Home » Ghazwul Fikri » Jagalah Hati, Jangan Kau Nodai | #LGBT

Jagalah Hati, Jangan Kau Nodai | #LGBT

Blog Stats

  • 2,052,782

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

only you

Bismillah …

Melanjutkan kembali pembahasan tentang pandangan pengunjung blog yang menjawab pandangan dari mereka (komentator) yang pro atau pelaku LGBT. Edisi sebelumnya: Menyikapi Pilihan Bebas.

Diantara ratusan komentar untuk jurnal Runtuhnya Teori ‘Gen Gay’, ada pandangan yang menarik dan layak untuk dibagi di sini. Pandangan tersebut berasal dari ibu Onya, pegiat #IndonesiaTanpaJIL, yang menanggapi komentar Pak Marco yang pro / pelaku LGBT.

Sebelumnya, Pak Marco menulis komentar berikut ini: [jejak komentarnya]

Salam sejahtera semuanya.
Artikelnya sudah cukup lama ditulis, mudah – mudahan saya tidak terlambat untuk berkomentar / sharing.

Perkenalkan, saya seorang lelaki G. Sejauh saya mengingat ke masa lalu, saya sudah merasakan ketertarikan sejenis. Dari dulu saya suka melihat wanita cantik, namun tidak ada keinginan sama sekali untuk lebih dari memandangnya. Berbeda dengan pria.

Saya seorang muslim, bisa dibilang tidak sereligius itu, tapi saya cukup rajin shalat dan mengkaji ayat. Yang saya kurang sukai dengan pandangan mayoritas penduduk Indonesia (dan mungkin penulis, saya tidak tahu, walau saya yakin niat penulis baik) terkadang kalian memandang kami sebagai pelaku dan orang menjijikan yang harus dibasmi dari dunia ini. Jika kalian beragama, ingatlah bahwa kami juga ciptaan Tuhan. Walau mungkin Anda menganggap homoseksual menjijikan, tapi kami sebagai manusia juga sedih jika mendengar / membaca hal seperti itu.

Disini saya tidak akan berusaha membenarkan homosexual, saya tahu itu menyalahi kodrat. Oleh karena itu, Alhamdulillah sejauh ini saya tidak terlibat dengan komunitas dan kegiatan sexual.

Sebagai orang homosex yang cukup mengerti agama, tentu ada kontradiksi dalam hati. Di satu sisi, Anda harus melakukan perintah agama. Tapi di sisi lain, Anda akan selalu merasa bahwa akan masuk neraka karena Anda adalah homosex. Butuh waktu lama untuk saya bisa menerima diri saya seperti ini. Saya akan membagikan pendapat saya soal ini (ingat, ini opini saya, biarpun ada sedikit ayat atau apa, bisa jadi interpretasi saya salah).

Pandanglah homosex Anda sebagai ujian dari Allah. Allah tidak akan pernah menguji hambanya melebihi kemampuannya. Anggap saja, berarti Anda telah dipercaya Allah bisa untuk melalui ini. Janganlah membenci diri Anda sendiri, jangan ingin mati dan sebagainya.

Setahu saya, definisi homosex kaum Nabi Luth, berasal dari kata liwath (yang artinya kurang lebih menyodomi pria dan pria atau wanita dengan wanita) sehingga, saya beranggapan: yang diazab Allah adalah kegiatan homosex. Jika kita lahir sebagai homosex, tapi tidak pernah melakukan kegiatan homosex, Insya Allah kita tidak diazab.

Namun, ingatlah bahwa kodrat manusia adalah pria dan wanita. Cobalah belajar mencintai wanita, dan berkomitmenlah untuk tidak pernah berhubungan dengan pria.

Saya sendiri pernah berpacaran dengan seorang wanita. Biarpun ujung-ujungnya kami putus, namun dia menyatakan bahwa dia cukup senang selama kami berpacaran. Jika Anda bilang kasihan dengan wanita yang akan Anda nikahi, Anda salah besar. Kita bisa membahagiakan wanita, jika kita berniat. Lagipula, kita harus menikah karena Allah, bukan karena cinta. Insya Allah jika kita menikah karena Allah dan ingin sembuh dari homosexual (dan Anda berkomitmen) pernikahan akan menjadi berkah. Insya Allah juga dia menjadi berpahala.

Menurut saya sendiri, homosex adalah aib yang tidak perlu diceritakan ke siapapun. termasuk istri, karena bisa membuatnya sedih. Selama Anda bisa menafkahi batin dan lahir dengan baik, dan tidak menyimpang. Pasti bisa.

Salam,
Marco

===== e n d =====

Perhatikan kalimat yang dicetak tebal di atas, itu mengingatkan saya akan ucapan yang pernah disampaikan para aktivis liberal lewat akun media sosialnya berikut ini:

"Kalau ente suka sama sejenis, selama gak ML, kagak masalah. Itu urusan hati." (Rumail Abbas)
"Kalau dipelajari, rasanya yang diharamkan dalam Islam bukanlah homoseksualitas tapi perilaku seks sodomi." (Ade Armando)
"Yang dicela kitab suci bukan orientasi homoseksual, melainkan praktek pemerkosaan dan penghinaan melalui sodomi" (Saidiman Ahmad)

Begitulah, betapa dahsyatnya medan ghazwul fikri.

Alhamdulillah, ada pengunjung blog bernama ibu Onya yang merasa peduli untuk meluruskan dan menanggapi komentar di atas. Beliau menyampaikan pandangannya sebagai berikut: [jejak komentarnya]

Bismillahirrahmanirrahiim,

Marco, saudara semuslim kami yang kami sayangi,
Saya akan mengomentari beberapa hal menarik yang saya tangkap itu adalah merupakan kegalauan dalam hatimu…

(1) Jika kita lahir sebagai homosex, tapi tidak pernah melakukan kegiatan homosex, Insya Allah kita tidak diazab.

Saya akan berbagi kisah, mari kita simak…

Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia mengisahkan:

Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata: “Ya Rasulullah! .. izinkanlah aku berzina.”

Spontan seluruh sahabat yang hadir, menoleh dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!” Mendengar ucapan sahabatnya itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mendekatlah”.

Pemuda itu pun mendekat kepada beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya: “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?”

Pemuda itu menjawab: “Tidak, sungguh demi Allah. Semoga aku menjadi tebusanmu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka…”

Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, lalu berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.”

Sejak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong).

[HR. Ahmad, At Thabrani, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany]

Sang pemuda pun belum melakukan aktivitas sebagai seorang pezina, namun dia sangat beruntung dapat menyadari hati dan keinginannya yang kotor dan menyampaikannya pada Baginda Rasulullah. Meski hati dan keinginan yang kotor itu bukan perbuatan homoseksual, namun Rasulullah tidak menginginkan sang pemuda melakukan perbuatan dosa, meski baru sekedar niat. Karena itu, Rasulullah berdoa “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.”

Apalagi jika hati itu menyimpan perasaan suka pada sesama jenis?

Sebagai manusia, kita diberi perasaan suka mengasihi dan dikasihi dan juga rindu yang terkadang hanya kita simpan dalam hati. Kerinduan tak berbalas atau tak berani diungkapkan ini, seringkali membekaskan duka, sumber penyakit yang dapat menyebabkan kelemahan hati.

Hati yang merindu ini pun tak boleh berlebihan. Ibnu Qayyim menjelaskan mengapa rasa rindu bisa mengganggu. Hati yang merindu sehingga mengganggu karena hati tidak terisi oleh rasa cinta, syukur, zikir dan ibadah kepada Allah sebaliknya membiarkan mata meliar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pandangan mata itu satu dari sekian banyak anak panah iblis.”

Hal kedua yang menarik untuk dibahas adalah …

(2) “Saya seorang muslim, bisa dibilang tidak sereligius itu, tapi saya cukup rajin shalat dan mengkaji ayat.”

Kelihatannya kalimat itu indah, namun yang mengganjal adalah jika sudah shalat dan mengkaji ayat mengapa bisa masih menyimpan rasa suka pada sesama jenis? Tahukah Anda apa manfaat shalat?

Shalat dapat menghapuskan dosa dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kegiatan shalat secara rutin ini dapat menjawab pertanyaan “Bagaimana cara menghindari agar kita tidak terbawa nafsu menjadi homoseksual”. Demikian pula dengan mengaji. Dengan rutin shalat dan membaca Al Qur’an serta berdzikir berarti kita terus mengingat Allah. Setiap manusia menurut fitrahnya mendambakan ketentraman dan kedamaian batin. Tak ingin hidup selalu diliputi kerisauan. Memperoleh ketentraman batin bukan hal yang tidak mungkin. Siapapun mempunyai peluang untuk memperoleh ketentraman batin. Allah SWT mengajarkan hamba-hamba-Nya agar gemar berzikir. Zikir merupakan salah satu langkah nyata untuk mendapatkan ketenangan hati jauh dari kerisauan. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah (zikir). Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.” [QS. Ar-Ra’du : 28].

Jika kita mengingat Allah, maka Allah pun akan mengingat kita. Jika kita mencintai Allah maka Allah pun akan mencintai kita. Bagaimana mungkin Allah membiarkan orang yang dicintai-Nya itu berbuat dosa?
Lalu mengapa jika kita telah shalat, telah pula mengaji masih saja memiliki perasaan suka pada sesama jenis?

Imam Hasan al-Bashri pernah mengatakan “Wahai, anak manusia. Shalat adalah yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat” [Ad-Dur al-Mantsur, 6/466].

Shalat yang dilakukan secara benar akan membawa pengaruh positif kepada pelakunya. Shalat dapat menimbulkan ketenangan jiwa, dapat menunjuki manusia ke jalan yang lurus, yaitu jalan ketaatan kepada Allah Rabul ‘alamin dan terhindar dari sifat lalai yang sangat merugikan. Maka ketika tertimpa masalah baik berupa musibah maupun cobaan, tidak ada cara yang lebih manjur dan lebih hebat dari shalat dan mengaji.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Al-Qur‘an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. al-Ankabût/29 : 45]

Hal lain yang menarik untuk ditanggapi dari komentar Marco adalah ..

(3) “Lagipula, kita harus menikah karena Allah, bukan karena cinta ..”

Menikah karena Allah itu baik sekali. Namun menikah karena cinta yang cintanya karena Allah tentu jauh lebih baik lagi. Akan lebih mendekati keluarga yang sakinah, mawadah warohmah.

“Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar – kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya,
“Siapa mereka itu?”, .. mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azzawajalla.”
[HR. Ahmad]

Yang terakhir, saya setuju dengan pendapat Marco, bahwasanya ..

(4) “Homosex adalah aib yg tidak perlu diceritakan ke siapapun, termasuk istri, karena bisa membuatnya sedih…”

Bagian dari upaya ikhtiar ini adalah tutupi aib kita, karena Allah pun menutupi aib kita. Jangan ceritakan aib kita (perbuatan homoseksual) kepada siapa pun, termasuk orang terdekat Anda seperti keluarga, istri, orang tua, atau siapa pun dia. Karena, jika kita ingin sembuh, hal ini bisa menjadi suatu masalah. Jika ingin berkonsultasi, bisa konsultasikan kepada ahlinya yang tidak mengenal Anda, dengan cara yang disamarkan. Lalu bermunajatlah pada Allah, mengadu, menangs, memohon pertolongan hanya pada-Nya.

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai Fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” [HR. Bukhori Muslim]

Akhirul, Islam adalah the way of life. Maka jadikan Islam sebagai solusi dalam semua aspek kehidupan. Semoga dengan demikian kita semua hidup selalu dalam lindungan-Nya.

Onya Aza

===== end of quote =====

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
[ QS An-Nahl: 125 ]

Wallaahu a’lam bish-showab

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
10.07.2015

Advertisements

15 Comments

    • Miris! Jika masyarakat sudah (dipaksa) menerima bahwa orientasi seks itu given nan beragam maka perlahan namun pasti kita diajak untuk tidak akan mempermasalahkan homoseksual, pedofilia, dan penyimpangan seksual lainnya.

  1. sudah menang voting, kiamat… efek domino, satu legal, menyusul teman temannya yang lain…: http://medan.tribunnews.com/2015/07/12/dewan-etik-di-jerman-ingin-kawin-inses-dilegalkan

    Denmark saja yang awalnya melegalkan hal hal aneh seperti perkawinan dengan hewan, akhirnya melarangnya juga di 2015 ini, http://www.thedailybeast.com/articles/2014/10/14/denmark-s-bestiality-problem-it-s-legal.html

    http://www.bbc.co.uk/newsbeat/article/32411241/denmark-passes-law-to-ban-bestiality

    http://www.dailymail.co.uk/news/article-3049182/Denmark-bans-bestiality-against-animal-sex-tourism.html

    entahlah, hukum dilegalkan tergantung ditingkat voting/suara terbanyak, kalau banyak yang ga benar orangnya, bisa ditebak, hukum sesuai nafsunya…

  2. Aku pernah diskusi dengan beberapa teman pak, termasuk didalamnya orang non muslim soal pernikahan sesama jenis. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Kadang suka gemes sendiri kalo ada pendapat orang-orang yang pro terus malah berpendapat negatif soal agama jadinya, hanya berpikiran soal kebebasan tiap individu 😦 Seorang teman priaku juga ada yang menyukai sesama jenis juga, tapi kalau ditanya soal pernikahan dia bilang tetap ingin punya keluarga normal dengan wanita. Sebagai teman aku juga sekarang cuma bisa bantu terus mengingatkan aja semoga segera diberi hidayah oleh yang Maha Segalanya.

    • Onya says:

      Mba Anggi, ada baiknya bicara dari hati ke hati dengan teman anda yang homo dalam suasana yang enak. Sampaikan padanya sebaiknya jika akan menikah kelak, dalam kondisi benar-benar sudah meninggalkan aktivitas homoseksual (apapun bentuknya). Jangan sampai terjadi, pada saat sudah menikah lalu karena alasan-alasan tertentu dia berselingkuh dengan kembali ke dunian lamanya , menjalin hhubungan dengan homo yang lain. Mengapa ini harus ditekankan , karena sudah bukan menjadi rahasia lagi, banyak pelaku homo yang menikah hanya untuk mencari status belaka sembari tetap menjalin hubungan dengan kekasih homonya. Ada yang konsisten dengan ke-hhomo-annya tanpa menyentuh istrinya, namun ada pula yang menjadi pelaku biseks (tidak hanya dengan sesama jenis tapi dengan lawan jenis juga oke) demi mendapat keturunan.

      Dalam Islam, keduanya (homo dan biseks) sangat dimurkai Allah. Pelaku seks homoseks bahkan lebih keji dari zina.

      “Janganlah kalian mendekati zina karena zina itu tindakan keji dan jalan yang amat buruk” – QS al-Isra’ : 32

      Saya (kembali) akan berbagi kisah…

      Diriwayatkan, saat Rasulullah SAW berada di masjid, datanglah seorang pria menghadap beliau dan melapor, “Ya Rasulullah, aku telah berzina.” Mendengar pengakuan itu Rasulullah SAW berpaling dari dia sehingga pria itu mengulangi pengakuannya sampai empat kali. Kemudian Rasulullah bertanya, “Apakah engkau gila?” Pria itu menjawab, “Tidak.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah kamu orang muhshan?” Pria itu menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah SAW memerintahkan kepada para sahabat, “Bawalah dia pergi dan rajamlah.” (HR al-Bukhari).

      Bagi pelaku zina yang belum menikah, maka dia didera seratus kali dan diasingkan selama setahun.

      Allah Subhanahu waTa’ala berfirman, artinya, “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” (QS. an-Nur: 2).

      Jika pezina sudah menikah, maka hadnya adalah rajam, dari Abdullah bin Abbas radiyallaahu ‘anhuma berkata, Umar bin al-Khatthab radiyallaahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan membawa kebenaran dan menurunkan kitab kepadanya, di antara apa yang Allah Subahanhu waTa’ala turunkan kepadanya adalah ayat rajam, kami membacanya, menghafalnya dan memahaminya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah merajam dan kami pun melakukannya setelah beliau, saya khawatir seiring dengan berjalannya masa ada seseorang yang berkata, ‘Kami tidak menemukan ayat rajam di dalam kitab Allah Subhanahu waTa’ala.’ Akibatnya mereka tersesat karena meninggalkan sebuah kewajiban yang diturunkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala. Sesungguhnya rajam di dalam kitab Allah Subhanahu waTa’ala adalah haq atas orang yang berzina jika dia muhshan dari kaum laki-laki maupun wanita, bukti-bukti telah tegak atau adanya kehamilan atau pengakuan.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

      Itu jika perzinahan dilakukan oleh kaum yang normal (dgn lawan jenis) bagaimana dengan zina yang dilakukan kaum homo ? tentu adzab Allah akan lebih mengerikan lagi… Na’udzubillahi mindzalik..

  3. Hmmm… makin berpikir keras dengan pembenaran yang mengatakan “Yang penting tidak berhubungan sex”

    Bukankah itu termasuk kebutuhan/keinginan dasar manusia? Ya walopun sebagai manusia yang beragama harus ada ikatan pernikahan dulu baru boleh ML.

    Nah, trus kalau mereka yang LGBT, bagaimana menyalurkan kebutuhan tersebut? Mencari seseorang yang berbeda kelamin padahal mereka mengakui kalau penyuka sesama jenis? Hadeuuuhh baru mikir gini aja saya semakin gak ngerti cara berpikir mereka

    • Begitulah, bu Myra. Ketika mereka berusaha mencari pembenaran di Al-Qur’an dan kitab suci lainnya, tidak ketemu, tapi justru ketemu kalo Allah melaknat ML-nya pecinta sesama jenis, akhirnya mereka bikin pembenaran sendiri… bahwa kalo saling mencintai (asal gak ML) dianggap gak papa. Koplak bener sih.
      Ini bentuk upaya penerimaan yang maksa banget.

      Yang menyedihkan, propaganda sesat ini melibatkan publik figur shg fans nya yg awam pun ho-oh aja apa kata sang idola. spt ini:

    • Dyah Sujiati says:

      Betul betul betul

  4. alrisblog says:

    Semoga kaum lgbt kembali ke kodrat sebagai manusia normal dengan usaha maksimal dan hidayah Allah swt.

  5. hensamfamily says:

    istilah “suka sesama jenis” ini jadinya berkonotasi negatif ya. apa ga sebaiknya diganti “cinta sesama jenis”. tapi kurang tepat juga karena Allah justru menyuruh kita saling mencintai tanpa melihat gender, basis mencintai adalah keimanan. harusnya dipersempit istilahnya menjadi “hubungan sex sesama jenis”. atau apa yang lebih tepat?

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat