Home » Indonesia Crisis » Terancamnya Pasar Rakyat dan Hilangnya Kepedulian

Terancamnya Pasar Rakyat dan Hilangnya Kepedulian

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Bismillah …

…..

Inilah penjajahan masa kini.
Kurcaca sukses curangi kurcaci.
Penguasa pura-pura buta-tuli.
Yang penting lancar setoran upeti.

Mengapa kita alergi belanja?
Di pasar rakyat dan warung tetangga.
Mengapa kita tega bahkan bangga?
Redupkan pijar asa sudra jelata.

Inilah realita ironis tragis.
Kurcaci bangga hidup konsumeris.
Pantaslah jika krisis smakin kronis.
Ibu pertiwi sedih dan menangis…

Itulah sebagian petikan lagu dari Hari Widi, berjudul “Super Market” [YouTube].

Sadarkah kita tentang adanya ‘penjajahan masa kini’ dalam lagu di atas?

Sampai saat ini di tingkat nasional, terdapat 28 ritel modern utama yang menguasai 31% pangsa pasar ritel dengan omzet Rp 70,5 Triliun. Ini berarti bahwa satu ritel modern menikmati Rp 2,5 Triliun omzet/tahun. Bahkan, porsi terbesar keuntungan tersebut hanya dinikmati oleh 10 ritel modern inti seperti Indomaret, Alfamart, Supermarket Hero, Carrefour, Superindo, Foodmart, Yogya, Ramayana, Hypermart Carrefour, Hypermart, Giant, LotteMart, dan Indogrosir. Jika dibiarkan, kondisi ini cenderung mengarah pada praktik monopoli atau oligopoli, yang bertentangan dengan semangat UU no. 5 th 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Pesan – pesan luhur dari para pendiri republik kita yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, telah dikhianati oleh para pembuat kebijakan di negeri ini. Terbukti banyak kebijakan mereka, -baik langsung maupun tidak langsung-, telah memuluskan langkah para raksasa ekonomi sehingga mayoritas rakyat kini (sadar atau tidak) berada dalam kondisi terjajah kembali secara ekonomi.

Salah satu fakta mencengangkan, bisa disimak di Vivanews.com, 20 Juli 2010 bahwa Jakarta adalah kota dengan mall terbanyak di dunia! Pusat belanja atau mal di Jakarta sudah tumbuh di luar kendali, kini jumlahnya mencapai 170 lebih dan telah melebihi batas ideal dari jumlah penduduknya. Banyak kawasan yang semula tidak direncanakan menjadi kawasan bisnis harus beralih fungsi menjadi kawasan komersil. Kondisi yang sama juga terdapat di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Fakta lainnya, berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian tahun 2007 dan Kementrian Perdagangan tahun 2011 jumlah pasar tradisional di Indonesia mengalami penurunan cukup drastis dari tahun 2007-2011. Pada tahun 2007, jumlah pasar tradisional mencapai 13.450. Tapi pada tahun 2011, jumlahnya tinggal 9.950. Pasar tradisional berkurang lebih dari 3 ribu selama periode 2007-2011. Pada waktu yang bersamaan, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) merilis kenaikan jumlah retail modern yang cukup signifikan tahun 2007-2011. Kenaikannya hampir 8 ribu retail modern. [Neraca, 14/2/2014].

Hilangnya pasar tradisional dalam jumlah yang sangat besar adalah masalah yang serius. Bila kondisi ini dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan 10 tahun lagi, pasar tradisional yang merupakan salah satu warisan dalam peradaban kita dan selama ini menjadi penyangga ekonomi rakyat akan punah / menghilang di seluruh Indonesia.

pasar rakyatSelain sebagai tempat berkumpulnya penjual & pembeli, berinteraksi sosial, bersapa, ada tawar-menawar, dan ada semangat silaturahim; pasar rakyat juga menjadi tempat wisata keluarga sekaligus belajar berjual-beli, berwirausaha, bernegosiasi, menjadi orang yang mandiri.

Istilah Pasar Tradisional pelan-pelan berubah sebutannya menjadi Pasar Rakyat. Alasannya karena ‘tradisional’ selalu dikontraskan dengan modern. Tradisional identik dengan kumuh, jorok, becek, dan membosankan; sementara modern lebih mengesankan bersih, nyaman, dan menarik. Perubahan penyebutan ini pun akhirnya dituangkan dalam UU Perdagangan no.7 tahun 2014, pasar tradisional berubah menjadi pasar rakyat, dan pasar modern berubah jadi pasar swalayan. [Baca UU No.7/2014]

Sudah seharusnya Pemerintah bersungguh-sungguh memperhatikan keadaan Pasar Rakyat di Indonesia dan mampu menjadikannya sebagai National Heritage, warisan budaya yang membanggakan. Namun nyatanya, pemerintah seperti belum mampu menghargai keberadaan Pasar Rakyat, yang menjadi kebutuhan dasar sebagian besar rakyat Indonesia.

Padahal, bila di musim kampanye pileg dan pilpres, seperti biasa pasar menjadi tempat blusukan favorit bagi politisi untuk menebar janji mereka guna mendulang banyak suara. Kepedulian bukan seperti itu, bila nyatanya setelah dipilih, keberadaan mereka diabaikan dan dilupakan.

Bagaimana kondisi kebanyakan Pasar Rakyat?

Meskipun kualitas barang yang diperdagangkan bagus dan lebih fresh, tapi tengoklah kondisi kebersihan, tata letak barang, juga fasilitas umum demi kenyamanan dan keamanan berbelanja. Kebanyakan kondisinya begitu buruk. Kondisi ini pun diperburuk dengan banyaknya informasi produk barang yang menggunakan zat kimia berbahaya, praktik penjualan daging oplosan, serta berbagai kecurangan lain yang menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah.

Seharusnya Pemerintah Indonesia malu bila Pasar Rakyat-nya masih identik dengan becek, kotor, bau, dan sampah menggunung yang sengaja tak diangkat. Saya sependapat dengan Ketua IKAPPI, Pak Abdullah Mansuri yang mengatakan bahwa kumuhnya pasar tradisional tak seutuhnya menjadi kesalahan pedagang karena mereka telah memberikan retribusi kebersihan kepada pengelola pasar. [RMOL, 17/5/2015]

Harusnya kita malu dengan negara-negara lain yang mampu mempertahankan Pasar Rakyat hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Di Australia ada Queen Victoria Market, di Inggris ada Covent Garden, di Perancis ada Le Puces, di Thailand ada Chatuchak Weekend Market.
Nah.. di Indonesia bagaimana?
Kebanyakan Pasar Rakyat dibiarkan kumuh, tergusur, dan terbakar… keberadannya tidak bisa bertahan lama. Negara yang seharusnya mampu mensejahterakan rakyatnya, kini seperti terlihat sedang berproses memiskinkan warganya. Bagaimana tidak, kebakaran pasar yang terjadi setiap hari, namun tidak dianggapnya sebagai bencana nasional, padahal ini menyangkut hak hidup jutaan orang.

ADA KEBAKARAN PASAR SETIAP HARI?

Ya. Berdasarkan data DPP IKAPPI, dalam rentang waktu Januari hingga April 2015, telah terjadi kebakaran di lebih dari 140 pasar tradisional, dengan rincian 50 kebakaran pasar tradisional besar, dan 90 pasar kecil di seluruh Indonesia. Artinya hampir setiap hari ada pasar tradisional di Indonesia yang terbakar. [Bisnis.com, 6/5/2015]



Melalui akun twitter DPP IKAPPI (@DPP_Ikappi), dipublikasikan data pasar terbakar sejak Januari 2015. Karena banyaknya pasar terbakar, di bawah ini hanya di-infokan pasar-pasar besar saja. Berikut ini datanya: [Update 25/7/2015, Total 182 Pasar Besar dan Kecil Terbakar]

Januari 2015:
[1] Pasar Gayamharjo, Prambanan; [2] Pasar Sentral, Kotabumi; [3] Pasar Inpres, Kebun Sayur, Balikpapan; [4] Pasar Youtefa, Abepura; [5] Pasar Lama, Sukamala; [6] Pasar Pandaan, Pasuruan; [7] Pasar Panjang, Kendari; [8] Pasar Nagari, Agam; [9] Pasar Padang Luar, Banuhampu, Agam; [10] Pasar Inpres, Jakbar; [11] Pasar Blok B, Pulangrejo; [12] Pasar Tayu, Pati; [13] Pasar Raya, Padang; [14] Pasar Tamin, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung; [15] Pasar Giri, Gresik; [16] Pasar Cikupa.

Februari 2015:
[1] Pasar Samanda; [2] Pasar Horas; [3] Pasar Ubud; [4] Pasar Pandasari, Kaltim; [5] Pasar Krapyak, Sragen; [6] Pasar Pandangan, Rembang; [7] Pasar Pengarengan; [8] Pasar Ulul Albab; [9] Pasar Sentolo; [10] Pasar Inpres, Flores.

Maret 2015:
[1] Pasar Ketaping; [2] Pasar Pakong; [3] Pasar Nauli, Sibolga; [4] Pasar Cikurubuk; [5] Pasar KTM; [6] Pasar Blok G; [7] Pasar Pasang Kayu; [8] Pasar Kolaka; [9] Pasar Mumbal; [10] Pasar Tengah, Lampung.

April 2015:
[1] Pasar Pelalawan; [2] Pasar Kemakmuran, Kota Baru; [3] Pasar Soreang; [4] Pasar Inpres Sintong; [5] Pasar Lokbin; [6] Pasar Rukah; [7] Pasar Inpres, Muara Enim; [8] Pasar Pagi Lama; [9] Pasar Raya, Padang.

Mei 2015:
[1] Pasar Johar, Semarang; [2] Pasar Panorama, Lembang, Bandung; [3] Pasar Tingkat, Maumere; [4] Pasar Inhutani, Nunukan; [5] Pasar Jatayu, Bandung; [6] Pasar Galaksi, Bekasi; [7] Pasar Desa Nusantara, Banda Naira; [8] Pasar Tangga Arung, Tenggarong; [9] Pasar Simpang Empat, Pasaman Barat

Juni 2015:
[1] Pasar Pangandaran; [2] Pasar Way Jepara, Lampung; [3] Pasar Yos Sudarso, Riau; [4] Pasar Sajumput; [5] Pasar Kaliangkrik, Magelang; [6] Pasar Lokbin; [7] Pasar Besar, Kota Madiun; [8] Pasar Ace Mijen

Juli 2015:
[1] Pasar Ngawen, Blora; [2] Pasar Cik Puan, Pekanbaru; [3] Pasar Lama Pasir Pengaraian, Riau; [4] Pasar Truko, Grobogan; [5] Pasar Gondangrejo, Karanganyar; [6] Pasar Lubuk Buaya, Padang; [7] Pasar Korem, Kendari; [8] Pasar Angso Duo, Jambi; [9] Pasar Gedebage, Bandung; [10] Pasar Padang Panjang; [11] Pasar Sambas, Kalbar; [12] Pasar Barito, Semarang; [13] Pasar Sepeda, Cempaka, Banjarmasin; [14] Pasar Mantangai, Kapuas; [15] Pasar Inpres Pagaden, Subang; [16] Pasar Lorong, Koja.

Betapa besar total kerugian, bila untuk setiap satu pasar besar yang terbakar, sejumlah ratusan toko, kios, los dan tenda luluh lantak dilahap api, sehingga kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Setiap kali satu pasar terbakar, selalu muncul tiga isu.
Pertama, hampir selalu dikatakan dan dipercayai bahwa penyebab kebakaran adalah kortsleting.

Kedua, musibah kebakaran selalu berdekatan waktunya dengan rumor atau polemik tentang rencana renovasi total bangunan pasar rakyat yang lebih banyak ditolak oleh pedagang. Alasan penolakan saya rasa logis, renovasi total akan menjadikan pasar lebih kelihatan modern yang tentunya dengan konsekuensi harga sewa menjadi lebih mahal.

Ketiga, merupakan operasi senyap oknum yang hendak membabat habis usaha kerakyatan agar nantinya bekas pasar rakyat akan dibangun mal atau pusat pertokoan modern yang bukan rahasia lagi akan dikuasai konglomerat yang itu-itu lagi.

Sejauh ini memang tidak pernah terungkap secara gamblang dan terang benderang keterkaitan antara isu kedua dan ketiga di atas dengan peristiwa kebakaran pasar. Namun demikian beberapa tim investigasi melaporkan banyak menemukan kejanggalan. Contoh: 10 Kejanggalan Kebakaran Pasar Klewer. Maka adalah tugas pemerintah untuk menyelidiki dan menjelaskan kecurigaan itu melalui informasi yang memadai, agar tidak timbul sangkaan yang negatif di kalangan masyarakat. Penyelidikan yang tuntas sangat penting agar semua pihak dapat menarik pelajaran dari kasus itu.

Kembali ke soal kepedulian pemerintah …

Pasar rakyat sebagai bangunan publik, memiliki akumulasi manusia dan barang yang sangat besar dengan klasifikasi risiko kebakaran sangat tinggi. Namun sayangnya, pasar rakyat secara umum tidak dilengkapi oleh pihak pengelola maupun pemerintah daerah dengan unsur proteksi kebakaran yang memadai. Padahal Kepmen PU No.10/KPTS/2000 menyebutkan bahwa pengamanan pada bahaya kebakaran terhadap bangunan seperti pasar rakyat harus dimulai sejak proses perencanaan. Sehingga pasar yang akan dibangun harus juga memenuhi unsur sarana penyelamatan, sistem proteksi aktif dan pasif hingga pengawasan dan pengendalian kebakaran.

Tingginya angka kasus kebakaran pasar rakyat adalah indikasi minimnya pengawasan dan lemahnya perlindungan terhadap kondisi pasar rakyat.

Menurut DPP IKAPPI, mereka menilai banyak pemerintah daerah yang abai terhadap pemenuhan unsur-unsur proteksi kebakaran pasar. Retribusi yang selama ini dibayarkan oleh pedagang harusnya kembali dalam bentuk pemeliharan bangunan, instalasi listrik hingga pemenuhan unsur proteksi kebakaran. Seringkali instalasi listrik selalu menjadi kambing hitam kebakaran pasar. Sedangkan indikasi kelalaian dari pihak pengelola jarang sekali dibahas. Kemudian, DPP IKAPPI meminta kepada Pemerintah Daerah untuk segera melakukan upaya proteksi pasif dengan meningkatkan kemampuan pelaku pasar dan masyarakat sekitar dalam mengantisipasi kebakaran. Caranya dengan memfasilitasi peran aktif pelaku pasar seperti para pedagang, pengelola pasar, paguyuban pasar, koperasi pasar, serta masyarakat sekitar pasar seperti pihak RT/RW, Karang Taruna hingga tukang ojek. [RMOL, 17/5/2015]. Sebagai masyarakat, kita wajib mendukung seruan ini dan berpartisipasi aktif, minimal melaporkan bila menemukan ketidak-beresan kondisi yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran.

Ada kabar baik, APBN 2015 sudah cair, Pemerintah RI berencana merealisasikan pembangunan dan pembenahan 5 ribu pasar rakyat dalam lima tahun. Menurut Mendag, dalam program tersebut pemerintah tidak asal membangun secara fisik tanpa memikirkan tujuan, target dan manajemen pasar yang selama ini belum dikelola dengan baik. [RMOL, 17/5/2015].

Ya memang, Pemerintah termasuk lembaga-lembaga terkait semestinya menyiapkan UU yang mengatur Perlindungan Pasar Rakyat, dan kemudian mencanangkan program peremajaan pasar rakyat yang memihak pada kebutuhan pengguna dan masyarakat, dan juga tidak boleh alpa mengawasi dan memeriksa seluruh prosedur pengelolaan. Instansi yang berwenang seperti Dinas Pasar selain mengurusi penarikan retribusi, juga harus mampu melihat persoalan-persoalan kultur perilaku pengguna pasar secara mendalam dan detail.

Saya juga berharap setiap Gubernur bisa membuat semacam penilaian “Pasar Rakyat Terbersih dan Teraman” antar daerah di wilayah propinsinya, agar masing-masing pengelola berlomba menjadikan pasarnya menjadi tempat yang menyenangkan dan membanggakan.

Bangun Kepedulian Kita

Cara sehat mengembalikan kedaulatan ekonomi rakyat bisa dimulai dari diri kita. Belanjalah kebutuhan pokok di pasar rakyat, atau di warung-warung tetangga. Gak perlu di gerai-gerai yang sahamnya entah milik siapa.

Sampaikan feedback ke instansi terkait bila menemukan ketidak-beresan kondisi di pasar yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran atau mengganggu kenyamanan berbelanja.

Setelah belanja, cobalah mampir dan makan / minum di lingkungan pasar yang tentunya yang bersih pengelolaannya. Gak perlu di restoran cepat saji milik asing.

Minimal itu hal mudah yang bisa dilakukan bersama keluarga. Ajak juga keluarga tetangga yang lain. Mudah, bukan?! Hanya mengubah kebiasaan berbelanja saja.

Mari, rebut kembali kedaulatan ekonomi rakyat.
Hidupkan mereka para pedagang pasar.
Hidupkan semangat membangun kemandirian ekonomi kerakyatan.
Itu semua adalah upaya sederhana untuk menghidupi rakyat kecil dan menghentikan arogansi minoritas!
Merdeka!

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto
18.05.2015

———-
Jurnal ini diikutkan program #BerbagiBukuPrabowo dari Pak Ferry Koto, dengan tema: Pasar Tradisional [twit]

Advertisements

18 Comments

  1. WASPADA! INI BERBAGAI MODUS PEMBAKARAN PASAR TRADISIONAL! #SavePasarTradisional
    http://chirpstory.com/li/275279

  2. Waspada Penggusuran Pasar Tradisional!

    Penggusuran paksa merupakan KEJAHATAN ATAS KEMANUSIAN (Crime Against Humanity). Camkan!
    Apa yg dmaksud KEJAHATAN ATAS KEMANUSIAN?
    Pasal 7 Statuta Roma dan pasal 9 UU No.26/2000 menjelaskan semuanya. Tindakan tidak manusiawi dan dilakukan dg perencanaan dan persiapan lebih dahulu dan dilakukan secara sistematis atau meluas dan yang menjadi obyek adalah orang sipil.
    Kejahatan itu salah satunya adlh pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa dari dari daerah yg mana secara hukum yg sah mereka mempunyai hak untuk beraktifitas.
    Contoh.Penggusuran paksa terhadap pasar tradisional seperti yg terjadi akhir akhir ini.

    Pasal 9 ayat (1) UUNo.39 Thn 1999 bahwa setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf hidupnya
    Pasal 2 mengatur bahwa Negara akui dan junjung tinggi HAM dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yg secara kodrati melekat pd manusia dan tfk terpisahkan dr manusia,yg harus dlindungi,dhormati, dan dan ditegakkan demi dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan,kesejahteraan, kebahagiaan dan keadilan.
    Jd, Penggusuran paksa (forced eviction) pmindahn individu, mkeluarga dan/atau komunitas secara paksa (di luar kehendak) dari rumah dan/atau tanah yang telah mereka tempati untuk selamanya atau sementara. Dan tanpa penyediaan atau akses pada prosedur hukum yg benar maupun perlindungan yang diperlukan.

    Menurut AsianCoalitionForHousingRights, Newsletter No.15, Special Issue on Evictions,Oct 2003. Penggusuran paksa merupakan faktor utama penyebab kemiskinan di kota Asia. Sedangkan pemerintah kita,atas nama penataan, menggusur semaunya penggerak ekomomi bangsa.
    Terlalu banyak potret kedzoliman yg terlihat dlm setiap kasus penggusuran pasar. Pedagang hrs bersatu “MELAWAN!!!”
    Kaum pedagang harus menyakini bahwa mempertahankan hak kita atas upaya penggusuran paksa sah dan konstitusional
    Jangan biarkan sejengkal pun, pasar yg masih menjadi hak kita untuk berdagang digusur secara paksa untuk memuaskan syahwat Kapital Penggusuran paksa adlh proses pemiskinan yg sangat bertentangan dgn salah satu tujuan Negara Indonesia sebagaimana Amanat UUD1945 “Memajukan kesejahteraan umum, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”

  3. Begitulah pemerintah yang tidak berdiri di pihak rakyat. Setiap kali lewat Pasar Induk Kramat Jati saya selalu berangan, kapan pasar ini dijadikan destinasi wisata? Sebuah investasi yang tidak dikelola dengan baik karena silau dengan iming2 upeti dari pengelola hipermarket dan pemegang merk mal ternama. Btw, salut atas ketelitian pak Iwan dalam mengompilasi daftar pasar yang terbakar. Apakah tulisan2 ini pernah dikirimkan ke media massa pak?

  4. Syaiful says:

    Informasi yang sangat penting dan perlu diketahui oleh masyarakat

  5. Di dekat rumah saya ada pasar modern. Sebetulnya, sih, pasar tradisional juga. Tapi karena udah dibikin bagus, namanya jadi pasar modern. Tapi, kalau saya perhatikan, permasalahannya di perawatannya juga. Tadinya pasarnya bersih, cuma kok lama-lama mulai agak kumuh. Beberapa tahun ke depan bisa-bisa jadi pasar tradisional lagi kalau kayak begitu.

    • Nah.. inilah yang menjadi keprihatinan IKAPPI, yaitu lemahnya pengelolaan kebersihan pasar oleh pengelola dan pemda setempat. Padahal para pedagang sudah membayarkan retribusi secara rutin. Namun faktanya, sampah2 telat diangkut. Adanya sampah di suatu tempat mendorong orang-orang menjadi seenaknya membuang sampah sembarangan. Kalau tempatnya bersih, pengunjung pasti akan segan membuang sampah sembarangan.

  6. Nawa Sikap Pedagang Pasar Tradisional
    RMOL, 22/5/2015

    Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei adalah momentum tepat untuk mewujudkan kebangkitan pasar tradisional. Ada sembilan atau nawa sikap yang disampaikan DPP IKAPPI dalam rangka membangkitkan kembali pasar tradisional. Berikut nawa sikap tersebut;

    1. Segera wujudkan UU Perlindungan pasar tradisional;
    2. Maksimalkan peran pemerintah pusat dalam melakukan pengawasan dan perlindungan pasar tradisional;
    3. Perbaiki manajemen pengelolaan pasar tradisional di seluruh Indonesia;
    4. Stop kebakaran pasar tradisional;
    5. Libatkan pedagang pasar tradisional dalam setiap proses pengambilan kebijakan terkait pengelolaan pasar tradisional;
    6. Moratorium pendirian ritel modern, dan menutup ritel modern yang beroperasi tanpa izin serta memberi sanksi tegas;
    7. Stop penggusuran paksa pasar tradisional di seluruh Indonesia dan kriminalisasi terhadap pedagang pasar;
    8. Kembalikan fungsi pasar tradisional sebagai showroom produk lokal dan penyangga sosial dan budaya;
    9. Ayo..! kembali belanja ke pasar tradisional.
  7. alrisblog says:

    Saya pikir undang-undangnya sudah jelas yang mengatur keberadaan ritel modern. Tinggal ketegasan aparat pemda dalam pelaksanaannya. Butuh mental keberpihakan pada sipemodal kecil, itu yang sulit.

  8. @cizzos says:

    Reblogged this on Baselo.

  9. mysukmana says:

    Ironi memang pak..tp alhamdlh dkota saya.pasar2 tradisional mulai dbangun drenovasi lg oleh pemerintah kota setempat. Pembatasan alfamar dan indomart juga.yg kasian sbnrnya toko toko klontong..

    • Alhamdulillah … semoga dg dibangunnya pasar2 tradisional … ekonomi rakyat menjadi menggeliat lagi.

      Memang betul, seharusnya perlu pembatasan kehadiran minimarket waralaba itu, diatur dalam Perda. Yang sudah diatur pun, banyak juga yg melanggar aturan pendirian. Shg waralaba2 minimarket tumbuh liar tak terkendali.

      Menurut data yg dihimpun Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, menunjukkan bahwa kehadiran 1 mall mematikan 100 toko kelontong di sekitarnya, 1 minimarket mematikan 20 toko kelontong.

  10. winnymarch says:

    kejadian kebakaran di pasar rakyat seperti jd lumrah pak saking seringnya

    • Banyak kejanggalan yang mengarah adanya unsur-unsur kesengajaan.

      Para pembakar pasar, demi Allah akan mendapat kehinaan di dunia. Dan di akhirat kepada mereka menunggu azab neraka yg membakar.

  11. […] Terancamnya Pasar Rakyat dan Hilangnya Kepedulian. […]

  12. kasamago says:

    Yup tiap kali terjadi kebakaran di pasar tradisional terdengar ironis, janggal konyol n tak pernh ad niat antisipasif.

    Smga Manajemen Pasar rakyat mndpt porsi perhatian lebh dr Pihak Terkait, Pengelolaan pasar yang professional, aman dan mensejahterakan…

    Save Pasar Rakyat..

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat