Home » Selamatkan Anak Bangsa » Adopsi Asal-Asalan Menjadi Pemicu Kekerasan Pada Anak

Adopsi Asal-Asalan Menjadi Pemicu Kekerasan Pada Anak

Blog Stats

  • 2,052,837

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

adopsi[pic courtesy Kompas]

| Bagaimana tata cara adopsi anak yang benar?

Bismillah …

Mencuatnya kasus pembunuhan Engeline (namanya bukan Angeline yang disebut banyak media selama ini) membuka tabir bahwa potret perlindungan anak di Indonesia sangat buruk. Terbongkarnya praktek adopsi yang di luar ketentuan hukum, menjadi bukti bahwa praktek adopsi yang ilegal malah menjadikan salah satu cara bagi oknum untuk melakukan kekerasan pada anak.

Seorang blogger pengajar Bahasa Korea dan juga penulis buku, Fisra Afriyanti, berkomentar dalam jurnal saya sebelumnya: Berbagai Kejanggalan Dalam Kasus Pembunuhan Engeline. Ia menyampaikan kondisi penyimpangan pengangkatan anak di masyarakat (di luar kasus pembunuhan Engeline). Komentarnya sebagai berikut:

banyak yang kaya gini ya, Mas Iwan, adopsi tidak melalui pengadilan… cukup ‘main mata’ sama bidan, maka keluarlah surat keterangan lahir sebagai anak kandung… Atau juga pak RT dan RW nya.
… masalahnya, antara orangtua angkat dan orangtua kandung sama2 menyetujui… Dengan tidak melaporkan ke pengadilan, kan status anak di dokumen jadi anak kandung, ini yang mungkin diinginkan orangtua angkat.


Wah, praktek seperti itu bukan lagi disebut adopsi anak, tapi memang jelas-jelas praktek jual-beli manusia (human trafficking), atas alasan kemiskinan, atau malu mempunyai anak hasil hubungan gelapnya, atau korban perkosaan. Namun demikian, komentar mbak Fisra ini menjadi pengingat bagi kita bahwa adanya adopsi liar / ilegal memang tidak bisa terelakan, ada beberapa oknum rumah sakit / klinik bahkan dukun bayi dan bidan yang malah memanfaatkan keadaan terdesak masyarakat dalam praktek memperjual-belikan anak.

Praktek adopsi asal-asalan ini justru berpotensi lahirnya kekerasan pada anak di kemudian hari. Maka untuk mencegah hal ini terjadi, pemerintah telah berjuang keras menyiapkan payung hukumnya.

Peraturan tentang adopsi anak sebenarnya sudah diatur dalam UU RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang didukung oleh Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 yang dijelaskan lebih rinci dalam Peraturan Menteri Sosial Nomor 110 Tahun 2009 tentang Persyaratan Pengangkatan Anak. Payung hukum sudah ada, maka tinggal dibutuhkan ketegasan pelaksanaannya bila ditemukan penyimpangan di masyarakat.

Dalam peraturan tersebut menyebutkan bahwa …
pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan terbaik bagi anak, dan tidak boleh memutus hubungan darah antara anak yang diangkat dengan orang tua kandungnya.

Mengacu pada peraturan tersebut, PERSYARATAN PENGANGKATAN ANAK bagi calon orang tua angkat secara ringkas sebagai berikut:

  1. Mereka harus dalam kondisi sehat jasmani dan rohani.
  2. Berumur minimal 30 tahun dan maksimal 55 tahun.
  3. Memiliki agama yang sama dengan calon anak angkat (dibuktikan dengan KTP). <<– inilah salah satu kegunaan kolom agama dalam KTP
  4. Memiliki catatan kelakuan baik dan tidak pernah dihukum karena melakukan tindakan kejahatan.
  5. Berstatus menikah sah paling singkat lima tahun.
  6. Tidak merupakan pasangan sejenis.
  7. Belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak.
  8. Mampu secara ekonomi dan sosial.
  9. Memperoleh izin tertulis dari orang tua atau wali serta memperoleh persetujuan anak.
  10. Membuat pernyataan tertulis di atas kertas bermaterai bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik anak, kesejahteraan, dan perlindungan anak.

Bila calon orangtua angkatnya berkewarganegaraan asing, persyaratan untuk pengangkatan anak lebih rumit lagi, antara lain:

  1. Melengkapi dokumen yang diwajibkan oleh pemerintah Indonesia seperti di atas.
  2. Memiliki izin tinggal
  3. Calon orang tua angkat harus mendapatkan izin tertulis dari negara asalnya melalui kedutaan atau perwakilan negaranya yang ada di Indonesia.
  4. Proses pengangkatan anak harus melalui Lembaga Pengasuhan Anak, paling tidak berupa rekomendasi.
  5. Calon orang tua angkat harus membuat pernyataan resmi yang berisi kesediannya untuk melaporkan perkembangan anak kepada Kementerian Luar Negeri melakui perwakilan RI setempat setiap tahun hingga si anak berusia 18 tahun.
  6. Orang tua angkat harus bersedia dikunjungi perwakilan RI setempat untuk melihat perkembangan anak sampai berusia 18 tahun.

Setelah segala dokumen berhasil dilengkapi, calon orang tua angkat mengikuti TATA CARA dengan urutan sebagai berikut:

  1. Mengajukan permohonan izin pengasuhan anak kepada Kepala Instansi Sosial Provinsi dengan melampirkan seluruh persyaratan.
  2. Kepala Instansi Sosial akan menugaskan pekerja sosial dan Lembaga Pengasuhan Anak untuk menilai kelayakan calon orang tua angkat dengan melakukan kunjungan ke rumahnya.
  3. Jika dinilai layak, Kepala Instansi Sosial Provinsi akan mengeluarkan Surat Izin Pengasuhan Sementara dan pekerja sosial akan melakukan bimbingan dan pengawasan selama pengasuhan sementara.
  4. Setelah proses tersebut selesai, calon orang tua angkat mengajukan permohonan izin pengangkatan anak kepada Kepala Instansi Sosial Provinsi.
  5. Pekerja sosial dan Lembaga Pengasuhan Anak pun kembali melakukan kunjungan rumah untuk mengetahui perkembangan calon anak angkat selama diasuh oleh calon orang tua angkat.
  6. Dari hasil pengawasan dan penilaian kelayakan yang dilakukan oleh pekerja sosial terhadap calon orang tua angkat, Kepala Instansi akan membahas hasil penilaian dan kelengkapan berkas permohonan pengangkatan anak dengan Tim Pertimbangan Pengangkatan Anak di Provinsi yang terdiri dari perwakilan beberapa lembaga. | Lembaga itu antara lain Kementerian Sosial, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat atau yang saat ini menjadi Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan. Selain itu ada pula wakil dari Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kemenerian Kesehatan, Polri, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, KPAI, Komnas Perlindungan Anak, dan Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia.
  7. Proses selanjutnya, Kepala Instansi Sosial akan mengeluarkan surat rekomendasi untuk izin pengangkatan anak agar dapat diproses lebih lanjut ke Kementerian Sosial.
  8. Ketika berkas sudah diterima oleh Menteri Sosial atau diwakili oleh Direktur Pelayanan Sosial Anak, penilaian kelayakan calon orang tua angkat tersebut akan dibahas oleh Tim Pertimbangan Perizinan Pengangkatan Anak (PIPA) di Kemensos.
  9. Forum Tim PIPA akan mengeluarkan surat keputusan tentang pertimbangan pengangkatan anak.
  10. Kemudian Menteri Sosial mengeluarkan keputusan tentang izin pengangkatan anak untuk ditetapkan di pengadilan. Tapi jika permohonan ditolak, maka anak akan dikembalikan kepada Lembaga Pengasuhan Anak.
  11. Pengajuan pengangkatan anak ke pengadilan dilakukan oleh calon orang tua angkat atau kuasanya dengan mendaftarkan permohonan pengangkatan anak ke pengadilan. Jika pengadilan sudah menetapkan dan proses pengangkatan anak telah selesai, maka orang tua angkat harus melapor dan menyampaikan salinan penetapan pengadilan tersebut ke Kementerian Sosial dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten atau Kota.
  12. Langkah terakhir, Kementerian Sosial akan mencatat dan mendokumentasikan pengangkatan anak tersebut.

Barulah proses pengangkatan anak resmi secara hukum. Memang kelihatannya rumit. Tapi ya begitulah payung hukum ini dibuat yang sejak awal bertujuan agar anak hasil adopsi benar-benar dipelihara dengan baik oleh orang tua angkatnya.

PELANGGARAN:
Pelanggaran terhadap aturan ini memiliki implikasi hukum berupa pidana penjara, sesuai dengan UU RI No. 35 Tahun 2014.

KASUS ENGELINE:

Kasus Engeline memang menjadi alarm bagi dunia anak. Jika adopsi dilakukan secara asal-asalan, maka bukan tidak mungkin anak malah tidak mendapatkan haknya. Kasus Engeline itu salah satu kasus dari sekian banyak kasus anak yang terjadi. Banyak sekali anak anak yang menerima kekerasan tetapi tidak pernah terekspose di publik.

Seperti diketahui, Engeline merupakan anak dari pasangan suami istri yang tak mempunyai biaya untuk menebus biaya rumah sakit. Akhirnya, Engeline didopsi oleh pasutri MCM dan (mendiang) DS. Setelah kasus kematian bocah tersebut mencuat, Tim Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan investigasi atas proses adopsi yang dilakukan ibu angkat Engeline. Merujuk pada peraturan di atas, faktanya, proses pengangkatan Engeline sebagai anak oleh MCM dan suaminya menyalahi aturan prosedur pengadopsian anak, sehingga bisa dikatakan adopsi ilegal. Saya lansir dari media CNN Indonesia (12/6/2015), hukum yang ditabrak antara lain:

Pertama, MCM dan suaminya yang berkewarganegaraan asing seharusnya mengajukan permohonan adopsi anak ke Kementerian Sosial. Faktanya, Kemensos tidak menerima dokumen permohonan tersebut. Proses pengangkatan anak tidak melalui Lembaga Pengasuhan Anak.

Kedua, proses pengangkatan Engeline sebagai anak terhenti di notaris saja, tak melibatkan instansi sosial seperti Kementerian Sosial atau pengadilan. Padahal notaris hanya bagian kecil proses penguatan dokumen dan persyaratan. Ada pihak yang pakai notaris, ada yang tidak.

Ketiga, sebelum mengadopsi Engeline, MCM dan suaminya telah memiliki dua anak kandung. Padahal dalam persyaratan disebut pasangan calon pengadopsi tidak atau belum memiliki anak atau hanya boleh memiliki satu anak.

Dalam kasus Engeline ini, baik orang tua kandung maupun ibu angkatnya, MCM, sama-sama tercancam pidana 5 tahun, karena pengangkatan anak tidak melibatkan negara atau pemerintah.

Sebelumnya diketahui bahwa kondisi MCM sendiri dinyatakan tidak layak untuk mengurus Engeline, sehingga ditetapkan sebagai tersangka atas penelantaran anak. Jadi, ancaman jeratan pasal pidana akan berlapis untuk MCM. Sementara ini keterlibatannya dalam proses pembunuhan Engeline masih dalam proses penyidikan.

Semoga kasus Engeline tidak terulang di masa mendatang.

Mari kita bangun sistem kepekaan sosial di tengah masyarakat untuk mencegah kasus kekerasan terhadap anak. Selain melaporkan bila menemukan tanda-tanda kekerasan terjadi pada anak, juga laporkan bila menemukan praktek adopsi ilegal dan/atau praktek jual-beli anak.

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto
17/6/2015

Advertisements

17 Comments

  1. FYI … Bagaimana mengadopsi anak menurut Hukum Islam?

    Fatwa MUI tentang Adopsi | Khazanah TransTV, 1/9/2015

    Ensiklopedia Hukum Islam At Tabanni – Adopsi | Republika, 27/1/2012

    Mengadopsi Anak Menurut Hukum Islam | Republika, 13/6/2010

    Pengangkatan Anak Menurut Hukum Islam | Hukum Online

    Anak Angkat dan Statusnya dalam Islam | Muslim.or.id

  2. Setuju. Mengadopsi anak itu gak boleh asal-asalan. Makanya, saya sebetulnya gak setuju kalau ada yang adopsi dengan alasan untuk ‘memancing’

  3. kasamago says:

    sbuah peljrn yg wjib diptik bnyk pihak..sdh seyogyanya pemerintah melakukan sosialisasi n pengawasan tekait prosedur adopsi anak yg legal.
    smg ad political will dr rezim saat ini perihal maslh adopsi anak.

  4. Semoga kasus ini bisa menjadi pembelajaran supaya hukum kita diperbaiki ya. Btw, aku kenal seseorang yang pengen main mata dengan bidan supaya ngeluarkan surat kelahiran untuk anaknya, mereka tak punya anak, dan bidanya gak mau mengeluarkan surat kelahiran. Bravo atas keteguhan hati sang bidan.

  5. Yudi says:

    Assalamu`alaikum mas Iwan,
    yudi ninggalin jejak dulu ya? 😀
    apakabar mas? lama tidak berbagi cerita lagi, ya.
    saya sekarang aktif di http://www.hikayatbanda.com dan beberapa blog yang pake nama asli saya mas.

  6. FYI … mengetahui latar belakang ortu kandung

    Cerita Kemiskinan Kampung Asal Engeline [Republika, 18/6/2015]

  7. rahmabalcı says:

    termasuk ‘anak pancingan’ jg masuk kategori ilegal ya pak, soalnya banyak kasus di masyarakat, pasangan pasutri yang ga punya anak,trus angkat anak di anggap ‘pancingan’ agar bs hamil? biasanya antar keluarga terdekat atas kesepakatan keluarga saja, harusnya kyk gini dia atur juga kah sm negara.

    kalau hukumnya jelas (padahal kayaknya yg ngangkat org punya pendidikan semua tuh) bs mempermainkan hukum.
    orangtua si anak bahkan tidak tahu rupa anak nya,dimana mereka tinggal..
    banyak pelanggaran nyaa

    • Selama proses ‘anak pancingan’ tersebut menggunakan tata cara berdasarkan hukum yang berlaku ya gak papa, tapi kalo nabrak ya jelas ilegal. Sanksinya pidana bui 5 tahun plus denda.

      Miris sekali melihat praktek-praktek yg mempermainkan amanah-Nya. Tanpa ada penegakan hukum yang tegas, maka selama itu masyarakat kita akan tidak teredukasi dengan baik.

  8. waw, ada namaku tertera di situ… 🙂 *pipi merah merona…

    Aku bookmark ini deh mas iwan…

    Berarti ibu angkat Engeline melakukan pelanggaran mengangkatnya sebagai anak ya Mas Iwan, karena orangtua angkatnya punya anak kandung…

    Aku baca tadi pemakaman angeline di tempat orangtua kandungnya yaa…

  9. azfiamandiri says:

    CMIIW

    mencoba menyebut sisi hukum dalam agama saya, bahwa..

    Pengertian anak angkat dalam Islam adalah anak asuh, dimana nasabnya tetap kepada orangtua kandungnya.
    sedangkan kita sebatas membiayai hidup & pendidikannya.
    Anak angkat tak berhak mendapat waris, kalau ada cuma wasiat dengan batas tidak melebihi batas 1/3 harta waris.
    misalnya berwasiat : berikan 30% dari harta saya untuk anak ini.

    di luar itu saya sepakat dengan postingan ini.

    • Betul, mas Agus.

      Dalam ajaran Islam, memang melarang anak adopsi diakui sebagai anak kandung. Jadi, kalo punya anak adopsi harus tetap dibuat akte lahir atas nama ayah kandungnya. Nasabnya tetap dijaga mengikuti nama ayah kandungnya. Sesuai pedoman QS Al-Ahzab ayat 4-5

  10. […] Adopsi Asal-Asalan Menjadi Pemicu Kekerasan Pada Anak […]

  11. cvnadagroup2017 says:

    like

  12. FYI … kesaksian mantan pengasuh Engline, Francy A Maringka.

    Engeline sudah menjadi korban penganiayaan ibu angkatnya, MCM, sejak lama. Tindak kekerasan yang dialami Engeline semasa hidupnya yaitu disiksa secara sadis. Tak hanya dipukul dengan tangan kosong, tapi juga menggunakan benda tumpul. Bahkan di suatu waktu, MCM pernah memukuli gadis kecil itu dengan menggunakan sebilah bambu, sampai bilah bambu itu pecah. [Viva News, 17/6/2015]

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat