Home » Ghazwul Fikri » Menyikapi Pilihan Bebas (1) | #LGBT

Menyikapi Pilihan Bebas (1) | #LGBT

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

pilihan hidup[pic courtesy: mjrusche.deviantart.com]

Bismillah …

Jurnal “Runtuhnya Teori ‘Gen Gay'” yang saya rilis pada tahun 2013, kembali menjadi Most Viewed Pages di blog ini bersamaan dengan kehebohan publik atas sikap mereka (yang pro dan kontra) atas pelegalan perkawinan sesama jenis oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 26 Juni 2015.

Tidak sedikit mereka yang pro LGBT memberikan komentar dalam jurnal tersebut, yang kebanyakan berisi pembelaan diri atas nama ‘given by the Creator’, dan tidak sedikit pula diantara mereka yang curhat. Ada juga yang mengaku memiliki kecenderungan disorientasi seksual menulis nasehat yang ditujukan kepada para pelaku yang memiliki disorientasi seksual juga.

Diantara sekian banyak komentar yang menyadarkan para pelaku LGBT, kali ini saya ingin memuat komentar menarik dari Pak dr. Widodo Wirawan. Beliau membagi pandangannya sebagai berikut: [link komentar]

Buat teman-teman, saya harap mencoba untuk menggunakan akal bila tidak bisa menerima dalil agama sebagai penjelasan.

Kebetulan saya salah satu orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Seperti kata Pak Iwan, bila kita menerima takdir / genetik sebagai sebab bahkan yang dianggap buruk / cacat sekali pun oleh manusia normal. Maka bukan berarti kita tidak mampu mengubahnya, karena Pencipta kita menganugerahkan potensi kehendak / ikhtiar / berusaha. Anak saya yang kedua adalah tuna rungu sangat berat sejak lahir. Sudah banyak kami melakukan usaha / pengorbanan untuk membuat anak kami bisa mendengar dan berbicara. Dan perlahan hasilnya mulai terlihat. Bagaimana pun usaha kami, anak kami tetaplah tuna rungu, namun dia sekarang sudah mulai bisa mendengar dan berbicara meski pun terbatas. Usaha proses itu jauh lebih berharga daripada kita meratapi diri sendiri dan berusaha agar orang lain mengerti kita.

Anda sekalian tahu bagaimana masyarakat menciptakan stigma (dan itu alamiah sebagai sifat fitrah buruk dari manusia yang seharusnya tidak perlu dipupuk menjadi bentuk sikap diskriminatif). Kami pun dan orangtua lain berpendapat tuna rungu bukanlah penyakit. Tapi dia bisa dimodifikasi agar mengikuti dunia mainstream. Masih banyak orangtua yang belum menerima anaknya mengalami tuna rungu, hanya sekadar mengeluh, mengutuk dirinya, bahkan marah sama Tuhan dan kecewa dengan anak yang dilahirkannya. Kami di grup orangtua selalu menyemangati mereka ini untuk berpikiran positif dan berjuang keras. Tidak semua yang mampu dan masih saja ada yang berkeluh kesah dan pasrah dengan keadaan. … Mungkin analogi ini bisa memberikan pencerahan.

Gay yang berwujud orientasi tidaklah terlarang, namun Anda bersiap akan tetap mengalami stigma selama tidak berusaha untuk menepisnya dan bermanifes dalam perbuatan nafsu terlarang. Bahagia itu ada di perjuangan, terkadang harus dipaksakan agar kita berlatih menggapai bahagia yang hakiki. Kami mengalami itu dalam bentuk yang lain.

Mari move on jangan pernah merasa hanya diri kita yang punya masalah terberat, motivasi diri buat berubah … mengantisipasi ujian – ujian hidup.

Widodo Wirawan

********** end of quote **********

Saya sependapat dengan Pak dr. Widodo Wirawan, bahwa ketika kita menerima takdir yang dianggap buruk oleh manusia, maka bukan berarti kita tidak mampu mengubahnya. Allah telah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’d (13) : 11]

if then elseSeorang manusia sejak ia ditakdirkan untuk terlahir dan menjadi ada .. dia sudah memilki begitu banyak alternatif jalan hidup yang jumlahnya jutaan atau malah milyaran yang tersimpan di Lauhul Mahfudz. Kalau kita akrab dengan konsep pemrograman database, maka seperti itulah gambaran misteri Lauhul Mahfudz. Dan sistematika hidup yang merupakan pilihan itu seperti conditional statement pada flowchart. Dalam sistem flowchart dikenal: If.. Then.. Else.., jika tidak memenuhi kondisinya maka dia harus looping atau langsung melompat ke statement lain yang hasil akhirnya berbeda dengan kondisi yang bila terpenuhi.

Semua percabangan takdir kita (hasil conditional statement) sudah di-compiling di dalam Lauhul Mahfudz. Misal apakah kita besok akan lewat ke kanan atau ke kiri, jika lewat ke kanan maka percabangannya akan begini, jika lewat ke kiri maka percabangannya akan begitu, serta rentetan lain yang menyertainya tiap cabang. Dalam bahasa sederhana, Lauhful Mahfudz adalah databasenya Allah atau kumpulan data-data takdir makhluk hidup dan rangkaian kejadian semua peristiwa di alam semesta secara umum.

Itulah kenapa umat Islam membaca ihdinash shirathal mustaqim atau “tunjukkanlah kami jalan yang lurus”.. minimal 17 kali dalam sehari di tengah-tengah kekusyukan sholatnya. Tujuannya agar manusia tidak tersesat dalam pilihannya pada percabangan conditional statement. Kita berdoa dengan lafazh tersebut agar Allah mau hadir dalam semua usaha yang kita lakukan dengan memberikan jalur link (yang baik menurut-Nya) pada hukum sebab-akibat. Tentunya do’a dibarengi dengan ikhtiar agar semua modul dari semua sintaksis pemrograman Allah yang teramat sangat kompleks ini berjalan dengan baik sesuai keinginan kita.

Di mata Allah, perilaku LGBT adalah terlarang, bahkan dianggap sebagai perbuatan yang melampui batas nilai-nilai kemanusian. Lantas, bila ada seorang LGBT tetap menjadi LGBT, … apakah Allah telah menakdirkan orang tersebut sebagai orang yang ingkar terhadap ketetapan-Nya hingga akhir hayatnya?
Jawabnya: Tergantung manusianya.
Sesungguhnya Allah tidak menginginkan hamba-Nya dengan kondisi seperti itu, sesuai firman-Nya:
“Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” [QS. Al-Baqarah (2) :276]
Malah justru Allah telah merencanakan semua makhluk-Nya berakhir bahagia, sebagaimana firman-Nya:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [QS. Al-Baqarah (2) :185] | Yaitu dengan diutusnya Nabi dan Rasul-Nya, kemudian ulama-ulama penerusnya untuk menyampaikan risalah kebenaran dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Takdir itu berupa rangkaian sebab akibat, dan manusia diberi anugerah untuk menciptakan sendiri sebab yang baik agar baik akibatnya. Tentu saja tetap berlaku hukum: manusia berusaha, Allah yang menentukan.

Allah memberikan kebebasan bagi manusia untuk menentukan model bahagia seperti apa dan akhir yang bagaimana yang manusia inginkan (free choice). Tentunya setiap pilihan itu ada konsekuensinya, baik di dunia maupun di akherat.

Takdir itu menyangkut hal-hal di luar kontrol manusia. Menjadi LGBT telah dibuktikan bukan disebabkan oleh genetika. Manusia itu makhluk sosial, sehingga bisa saja faktor X di luar dirinya mempengaruhi gaya hidupnya, termasuk orientasi seksualnya. Maka menjadi LGBT adalah PILIHAN bukan takdir, karena ada kontrol pada diri manusia. Manusia bisa mengendalikan rasa cinta dengan self control, treatment dan terapi untuk meng-koreksinya dan meluruskannya untuk kembali ke fitrahnya.

Sungguh tepat analogi yang disampaikan pak dr. Widodo Wirawan dalam perjalanannya memodifikasi takdir pada putrinya agar bisa mengikuti dunia mainstream.

Jadi, takdir dan bukan takdir itu menyangkut sejauhmana ikhtiar manusia, dan kemampuan mapping atas pilihan dan resikonya. Oleh karena itu, buat para pengidap disorientasi seksual seperti LGBT, silakan belajar dari contoh-contoh kasus mereka yang berhasil sembuh total. Jangan mengutuki diri, mengeluh, dan marah sama Allah, apalagi minta orang lain bisa memahami orientasi kalian.
Fight untuk bisa sembuh…
Hidup di dunia ini singkat, sedangkan kehidupan yang kekal ada di akherat, tempat mempertanggung-jawabkan segala perbuatan selama hidup di dunia.

Wallaahu a’lam bish-showab

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
08.07.2015

Advertisements

15 Comments

  1. Cerpen yang keren.
    http://www.ayolebihbaik.com/secret-admirer-yang-enggak-banget/

    Ada informasi penting di dalamnya buat pengidap LGBT.

  2. bimosaurus says:

    Satu lagi mas.
    Kesalahan orientasi sex itu adalah cacat. Kita bisa hidup berdampingan dengan orang cacat, selama tidak mengganggu.
    Tapi kita tidak ingin, kita atau orang-orang tersayang kita menderita cacat.

  3. azfiamandiri says:

    Reblogged this on azfiamandiri and commented:

    Berdo’a, itulah pilihan terbaik . karena tiada ciptaan Tuhan yang salah !

  4. alrisblog says:

    Kebanyakan kaum LGBT menyalahkan takdir, tapi usaha minimal untuk merubah takdir. Saya yakin itu.
    Uraian mas Iwan mantap.

    • Kalo sudah menyalahkan takdir… kecenderungannya adalah melepaskan agamanya. Padahal dengan memegang teguh agama … bisa menjadi cambuk atau motivasi untuk berubah.

      Bagi siapapun dalam kondisi apapun… hidup ini memang perlu pegangan, agar ruang yang masih kosong dalam hati diisi oleh nilai-nilai spiritualitas.

  5. Dyah Sujiati says:

    Propaganda atau bahkan doktrin bahwa LGBT menurut sy sudah cukup berhasil. Buktinya, kini orang-orang jadi banyak yang takut menyebut LGBT adalah penyakit. Seolah yg tidak setuju pada LGBT adalah manusia jahat dan tdk berperikemanusiaan. PADAHAL baik buruknya suatu perbuatan bisa ditentukan dg kitab suci selalu pedoman hidup. Khususnya bagi muslim, di Al Qur’an sudah jelas bahwa LGBT adalah perbuatan melampaui batas. Lantas muslim yang mengatakan demikian malah dituduh intoleran lah diskriminatif lah. Haduh haduh, serba terbolak balik.
    Berpenyakit LGBT malah mintanya dimanja, diperlakukan baik-baik, dihormati? Aneh. Wong dia sendiri menjadi penyakit sosial.
    Semoga para pelaku maupun pendukung LGBT dapat menerima penjelasan semacam ini kemudian sadar dan bertobat. Aamin

    • Bantu penyadarannya yuk. Menyadarkan dengan lebih memanusiakan nya bukan menghakiminya agar mereka memiliki motivasi kuat u/ berubah bukan jadi bete, lari, trus gak mau dekat-dekat kita lagi, karena males diceramahi 🙂
      …. ya siapa tahu kasus ini ada di dekat kita di antara teman kita sendiri, sahabat kita, saudara kita, bahkan dalam keluarga kita.

      Berdasarkan pengalaman saya saat menyadarkan saudara sendiri (saudara sepupu) yang ‘tertular’ oleh teman kerjanya …. wah betul – betul perlu kesabaran untuk meluruskannya. Ortunya pun juga hampir putus asa karena merasa sulit memulihkannya. Dia pun menjalani proses terapi yang begitu lama.
      Alhamdulillah, dirinya sudah sembuh (dari pengaruh bayang-bayang pasangan L nya), setahun kemudian menikah dan sekarang sudah memiliki tiga orang anak.

  6. Seringkali saya tidak mengerti jalan pikiran pelaku LGBT. Apalagi kalau ditambah keinginan punya anak. Sehingga bela-belain adopsi.

    Pada dasarnya, memiliki anak harus dari sepasang laki dan perempuan. Jadi apakah mereka gak berpikir kalau dari situ aja udah salah jalannya?

    Semoga semakin banyak yang dijauhkan dari hal-hal seperti itu. Selalu ditunjukkan ajlan yang lurus oleh Nya. Aamiin

    • Ada artikel bagus nih, bu Myra.
      Pendapat dari anak-anak yg mempunyai ‘legal parents’ gay. Patut direnungkan oleh mereka yg mendukung gay marriage dgn alasan melindungi hak kaum gay tapi malah berpotensi menghilangkan hak asasi anak2 mereka untuk hidup normal.

      A Warning from Canada: Same-Sex Marriage Erodes Fundamental Rights
      by Dawn Stefanowicz
      http://www.thepublicdiscourse.com/2015/04/14899/

      quote:
      Over fifty adult children who were raised by LGBT parents have communicated with me and share my concerns about same-sex marriage and parenting. Many of us struggle with our own sexuality and sense of gender because of the influences in our household environments growing up.

      quote:
      Over and over, we are told that “permitting same-sex couples access to the designation of marriage will not deprive anyone of any rights.” That is a lie.

      When same-sex marriage was legalized in Canada in 2005, parenting was immediately redefined. Canada’s gay marriage law, Bill C-38, included a provision to erase the term “natural parent” and replace it across the board with gender-neutral “legal parent” in federal law. Now all children only have “legal parents,” as defined by the state. By legally erasing biological parenthood in this way, the state ignores children’s foremost right: their immutable, intrinsic yearning to know and be raised by their own biological parents.

  7. bimosaurus says:

    Mas Iwan, ada keterangan dari seorang teman adik saya, kebetulan dia seorang waria. Dia menjadi ‘teman’ bagi para gay dan waria papan atas di Jakarta sana. Ternyata siapa saja yang menjadi langganan dia, mengejutkan banyak orang. Jika yang dia katakan benar lho ya. Tapi saya kok agak percaya, mengingat trackrecord dia.
    Banyak artis-artis laki-laki yang akhirnya jatuh dalam orientasi seks pada sesama jenis, akibat pergaulan. Lifestyle. Jadi hal tersebut barangkali, oke jika disebut ada unsur gen, tapi unsur pembiasaan itu juga memiliki poin yang tinggi. Kali ini bukan lagi bicara stigma. Tapi kewajaran sebagai manusia.
    Bagi saya, penting juga ‘tidak mempedulikan’ orientasi seks yang berbeda dalam bergaul. Saya memang lebih mengarah pada menghindari pelecehan yang ditimbulkan oleh agresivitas mereka. Namun, saya juga menghindari terlalu dekatnya pergaulan, agar menjaga diri dan sekitar saya saja, mengingat bagaimanapun orientasi ketertarikan seks itu entah normal atau tidak, adalah satu poin untuk agresif terhadap apa yang membuatnya tertarik.
    Itu kalau saya.

    • Saya juga berpandangan demikian, bahwa faktor lingkungan itu memegang peranan yg besar untuk membentuk seseorang memiliki orientasi homoseksual.

      Ya awalnya tumbuh sekedar penerimaan, lama-lama levelnya jadi naik.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat