Home » Media & Journalism » Netizen Dudul

Netizen Dudul

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

Bismillah …

Bila Anda mempunyai akun Twitter atau Facebook, pernahkah pengen mengetahui sebenarnya berapa sih pembaca dari follower Anda yang meng-klik link berita yang Anda sertakan dalam status / twitmu?
Kalau di Twiiter ada fitur analisanya, entah ya kalau di Facebook, ada yang tahu?

Nah, kalau di Twitter, Anda bisa memanfaatkan fitur “Analytic”, dan hasil analisa dari fitur tersebut bisa di-ekspor ke dalam bentuk Excel. Contoh tampilan analisa untuk sebuah twit adalah sebagai berikut:

link twitter analytic

Terdapat informasi bahwa twit tersebut telah dibaca oleh 1861 akun yang aktif pada saat itu, dari jumlah tersebut ada 31 pembaca yang meng-klik link berita yang disertakan dalam twit tersebut, yaitu berita dari The Huffington Post. Artinya ada sekitar 2% pembaca yang nge-klik link, sisanya hanya membaca judul.

Hasil ini kok ya sama dengan pengamatan seorang neterpreneur, Nukman Lutfie. Dalam blognya, ia mengatakan bahwa di Facebook & Twitter, hanya 2% link yang diklik pembaca, sisanya hanya membaca judulnya.

Mengapa hanya 2%?
Bisa jadi sebagian besar pengguna sosial media menggunakan ponselnya untuk mengakses Twitter dan Facebook. Adanya keterbatasan layar dalam ponselnya membuat malas meng-klik link judul berita, apalagi bagi mereka yang kuatir pulsanya banyak kesedot saat mengakses media yang memasang banyak widget yang boros energi. Perilaku ini berbeda dengan mereka yang menggunakan desktop / laptop.

Kondisi ini ternyata dimanfaatkan oleh media-media dengan menulis berita dengan judul-judul yang bombastis, menyasar follower / pembacanya yang hanya membaca judul. Tidak sedikit pengguna twitter yang berperilaku asbun dengan mengomentari judul berita yang mampir di TL-nya tanpa terlebih dahulu meng-klik link berita. Mereka yang berperilaku demikian enaknya kita sebut apa ya?
Hmm … mungkin pas banget kalau kita sebut Netizen Dudul a.k.a. Netizen DUnia juDUL, netizen yang dunia beritanya hanya dari judul, ia cepat sekali berkomentar hanya dari membaca judul, tanpa berusaha meng-klik link beritanya. Kita sebut ini Netizen Dudul Tipe 1.

Pola kebiasaan seperti ini menurut saya tidak baik. Ini berpotensi membentuk mental “gagal paham”, sulit memahami substansi, yang dampaknya lebih jauh … yaitu akan sulit menerima kebenaran. Kerusakan lainnya yang ditimbulkan adalah jadi terbiasa mencaci-maki. Seperti contoh di bawah ini:



Padahal isi beritanya adalah tentang Laskar Pembela Islam dan Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya, yang menggerebek sejumlah rumah potong hewan babi dan anjing yang diduga ilegal. Dari hasil razia tersebut, ditemukan ada lebih dari 15 rumah, yang ditemukan potongan-potongan daging anjing dan babi siap jual secara bebas, dan akan dioplos dengan daging lainnya seperti daging sapi. Dari pengakuan pemilik rumah potong, hewan anjing dibunuh dengan cara dicelupkan kepalanya ke dalam air panas. Sementara hewan babi dibunuh dengan cara ditusuk duburnya dalam keadaan hidup. Hal itu sudah masuk pelanggaran UU tentang Peternakan Dan Kesehatan Hewan Tahun 2009, pasal 66 ayat 2. Simak isi beritanya di sini.

Kalau ia tahu bagaimana FPI telah berjasa memerangi kejahatan yang dimaksud dalam berita tersebut, pasti ia akan berterimakasih atau mengapresiasi, bukannya mencaci maki, nge-fak nge-fakin ormas Islam.

Ada lagi Netizen Dudul Tipe 2.
Tipe apa pula itu?
Yaitu netizen yang masih mau mengklik berita-nya tapi cepat percaya dengan framing yang dibuat media lewat judul yang bombastis. Setelah itu ia menyebarkan berita tersebut tanpa berusaha mencari kejelasannya. Mereka terjebak paradigma: judul merupakan perwakilan isi berita.

Judul-judul bombastis memang makin menjamur seiring maraknya media sosial. Padahal isinya terkadang nggak presisi banget dan cenderung menyesatkan pembaca. Pasti Anda pun pernah mendapati berita dengan judul ditambahi tanda tanya (?). Itu adalah judul yang menjebak, padahal isinya biasa saja, parahnya lagi sudah tercampur dengan opini pembuat beritanya, bukan lagi bicara fakta.

It’s okey, … kita gak perlu menyalahkan media yang membuat judul bombastis, karena itu memang merupakan bagian dari strategi pemilik media ditengah pertarungan bisnis media yang sangat keras. Persaingan antar media menggiring awak media membuat judul yang menarik perhatian, padahal isinya kebanyakan gak nyambung dengan judulnya.

Sebagai penikmat media, sebaiknya kita fokus saja pada perbaikan diri dan berpartisipasi dalam menyehatkan penikmat media lainnya. Mari menjadi pembaca cerdas dan kritis.

Gimana caranya?

Pertama, bersikap tuma’ninah ketika datang sebuah berita di medsos Anda, tanyakan dalam hati: “what’s in it for me?”

Kedua, jangan mudah tertipu dengan judul berita yang bombastis, apalagi yang diakhiri dengan tanda tanya (?). Tuntaslah membaca isi beritanya. Contoh, bisa jadi banyak yang terjebak dengan berita yang berawal dari Merdeka.com ini:

Ketiga, bacalah berita dengan pola pikir skeptis. Ragukanlah isi berita. Sebab tiap informasi yang ditulis wartawan, bisa menjadi jebakan buat pembaca. Sebelum menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya, rajinlah menguji kebenaran berita, antara lain:

  • Dari mana sumbernya?
  • Apakah sumber memang sumber A1, pelaku langsung atau orang yang terlibat langsung?
  • Apakah dia kredibel sebagai sumber?
  • Jika sumber memang tokoh sudah dikenal, apakah dia kredibel?
  • Pernahkah ia berbohong?
  • Apakah sumbernya hanya anonim? Jika sumbernya anonim, periksa media tersebut. Apakah media itu terpercaya? Pernahkah media itu menulis berita bohong?

Monggo kalo mau belajar lebih lanjut pada contoh kasus ini.

Keempat, agar tidak terjebak dalam kaca mata media partisan, coba deh bandingkan berita yang sama di dua media lain. Contoh berita yang beredar pada hari ini, satu peristiwa tapi bobot beritanya berbeda satu sama lain:
[BeritaSatu] Ledakan Ringan Guncang Mal di Depok
atau
[Viva News] Ledakan Hebat Terjadi di ITC Depok.
Mana yang betul, ledakan ringan apa dahsyat?

Kayaknya ribet banget ya? 🙂
Yaa kalau Kita sudah terbiasa sih gak ribet, lha wong tinggal mendayagunakan kelincahan jari menelusuri belantara informasi, daripada akhirnya jadi bahan tertawaan karena dudul seperti capture dialog twitter di atas. Okey?!

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
23.02.2015

Advertisements

32 Comments

  1. pingkanrizkiarto says:

    ijin pinjam foto-nya ya mas, terima kasih…

  2. faziazen says:

    Kadang malas buka twitter..dimention akun ga dikenal..isinya promosi

  3. anotherorion says:

    tapi emang kok link neng FB n twit saiki mulai gak cocok buat nyebarin url, kecuali untuk pembaca bersegmen, neng twitter nganggo hashtag

  4. Abi Sabila says:

    sepertinya saya termasuk nitizen yang nda telaten meng-klik link berita, tapi juga bukan golongan orang yang rajin berkomentar, apalagi sebelum tau beritanya,

  5. hehehe iya, sih. Banyak banget yang gampang termakan judul trus langsung main share dan berkomentar. Kadang saya suka gerah juga lihatnya. Apalagi di FB kan kita bisa lebih panjang bikin kalimat. Udah bikin kalimat panjang gak taunya ketahuan dudul 😀

  6. eibidifaiq says:

    Tapi judul yang seperti itu termasuk kedalam marketing ya pak? Saya juga kadang membuat judul yang aneh dan nyentrik. Yang memang biasanya karena judulnya tsb banyak yang mengklik dan akhirnya membaca.. Hadoh semoga saya tidak jadi netizen dudul

  7. close2mrtj says:

    Netizen norak kalo kata saya 😀

  8. tqrb says:

    aku baru tahu kalau di twitter ada analitic nya juga, ane kira yang ada cuma di facebook doank hehehe 😀

    izin follow blog nya yak 🙂

  9. Iya pak. Saya jg kategori socmed buzzer tp Alhamdulillah gak dudul, sbelum ngeshare selalu baca dulu drpd malu 😀

  10. dani says:

    Semoga sih saya bukan termasuk netizen dudul. Kalo ada link dan isinya menarik biasanya saya buka dulu. Gak langsung komen juga setelah baca. Semoga sih saya tidak menyebarkan kebencian lewat medsos saya..

  11. itsmearni says:

    Saya udah lama gak buka twitter jadi ya gak terlalu update berita terbaru disana. Tapi memang fenomena netizen dudul ini ada dimana-mana. Saat ini netizen mudah banget tersulut emosi, terprovokasi lalu share berita tanpa cek ricek terlebih dahulu, masih ditambahi maki-makian versi sendiri pula
    Disisi lain, sedikit sekali yang mau share berita baik, prestasi anak bangsa misalnya atau keberhasilan seseorang dan derivasinya, berat banget mengakui kelebihan orang lain.
    Ah sudahlah, saya mau jadi netizen dodol aja deh ; netizen yang doyan makan dodol :))

  12. Benar sekali Mas, media sekarang judulnya provokatif, tapi begitu dibaca isinya sering sekali jauh dari judul. Saya juga sering dudul.

    Femi Oke jurnalisnya Al Jazeera pernah bilang: jangan asal ngeretweet, karena itu reputasimu yang kamu pertaruhkan. Saya lagi belajar untuk melakukan itu, nggak mudah tapi pasti bisa.

  13. This is one of the many reasons why I don’t have Facebook or Twitter accounts.

  14. kasamago says:

    netizen pertamax hunter.. buka, liat sekilas, lngsng tancap gas.
    lbh doyan komen ktmbng membca utuh. jmn informasi, sumber kian melimpah. pnglman n kapasitas netizen jd acuan filterisasinya.

  15. jampang says:

    baca komentar2 di berita itu malah bikin pusing kepala, pak

  16. izzatyzone says:

    Wah inilah mengapa penting nya literasi media ya, Pak? Hehehe. Monggo mampir di komunitas kami melimove.wordpress.com :))

    • Okey, saya lihat-lihat dulu daleman komunitas tsb ya, mas Izzaty, spt visi-misi, program kerja, dll. Kalo positif, Insya Allah, saya bergabung.

    • izzatyzone says:

      Aduh pak, saya perempuan :/ itu komunitas di whatsapp pak. Kami setiap pekan diskusi dgn narsum praktisi media mengenai media dan literasi. 🙂

    • Wahh.. maaf.. maaf.. maaf ya, gara-gara logo Manchester United itu 🙂
      Saya juga fans-nya MU sejak Eric Cantona masih main di sana lho.

      Kalo kegiatannya aktif dan hidup, sepertinya komunitasnya asyik ya, mbak Izzaty, bisa saling mencerdaskan dan memperkaya.
      Resolusi blog tahun ini masih fokus menyoroti media dan jurnalisme, selain perang pemikiran.

    • izzatyzone says:

      hooo saya sejak SD udh nge fans pokoknya Pak 😀

      iya Pak, ini komunitas baru, latar belakangnya karena resah dengan kondisi media sekarang. postingannya belum terlalu banyak, tapi di grupnya aktif diskusi, Pak. semoga semakin berkembang 🙂 Boleh Pak kalau mau jadi narsum hhe.

    • Baiklah, insya Allah, nanti saya sempatkan baca-baca tulisan di blog komunitas melimove itu dulu, sekedar mengenali / penjajagan awal.
      Kalo grupnya aktif diskusi, semoga diperkuat juga dg barisan admin yang mengupdate blog komunitas tersebut.

    • izzatyzone says:

      siap Pak, in syaa Allah 🙂

  17. Andik Taufiq says:

    Kalau saya lihat, ini mungkin asal mulanya karena informasi yang kita terima terlalu tumplek blek, overload di otak kebanyakan orang-orang, khususnya anak-anak muda sekarang yang cenderung malas berpikir agak dalam tentang substansi yang ada di sebuah berita. Tapi ini semoga bukan menggeneralisir ya. Jadinya keterusan, diteruskan lagi dan lagi oleh media mainstream, karena kecenderungan pasarnya memang seperti itu. Berita-berita yang judulnya kurang bombastis akan terlewat dari perhatian.

    • Betul, mas Andiq. Ditengah persaingan bisnis yang keras, media sedang jor-joran menarik perhatian pembaca. Selain media online yang saya bahas dalam jurnal ini, media cetak juga parah, pola pikir masyarakat sudah dibentuk oleh media-media yang menuliskan judul bombastis, panjang, sampai tiga kalimat lebih, seperti koran “Lampu Merah”, “Lampu Hijau”.
      Pola pikir tersebut membentu paradigma: judul merupakan perwakilan isi berita.

  18. Dyah Sujiati says:

    Satu lagi pak. Dampak sistemik dari nitizen duduI macam tu akan mengakibatkan sebuah pola berpikir ‘baru’ dalam masyarakat. Yaitu saat kita diminta skeptis, malah jadi tidak pada tempatnya. Kala berita bersumber dari orang alim malah sibuk dan ribut : dasarnya apa? Jangan2 Hoax?!

    Tapi kalau berita dari orang fasik, malah ditelan bulat.

    Hadeuh. Naudzubillah.

  19. nengwie says:

    Berhubung gaptek dan ngga mau belajar tepatnya, jd saya ngga punya akun twitter hihi… dudul beneran kalau ini mah namanya ya mas Iwan 😀

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat