Home » Menjemput Hidayah » MH #1: Arnoud Van Doorn | Mantan Penghina Nabi

MH #1: Arnoud Van Doorn | Mantan Penghina Nabi

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

–: Seri Menjemput Hidayah: #1

Bismillah …

Sungguh Allah Maha Berkehendak, yang membolak-balikkan hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ada hamba-Nya yang dulu berada di barisan depan dalam mengobarkan permusuhan terhadap Islam, namun setelah mendapatkan hidayah-Nya, ia kemudian berbalik menjadi orang di barisan depan yang menjaga kemuliaan agama Islam, hingga memotivasi banyak orang kembali pada fitrah-Nya.

Melalui jurnal Seri Menjemput Hidayah ini, kita bisa mengambil pelajaran bagaimana mereka yang dulunya benci, lalu berbalik, gigih mencari kebenaran, dan berjuang menjemput hidayah-Nya. Selamat menyimak.

========

#1 – Arnoud Van Doorn

Apakah Anda masih ingat dengan film provokatif berjudul “FITNA” yang diproduksi pada tahun 2008?
Film yang isinya menghubung-hubungkan Islam dan Al-Qur’an dengan kekerasan. Film tersebut telah memicu gelombang protes di berbagai belahan dunia. Akan tetapi, siapa yang menyangka jika film tersebut justru menuntun produsernya, Arnoud van Doorn, kepada cahaya kebenaran Islam. Arnoud van Doorn, -mantan wakil ketua Partai Kebebasan (Partij voor de Vrijheid/PVV), sebuah partai politik sayap kanan garis keras di Belanda milik Geert Wilders-, pada tahun 2013 lalu, telah memutuskan menjadi seorang Musilm setelah mempelajari Al-Qur’an secara mendalam dan membaca lebih banyak tentang Islam dan Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Segera ia melakukan ibadah Haji ke Arab Saudi dan mengunjungi Masjid Nabi untuk menyampaikan permohonan maaf dan penyesalannya dihadapan para ulama disana atas keterlibatannya dalam usaha menyebarkan kebencian atas Islam, dan ia ingin bertanggung jawab dengan memperbaiki kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu. Ia ingin menggunakan segala bakat dan kemampuan yang ia miliki dalam cara yang positif dengan menyebarkan kebenaran tentang Islam. [Huffington Post]

Tentu saja, masuk Islamnya Arnoud Van Doorn membuat Belanda gempar. Pasalnya, Van Doorn adalah teman Geert Wilder yang dikenal luas sebagai politisi anti-Islam hingga kini. Sedangkan, Van Doorn setelah menemukan cahaya Islam, kini menjabat sebagai anggota Dewan Kota Den Haag dari partai PvdE, Presiden Yayasan Dakwah Eropa, dan Duta Besar dari Hubungan Pesohor untuk Asosiasi Dakwah Kanada di Eropa.

Tidak lama kemudian, Iskander Amien De Vrie, putranya Van Doorn, juga mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang Muslim. De Vrie menemukan hidayah setelah melihat ayahnya menjadi lebih damai setelah masuk Islam. Saat itulah ia menyadari ada sesuatu yang baik dalam agama Islam, dan itu akhirnya mengubah persepsinya tentang Muslim. [Republika]

Apa alasan Van Doorn masuk Islam dan bagaimana ia mendapatkan hidayah?
Mari bersama kita simak pidatonya di bawah ini, dalam “Carry the Light – Annual Convention 2013” yang diselenggarakan oleh Islamic Circle of North America (ICNA), Kanada. Bagi yang terkendala streaming bisa membaca transkrip-nya:


[Video with subtitle hardsubbed by Adi Widjono here]

Transkrip:

Pertama-tama, saya mohon maaf untuk bahasa Inggris saya yang kurang bagus.

Nama saya Arnoud van Doorn, 47 tahun, lahir dan besar di Belanda. Saya tumbuh dalam keluarga Kristen dengan norma dan nilai-nilai Kristen.

Banyak orang mengatakan bahwa pindah dari Kristen ke Islam itu sangat sulit. Saya pikir itu tidak benar, karena orang Kristen juga meyakini adanya satu Tuhan, serta para nabi, termasuk Yesus atau Isa. Kita sama-sama meyakini agama Ibrahim. Jadi, bagi saya, pindah dari Kristen ke Islam, tidak terlalu sulit. Saya pikir lebih sulit pindah dari atheisme ke Islam.

Saya mempunyai empat anak angkat, tanpa anak kandung. Yang terkecil 9 tahun, Jamal, dari Maroko. Yang tertua, perempuan, 22 tahun, sudah mandiri.

Profesi asli saya adalah penasehat remaja dan keluarga. Biasa bekerja di bidang yang menantang di wilayah miskin yang rawan kejahatan. Saya juga biasa bekerja dengan banyak keluarga muslim.

Bagaimana saya menjadi anggota PVV (Partai Kebebasan) Geert Wilders?

Itu banyak ditanyakan orang.
Sebenarnya saya tidak pernah Islamofobis, tetapi sangat kritis menyangkut prasangka kebanyakan orang Barat tentang Islam, misalnya bahwa Islam mengajarkan kekerasan, penindas wanita, teroris, dan hal-hal buruk lain. Hal itu disebabkan ketidak-tahuan yang tentu tidak bisa dijadikan alasan, termasuk oleh saya. Saat itu saya sudah menjadi anggota Dewan Kota Hague mewakili partai lokal. Jadi, saya tahu struktur dan cara kerja politik.

Saya pun pernah ikut latihan tentang media. Geert Wilders menanyai saya … apakah saya mau membantu dia mendirikan sebuah partai, sekitar 5-6 tahun yang lalu. Itu terdengar menarik. Kemudian saya setujui, dan selanjutnya menjadi anggota PVV. Tanggung-jawab saya di bidang humas untuk memengaruhi masyarakat dan media.

Saya juga menulis pidato untuk Geert Wilders. Setelah pemilihan 3 tahun yang lalu, saya menjadi anggota Dewan Kota Hague mewakili PVV. Karena itu saya harus melepaskan pekerjaan awal dan sepenuhnya bekerja untuk Geert Wilders, 60-70 jam seminggu.

Mengapa Islamofobia tumbuh pesat di negara-negara Barat, khususnya Belanda?

Sepertinya ada beberapa alasan …
Kalau berada dalam krisis biasanya orang mencari kambing hitam. Dan muslim adalah kambing hitam untuk krisis yang sedang dihadapi Belanda. Semua kesalahan ditimpakan pada masyarakat muslim. Semua kejahatan terjadi gara-gara Islam, Islam itu jahat. Para politisi dan media memanfaatkan Islam sebagai musuh bersama … dan mereka berhasil!

Lalu bagaimana saya berubah dari kritis pada Islam menjadi muslim?

Setelah di PVV selama sekitar 3 tahun, saya mulai bimbang karena orang mengingatkan bahwa persepsi saya tentang Islam salah, bahwa Islam sesungguhnya adalah agama damai, dan sebagainya. Waktu itu saya pikir, ya, tentu saja mereka harus bicara begitu … tetapi faktanya lain. Sekali pun begitu, hati saya bimbang … saya harus memelajari lebih jauh apakah Islam memang jelek.

Saya mulai membaca bahan-bahan yang bukan propaganda PVV termasuk Qur’an, sunnah, hadits. Saya menemukan banyak kebenaran dan keindahan. Jadi, saya pikir sebenarnya Islam tidak begitu jelek. Saya semakin ingin tahu tentang Islam.

Seorang teman di Dewan Kota Hague, seorang muslim mengajak saya ke masjid di Hague. Mula-mula saya menolak karena bagi saya masjid adalah tempat yang berbahaya, banyak orang jahat, saya akan diserang, dan sebagainya. Tetapi teman tadi berhasil membujuk saya dan saya kaget karena semua orang di masjid sangat ramah. Saya segera merasa diterima. Kami berbincang lama di situ. Saya di sana dari sekitar jam 11-12 siang sampai sekitar jam 8-9 malam. Itu sama sekali tidak saya duga.

Awalnya saya mengira saya benar tentang Islam dan bahwa semua muslim jahat. Kemudian sesuatu terjadi … sesuatu dalam diri yang sulit diungkapkan. Saya mulai merasa bahwa ini agama yang sangat bijak, indah, damai. Di dalam masjid saya mendapat perasaan hangat. Saya tidak terkejut, tetapi bingung. Sampai di rumah pun pikiran saya berkecamuk, tidak mengerti, bimbang. Saya tidak bisa tidur sepanjang malam.

Paginya, saya pikir saya harus kembali ke masjid, … dan saya kembali ke sana, berbincang lagi, membaca, belajar, bicara dengan banyak ahli dan muslimin. Dalam proses itu, selama 6-7 bulan, perasaan saya bergeser dari ingin tahu … menjadi keyakinan bahwa Islam memang cocok untuk saya. Bukan sesuatu yang saya duga sebelumnya, tetapi sungguh-sungguh terjadi.

Setelah 2 bulan, saya keluar dari PVV dan mengatakan pada Geert Wilders bahwa PVV bukan tempat saya … seharusnya saya tidak di situ … saya sudah keliru. Dan saya memutuskan: Saya Keluar!

Itu suatu langkah besar karena saya tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan. Lalu saya pulang naik sepeda, … terhenyak di sofa, … dan berpikir: “apa yang sudah saya lakukan?!”

Saya berhenti bekerja, dan tidak akan mendapat pekerjaan lain, karena semua orang sudah tahu saya, … tapi saya pikir … saya tidak peduli. Saat itu saya merasa kuat. Kekuatiran dari dalam itu tumbuh semakin besar . Terasa seperti selimut hangat ajaib. Semakin saya memahami Islam, semakin saya yakin itulah diri saya.
Ujung-ujungnya, saya mengucapkan syahadat …
Saat yang sangat emosional! Saya hanya berdua dengan imam masjid. Saya sangat emosional, meneteskan air mata. Sejak saat itu, saya seorang muslim.

Saya pikir saya harus melakukan sesuatu. Saya tidak sendiri. Di Belanda ada hampir 2 juta muslimin di antara 17 juta penduduknya. Semakin banyak orang sudah masuk Islam … itu sesuatu yang bagus!
Mereka semakin kalah dalam perang melawan Islam … saya yakin itu!
Dalam tahun ini saja (hingga Agustus 2013) jumlah orang yang masuk Islam meningkat 20% dibanding dalam seluruh tahun 2012. Pada umumnya mereka berusia muda, di bawah 25 tahun. Karena itu, saya pikir kita perlu mendekati anak-anak muda, karena mereka adalah masa depan. Sedangkan orang-orang seusia saya sudah terlalu tercemar informasi yang salah dari media dan politisi. Saya menganggap generasi tua sebagai “generasi yang hilang”.
Kita tidak perlu terlalu keras berusaha membuat mereka paham Islam … namun kita lebih berusaha mendekati generasi muda.

Banyak anak muda sungguh tertarik pada Islam. Mereka mendengar sangat banyak informasi bahwa Islam itu jahat, sesat, dan sebagainya. Tetapi kebanyakan anak muda, kalau dicekoki informasi semacam itu justru menjadi curiga dan malah ingin mencari informasi sendiri. Itu sesuatu yang bagus. Tidak ada cara mudah memerangi Islamofobia. Tetapi kalau kita berhasil merangkul para pemuda, kita ada di jalur yang benar.

Begitu pula dalam menghadapi pembenci Islam … tidak banyak gunanya kalau kita berdebat atau berusaha membujuk mereka. Tetapi menghadapi generasi muda yang sangat ingin tahu, kita harus sabar, mendengar argumentasi mereka. Berdialog dengan mereka adalah cara yang paling penting. Dialog adalah basis peradaban. Anak-anak muda senang berdialog.

Kalau kita marah ketika menghadapi Islamofobia … memang itulah yang diinginkan para politisi! … Mereka ingin ada banyak muslim yang marah dan kasar!

Kita harus menjadi contoh sebagai muslim yang baik, terutama di hadapan anak-anak muda; kita harus tampil sebagai masyarakat yang bermoral. Kita tidak kasar, kita tidak menindas wanita, kita tidak mendukung terorisme, kebanyakan dari kita tidak jahat. Kalau kita menjadi contoh yang baik, mau mendengar, sabar, mau berdialog, mereka akan memandang kita sebagai orang-orang biasa yang bernalar dan bijaksana, dan mereka akan bersimpati pada Islam. Tetapi setidaknya pengetahuan yang benar tentang Islam akan ikut memerangi Islamofobia. Saya sangat yakin tentang hal ini. Tidak peduli bagaimanapun usaha media dan politisi … mereka tidak akan menang. Islam terlalu kuat untuk dikalahkan. Namun kita harus sabar. Itu bukan sesuatu yang dapat dicapai dalam beberapa minggu, beberapa bulan, atau setahun. Mungkin akan perlu 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun. Ya tidak apa-apa. Kita harus sabar. “Sabar” adalah kata kuncinya.

Di Belanda saya sedang membangun organisasi pemuda sebagai wahana seminar, diskusi, dan informasi yang mudah bagi para pemuda dan anak-anak. Kelompok yang sudah ada meliputi anak-anak berusia mulai 7 tahun, muslim maupun non-muslim, sampai usia 22-25 tahun. Kebanyakan mereka berusia antara 12-18 tahun. Itulah kelompok yang mudah menerima informasi.

Di PVV saya pernah belajar keterampilan tentang media, cara memengaruhi orang, humas. Mereka tidak suka saya yang menggunakan ilmu dari mereka untuk melawan mereka. Saya bukan orang penting, ini bukan tentang saya, saya cuma manusia biasa yang ada di tangan Allah. Tetapi dengan menyebar-luaskan pengalaman saya … saya berharap dapat menyampaikan Islam yang sebenarnya.

===== end of speech ======

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
19.02.2015

Advertisements

19 Comments

  1. [Video] Why I converted to Islam? by Arnoud van Doorn. Lecture held in Maldives Alimas Carnival.on 20 February 2015

  2. katacamar says:

    Alhamdulillah, beruntung sekali Arnoud van Doorn, Allah memberi hidayah kepadanya..

    Semoga kita-kita yang sudah muslim sejak lahir tetep istiqomah.. dan tambah-tambah taqwanya… dan dilindungi dari suul khotimah… aamiin

    Jazakallahu khoiron katsiro, pak Iwan…

    • Aamiin, wa iyyak jazakallah khoiron.

      Bener, mas, Arnoud Van Doorn sangat beruntung, Sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

      “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. [QS Al-Anam 6: 125]

      juga firman-Nya:

      “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [QS Al-Qashash 28: 56]

  3. katacamar says:

    Reblogged this on katacamar and commented:
    maaf pak Iwan ijin reblog… matur nuwun jazakallahu khoiran katsiro

  4. anotherorion says:

    mas iwan ki selalu pangerten, nek aku iki fakir bendwith :v :v :v

  5. penuhcinta26 says:

    Semoga lbh banyak lg para islamophobes yg terbuka mata dan hatinya…aamin.

  6. kasamago says:

    jd teringat dg pesan2 penuh kasih dr seorang petinggi republik Islam..
    Islam bekerja dg penuh mukjizat, keaijaiban dan sentuhan Tuhan

  7. Rini says:

    Jadi malu, kalau mualaf lebih memahami dengan baik dibanding saya yg sudah dulu memeluk Islam.

  8. Xo Xo says:

    Semoga istiqomah..

  9. Andik Taufiq says:

    Selalu trenyuh baca cerita kemuallafan spt ini. Kadang sampe malu, mereka bs lbh getol belajarnya.

  10. esti kristikasari says:

    Masyaa Allah.. Islam benar. Dan kebenaran itu makin terlihat dgn peristiwa seperti ini. Merinding sepanjang menatap raut Arnoud Van Doorn -harus hafal nama ini 🙂 – saat bertestimoni. Ditunggu MH yang berikutnya, pak Iwan.

    • Yak betul, harus dihafalkan nama itu, mbak Esti, lebih baik lagi kalo folllow twitter-nya juga, sebab beliau sering ngetwit soal Islamophobia.

      Sesuai dg komitmen beliau dalam menebus kesalahan masa lalu, kini beliau berusaha menggunakan segala bakat dan kemampuan yg ia miliki dalam cara yang positif dgn menyebarkan kebenaran tentang Islam. Sebentar lagi muncul film Islami karya beliau.

      Dalam kunjungannya ke berbagai negara, beliau lebih banyak membuka rahasia-rahasia agenda para Islamophobic, sehingga umat Islam bisa mengantisipasinya.

      Saat peristiwa Chappel Hill beberapa waktu yang lalu, beliau nge-twit ttg sikap ignore-nya media:

    • esti kristikasari says:

      Mohon update kabar2 seperti ini ya, pak. Untuk menguatkan diri.

    • Seandainya acara beliau besok malam ini direlay TV nasional kita … kalau tidak mari kita tunggu di Youtube 🙂
      Insya Allah, nanti akan saya ulas di blog.

    • anotherorion says:

      apik tenan kuwi mas iwan bagan flowchart e, saiki dadi ngerti rumus pemberitaan media terkait masalah muslim

  11. Dyah Sujiati says:

    Huwaaa gemetar dan nangis bacanya… 😥

    Kalau seseorang belajar dengan sungguh2 untuk mencari kebenaran, InsyaAllah dalam islam ia akan temukan.

    Tapi kalau cuman cari kesenangan doank, jadinya Atheis gitu.

    Kadang heran sama mereka2 yang mengaku mencari pencerahan hidup. Lalu menangkap info yg salah tentang islam. Dikasih tau benarnya gimana, bukannya berusaha komparasi dulu setidaknya, malah langsung justifikasi islam salah. Ngotot pula. Hadeuh. Beberapa komentator di blog contohnya. 😀

    • “Prejudgement is the cause, based on lack of knowledge. You can find fanatics in any religion, all over the world. Unfortunately the 1% fanatics are showed on tv and other newsmedia, and their influence is magnified. 99% of the Muslims is hardworking and peaceable. If more people will study the true Islam, the more people will see the beauty of it.” said Arnoud van Doorn, in an interview to MNA English service

      Source:
      http://www.yjc.ir/en/news/497/why-i-converted-to-islam-van-doorn

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat