Home » Indonesia Crisis » Dollar Menguat, Apa Kata Kabinet Kambing Hitam?

Dollar Menguat, Apa Kata Kabinet Kambing Hitam?

Blog Stats

  • 1,994,625

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

krisis rupiah

Bismillah …

Sampai jurnal ini ditulis, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih dalam tren melemah. Bahkan dolar AS kini menembus Rp 13.000, yang merupakan titik terkuat sejak 1998. Sayangnya dalam menyikapi situasi ini, muncul pendapat yang tidak mendidik dari pejabat tinggi negera yang seharusnya memberikan pencerahan.

Inilah pendapat-pendapat yang saya rangkum dari berbagai media online.

Media Detik edisi 10/3/2015, menulis judul: “Dolar Tembus Rp 13.000 Bikin Pemerintah Untung, Ini Sebabnya”. Lewat media tersebut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini dinilai dalam batas wajar. Bambang menyebut pemerintah justru untung dari setiap pelemahan rupiah. Setiap pelemahan rupiah Rp 100/US$ bisa menyebabkan surplus anggaran negara sebesar Rp 2,3 triliun. Setiap kali rupiah melemah, maka penerimaan negara dari migas atau pertambangan yang dalam bentuk dolar AS akan naik ketika dikonversikan ke rupiah. Meski ada kenaikan belanja seperti pembayaran utang luar negeri, tetapi secara keseluruhan masih surplus.

Fantastis, kalau begitu .. ayo dorong terus penguatan dollar kalau bisa sampai menembus Rp 20.000, agar pemerintah makin banyak untungnya, abaikan saja makin banyaknya warga yang terkapar kelaparan dan lemah daya belinya. Berani?

Kemudian di hari yang sama, media Detik menurunkan tulisan dengan judul: “Dolar Tembus Rp 13000, BI: Turis Asing Senang Ke Indonesia”. Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, melemahnya rupiah menjadi sangat menguntungkan Indonesia, karena banyak turis yang akan senang berkunjung ke Indonesia. Alasannya nilai rupiah yang rendah membuat para turis pemegang dolar akan mendapatkan harga barang-barang yang murah di Indonesia. … Lantas, apa manfaatnya bagi sebagian besar masyarakat Indonesia membaca atau mendengar opini seperti itu?

Pernyataan aneh lainnya datang dari Menteri Koordinator Perekonomian, Sofyan Djalil, yang terkesan mengerdilkan TKI. Simak penuturannya di media Merdeka edisi 11/3/2015 yang berjudul: “Kecilnya uang kiriman TKI dinilai jadi sebab rupiah rapuh”. Sofyan mengatakan bahwa mata uang Peso menguat lantaran kiriman uang dari pekerjanya di luar negeri mencapai USD 20 miliar per tahun, sementara rupiah rentan melemah lantaran kiriman uang TKI ke Tanah Air hanya USD 7 miliar per tahun. … Apa salah TKI kok jadi kambing hitam loyonya rupiah, Pak Sofyan?

Pola pikir pemerintah kita orientasinya masih persis seperti anak sekolah yang badungnya seperti ini:
A: “Hey, Jok, kenapa nilai Matematika mu dapat 40?”
B: “Rese lu ah. Itu udah bagus, temen-temen gue malah ada yang dapat 20. Lebih jeblok mana?”
Coba bandingkan dengan pernyataan dari Gubernur BI lewat situs pemerintah hari ini, yang mengatakan bahwa “Pelemahan Mata Uang Rupiah Masih Lebih Rendah Dibanding Negara Lain”. Sama, khan?!

Padahal faktanya menurut Detik edisi 11/3/2015:
“Rupiah Anjlok 5% Terhadap dolar AS, Terendah di Asia”.

Berikutnya makin aneh saja … mari simak bagaimana pandangan Presiden Jokowi selaku kepala pemerintahan RI dalam menyikapi Rupiah yang semakin MENGUATirkan ini. Dalam media BeritaSatu, edisi 9/3/2015, Jokowi mengatakan, “Ini kan memang faktor global, faktor eksternal yang semua negara mengalaminya. Kita selalu bertemu dengan Gubernur Bank Indonesia untuk mengantisipasi hal ini. Tapi, sekali lagi, ini (disebabkan) faktor global. Seluruh dunia juga mengalaminya.”

Lagi-lagi pendapatnya masih tidak jauh dari default gaya kepemimpinannya: “Bukan Urusan Saya” atau “Bukan Salah Saya”. Mestinya evaluasi diri dong, pak Jokowi. Lihat link Detik di atas, kita yang terburuk lho, pak. Apa harus menunggu ekonomi global (dan AS) rontok agar Rupiah bisa menguat?

Selama mental pecundang belum dikikis oleh pengelola negeri ini, selama itu pula jargon Revolusi Mental hanya omong kosong.

Antara Rupiah dan Kepercayaan Pada Jokowi

Lain halnya dengan media Viva News edisi 11/03/2015 yang menulis berita dengan judul: “Rp13.000 per Dolar, Bukti Hilangnya Kepercayaan pada Jokowi”. Dalam berita tersebut Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Ecky Awal Mucharam, mengatakan bahwa rupiah menyentuh Rp 13.000 tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi dunia seperti pertumbuhan ekonomi AS yang membaik maupun kebijakan-kebijakan The Fed, tapi yang paling penting adalah hilangnya kepercayaan pada Jokowi yang gagal memenuhi harapan publik secara umum maupun pasar secara khusus. Menururt Ecky, selama semester pertama pemerintahan berjalan, tidak ada kebijakan-kebijakan ekonomi Jokowi yang mendorong pengurangan defisit transaksi berjalan. Justru Jokowi membuat kegaduhan dan blunder-blunder politik yang membuat para investor dan pasar ragu.

Terpuruknya nilai rupiah pada dolar dan mata uang negara ekonomi kuat lainnya akan memberatkan perekonomian Indonesia. Besarnya utang dalam valas yang jatuh tempo di 2015 membuat kebutuhan valas bertambah. Diperparah dengan utang valas yang tidak dilindungi nilai hedging. Hutang swasta kita mencapai kisaran 170 milyar dolar dan pemerintah 130 milyar dolar. Bisa dibayangkan kebutuhan valas untuk cicilan pokok dan bunganya. Kondisi rupiah yang terus turun akan berpengaruh pada realisasi dari asumsi makro kita.

Yang paling berbahaya adalah tidak tercapainya target penerimaan pajak karena adanya penurunan aktivitas ekonomi akibat kenaikan harga barang-barang modal dan bahan baku impor yang berpengaruh dan penurunan keuntungan perusahan Wajib Pajak.

Bagaimana dengan pandangan para pelaku usaha?

Media JPNN edisi 8/3/2015, lewat berita berjudul: “Rupiah Jeblok, Investor Mulai Tunda Investasi, memuat pandangan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. Beliau mengatakan bahwa pelaku usaha domestik yang selama ini pendapatannya dalam bentuk rupiah, kini mau tidak mau harus berpikir ulang jika akan melakukan ekspansi usaha ataupun investasi baru. Pada Oktober 2014 lalu, saat pelaku usaha menyusun rencana bisnis untuk tahun anggaran 2015, nilai tukar rupiah masih ada di kisaran 12.100 per USD dan asumsi yang dibuat pemerintah dalam APBN 2015 pun dipatok pada angka 11.900 per USD. Jadi semua rencana investasi dibuat dengan asumsi dolar di sekitar situ juga. Namun, setelah memasuki 2015, depresiasi rupiah seolah tak tertahan. Pemerintah lalu merevisi asumsi nilai tukar dalam APBN Perubahan 2015 menjadi 12.500 per USD. Tapi, asumsi itupun sudah terlampaui saat pekan ini rupiah akhirnya terperosok hingga 13.000 per USD, level terendah sejak krisis moneter 1998 lalu. Biaya (investasi) pasti naik karena mesin-mesin harus impor, makanya harus dikalkulasi ulang.

Dari pandangan kedua tokoh di atas yang mewakili legislatif dan pengusaha, seperti menekankan bahwa pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp 13.000 per dolar AS bisa memicu inflasi di Indonesia.

Jadi, mau akrobatik dengan pembenaran dalam berbagai bentuk apapun oleh pemerintah, nyatanya mereka belum bisa menghilangkan dampak langsung pelemahan rupiah pada seluruh sektor ekonomi yang menggunakan bahan baku impor dan ini bisa memicu inflasi baik nasional maupun daerah.

Jika kurs tidak diturunkan pada level Rp 12.000 terhadap satu dolar AS, maka dalam jangka panjang akan memicu inflasi di Indonesia karena memang Indonesia masuk dalam middle income trap. Maka sudah pasti barang impor akan melambung harganya jika pelemahan rupiah dibiarkan minimal dua bulan saja.

Dalam jangka panjang, harga barang dengan bahan baku lokal juga secara psikologis akan ikut naik. Nah pada kondisi ini pasar uang akan mempengaruhi pasar barang dan pasar modal, seperti pada kasus krisis moneter di tahun 1997. Jadi jangan meremehkan seakan-akan krismon masih jauh.

Seluruh pejabat tinggi negara seharusnya berorientasi solusi dalam menyikapi hal ini. Bukan berakrobat mencari pembenaran (demi mengamankan kedudukan / jabatannya?). Kita berharap agar pemerintah mengambil terobosan-terobosan untuk mendorong pelaku usaha agar tetap optimistis ditengah tuntutan kompetisi menjelang berlakunya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).

Sebelum saya tutup jurnal ini … yuk buka arsip media Kompas, Detik, dan Tempo setahun yang lalu menjelang pilpres.

Lewat media Kompas (27/1/2014), Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan yang merupakan salah satu ekonom terbaik di Indonesia versi Bloomberg, mengatakan:

Kemudian diperkuat dengan pendapat pengamat agar lebih muantabb yang dimuat di media Detik edisi 20/3/2014 dengan judul:

Untuk lebih melemahkan lawan politiknya, media Tempo (7/7/2014) memuat pendapat analis dari Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, yang mengatakan:

.
Ekonom yang sesumbar di atas, mungkin saat ini sudah tiarap, malu sendiri dengan semua perkataannya yang asbun. Sekarang, dengan kondisi nilai dolar yang sudah mencapai lebih Rp13.000, siapa yang menjadi Presiden, Jokowi atau Prabowo?

————-
[Update 14/8/2015]
Timeline Perjalanan Rupiah.
rupiah

Sejatinya tiada yang tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Hanya Allah yang tahu. Jangan mendahului takdir, apalagi jika tujuan membuat pernyataan tersebut untuk mempengaruhi opini orang tentang seorang capres sembari menanamkan citra buruk kepada capres lainnya. Sekarang terbukti Allah menjungkirbalikkan kesombongan manusia.

Dengan nilai dolar yang sudah tembus Rp13.800, sudah sangat terasa perekonomian negara menjadi lesu. Daya beli masyarakat menjadi turun, PHK massal segera membayang. Jika tidak disikapi dengan cepat, kenaikan dolar ini bisa merembet ke mana-mana yang ujung-ujungnya adalah chaos. Ingat, peristiwa kejatuhan Soeharto pada tahun 1998 dimulai dengan kejatuhan nilai rupiah dari semula Rp3000 per dolar menjadi lebih dari Rp12.000 per dolar.

Salam hangat tetap semangat,
lawan segala bentuk pembodohan!

Iwan Yuliyanto
11.03.2015

[Banner/ilustrasi: merdeka.com]

Advertisements

38 Comments

  1. Kalau benar murni faktor eksternal di belakang pelemahan rupiah, tentunya rupiah tidak seterpuruk mata uang negara tetangga.

    Selengkapnya:
    https://faisalbasri01.wordpress.com/2015/08/19/menkeu-rajin-mencari-kambing-hitam/

  2. Semoga ada solusi terbaik dan tindakan yang tepat dari pemerintahan kita.

  3. Komentar ajaib ,,,

    Dolar AS Rp 13.425, Menkeu Bambang: Kan Seminggu Libur (lebaran)
    http://detik.id/VEKRKh

    Rupiah Tembus Rp 13.500, Menkeu: Bukan Tanggung Jawab Pemerintah
    http://metrotvn.ws/A417481

  4. Tanggapan atas kultwit Rhenald Kasali pada 5/6/2015

    Optimisme haruslah dibangun tanpa meninggalkan realita, karena itulah pembeda antara optimisme dan mimpi. Saya setuju dgn pak Rhenald Kasali (RK) bahwa optimisme sangat dibutuhkan dlm menghadapi saat2 sulit. Namun saya tak setuju dgn pembodohan.

    Kultwit pak RK hari ini adalah mengajak utk percaya bahwa kondisi sulit saat ini adlh dampak dr perbaikan yg sedang dilakukan. Kali ini saya mengajak pak RK melihat sedikit contoh fakta2 tsb

    Fakta 1: Mari kita awali tentang penghapusan subsidi BBM.

    Pak RK seperti menyembunyikan fakta bahwa telah terjadi praktik yg menyebabkan rakyat tak mendapatkan “best price”. Berikut adalah praktik ‘monopoli terselubung’ Pertamina yg merugikan rakyat itu. [klik]

    Sebagai seorang pakar pak RK jangan bilang praktik yg menyebabkan rakyat tak mampu dapatkan “best price” BBM itu benar. Lalu dimana kritik pak RK terhadap kebijakan pemerintah yg menyebabkan rakyat harus mengongkosi inifisiensi Pertamina itu?

    Saya tak setuju kompetisi sehat yg menguntungkan konsumen dihalangi. Mengapa harus ada batas bawah utk harga BBM? Atau jangan2 pak RK sedang memotivasi publik utk percaya bahwa praktik monopoli itu baik bagi konsumen?

    Fakta 2: Menurut saya turut berperan menyebabkan pasar kehilangan kepercayaan

    Ada kondisi diabaikannya prinsip meritokrasi dalam pengelolaan negara. [klik]

    Apakah menurut pak RK praktik bagi2 kursi atas dasar balas jasa itu adalah bagian dari perubahan? Perubahan macam apa itu?

    Lalu apa pendapat pak RK akibat diabaikannya prinsip meritokrasi lalu kejadiannya seperti ini? [klik]

    Tolong pak RK jelaskan pada kami apa yg akan terjadi pada negara ini jika dikelola oleh orang tak profesional dan korup?
    Dan bagaimana pak RK mampu meyakinkan pasar saat negara ini dikelola orang2 tidak mampu dan korup? Dgn kultwit motivasi?

    Fakta 3: Agar semakin yakin dalam membuat kultwit motivasi.

    Lihatlah (dalam jurnal di atas) statement asbun para pejabat terkait masalah penurunan nilai rupiah ini.

    Bukankah seharusnya pemerintah mengatakan begini: “Inilah yg akan kita lakukan untuk mengembalikan nilai rupiah..”

    Bagaimana pasar bisa optimis dgn pembelaan2 yg bahkan kontradiktif antara satu pejabat dgn pejabat lainnya itu?

    Tolong pak RK ajari kami untuk tetap optimis melihat omongan menko yg mencla-mencle seperti ini. [klik]

    Optimisme lahir dr pemerintahan yg prudent dan konsisten. Rakyat bs melihat hubungan antara tujuan & yg sedang dijalankan.

    Lalu bagaimana rakyat diminta optimis jika para pemimpinnya ternyata hanyalah si jago ngeles? [klik]

    Pak RK menghimbau agar para entrepreneur tetap optimis. Tapi apa yg sudah dilakukan pemerintah utk memberdayakan UMKM?
    Pasar sepi pak! Duit sulit dan apa2 mahal sekarang. Tak percaya? Cobalah survey ke pasar sebelum bikin kultwit motivasi.

    Memang mudah bicara tentang optimisme saat kita tak tahu apa yg sedang terjadi di tengah2 masyarakat.

    Seharusnya pak RK mengkritik pemerintah. Terutama atas apa yg dilakukan terhadap para pimpinan KPK saat ini. Sebab seingat saya pimpinan KPK saat ini adalah hasil seleksi tim bapak? Apakah diamnya bapak berarti kegagalan seleksi?

    Mana respon pak RK melihat pimpinan KPK dikriminalisasi dan difitnah sedemikian rupa? Inikah perubahan yg dimaksud?

    Apa yg sampaikan sampaikan hanyalah secuil fakta. Masih byk fakta2 lain yg sulit membuat kita optimis. Tapi itulah realita. Tentu mudah saja membuat kultwit motivasi sambil menutup mata pd kenyataan. Tapi kejujuran pada diri sendiri masih ada kan? Dan lebih mudah lagi memberi stempel pada mereka yg tidak bisa optimis demi melihat fakta yg ada.

    Namun dari pada memberi motivasi rakyat yg susah saat ini, lebih baik pak RK ajari para pejabat kita tentang makna PERUBAHAN

    Wahai para motivator dan pengamat, turunlah dari menara gading, lalu kunjungilah pasar!

  5. Sinyo says:

    Dear all, memang ini yang terjadi. Mereka adalah orang-orang pintar karena saking pintarnya jadi gak waras.

    Apakah TKI menjadi pemasukan devisa negara? Bagaimana dengan expat yg bekerja di Indonesia? Tak lebih, kita hanya “ekspor babu impor ndoro”. tidak sebanding bahkan rugi. Rugi dari nilai pemasukan dan parahnya, citra negara rusak.

  6. denny says:

    mantabz gan,,maksih smua info y,,sgt menarik.Tingkatkan.!

  7. Bersuara agar nilai tukar dollar tak terlalu tinggi adalah perjuangan sebagai anak kandung Ibu Pertiwi.

    Ada bom waktu besar yg siap meledakkan ekonomi kita:
    1| Sekarang minyak dunia sdg berada di level rendah. Bayangkan saat harga-nya bounce, naik lagi, sementara nilai tukar rupiah kita rendah.
    Maka harga BBM yg sekarang tak di subsidi ini akan naik. Sekarang minyak dunia turun saja, harga BBM kita dinaikkan.

    2| Impor yg semakin tinggi. Pemerintah seringkali mengambil langkah singkat: harga komoditi naik –> impor.
    Harga daging sapi naik –> impor dari Aussie. harga beras naik –> impor dari Vietnam. Apa2 selalu cari solusi mudah.
    Operasi pasar sebesar apapun tak akan berpengaruh banyak tanpa membongkar mafia yg berada di belakang ini semua.
    Impor dengan kondisi dollar yg terus merangkak naik, membuat harga beli semakin tinggi.
    Sedangkan kita masih banyak berharap pada ekspor sumber daya alam. Ekspor dgn nilai tukar rupiah rendah, maka harga SDA kita jg rendah.
    contoh batubara, dijual seharga Rp.750,000/mt. Dulu bisa dapat $68 (kurs 11rb). Belum ada 1/2 tahun turun drastis $57,7 (kurs 13.000).
    Hilang $10 per ton, sementara 1 x pengiriman minimal 30.000 ton. Dikali 12 pengiriman setahun, dikali ratusan transaksi, berapa lost-nya?
    Komoditi ekspor jadi murah, mau impor jadi mahal.

    Semua harga naik sementara nilai rupiah turun …
    Bagi seorang aktifis sejati, ini semacam alarm yg membangunkan tidurnya.
    Ini ancaman bagi negeri.
    Pejuang sejati bergerak karena jiwanya, bukan karena perutnya.
    Berjuang bersuara bukan karena gejolak perutnya, namun gejolak jiwanya melihat negeri nestapa.

    Siapa yg siap menyambut panggilannya?
    Karena diam adalah kejahatan

  8. Bagi kalangan tertentu, seperti freelance yang bekerja dengan penghasilan dolar, sudah pasti mereka senang. Tetapi untuk kalangan tertentu, kenaikan dolar mempunyai dampak yang cukup besar. Sudah pasti harga keperluan dapur nantinya akan ikut naik.

  9. Kayaknya pemerintah saat ini sukanya ngeles mulu.Disitu saya merasa sedih 😦

    • Sejak awal pemerintahan ini dibentuk memang disertai dengan nafas “ngeles” #BukanUrusanSaya

      Ini ada satu lagi yang ngeles, belum masuk dalam jurnal di atas: Rupiah Melemah, Menteri Marwan Anggap Untungkan Desa
      http://www.jpnn.com/read/2015/03/21/293569/Rupiah-Melemah,-Menteri-Marwan-Anggap-Untungkan-Desa

      Menteri Marwan bilang: pelemahan rupiah membawa berkah bagi produk-produk dalam negeri yang memiliki nilai jual tinggi di pasar ekspor. Di mana, produk-produk tersebut banyak diproduksi di daerah-daerah tertinggal.

      Faktanya: Secara umum, nilai ekspor produk di Indonesia menurun terkait naiknya harga bahan baku, produksi menurun, disusul meningkatnya PHK.

  10. ramarizana says:

    Saya bingung harus gimana pak, mau senang atau sedih 😦
    *balada mahasiswa di luar negeri

  11. alrisblog says:

    Saya gak ngerti darimana untungnya pemerintah dengan keadaan dolar menguat. Harga sembako aja yang ikut naik akibat kebodohan menaikkan harga premium gak pernah turun tuh. Malah harga beras gak mampu tuh nurunin.
    Ketidakmampuan pemerintah lalu cari negara lain yang lebih jatuh sebagai pembanding. Ini ciri pemimpin yang gak mampu, orientasi hanya pengen berkuasa.
    Beberapa proyek ditunda investor, karena komponen import yang begitu tinggi.
    Berharap krisis 2008 tidak terulang. Semoga pemerintahan tidak hanya pencitraan.

    • Selama ini pemerintah hanya melakukan langkah2 normatif untuk menyelamatkan jebloknya nilai tukar Rupiah. Upaya penyelamatan rupiah kudu menyentuh akar persoalan. Untuk mengatasi hal itu, harus ada aliran modal masuk baik dari devisa hasil ekspor maupun penanaman modal langsung.

      Selama ini pemerintah selalu menganggap fundamental ekonomi kuat krn gak ada capital flow atau aliran modal keluar. Padahal perekonomian Indonesia masih rentan krn saat ini kita sangat tergantung dgn impor, shg depresiasi rupiah bisa memengaruhi daya beli masyarakat menjadi lemah.

      Kalo sudah di atas 13 ribu dan trus melemah mestinya sudah ada langkah cepat dari pemerintah. Jika pemerintah tidak segera ambil langkah taktis untuk memberikan penanganan jangka pendek, Rupiah diperkirakan bisa menembus angka Rp 15 ribu thd dolar AS.

  12. jampang says:

    bingung saya mau komentar apa.
    hikssss….

  13. Dyah Sujiati says:

    Rezim ini, udah nggak bawa kebaikan apa-apa, malah menjerumuskan rakyat pada kebodohan kolektif.

    Musti diingetin nih..

    Melawan rezim yang melakukan pembodohan adalah kegiatan menebar kebaikan. https://dyahsujiati.wordpress.com/2015/03/12/menebar-kebaikan/

  14. […] akal dengan sangat keterlaluan. Contoh saat menyebut perahu getek sebagai kapal. Lalu kini saat rupiah melemah, malah bilang negara untung. […]

  15. Izin share ya mas. Rasanya kok saya makin pesimis sama kondisi negri ini 😦

    • Miris ya. Semuanya sibuk akrobat dan bersilat lidah cari aman.
      Padahal krisis ekonomi bisa menyergap tanpa diundang, ketika semua orang tertawa lebar.

      Monggo, mbak Zahra, kalo mau di-share.

  16. azfiamandiri says:

    mata uang terbagi 2 :
    soft currency, yaitu mata uang yang mudah berfluktuasi ataupun terdepresiasi, karena perekonomian negara asalnya relatif kurang mapan..biasanya Mata uang negara-negara berkembang
    hard currency, mata uang yang punya kemampuan untuk mempengaruhi nilai mata uang yang lebih lemah..umumnya mata uang negara maju.

    khayal saya adalah kenapa tidak bergabung ke mata uang yang lebih stabil, misal dinar yang sudah lama isunya digaungkan… atau setidaknya membuat mata uang gabungan semisal EURO, bukankah pula kita akan memasuki MEA, ya sekalian saja penyatuan mata uangnya.

    CMIIW.

    • Indonesia kalo mau penyatuan mata uang, paling mengikuti regionalnya yaitu ASEAN. Tapi gak semudah itu, kang Agus, bisa jadi butuh puluhan tahun baru terealisasi, sebab pondasi ekonomi antar negara-negara ASEAN tidak sama, timpangnya terlalu jauh, gak seperti meratanya kondisi ekonomi di negera-negara Eropa yg menerima Euro.

  17. rahmatt says:

    Soal pernyataan Menkeu tentang pelemahan rupiah itu, saya menduga entah wartawan atau justru Pak Menteri yang kurang tepat dalam memahami analisis sensitivitas APBN terhadap asumsi ekonomi makro. Jika dibaca di dalam Nota Keuangan RAPBN-P 2015 (hal. 5-44 s/d 5-55 atau hal. 144-145 dalam file PDF), sebetulnya dampak perubahan asumsi ekonomi marko (yang di dalamnya termasuk nilai tukar rupiah) adalah terhadap POSTUR RAPBN-P 2015. Yang namanya POSTUR adalah dokumen perencanaan, dalam realisasinya, bisa lain. Apalagi analisis sensitivitas juga menggunakan asumsi-asumsi. Tidak salah jika depresiasi rupiah berdampak positif terhadap POSTUR anggaran. Kurang tepat jika hal itu dipahami juga berdampak positif terhadap realisasi anggaran karena dalam realisasi, kondisinya bisa berbeda dari asumsi-asumsi yang digunakan dalam analisis sensitivitas.

    Bagi saya, pernyataan Pak Menteri memang wajar dikritisi karena sebetulnya analisis yang beliau pakai adalah dalam konteks perencanaan anggaran, bukan realisasi anggaran.

    • Saya sependapat dengan Pak Rahmatt.
      Menkeu tsb tidak bisa hanya terus bicara soal mikro (infrastruktur, proyek dll), tapi juga harus canggih dalam merumuskan kebijakan dan berbicara tentang ekonomi makro.

  18. naniknara says:

    Dollar nggak naik, beras udah mahal.
    Dollar naik, harga sayur, lauk dan bumbu ikut naik.
    Eh tapi memang sekarang ini jamannya penghematan. Ini hari ke empat saya kebetulan ada kegiatan workshop, nggak dapet makan siang. Padahal dulu-dulu kalau workshop pasti coffe break dua kali plus makan siang.

    • Waduh.. paket hemat banget ya, mbak. Padahal momen coffee break dg kudapan2 ringan itu adalah semacam doping biar gak suntuk, atau kesempatan jadi bahan prospecting dg peserta2 lainnya 🙂

  19. kasamago says:

    Flasdisk yg tadinya murah meriah mulai beranjak naik..

    Penguasa skrg sngt terkesan menggampangkn smua mslh yg ada. Klo udah njebluk baru kluar cengengesan ala ayam kena tulup..

  20. Ryan says:

    Jangka pendek memang untung pemerintah. Tapi kalau lanjut? Seperti yang mas bilang. Inflasi naik.

  21. Pusing mikirnya Mas. Nanti kalau inflasi gila2an mau makan nasi sama garam aja. Lha tapi beras sama garamnya impor. Modyar!

  22. izzatyzone says:

    Pertama yg saya bilang waktu ada berita itu: kok isoooo, utang indonesia yo nambah lah. Dah itu tok Pak 😀 ternyata dampaknya mmg jauh lbh besar. Msh gak hbs pikir kok bs bikin statemen demikian para pemikir negara ini. Disitu sering saya merasa sedih..

  23. dani says:

    Lihat kondisi akhir akhir ini agak menghawatirkan emang Mas. Beberapa nasabah bahkan sudah mulai mempertimbangkan menunda proyeknya. Semoga sih pemerintah beneran mikirin dan cari jalan keluarnya.

  24. Sentilan mas Iwan yg manis.. 😀
    Baru nyadar alamat rumahnya baru 😀

  25. Endingnya bikin nyengir 🙂

    Kalau merhatiin kinerja pemerintah dari awal, ga aneh liat oknum pemerintahan yg ngeluarin statement nyeleneh. Berulang-ulang dan selalu dibenarkan. Apalagi “dinaikkan” sama media. Gimana pas MEA nanti ya. Mestinya Time bikin tajuk “A New Hopeless” 😀

    • Betul, mas.
      Saya yakin lho menteri itu orang pinter, tapi sengaja menutup mata bahwa sebagian besar kegiatan produksi untuk ekspor di dalam negeri membutuhkan dolar mulai dari biaya investasi hingga produksi, baik untuk menghasilkan minyak, gas, mineral, batubara, dan juga kegiatan industri lainnya. Karena faktanya: 70% bahan baku industri kita adalah impor.

      Dengan demikian kondisi ini bisa meningkatkan ongkos produksi, inflasi yang tidak terkendali dan suku bunga yang menjulang tinggi. Perusahaan swasta maupun BUMN saat ini telah tersandera utang luar negeri yang menggunung. Bagaimana mungkin jatuhnya rupiah akan meningkatkan penerimaan pajak?

  26. lazione budy says:

    tenang, saya ga panic kok.
    Hehe..

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat