Home » Indonesia Crisis » Evaluasi Penggunaan Kata Kasar & Jorok di Stasiun TV

Evaluasi Penggunaan Kata Kasar & Jorok di Stasiun TV

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

Bismillah …

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok buka-bukaan di KompasTV bersama Aiman Witjaksono dalam program Kompas Petang (17/3/2015). Wawancara tersebut disiarkan secara LIVE. Namun, selama wawancara tersebut keluar kata-kata kasar, kotor, dan jorok dari mulut Ahok, seperti: Taik, Bangsat, Goblok, Nenek bego, dll. Tentu saja, awak media Kompas TV dibuat kerepotan saat menyensor wawancara tersebut sebelum rekamannya dirilis di situs medianya, karena saking banyaknya kata-kata itu diumbar Ahok.

Menyikapi ucapan kasar, kotor dan jorok dari Ahok tersebut, Ketua Komisi I DPR RI Drs.H. Mahfudz Siddiq, M.Si, menyampaikan surat terbuka untuk Ahok, yang isinya bisa kita baca di sini: Antara, 20/3/2015

Malam ini, 21/3/2015, Pak Mahfudz Shiddiq melalui akun media sosialnya, @MahfudzSiddiq, menyampaikan evaluasi kritis bagaimana penggunaan kosa kata kasar dan jorok di stasiun TV kita. Berikut kutipan penuh penyampaian pandangan dari beliau:

Ahok Ucap Kata Kasar dan Kotor di Stasiun TV, Apakah Indonesia Lebih Liberal dari AS?
Oleh: Drs.H. Mahfudz Siddiq, M.Si

Yuk kita sharing info dan pengetahuan tentang etika bicara di TV sebagai ruang publik.
Saya gunakan hastag #shit karena akan menggunakan kasus dengan kata tersebut yang terucap dari lisan seorang presiden. Dari kasus ini kita akan dapat komparasi bagaimana negara dan masyarakat barat liberal menyikapi penggunaan TV sebagai ruang publik. Lalu kita bisa ambil pelajaran bagaimana kita sebagai negara dan bangsa timur dengan nilai-nilai Pancasila menyikapinya. Pelajaran ini bisa diletakkan dalam konteks bermacam kasus. Di antaranya kasus wawancara gubernur Ahok dengan Kompas TV.

Bermula dari percakapan informal antara presiden AS George Bush Jr dengan PM Inggris Tony Blair dalam sesi rapat pertemuan puncak G-8. Pertemuan di St Petersburg- Rusia tersebut diliput live banyak stasiun TV di antaranya CNN. Tema bahasannya tentang situasi konflik Timur Tengah. Di sela rapat tersebut terjadi obrolan informal antara Bush dan Blair – yang kemudian jadi menghebohkan. Bush sangat geram dengan sikap PBB terhadap konflik Israel yang diserang mortir-mortir Hizbullah. Lalu setengah berbisik kepada Blair, presiden Bush berujar: “See the irony is what they need to do is get Syria to get Hezbollah to stop doing this shit and it’s over!”
Bush menggunakan kata “shit”.



Rupanya obrolan ini tertangkap mikrofon di depan mereka yang masih ON. Percakapan itu terdengar di forum dan tersiar live di CNN. Menyadari situasi itu, kedua pemimpin negara besar sontak kaget. Spontan Blair mematikan mikrofon di depan meja mereka. Keduanya gagap dan staf mereka segera memastikan tidak ada TV yang meliput live. Apa nyana TV CNN sedang ON AIR.

Insiden dengan ucapan satu kata #shit yang diucapkan hanya sekali oleh Bush tak bisa dicegah telah tersiar ke seluruh penjuru dunia via TV CNN. Esoknya publik Amerika geger atas insiden kata #shit dari mulut presiden mereka. Tuai protes dimana-mana dan menjadi isu debat publik di media. Publik Amerika malu atas insiden tersebut meski mereka mendapat penjelasan akan ketidak-sengajaan ini. Akibat protes dan tekanan luas, akhirnya Bush meminta maaf secara terbuka dan disiarkan live oleh banyak TV.



Berlanjut, Federal Communication Commission (FCC) – semacam Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ikut bereaksi. FCC memanggil direksi CNN atas tayangan live tersebut dan dikenakan sanksi denda besar. Kenapa FCC merespon keras? Karena mereka mempunyai code of conduct dan code of ethics untuk lembaga penyiaran, antara lain: “Seven dirty words”. “Seven dirty words” adalah 7 kosa kata kasar dan kotor yang diharamkan tayang di media penyiaran. Salah satunya kata “shit” atau “tai”.

Jadi dalam kasus #shit tersebut seorang Presiden mendapat sanksi sosial dan harus minta maaf secara terbuka, disiarkan langsung oleh banyak TV. Stasiun TV CNN yang tanpa sengaja menyiarkan langsung ucapan #shit itu pun mendapat sanksi berat dari Komisi Penyiaran di Amerika (FCC). Tony Blair yang tidak menggunakan kata #shit ikut terkena imbas pada insiden tersebut. Ikut menuai sorotan dari publik di Inggris.

Itu contoh kasus penggunaan kata kasar dan kotor di TV sebagai ruang publik oleh seseorang yang kebetulan Presiden Amerika.

Nah mari kita evaluasi kritis bagaimana penggunaan kosa kata kasar dan jorok di stasiun TV kita. Anda mungkin punya lebih banyak info. Kasus Gubernur Ahok dengan Kompas TV sangat kontras jika dibandingkan kasus Bush dengan TV CNN. Karakter Ahok yang temperamental dan tak bisa menjaga lisan tentu sudah dipahami baik oleh redaksi Kompas TV. Artinya keputusan wawancara live harus disiapkan matang termasuk antisipasi jika Ahok mengeluarkan kata-kata kasar dan jorok.



Aiman dari Kompas TV saya apresiasi saat beberapa kali mengingatkan Gubernur Ahok saat bicara kasar dan jorok. Tapi ketika Ahok cuek dan malah mengulang-ulang kata #shit (maksudnya: Taik!), Aiman bisa stop wawancara, atau siaran di-cut dengan jeda iklan.

Produser Kompas TV yang di lapangan juga bisa OFF kan mikrofon Ahok sehingga suara tidak keluar di TV. Dan Aiman sebagai pewawancara juga semestinya meminta maaf kepada pemirsa saat atau di akhir wawancara dengan Ahok. Banyak cara yang bisa dilakukan Kompas TV untuk menyikapi kasus ucapan Ahok yang kasar dan jorok tersebut. Namun mereka tidak lakukan.

Setali tiga uang dengan Gubernur Ahok. Ketika diingatkan pewawancara agar berkata sopan, malah Ahok ulang-ulang kata “Taik”. Malah Ahok sangat sadar kalau itu siaran live dan ia gunakan untuk mengumbar kata-kata kasar dan jorok. Gubernur Ahok pun tidak pernah minta maaf secara terbuka, khusus dan disiarkan TV. Dia ada minta maaf sambil lalu saat ditanya pers.

Bagaimana dengan Komisi Penyiaran Indonesia?
Saya belum mendengar ada sikap resmi kelembagaannya terhadap Kompas TV. Memang ada komentar dari seorang komisioner KPI. Tapi yang ditunggu adalah sikap kelembagaannya.

KPI sesuai tupoksi memang tidak berwenang menegur dan memberi sanksi ke Ahok soal ucapan #shit di TV. Namun mereka bisa lakukan hal lain. Yaitu KPI berkoordinasi dengan Mendagri, Menpan dan Komisi Aparatur Sipil Negara membicarakan etika pejabat publik di media penyiaran. Mendagri bisa melakukan pembinaan fungsi penyelenggaraan pemerintahan kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Kemenpan juga berwenang melakukan pembinaan pada personil aparatur negara termasuk kepala daerah. Komisi Aparatur Sipil Negara bertugas mengawasi penerapan kode etik dan kode perilaku aparatur sipil negara.

Tapi aneh!! Tak satu pun dari ketiga lembaga negara itu menunjukkan respon dan sikapnya terhadap kasus ini. Ketika sejumlah warga mengkritik ucapan Gubernur Ahok di Kompas TV – dari arah lain muncul ahokers yang membela mati-matian.

Apakah kita sedang hidup di zaman anarki?>
Lebih bebas dari negara se-liberal Amerika??



Mari kita merenung di malam hari ini…
Berbicara dengan hati nurani.
Good nite….

===== kultwit selesai =====

Catatan:
Drs.H. Mahfudz Siddiq, M.Si (lahir di Jakarta, 25 September 1966) adalah anggota DPR RI periode 2009-2014 dari Fraksi PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Di DPR RI, beliau ditunjuk menjadi Ketua Komisi I, Pimpinan Pansus Bank Century dan pernah menjabat sebagai Ketua Fraksi PKS DPR-RI, kini sebagai Wakil Sekjen PKS. Beliau juga Direktur Yayasan Iqra, Bekasi.

————————-
[UPDATE 23 Maret 2015]

Penghentian Sementara Segmen Wawancara Pada Program Jurnalistik “Kompas Petang” Kompas TV [kpi.go.id]

Inilah sebagian ucapan Ahok yang kotor dan jorok itu:

“… istri saya mau nerima CSR untuk main di kota tua. Lu buktiin aja nenek lu sialan bangsat gua bilang. Lu buktiin aja. Gue juga udah keki”.
“… lu lawan bini gua kalah lu mati aja lu. Kasih taik aja muka lu”.
“… kalau betul ada suap 12,7 triliun kenapa si DPRD membatalkan lapor ke Bareskrim? Kok goblok sekali lu orang?
… kalau ada bukti memang nyuap apa lu laporin dong bego.
… bego banget lu gitu lho.
… sementara ada bukti gua mau nyuap lu 12,7 triliun, kok lu nggak berani laporin? Gua kuatir lu kemaluan lu punya ga nih?
… eh dibalikin ini yang buat suap. Sialan nggak tuh? Makanya gua bilang panggil gua datang ke angket. Kapan lu panggil biar gua jelasin semua. Gua bukain lu taik-taik semua itu seperti apa.
… nggak apa-apa, biar orang tau emang taik gua bilang….
… kalau bukan taik apa? Kotoran. Silakan. Emang taik namanya kok. Emang taik, mau bilang apa.
… TV jangan pernah wawancara gua live kalo nggak suka kata gua taik segala macem. Itu bodohnya anda mau live dengan saya…

Advertisements

20 Comments

  1. Bener banget kak, boleh aja kok pejabat atau siapapun itu ceplas-ceplos di TV asal kata-katanya jangan kotor, karena tidak baik bila ditiru anak-anak 🙂

  2. Secara etika memang tidak selayaknya berkata kasar, bicara dengan hati2 dan selembut-lembutnya agar tidak menyinggung perasaan apalagi di siarin di Tv

  3. close2mrtj says:

    Ah, Ahok… kok gitu sih… 😦

  4. Pak Iwan, saya kehilangan kontak panjenengan. Sekarang dah pake domain pribadi ya Pak. Apakah kena biaya mapping untuk dikoneksikan ke wp ini? Karena saya juga mau nyoba konekkan lagi domain saya yang .com ke wp saya, tapi dulu masih belum jadi karena ada biaya mapping, beda dengan blogspot ya ga ada biayanya.

  5. alrisblog says:

    Kalo gaya ceplas ceplosnya saya suka. Tapi kata-kata kotor itu saya tak terima.

  6. http://remotivi.or.id/kabar-tv/mengatur-umpatan-di-televisi

    Di Amerika, pernah ada masa ketika stasiun televisi diganjar denda oleh Federal Communications Commission (FCC) bila kedapatan menyiarkan tujuh kata berikut: “shit”, “piss”, “fuck”, “cunt”, “cocksucker”, “motherfucker”, dan “tits”. Larangan ini dikenal dengan istilah “Seven Dirty Words”.

  7. Kinerja KPI perlu ditingkatkan lagi.

  8. izzatyzone says:

    Saya bengong waktu ntn itu Pak XD weladalah… doi kalo ngomong di rumah jg bakal ky gitu kah ya.. aduh kesian anak2 nya.. klo dimarahin sll pake kata kotor.
    Ohya saya jg berpikir, beda loh ngomong kasar sama ngomong kotor kayaknya heuheu..

  9. Saya setuju, penggunaan kata kotor memang kurang elegan.

  10. Logikanya kalau seorang pemimpin berani bersikap buruk di depan publik, dia akan lebih berani bersikap buruk di belakang publik.

  11. Dyah Sujiati says:

    Ini memang negara aneh

  12. Ahok berpotensi melanggar TAP MPR VI/2001 tentang Etika Kehidupan Bernegera.
    http://news.okezone.com/read/2015/03/22/338/1122419/caci-maki-ahok-lecehkan-tap-mpr

  13. Teriak Anti Korupsi kok dianggap prestasi.
    Entah dari mana dibilang anti korupsi. Padahal sudah ada indikasi dia juga main. Mulai dari Ahok Centre, izin reklamasi pantai Jakarta, istri sama adiknya main proyek.
    Di masa kepemimpinan Jokohok juga ada bus karatan yang di mark up terbongkar. Walau TSK baru kena sebatas Udar.
    Sebelum Ahok koar-koar di media soal UPS, jauh hari, sebulan sebelumnya polisi sudah sibuk menyelidiki kasus UPS.
    Pak Triwisaksana (Waka DPRD DKI) juga sudah membongkar anggaran triliunan disisipkan di APBD untuk konsultan, media, narsum, sosialisasi, jalan-jalan dan uang makan.

  14. pemikirulung says:

    abis itu pak mahfudz sidik dibully fans ahok ga? kan ahok banyak fans butanya tuh

    • Barusan search untuk melihat komentar2 yg mention Pak Mahfudz wah banyak banget yg nge-bully, seperti biasa menghubung-hubungkannya dg sapi, seperti gak ada bahan lain.

      Kalo betul Revolusi Mental, maka mereka akan menjadikan media sebagai tempat bersosialisasi, bukan tempat menaruh emosi.

    • Susie Ncuss says:

      ya Allah, sedih banget saya ngeliat kondisi negri ini.
      benar2 tanda akhir zaman.
      T.T

  15. Dalam hal ini saya kurang simpati dengan tutur kata Ahok, meskipun saya yakin bahwa pak Gubernur benar. Inilah Indonesia, mungkin hanya orang dengan ucapan kasar yang bisa memperbaiki pemerintahan yang santun namun kotor 🙂

    • Di negeri ini banyak kepala daerah yang santun, anti korupsi, dan mempunyai prestasi segudang, termasuk mengantarkan daerahnya memperoleh WTP berturut-turut. Figur spt Pak Ahmad Heryawan dan Pak Ridwan Kamil contohnya.

      Juga ada kepala daerah yang tegas, anti korupsi, dan tidak pernah berkata kasar dan kotor, dengan segudang prestasi, termasuk mengantarkan daerahnya dikenal luas di dunia internasional. Figur spt Bu Risma contohnya.

      Jadi, jika otak kita jernih, maka kita akan tahu bahwa kata-kata kotor dan korupsi itu adalah 2 hal bahasan yang berbeda 🙂

  16. ayanapunya says:

    Du luar ternyata lebih ketat ya, mas peraturan penyiarannya

    • Betul, mbak Antung.

      Oleh karena itu, dari saya, tak ada maaf bagi Ahok. Saya menolak menurunkan standar ideal pemimpin dengan menerima kebiasaan buruknya memaki di muka publik.

      Memaki itu biasa. Memaki di muka publik: itu yang tak biasa. Pemimpin harus bisa kontrol emosi agar selalu mampu bedakan salah dari benar.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat