Home » Selamatkan Anak Bangsa » Berbagai Kejanggalan Dalam Kasus Pembunuhan Engeline

Berbagai Kejanggalan Dalam Kasus Pembunuhan Engeline

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

… dan Analisa Mengungkap Aktor Sesungguhnya |

RIP Angeline

Bismillah …

Usai sudah drama pencarian bocah perempuan asal Bali, Engeline, 8 tahun, yang dilaporkan hilang sejak 16 Mei 2015 (namanya bukan Angeline yang disebut banyak media selama ini). Kepolisian Daerah Bali akhirnya menemukan bocah tersebut pada 10 Juni 2015 dalam keadaan tak bernyawa, dikubur di pekarangan belakang rumah ibu angkatnya, MCM, 55 tahun.

MCM dan suaminya (seorang ekspatriat yang sudah meninggal 3 tahun lalu) mengadopsi Engeline sejak bocah itu berumur 3 hari dari pasangan MR dan H [Okezone, 12/6/2015]. MCM memiliki dua anak kandung, namun beda ayah, yaitu YC dan CK. Kedua anaknya itu tidak tinggal serumah dengan MCM.

Sampai saat ini penyidik kepolisian baru menetapkan tersangka tunggal yaitu ATH. Memang sangat disayangkan, selain lambannya proses penanganan kasus ini sejak Engeline dilaporkan hilang padahal banyak kunci untuk mengungkap segera motifnya, juga ada begitu banyak kejanggalan yang ditemukan selama proses pencarian Engeline hingga proses penyidikan tersangka.

Berikut ini saya coba susun kronologi kasus yang mengusik hati nurani bangsa kita, yang disertai dengan berbagai kejanggalannya.

16 Mei 2015
Engeline dinyatakan hilang sekitar pukul 15.00 WITA. Sebelum hilang, Engeline dikatakan sedang bermain di halaman depan rumahnya di Jalan Sedap Malam Nomor 26, Sanur, Denpasar, Bali. Menurut hasil investigasi Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), tetangga rumah yakin Engeline tidak diculik, karena pagar rumah Engeline tampak terkunci dan ia tidak terlihat ke luar rumah. Apalagi ada satpam yang berjaga di luar pagar rumah. [Tempo, 10/6/2015]
rumah angeline[photo courtesy Tabloid Nova]

17 Mei 2015
Kedua kakak angkat Engeline membuat akun fan page Facebook “Find Angeline-Bali’s Missing Child”. Mereka mengumumkan berita kehilangan, kemudian memasang sejumlah foto bocah yang senyumnya tampak ceria itu. Keduanya mengajak masyarakat ikut mencari Engeline. Masyarakat dari berbagai kalangan pun ikut membantu pencarian. Para relawan juga menyebar brosur kepada pengguna jalan raya di seputar Kota Denpasar. [Kompas, 17/5/2015]

Kejanggalan #1: Keluarga tidak langsung melapor ke polisi dan ke pihak sekolah pada hari pertama hilangnya Engeline, padahal kepolisan dan pihak sekolah punya kepentingan lebih besar dalam pencarian.

Fan page Facebook yang telah mendapatkan ‘Like’ sebanyak 52.284 tersebut akhirnya ditutup admin pada tanggal 12/6/2015. Tanpa meninggalkan pesan apapun.

18 Mei 2015
Keluarga baru melapor ke Kepolisian Sektor Denpasar Timur atas kehilangan Engeline. Polisi kemudian memeriksa sejumlah saksi, yaitu MCM (ibu angkat), ATH (pembantu sekaligus penjaga rumah), dan Su (penghuni kontrakan milik MCM). Polisi juga memeriksa rumah MCM, namun pemeriksaan pertama dan kedua gagal karena selalu dihalangi pemilik rumah. || Polda Bali kemudian memperluas pencarian di seluruh perbatasan Bali, Banyuwangi, dan Nusa Tenggara Barat. Mereka pun mengerahkan anjing pelacak (K-9) untuk melacak keberadaan korban, namun gagal. [Kompas, 19/5/2015]

Kejanggalan #2: Sungguh aneh, polisi seperti tidak mempunyai wewenang penuh melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, sehingga polisi hanya memeriksa beberapa ruangan rumah karena dihalang-halangi keluarga.

21 Mei 2015
Kakak angkat Engeline, CK, mulai menggalang sumbangan untuk pencarian Engeline melalui http://gofundme.com/findangeline | Kondisi terakhir sudah terkumpul US$ 3210.

Kejanggalan #3: Kini laman pengumpulan sumbangan tersebut sudah tidak bisa diakses lagi. Namun demikian Anda bisa melihat jejak-nya melalui Google Cache. [klik di sini].

24 Mei 2015
Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait yang didampingi anggota polisi dari Polsek Denpasar Timur mengunjungi rumah MCM pada malam hari. Awalnya MCM melarang Arist masuk ke kamar Engeline. Tapi, berkat bantuan polisi, Arist bisa masuk dan menemukan banyak kejanggalan di kamar tersebut. Arist menilai kondisi kamar itu tidak layak dihuni oleh siapapun karena mengeluarkan aroma sangat menakutkan. Juga menurut Arist, rumah itu tak layak huni sangat berantakan, kotor, dan bau kotoran hewan. MCM memang memelihara puluhan anjing dan ratusan ayam di rumahnya. Sayangnya, keluarga menghalangi Arist melihat-lihat area rumah lebih detail, terutama kamar di dekat pekarangan belakang.
rumah angeline[photo courtesy Kompas.com]
Arist juga berkunjung ke sekolah Engeline dan bertemu dengan wali kelasnya. Pihak sekolah mengatakan Engeline sering mengantuk di kelas dan kalau datang ke sekolah dalam kondisi kumal dan bau. Engeline ke sekolah sejauh 3 kilometer dengan jalan kaki. Pulang pergi jadi 6 kilometer. Anak sekecil itu pergi sendiri ke sekolah yang jaraknya jauh dengan jalan kaki. [Kompas, 24/5/2015]

Kejanggalan #4: Arist melihat bahwa di tempat tidur tidak ada sprei terpasang dan ruangannya bau anyir. Mungkinkah kain sprei yang tidak terpasang itu dipakai untuk membungkus Engeline sebelum dikubur?

Kejanggalan #5: Mengapa MCM menghalangi Arist melihat sebuah kamar di pekarangan belakang rumah? Dua minggu kemudian diketahui bahwa di dekat kamar itulah lokasi penemuan kuburan Engeline.

Kecurigaan itu segera dilaporkan kepada polisi. Mestinya polisi bergerak cepat atas laporan Arist ini dengan menyisir kembali rumah MCM, setelah sebelumnya gagal menyisir area secara penuh.

25 Mei 2015
Komnas PA berencana mengambil alih hak asuh Engeline. Namun, pernyataan ini langsung ditanggapi sengit oleh MCM, bahwa ia mengancam akan membunuh siapapun yang mau ambil Engeline. [Kompas, 25/5/2015]

1 Juni 2015
Sekolah SD 12 Sanur Denpasar (tempat Engeline sekolah) menggelar ritual persembahyangan di depan Pura Penyimpangan Batu Bolong, di depan rumah Engeline, kemudian dilanjutkan di halaman sekolah. Ritual ini untuk memohon petunjuk paranormal agar Engeline segera ditemukan. Mereka mengaku mendengar suara Engeline. [Kompas, 1/6/2015]

3 Juni 2015
Kapolda Bali Irjen Ronny Franky Sompie membuka acara dan mengikuti acara napak tilas pencarian Engeline sambil membagikan brosur yang tertera foto Engeline. [Kompas, 3/6/2015]

5-6 Juni 2015
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohanna Yambise berkunjung ke rumah Engeline dengan waktu / hari yang berbeda. Namun kedatangan mereka ditolak masuk oleh satpam sewaan MCM. [Kompas, 6/6/2015]

Kejanggalan #6: Aneh sekali, sekelas pejabat kementerian negara ditolak masuk rumah MCM. Atas dasar keanehan inilah polisi berencana melakukan penyisiran ulang yang ketiga kali.

Karena tidak berhasil menemui MCM, Menteri Yohanna mencoba mencari informasi kepada pembantu yang mengurusi rumah Engeline. Kata pembantu MCM, korban kerap diberi tugas memberi makan hewan peliharaan ibu angkatnya. Pembantu tersebut juga sering mendengar anak ini menangis di malam hari. Dia juga melihat hidung bocah ini berdarah. Pertanyaannya: Siapa pelaku kekerasan terhadap Engeline itu?

Menteri Yohana pun menyempatkan datang ke sekolah Engeline. Dari sana ia mendapat informasi dari kepala sekolah dan guru bahwa di sekolah ternyata Engeline dibilangnya lusuh / kumal dan bau, seperti tidak ada yang ngurus. Dia pernah dikeramasi di dalam sekolah, karena rambutnya kusam. Kadang juga minta makan ke gurunya. Tak hanya itu, Engeline juga dikenal sebagai sosok yang pendiam. Dia juga sering terlihat murung. Kepala sekolahnya bilang kalau anak ini psikologisnya tertekan. Dia terlihat tidak sebebas teman-temannya. Seperti ada tekanan batin. [Detikcom, 6/6/2015].

Kejanggalan #7: Mestinya penyidikan fokus disini, yaitu adanya pembiaran oleh keluarganya yang begitu lama terhadap kondisi buruk Engeline.

10 Juni 2015
Pada pemeriksaan yang ketiga, sekitar pk 12.00, polisi menemukan jasad Engeline di pekarangan belakang rumah MCM. Engeline ditemukan dikubur pada kedalaman setengah meter, dengan pakaian lengkap dan tangan memeluk boneka. Tubuhnya dililit kain sprei dan tali.

Kejanggalan #8: Tali yang ditemukan di samping jenazah Engeline adalah tali gorden yang HANYA ADA di kamar MCM, ibu angkat Engeline. [Tempo, 12/6/2015]

Sekitar pk 14.00, MCM dan enam orang lainnya diamankan. Keenamnya adalah dua anak kandung MCM, Dewa Ketut Raka (satpam), ATH (bekas pembantu), serta pasutri penghuni kos Su dan Ra.

Pada saat pemeriksaan awal, ATH (25 tahun) mengaku disuruh MCM menguburkan Engeline, ATH mengakui keterlibatan ibu angkat Engeline [MetroTV, 10/6/2015].

NAMUN, dalam berita acara pemeriksaan (BAP) di kantor polisi, pengakuannya berubah 180 derajat. ATH mengaku berinisiatif sendiri membunuh dan mengubur Engeline. Pengakuan barunya ini kita sebut saja MISTERI 7 JAM. Sebab ada rentang waktu tujuh jam untuk membuktikan kebenaran pengakuan ATH, yakni mulai pukul 13.00 WITA saat Engeline dibunuh sampai pukul 20.00 WITA saat jenazah Engeline dikuburkan di lubang di bawah pohon pisang dekat kandang ayam di halaman rumah keluarga angkat bocah itu.

Dalam proses pra-rekonstruksi di TKP, 11/6/2015, menurut pengakuan ATH, ia membunuh Engeline pada Sabtu 16 Mei sekitar pukul 13.00 WITA, alasannya ia panik saat Engeline melawan ketika dikunci di dalam kamar. “Mamaaa…”, itulah teriakan Engeline saat ketakutan menghadapi aksi ATH. Aksi bejat ATH tak sampai di situ, usai memperkosa dan membunuh Engeline, dalam keadaan tak bernyawa ia masih sempat memperkosa lagi bocah malang tersebut. || Sekitar pukul 15.00 WIB, ibu angkat Engeline, MCM keluar dari kamarnya dan mencari Engeline. Dia memanggil-manggil namun tak ada jawaban. Akhirnya MCM memanggil ATH untuk mencari Engeline ke rumah tetangga. Karena tidak ketemu, MCM menyimpulkan bahwa Engeline hilang. Kemudian MCM bersama anak kandungnya melaporkan ke polisi pukul 20.00. Nah, di waktu itulah saat suasana sepi ATH mengeluarkan tubuh Engeline dari kamarnya dan menguburkan di pekarangan rumah dekat kandang ayam yang sudah disiapkan sebelumnya untuk menghilangkan jejak. Begitulah pengakuan ATH

Kejanggalan #9: Sungguh aneh, dalam waktu kurang dari 24 jam, pengakuan AH bisa berubah 180 derajat alias saling bertolak belakang.

Kejanggalan #10: Lihat kembali kronologi di atas, MCM dan anak kandungnya melapor ke polisi baru pada tanggal 18 Mei 2015, 3 hari setelah hilangnya Engeline. Namun, saat proses BAP, ATH mengatakan sesaat setelah Engeline dinyatakan hilang, di hari yang sama, MCM melapor ke polisi. Janggal, bukan? Mungkinkah ATH mengarang pengakuannya tentang misteri 7 jam itu?

Polisi harus mengejar soal misteri 7 jam ini, sampai ATH benar-benar mengaku telah berbohong, sehingga bangunan keseluruhan kisahnya tentang tindakan pelecehan seksual juga patut diragukan kebenarannya.

Kejanggalan #11: Selain di kamar ATH, bercak darah serupa juga ditemukan di kamar MCM, ibu angkat Engeline. [Tribun News, 12/6/2015]. Polisi juga secara detail memeriksa kamar kos ATH, ternyata di sana ditemukan barang milik MCM. [Kompas, 12/6/2015]. Apakah mereka sebenarnya sedang dalam persekongkolan jahat?

Dari hasil wawancara Media JPNN dengan pihak PT Patriot tempat dimana Dewa Ketut Raka (satpam) bekerja ada informasi yang bisa menjadi petunjuk. Saya lansir dari media JPNN informasinya adalah sebagai berikut:

Terungkapnya pembunuhan Engeline salah satunya didapat dari kejanggalan yang diterima satpam sewaan MCM, Dewa Ketut Raka dari PT Patriot. Pasalnya, saat diminta oleh anak pemilik rumah yang bernama CK untuk menjaga rumah, justru hanya disuruh jaga di bagian depan saja. Tidak boleh masuk ke dalam rumah. Di saat haus dan lapar tengah malam, dia terpaksa pergi mencari minum dan makan ke tempat yang jauh. Bahkan, kalau mau buang air besar dia terpaksa pergi ke sawah-sawah. || Karena itu lah dia mengeluh ke PT Patriot dan kemudian perusahaan berkoordinasi dengan CK. Akhirnya, CK pun mengizinkan buka pintu bagian timur untuk masuk jika ingin buang air besar.

Pihak perusahaan minta tolong ke Raka untuk mencari tahu keganjilan di dalam rumah tersebut. Selang beberapa hari, ia mencoba masuk ke area rumah tersebut untuk mencari toilet, ia melihat MCM sedang berdiri dan memantau di kawasan lubang itu. Juga sempat mengambil beberapa daun pisang yang sudah kering lalu ditaruh baik-baik di atas lubang itu. Karena menaruh curiga, Raka pun memperhatikan baik-baik. Namun, ternyata MCM melihat satpam tersebut dan kaget. Kemudian MCM meninggalkan tempat itu sambil melarang Raka untuk masuk lagi. || Dari sana lah mulai terungkap. Satpam ini langsung menceritakan keganjilan tersebut ke pimpinan perusahaan. Dan, ternyata benar. Setelah digeledah polisi, ditemukan jasad anak itu.

Kejanggalan #12: Ada apa dengan CK, anak kandung MCM, yang melarang satpam nya sendiri masuk area rumah? Sepertinya ada yang ditutup-tutupi oleh keluarga ini.

| Tentang Isu Wasiat Waris

Ada isu yang berkembang, yaitu soal Wasiat Waris dari ayah angkat Engeline yang nilainya miliaran rupiah. Dalam pembagian warisan, ayah angkat Engeline membagikan warisan kepada tiga orang anak angkat termasuk untuk dua anak MCM yakni YC dan CK. Kedua kakak angkat Engeline ini anak kandung MCM namun beda ayah. Engeline merupakan anak kandung H lalu diangkat MCM. Dari pembagian warisan itu, Engeline mendapat 60 persen sedangkan sisanya untuk dua anak lainnya. [Okezone, 10/6/2015]. Apakah isu ini benar demikian? Mari kita tunggu faktanya di persidangan.

| Kondisi Psikologis Ibu Angkat Engeline

Ada fakta terungkap dalam perjalanan penyelidikan kasus pembunuhan sadis ini, bahwa ibu angkat Engeline, MCM diduga seorang psikopat. Hal itu diutarakan ahli psikiater RSUP Sanglah Denpasar, Dr Lelly Setyawati sekaligus yang membantu kepolisian memeriksa kejiwaan MCM. [Viva News, 11/6/2015].

Fakta lainnya juga perlu mendapat perhatian, bahwa di hari polisi mengangkat jenazah Engeline, polisi juga menemukan sebuah rajah dalam bungkusan di bawah bantal milik ibu angkat Engeline, MCM. || Rajah adalah suratan, bisa berupa gambar atau tanda yang dipakai sebagai jimat untuk menolak penyakit atau bala. Rajah (konon diyakini ada bantuan makhluk halus) bisa digunakan untuk menutupi suatu kasus agar tidak dicurigai oleh orang lain. [Tribun News, 10/6/2015]

| Pertanyaan Lanjutan

Dari kronologi dan banyak kejanggalan di atas, terlihat sejumlah alibi yang dipakai keluarga Engeline untuk menutup-nutupi kasus ini, maka kita patut bertanya:

  • Apakah ada persekongkolan besar yang melibatkan seluruh anggota keluarga untuk membunuh Engeline?
  • Apakah ATH dibayar untuk disuruh melakukan pembunuhan?
  • Apakah Engeline sengaja diumpankan kepada ATH agar menemui kematiannya?
  • atau, Apakah ATH hanya pasang badan dan kemudian mengarang cerita pengakuannya? Selama proses penyidikan, memang terdapat beberapa inkonsistensi pengakuannya.

Saat ini pemeriksaan masih berfokus pada pengakuan ATH yang melakukan kekerasan seksual. Namun sayangnya sudah tidak bisa lagi dibuktikan adanya bekas kekerasan seksual di tubuh Engeline, karena jasad yang sudah terkubur lebih dari 7 hari akan mengalami kerusakan yang parah, membengkak, dan bau. Faktanya, tubuh Engeline memang betul-betul rusak.

Kini ATH telah ditetapkan menjadi tersangka dan sudah ditahan. Dirinya diancam Pasal 80 ayat 3 UU 35 tahun 2014 tentang perubahan UU 23 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman 15 tahun penjara. [Viva News, 10/6/20150]

Namun dari seluruh berkas pemeriksaan yang ada tidak ada bukti keterlibatan MCM. Menurut Kepala Kepolisian Resor Kota Denpasar Kombes AA Made Sudana, ibu angkat Engeline tidak ada andilnya sama sekali dalam kematian bocah berusia delapan tahun itu. [Metro TV, 11/6/2015]. Itulah kalau fokus polisi hanya mengarah ke kekerasan seksual saja, padahal bukti adanya kekerasan seksual tidak ditemukan.

Mari kita dorong pihak Kepolisian untuk jangan hanya berfokus pada pengakuan ATH yang berkutat pada kekerasan seksual. Karena hal itu sama saja dengan menafikan pengakuan saksi-saksi lainnya yang melihat keluarganya begitu lama membiarkan / menelantarkan Engeline. Mari dorong pihak kepolisian mencari aktor yang sesungguhnya. Mari kita dukung upaya Lembaga Perlindungan Anak yang hari ini melaporkan ibu angkat Engeline ke Polda Metro Jaya karena telah menelantarkan anak. [Detik News, 12/6/2015].

| Sebagai Refleksi Kita Bersama

Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2002, negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orangtua, wajib dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. Kasus yang dialami Engeline kembali membuka mata kita bahwa anak Indonesia masih terancam. Anak yang seharusnya dilindungi, justru menjadi objek dari kekerasan yang dilakukan orang dewasa.

Kasus yang dialami Engeline bukan kali pertama. Sudah banyak anak Indonesia menjadi korban kekerasan. Baik fisik, psikis, maupun kekerasan seksual, yang dilakukan orang dewasa. Sepertinya kepekaan masyarakat terkait kekerasan terhadap anak masih sangat kurang. Hal inilah yang menyebabkan, peristiwa kekerasan terhadap anak kurang terekspose. Dan baru terekspose setelah sang anak ditemukan sudah menjadi mayat atau berada di Unit Gawat Darurat.

Mari kita bangun sistem kepekaan sosial di tengah masyarakat untuk mencegah kasus kekerasan terhadap anak.

#RIPAngeline

Iwan Yuliyanto
12.06.2015

———
Simak juga:

—– himbauan —–
Kepada semua pihak termasuk media massa,
Mohon menghargai hak Engeline sebagai korban kekerasan seksual dan pembunuhan keji. Media massa dan netizen, harus berempati terhadap korban, salah satunya dengan cara tidak mempublikasikan foto yang menampilkan dirinya dalam kondisi yang mengenaskan.

Advertisements

50 Comments

  1. Angel says:

    yg pnting plakunya dah ditangkap

  2. Ini Lubang Kematian Tempat Engeline Dikubur Hidup-hidup. Lubang ini berada di antara tumpukan sampah di belakang rumah Margriet.
    http://nasional.news.viva.co.id/news/read/642526-ini-lubang-kematian-tempat-engeline-dikubur-hidup-hidup/

  3. abdullah says:

    Ya itu maksud saya mas.. Dgn metode itu kan ATH pasti mengatakan yg sebenarnya, sebenarnya dia pelaku sebenarnya atau bukan, atau dia diperalat MCM untuk menutupi perkara ini. Tak hanya ATH yg perlu mlakukan proses hypnoforensic MCM juga hrus mlakukan proses tersebut.. Kemudian keterangan dari ATH dan MCM bisa di teliti kecocokannya dgn bukti2 yg sudah ada, bagaimana bisa terjadi ada bercak darah dikamar MCM dan ditemukan tali gorden bersama jnazah engeline, berdasarkan fisum jnazah juga didapatkan jeratan pda laher. Apa mungkin MCM yg menganiaya engeline hingga mnemui ajalnya dikamar MCM, kmudian ATH yg disuruh menggali lubang. Tidak mungkin kan seorang MCM menggali lubang. Naaaah… Semoga dgn hypnoforensic kita tau alur certa yg sebenarnya.. Ma’af mas saya cuma mngluarkan unek2 di hati saja. Bukan bermaksud membela atau menuduh. Saya hanya berpendapat.

  4. Abdullah says:

    Mas saya mau tanya, boleh ngag kepolisian menggunakan metode hypnotis untuk penggalian informasi? kan gunanya membantu kepolisian , mungkin dengan itu kita bisa tau kejadian yg sebenarnya dari pengakuan ATH melalui alam bawah sadarnya. Kmudian antara keterangan dan bukti2 yg sudah ada bisa di cocok.kan, dgn begitu kpolisiian bisa menarik kesimpulan.

    • Penggunaan hypnosis untuk keperluan penegakkan hukum yang biasa disebut dgn Hypnoforensic, menurut saya boleh-boleh saja, mas Abdullah. Saya setuju dgn penggunaan teknik hypnoforensic sbg bagian dari upaya melakukan interogasi dlm pengungkapan kasus pidana.

      Namun demikian, kesimpulan dlm pemeriksaan hypnotis tetap tergantung pd penyidik dikaitkan dgn alat bukti yg ada, BUKAN hanya berdasarkan pemeriksaan hypnotis dan BUKAN bergantung pd kesimpulan ahli hypnotis. Jadi, alat bukti harus ada, yang bisa digali saat rekonstruksi.

  5. vivi says:

    iya ekspresi foto mencari anak hilang itu aneh….Tp saya percaya kasus ini akan selesai. Darah anak itu teriak dan pasti pembunuhnya tertangkap. Sadis banget…..

  6. FYI … Pengakuan ATH

    Detik-detik Kematian Engeline Versi Tersangka Pembunuh
    Detik News | Tempo | Suara

  7. kasamago says:

    Smoga kebenaran terungkap, dan keadilan terwujud bagi korban.
    Berharap, kasus ini dpt menjadi trigger bg lebih awasnya peran negara, masyarakat dan orang tua dalam mengasuh anak.

    miris, memang ad smcm indikasi perebutan harta warisan.. bila benar krn demi warisan.. sungguh keji, laknat bagi pelakunya.

    Luar biasa Pak Iwan, sya lebih percaya n mendapat pencerahan dr tulisan panjang ini ketimbang bca di media mainstream..

    • Sepertinya kasus ini bakal lama penyelesaiannya, mas, sebab pihak ibu angkat telah menyewa pengacara kondang Hotma Sitompul, setelah pengacara sebelumnya mengundurkan diri.

      Langkah awal, pengacara tsb menuntut balik Pak Arist (Komnas PA), ibu Siti Sapurah (P2TP2A), menteri-menteri yg menyudutkan ibu angkat Engeline, dan pengacara ortu kandung Engeline.

      Semoga kebenaran menemukan jalannya,
      dan semoga keadilan berpihak kepada kebenaran.

  8. kekekenanga says:

    Aku dan mungkin banyak orang awam saja bisa melihat keterlibatan seluruh keluarga Ibu angkatnya itu, bagaimana bisa hanya si ATH saja yang di focuskan… Mungkin pihak kepolisian juga sudah disuap oleh MCM sama halnya dengan ATh yang juga sudah dijanjikan uang 2 M bukan…

    Lagi lagi Indonesiaaaa…

    Lalu, kepekaan masyarakat dengan kondisi Angeline selama ini juga terlihat tidak peka, harusnya sudah sangat jelas terlihat adanya penyiksaan terhadap Angeline

    Namun sekarang Angeline pasti sedang bahagia bermain bersama bonekanya di Surga 🙂

    • Benar sekali, mbak Keke, mestinya radar kepekaan itu tajam.

      Ini ada kesaksian mantan pengasuh Engeline, Francy A Maringka. Bahwa Engeline sudah menjadi korban penganiayaan MCM sejak lama. Ia pernah disiksa secara sadis. Tak hanya dipukul dgn tangan kosong, tapi juga menggunakan benda tumpul. Bahkan di suatu waktu, MCM pernah memukuli gadis kecil itu dgn menggunakan sebilah bambu, sampai bilah bambu itu pecah. [Viva News, 17/6/2015]

      Guru2nya pun seharusnya melaporkan ke polisi ketika melihat kondisi Engeline yang cantik itu dalam kondisi lusuh, dekil, kelaparan, ada bekas-bekas luka di tubuhnya. Ini namanya kepekaan. Laporkan ibunya yg menelantarkan anak.

  9. […] Bahasa Korea dan juga penulis buku, Fisra Afriyanti, berkomentar dalam jurnal saya sebelumnya: Berbagai Kejanggalan Dalam Kasus Pembunuhan Angeline. Ia menyampaikan kondisi penyimpangan pengangkatan anak di masyarakat (di luar kasus pembunuhan […]

  10. anotherorion says:

    aku ra kuat ndelok beritane mas, ngapunten iki artikel e mung tak woco sak potong, ra tegel aku, kedepan berita2 ngene iki tasih bakal tetep okeh, masih okeh angeline2 lain yang nunggu diperlakukan ngene iki 😦

    • Jurnal ini mencoba mengungkap kejanggalan-kejanggalan selama proses pembunuhan dan penyidikan di kepolisian. Saya mencium bau konspirasi / persekongkolan jahat.

  11. Rawins says:

    Sepertinya ini endonesia banget, mas
    Polisi lebih banyak heboh nangkepin kurcaci sementara dalangnya kaya lolos dari perhatian. Karena ada uang milyaran disitu kah..?

    Pemaparannya mantap, mas
    Ga bikin mumet kaya baca di media

  12. sedih bacanya Mas Iwan… bagaimana dengan orangtua kandung Angeline sekarang ya?

    • Yang jelas sekarang kedua ortu asli Angeline (yg kini sudah bercerai) lagi fokus dg permasalahan proses adopsi Angeline yang dulu dilakukan tidak melalui pengadilan.

      Memang kalau melihat kasus ini, seperti kita membaca kisah-kisah kriminal di majalah Intisari, perlu asah otak. Menjalin benang merah di setiap petunjuk.

    • bukannya banyak yang kaya gini ya Mas Iwan, adopsi tidak melalui pengadilan… cukup ‘main mata’ sama bidan, maka keluarlah surat keterangan lahir sebagai anak kandung… Atau juga pak RT dan RW nya

    • Wah.. kalo spt itu sudah masuk pelanggaran hukum pidana karena praktek trafikking alias perdagangan manusia. Sepertinya memang gak terendus pihak yg berwajib, apalagi kalo di pelosok-pelosok, di kantong-kantong masyarakat miskin.

    • cuman masalahnya, antara orangtua angkat dan orangtua kandung sama2 menyetujui… Dengan tidak melaporkan ke pengadilan, kan status anak di dokumen jadi anak kandung, in yang mungkin diinginkan orangtua angkat.

    • 2 komennya mbak Fisra ini saya kutip dalam jurnal yg baru ya. Silakan cek.

    • Oke Mas Iwan… 🙂

  13. FYI … kejanggalan berikutnya

    Kuasa hukum ATH menyatakan ATH mengaku dipecat oleh MCM sembilan hari setelah ATH membunuh Angeline. Tepatnya pada 25 Mei 2015, ia dipecat dan diberikan uang sebagai gajinya Rp 1 juta.

    FAKTA:
    Dalam keterangan pemeriksaan yang diberikan MCM tidak ada pemecatan atau pengunduran diri dari ATH. Pembayaran sebesar 1 juta juga tidak ada dari pemeriksaan waktu itu.

    http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/06/14/npx88z-terungkap-satu-kejanggalan-lagi-pembunuhan-angeline

  14. FYI …

    [14/6/2015] Margareth, Ibu Angkat Angeline Jadi Tersangka Penelantaran Anak.
    http://www.antaranews.com/berita/501400/polisi-tahan-ibu-angkat-angeline
    Satu anak kandungnya, YC, juga ditahan tapi belum ditetapkan sebagai tersangka.

  15. Terima kasih pemaparannya mas iwan. Akhirnya, saya paham dgn “kermaian” ttg angeline ini… smg klmpk pembunuhnta ditemukan dan mendapat hukuman 100 x lbh berat.

    • Semoga ya, uni Dian. Siapapun aktor intelektual pembunuh Angeline, sekalipun itu ibu angkatnya, harus mendapat hukuman yg lebih berat dari tersangka ATH. Pelaku bisa dijerat hukuman mati.

      Kalau memang sekiranya MCM yg menyuruh melakukan atau yg membujuk melakukan, bisa dijerat pasal yg didakwakan sbg penyertaan yg diatur dlm Pasal 55 KUHP, Siapapun pelaku yg terbukti melanggar Pasal 55 KUHP tentang penyertaan dalam tindak pidana, yg menyuruh tersangka ATH untuk membunuh atau membujuk membunuh, maka hukuman lebih berat dari ATH. Orang yg mempunyai rencana awal untuk melakukan kejahatan, adalah orang yg lebih jahat. Ini yg disebut aktor intelektual.

      Bagi aktor intelektual, apabila dlm proses pemeriksaan terbukti pembunuhan terencana, pelaku akan terjerat Pasal 340 KUHP dan terancam hukuman mati. Sementara untuk pembunuhan spontan akan terjerat Pasal 338 KUHP dan terancam hukuman penjara selama 15 tahun.

  16. FYI … kejanggalan lainnya

    IBU & Kakak Angkat Terlihat “Tersenyum” saat Angeline Masih Dinyatakan Hilang.

    http://makassar.tribunnews.com/2015/06/13/lihat-foto-ibu-dan-kakak-angkat-tersenyum-saat-bocah-angeline-hilang

  17. FYI

    Nama Angeline tertera dalam kartu keluarga Margriet C.H. Megawe di Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi. Dalam KK tercantum nama Angeline sebagai famili lain dengan kelahiran 2007. Adapun orang tuanya adalah Hamidah dan Ach. Rosyidi.

    Adapun Margriet C.H. Megawe kelahiran tahun 1955 dalam KK itu sebagai kepala keluarga dan seorang ibu rumah tangga. Satu lagi adalah Cristina Telly sebagai anak kelahiran 1987. Orang tua Cristina dalam KK itu adalah Margriet dan D. Scardordugh. Keluarga ini tercatat sebagai warga RT 08 RW 04, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi.

    http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/15/063674996/EKSKLUSIF-Motif-Warisan-dan-Sayangnya-Si-Ayah-pada-Angeline?ref=yfp

    Dalam akta notaris pengangkatan Angeline yang ditandatangani pada 24 Mei 2007, ada dua pasal yang menjelaskan soal warisan untuk bocah cantik dalam akta itu.

    Pertama terdapat di Pasal 1, yang menjelaskan bahwa pihak kedua, keluarga Margriet Christina Megawe, akan menjadikan Angeline sebagai ahli warisnya di kemudian hari. Angeline akan diperlakukan sama dengan anak Margriet yang lain.

    Kemudian, di Pasal 2, disebutkan pihak pertama, keluarga Hamidah–ibu kandung Angeline, melepaskan semua hak waris yang melekat pada anak tersebut. Dan masih di dalam pasal ini disebutkan jika Angeline meninggal maka hak waris akan menjadi milik ahli waris Margriet.

  18. Saya juga merasa janggal dengan kasus ini. Rasanya gak mungkin kalau cuma AH saja tersangkanya.

    Saya juga memperhatikan fanpage tersebut. Analisanya Oline itu masuk akal juga. Termasuk tentang setiap kali bikin status seperti cerpen. Rasanya memang sulit membayangkan kalau kita kehilangan Anggota keluarga yang disayang, bisa membuat kalimat panjang seperti kayaknya cerpen

  19. Dyah Sujiati says:

    Heran kasus ini jadi rame dan banyak yg penasaran. Jadi dimanfaatkan politisi untuk nyari panggung, sok sokan peduli. Masuk berita. Citra naik. :p

    Banyak juga korban kekerasan seperti ini, tp gak seheboh kasus angelina. Ada apa?

    Satu lagi. Coba kalau ibu angkat angelina muslim, keknya bakal lain cerita. Mungkin media akan fokus menguliti keislaman si ibu. Hehehe

    komeng anarkis merusak suasana.

    • Ini bukan sekadar ttg Angeline. Tapi kita semua tentu menginginkan proses hukum yg fair dan adil.

      Hukum bisa saja dimanipulasi, tapi kebenaran dan keadilan akan menemukan jalannya sendiri untuk hadir dalam kenyataan.

  20. Endang Mardeyani says:

    Yth. Pak Iwan, saya mohon ijin share ya di timeline fb saya : suatu tulisan / pemikiran dan analisa yang menarik. Miris dan sedih sekali mendengar dan membaca berita dari tanah air mengenai Angeline tersebut ….. Semoga Allah SWT segera menunjukkan “kebenaran NYA” (Amin YRA)

    • Silakan di-share, Bu Endang.
      Selain mendo’akan agar Angeline damai di sisi-Nya. Mari berdo’a semoga kasus ini segera tuntas dengan ditangkapnya aktor yang sesungguhnya. Dan kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita. Aamiin.

  21. Endang Mardeyani says:

    Dear Pak Iwan, Apa khabar ???
    Semoga sehat-sehat selalu ya pak, bersama keluarga di Jakarta… Saya sangat tertarik analisanya, mohon ijin share ya Pak Iwan link nya di timeline fb saya…. Have a blessed & great weekend ….!!!!

  22. FYI …
    Anjing pelacak yang digunakan polisi gagal menemukan korban, karena anjing pelacak-nya bukan jenis SAR Kadaver (anjing pelacak mayat).
    http://nasional.news.viva.co.id/news/read/636618-gelagat-anjing-pelacak-saat-berputar-putar-di-rumah-angeline

  23. New Rule says:

    eneg banget bacanya…

  24. bimosaurus says:

    Mas Iwan, saya rindu suasana ‘tracing’ kejanggalan seperti masa kita dulu di MP. Tapi bukan yang seperti ini. Saya nangis setiap lihat wajah anak itu. Anak. Anak. Kayak anak kita sendiri.

    Jikalau keluarganya tidak terlibatpun tetap mereka pantas dihukum. Penelantaran anak. Tapi membaca kejelian mas Iwan di atas, saya makin yakin, bahwa ada manusia keji kejam di sekitar kita. Saatnya melihat ke lingkungan kita.

    • Betul, mas Bim. Masih banyak kejahatan pada anak-anak yang gak terekspos.

      Untuk kasus Angeline, akhirnya ibu angkatnya, MCM ditahan & ditetapin sbg tersangka u/ kasus penelantaran anak. Kalo nanti terbukti terlibat dalam pembunuhan, wah.. bisa kena pasal berlapis tuh.

      Dlm jurnal saya tulis, tersangka ATH pengakuannya bisa berubah 180 derajat dalam waktu tidak lebih dari 24 jam.
      Hari ini muncul info ini … bahwa ATH dijanjikan dibayar 2M bila pasang badan buat MCM
      http://regional.kompas.com/read/2015/06/15/08555411/.Rp.2.Miliar.Bukan.untuk.Bunuh.Angeline.tapi.untuk.Pasang.Badan

      Penanganan kasus pembunuhan Angeline ini semakin lama terasa ada yg aneh. Penyidik (seolah) menyandarkan hanya pada pengakuan tersangka ATH.

      Penyidik tentunya sudah paham dan mengerti bhw KUHAP tdk menempatkan keterangan terdakwa sbg bukti penentu atau bukan bukti yg sempurna.

      Pasal 189 ayat (4) KUHAP: nilai bukti keterangan terdakwa tdk berdiri sendiri, tp hrs dikaitin dgn alat bukti lain. Alasan pengaturan spt itu krn tidak tertutup kemungkinan seorang terdakwa hanyalah “boneka” dari pelaku yg sesungguhnya. Bisa jadi keterangan yg diberikan terdakwa justru untuk melindungi pelaku utama atau otak dari tindak pidana tsb.

      Menurut ilmu kriminologi, pelaku tindak pidana akan berusaha untuk menghilangkan barang bukti utk menghapus jejak perbuatannya. Termasuk berupa meminta/menyuruh orang lain hanya lakukan bagian tertentu (bahkan tidak melakukan) untuk membuat pengakuan sebagai pelaku utama.

      Jadi saya yakin kalo si ATH itu cuma mengarang cerita soal kekerasan seksual u/ pasang badan.
      Hasil otopsi menyebutkan di jasad korban banyak luka memar bekas kekerasan fisik, jeratan di leher, benturan di kepala & sundutan rokok. Jika motivasi Agus membunuh Angeline untuk menutupi perbuatan cabulnya, apakah logis dgn melakukan penyiksaan terlebih dahulu?
      Jk Agus panik krn khawatir korban membongkar perbuatan cabulnya kpd orang lain, logikanya Agus akan membunuh korban secepat mungkin. Entah dgn cara mencekik korban sampai tewas atau yg lain yg intinya tidak akan melakukan penyiksaan kpd korban terlebih dahulu.

  25. Tatty Elmir says:

    Bagus banget rangkuman Mas Iwan. Semoga pihak kepolisian membacanya, dan segera menangkap serta menghukum otak pelaku yang sesungguhnya. Bukan hanya eksekutor.

  26. nyonyasepatu says:

    SEdih banget bacanya mas 😦

    #RIPAngeline

    • Tanggal 6 Juni 2015 (4 hari sebelum ditemukan jasad Angeline) sudah ada yg curiga sama Fanpage Facebook “Find Angeline”, tapi malah banyak yang kontra sama Mbak Olien Patsy [Klik]

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat