebiasaan yang sama dalam berinteraksi dengan warganya. Malah justru media tersebut memberitakan Calon B tentang mobilnya, hewan peliharaannya yang mahal, anaknya yang bermukim di luar negeri. Dari kondisi tersebut, media ingin menggiring opini pembaca bahwa Calon A adalah orang yang LEBIH MERAKYAT dibanding Calon B.

Dari kedua contoh di atas menunjukkan bahwa berita yang disampaikan media tersebut tidak bohong, namun media berusaha melakukan framing agar membentuk persepsi tertentu pada pembacanya.

Lebih detailnya, bagaimana Metode Framing yang dilakukan oleh media, … yuk kita simak penjelasannya dalam video di bawah ini:


Courtesy: https://www.youtube.com/user/remotivi

Semoga tercerahkan dengan video tersebut.

Nah sekarang, apakah Anda sudah siap menghadapi framing-framing berita sehari-hari yang diciptakan media?

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
19.02.2015

Advertisements

27 Comments

  1. NK says:

    Terimakasih. Saya izin share di medsos, Pak. Terimakasih.

  2. Aan says:

    Wah, menarik sekali..

  3. Yudhi Hendro says:

    Bagi pihak yang dirugikan dengan pemberitaan menggunakan teknik framing dan menimbulkan ketidakakuratan persepsi yang diterima oleh pemirsa, apakah berhak menglarifikasi dan memberikan hak jawab, Pak.?

    • Framing berita yang isinya tidak bohong, namun fakta yang disampaikan bisa dirasa merugikan pihak-pihak tertentu, maka akan sulit untuk digugat, karena media sudah memberitakan sesuai faktanya.
      Misal:
      Pak Budi selaku calon gubernur DKI diberitakan telah menyekolahkan anak pertamanya ke Jerman, anak keduanya disekolahkan di Belanda. Dan itu fakta.
      Sedangkan Pak Gunawan selaku rival calon gubernur DKI lainnya diberitakan menyekolahkan anaknya ke Unpad Bandung.
      Sementara pemberitaan dalam koran tersebut sedang mengangkat tema tentang nasionalisme dengan opini yang dibangun media tersebut seolah-olah Pak Gunawan lebih nasionalis dibanding Pak Budi.
      Pak Budi tidak bisa menggugat, karena media jujur, bicara sesuai fakta, meski punya semangat menjatuhkan Pak Budi.
      Pak Budi bisa menyikapi kekalahan atas persepsi tersebut dengan cara membangun opini lain lewat media pesanannya dengan menunjukkan kelebihannya dibanding kandidat lainnya.

      Lain halnya kalo framing yang dibangun tidak berdasarkan fakta, maka Pak Budi boleh menggugat media tersebut lewat Dewan Pers.

  4. Azti Arlina says:

    Aaah mengingatkanku pd tugas kuliah jaman muda dulu 😀

  5. esti kristikasari says:

    like this..
    kalau mnrt pak Iwan masih ada nggak media, tv khususnya, yg tanpa framing alias jujur dlm berita ?

    • Azti Arlina says:

      Ga ada 😀 semua dkuasai pemiliknya

      *loh kok aq yg jawab*
      *saling ilfilnya* hehe

      Tp cukuplah qt jadi penonton cerdas dan menganalisa *tsah

    • esti kristikasari says:

      Mksh mba 😀 yuk kita bikin tv sendiri aja 🙂

    • Aamiin 🙂

      Semoga nanti bisa mem-framing berita ke arah positif, mencerahkan dan membangun. Misalnya tentang damai dan bahagianya keluarga muslim. Bukan seperti gambaran yang ada di sinetron-sinetron tidak bermutu.

    • Betul kata mbak Azti.
      Framing itu memang sudah menjadi bagian dari strategi pencapaian visi misi media tersebut. Media sulit untuk tidak berpolitik praktis.

      Mari menjadi penikmat media yang cerdas, dan mampu mengolah informasi yang diberikan.

  6. syifarah03 says:

    pas banget, aku habis nonton drama korea tentang intrik reporter dalam dunia jurnalisme, judulnya Pinnochio. Menonton film ini jadi ingat banyaknya drama dalam berita di TV kita hehehe.

  7. prih says:

    Mohon izin ikutan belajar disini ya Mas Iwan. Dengan framing informasi sang perajut informasi mencoba memframing pemirsa pembaca dan pemirsanya ya. Salam

  8. Bener banget Pak Iwan. Agaknya, sekarang sulit menemukan media yang tidak berkepentingan ya, Pak? Beberapa media Islam malah terkesan menyudutkan, sehingga isi berita jadi tak sehat. Sulit menemukan berita yang masih santun dalam pemberitaan ya.

  9. anotherorion says:

    inget jamane sitok srengenge melecehkan mahasiswi sik diunggah malah berita kesetiaan bojone sitok akibat kasus kuwi

  10. Saya sudah jarang nonton dan baca berita karena hal-hal seperti ini. Capek rasanya hidup dikontrol media mogul. Tak hanya media di Indonesia yang seperti ini, media luar juga begitu.

  11. jampang says:

    saya sudah jarang nonton dan baca berita pak 😀

  12. ayanapunya says:

    pengalihan isu juga termasuk dalam framing ini juga nggak, mas.
    saya jadi penasaran. apakah emang sudah dari dulu jurnalisme tv ini begini atau memang baru sekarang?

    • Terlebih dahulu kita lihat isi berita dan latar belakang obyek yang menjadi pemberitaan, mbak Antung. Bila tidak berhubungan, maka tidak disebut sebagai framing berita. Ya hanya sekedar pengalihan isu saja.

      Bisa jadi praktik seperti ini sudah lama, tapi yang sadar bisa dikatakan tidak banyak. Ini bisa diukur / dilihat dari kondisi dimana pemimpin terpilih ternyata jauh dari harapan. Kondisi pemimpin tersebut, beda sekali dengan berita-berita wah sebelum dirinya terpilih, baik dalam pemilu maupun pemilukada. Ternyata, isi berita pun bisa dipesan.

  13. Dyah Sujiati says:

    Tepat sekali!
    Bahkan untuk pilpres 2019, media sudah mulai framing dari sekarang.
    Contoh : https://dyahsujiati.wordpress.com/2015/02/06/waspada-pencitraan/

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat