Home » Ghazwul Fikri » Ritual Kaum Liberal ‘Merayakan’ Idul Adha

Ritual Kaum Liberal ‘Merayakan’ Idul Adha

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Bismillah …

Setiap menjelang atau pas Hari Raya Idul Adha, selalu saja bermunculan para pembela HAB (hak asasi binatang). Mereka mengumbar kebencian di media sosial, seolah-olah bicara soal hati nurani, dengan menganggap Idul Adha adalah hari raya pembantaian. Namun ada juga yang menyampaikannya dengan halus mengusulkan memodifikasi bentuk qurban / mengubah syariat-Nya.

Itu semua sudah diprediksi sejak awal syiar Islam. Di antara lafaz takbiran berbunyi: “walau karihal kafiruun, walau karihal munafiquun, walau karihal musyriquun” (walau orang-orang kafir enggan, meski orang-orang munafiq sakit hati, kendati orang-orang musyrik keberatan). Jadi, ya tenang saja lah, .. lanjutkan berqurban, meski kaum liberal sibuk melakukan ritual makan sate sambil berkicau (tweet) menyerang syariat Islam.

Berikut ini sebagian contoh kicauan mereka yang hendak memadamkan cahaya Islam.

Hari Pembantaian Binatang … katanya

Dari kicauan akun atheist, @EL_Atheos:
–| “Selamat hari pembantaian hewan terbesar di dunia!
Kaum bigot tidak terima kalau upacara qurban yang dilakukan tiap tahun adalah menumpahkan darah untuk pengorbanan, yang meniru ritual pagan. Hanya di dunia manusia, ‘pembunuhan’ kepada makhluk lain menjadi kesadaran spiritual. Kebodohan kaum bigot adalah meyakini sesuatu yang hanya berupa mitos hingga sanggup membunuh dengan alasan sebuah kebaikan.
Menurut saya, tidak akan ada kebaikan yang bisa diraih dengan menumpahkan darah sebagai pengorbanan. Jika menurut Anda ada kebaikan yang diraih dengan menumpahkan darah sebagai pengorbanan bagi kita, maka itu selfish sekali.

Should be no blood for humanity. No one and nothing should be killed for kindness. Whatever the reason, it’s a killing of life.” |–

Dalam situs Islam Liberal, juga banyak bertebaran tulisan yang seirama dengan pola pikir atheist di atas, salah satunya seperti yang dimuat pada bulan ini: “Narasi Kekerasan di Hari Raya Qurban”.

Andai mereka mau sediiiikit saja membunuh kemalasan, tentu akan mencari tahu mengapa Islam memerintahkan penyembelihan hewan secara syar’i. Dan juga mengapa ada perintah bagi orang-orang yang beriman untuk ber-qurban. Simak QS. Al-Kautsar: 1-3, Al-Hajj: 36.

Ibadah qurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalam. Mengapa qurban Habil diterima, sedangkan qurban Qabil ditolak oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala?
Kaum Pagan meniru qurban pada zaman Adam ‘alaihissalam lalu menyimpangkannya dari tauhid. Kemudian melalui qurban Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam, Allah Subhanahu Wa Ta’ala meluruskan makna qurban sesuai tauhid, yang kemudian dilestarikan oleh Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau mereka sebut idul adha sebagai’pembantaian’, mengapa diam saja atas penyembelihan hewan sapi / kambing di rumah-rumah potong hewan (RPH) yang dagingnya dijual di masyarakat?
Tahu tidak berapa jumlah hewan yang ‘dibantai’ untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di Indonesia setiap harinya? Contoh, kebutuhan daging sapi di Jakarta, pada hari biasa dibutuhkan 20 Ton per hari, kalau bulan puasa meningkat menjadi 70 Ton per hari. [TribunNews, 13/7/2014].
Itu baru kebutuhan per hari di Jakarta. Coba hitung, berapa sapi yang dibantai setiap hari?
Coba gali informasi berapa kebutuhan daging sapi dan kambing di seluruh kota dan desa di Indonesia dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan bisnis kuliner dari kelas angkringan sampai rumah makan franchise internasional.
Belum lagi sapi untuk bahan baku patty dalam burger, sosis, bakso, rendang, dan lain-lain. Berapa ekor sapi yang disembelih setiap harinya untuk industri pangan?
Belum lagi kalau kita makan telur ayam. Telur itu masih semacam bakal dari bayi binatang, kok tega sekali dimakan?
Ya. Setiap hari adalah hari pembantaian binatang di seluruh dunia!
Pada kemana kalian semua dengan pembantaian-pembantaian yang terjadi setiap hari?
Mengapa baru ribut setahun sekali menjelang ibadah qurban dengan menyebutnya sebagai hari pembantaian?
Coba deh sekalian aja nyinyirin tukang jual sate, biar dianggap liberalis progresif gitu, sebagai manusia yang berperikebinatangan 🙂

Apakah mereka terlepas dari kata ‘pembantaian’ jika seorang vegetarian?
Tidak juga.
Kenapa?
Tumbuhan adalah makhluk hidup. Mencabut satu batang tumbuhan sama saja mencabut satu nyawa. Coba hitung, berapa nyawa tuh tumbuhan yang dibantai untuk dimasak dalam seporsi sayuran?

Maka dari itu, renungkan dan kaji dulu sebelum bicara. Sudah jelas bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan hewan dan tumbuhan itu sebagai rizki bagi manusia (yang fitrahnya sebagai omnivora). Jadi, menyembelih hewan untuk dimakan bukanlah termasuk menyiksa dan menzalimi. Yang tidak boleh disembelih itu manusia, hewan-hewan yang dagingnya haram dimakan, dan hewan-hewan langka yang ditakutkan kepunahannya. Atau sekedar membunuh untuk kesenangan sehingga hewan-hewan itu mati sia-sia. Sedangkan kambing, sapi, dan unta termasuk jenis ternak yang mudah dikembang-biakkan dengan cepat. Sudah sejak zaman dahulu kala, hewan-hewan itu dipelihara untuk dikonsumsi umat manusia.

Bicara soal perikebinatangan. Jauh sebelum munculnya organisasi atau kelompok animal lover, syariat Islam telah sejak dahulu menggariskan kepada pemeluknya agar berbuat baik dan menaruh belas kasihan terhadap binatang. Banyak studi / kajian yang telah membuktikan kebenaran tersebut. Salah satunya bisa kita simak dalam artikel di sini

Penyembelihan hewan sapi dan kambing itu hanya sekedar pindah tempat saja kok, yang biasanya setiap hari dilakukan di RPH yang sifatnya tertutup, saat Idul Adha berganti ke tengah-tengah masyarakat yang sifatnya terbuka. Jadi, yang merasa terusik hati nuraninya … coba deh sering-sering maen ke rumah potong hewan, biar kagetnya gak setahun sekali.

idul adhaPindah yuuk… ke halaman masjidku

Mengapa penyembelihan hewan qurban dilakukannya di depan umum, di pelataran masjid, di halaman sekolah, di kampung-kampung?

Saat ibadah qurban adalah waktu yang tepat untuk syiar agama Islam dalam mengajarkan bagaimana menyembelih hewan secara syar’i sehingga menghasilkan daging yang halal dan baik. Banyak hal yang masyarakat bisa pelajari dari syiar tersebut, antara lain:

  1. Menyembelih hewan diawali dengan basmallah dan do’a.
  2. Tukang jagal harus terlatih, menggunakan pisau tajam agar hewan qurban cepat mati. Yang ber-qurban bisa belajar menyembelih, karena disunahkan menyembelih binatang qurbannya.
  3. Belajar menjaga kebersihan dan kesehatan. Darah hewan qurban harus dikeluarkan semua karena darah mengandung hal-hal yang tidak baik untuk kesehatan manusia.
  4. Bagi masyarakat yang menonton prosesi penyembelihan itu membacakan takbir untuk memuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bersyukur atas pemberian-Nya.
  5. Belajar mengelola pembagian. Daging qurban dibagikan kepada masyarakat dalam lingkungannya yang membutuhkan, tanpa membeda-bedakan agama penerimanya. Bahkan jika di lingkungan tersebut warganya banyak yang ber-qurban, maka bisa berbagi ke lokasi lain. Bisa juga dengan menitipkan daging qurban ke yayasan amil zakat nasional yang bisa menyebarkan daging qurban ke pelosok wilayah yang kita sendiri mungkin belum pernah sampai ke sana.
  6. … dan lain-lain.

Jadi paham, khan, mengapa dari dulu ritual penyembelihan hewan qurban lebih utama dilakukan di depan publik daripada di RPH? Ya karena tujuannya syiar syariat Islam kepada masyarakat luas. Ada edukasi. (Semoga Gubernur DKI Jakarta Ahok memahami alasan ini karena sebelumnya pernah melarang penyembelihan hewan qurban di sekolah).

Namun, bila dalam prakteknya ditemukan hal-hal yang kurang baik seperti penyembelihannya tidak dilakukan oleh jagal yang terlatih, darah berceceran dimana-mana, … ya janganlah kelalaian panitia qurban itu digeneralisir menjadi salahnya ajaran Islam.

Berqurban dengan Uang Cash, atau dengan Ayam/Ikan

Berikut kicauan mereka lainnya lagi.

Lanjutan kultwit dari @EL_Atheos:
–| “Jika qurban adalah ibadah simbolik sebagai bentuk pengorbanan manusia, kenapa harus membunuh makhluk lain?!
Apa keburukan sapi / kambing sehingga kebinatangannya dipermasalahkan?
Kenapa tidak diperintahkan untuk berbagi dalam bentuk yang lain?!” |–

Dilansir dari Kompasiana, berikut kultwit dedengkot JIL, Ulil Abshar Abdalla:
–| “Yang perlu dipikirkan ulang: apa perlu kita menyembelih ribuan binatang selama Idul Adha? Menurut saya, tidak. Ganti saja dengan uang. Menurut saya, membantai ribuan binatang dalam sehari hanya demi ritual agama, kurang layak dilakukan. Lebih baik, uang untuk beli binatang korban diberikan kepada pengusaha kecil sebagai modal usaha.

Korban dalam bentuk hewan hanya menghambur-hamburkan sumber-daya alam. Kurang tepat. Kalau mau korban binatang, lakukan saja secara simbolis. Jadi, untuk satu kecamatan, misalnya, sembelih satu hewan saja, sebagai simbol.

Menurut saya, akan sangat baik kalau hewan korban diganti uang cash, dijadikan semacam ‘endowment’ untuk biayai pendidikan, misalnya. Kalau semua menyembelih hewan, jadi mubazir. Kalau pakai hewan sama juga dengan menguatkan budaya konsumerisme. Qurban dengan uang menjadi solusi buat orang yang vegetarian. Kalau zakat fitrah boleh pakai uang, mengapa qurban tidak boleh pakai uang?

Esensi korban adalah tindakan altruisme: yakni tidak mementingkan diri sendiri, sebaliknya peduli dengan nasib orang lain. Korban dalam bentuk uang yang dijadikan modal usaha lebih produktif, ketimbang korban konsumtif dalam bentuk pembagian daging. Altruisme produktif dalam bentuk pinjaman modal usaha lebih baik ketimbang altruisme konsumtif dalam bentuk pembagian daging. Sesuai dengan kaidah fikih: al-‘amal al-muta’addi khairun min al-‘amal al-qashir, tindakan yang membawa manfaat luas lebih baik ketimbang yang terbatas.

Kita memang perlu berpikir kreatif dalam menyikapi sejumlah ajaran dalam Islam. Perubahan zaman menuntut kita untuk berinovasi. Qurban memang ibadah yang tidak bersifat mahdhoh, akan tetapi ada segi lain yang hendak dituju yaitu segi muwasah (social). Berbeda dengan ibadah mahdhoh yang tidak membuka lahan kepada akal untuk mengamandemen seperti sholat dan haji, ibadah yang bersifat non mahdhoh mempersilahkan akal untuk berinovasi.” |–

Sebagian kultwit dari non-muslim @Kurawa:
–| “Mengapa ulama-ulama besar Islam tidak memasukan ayam dan ikan sebagai hewan Qurban yah? Kalo ini terjadi, sebaran orang yang berqurban pasti lebih besar.

Katanya kalo hewan ternak macam kambing dan sapi akan membantu kita di akhirat nanti (hewan tunggangan).. lah ayam dan ikan kan juga bisa. Di Arab kagak ada ayam apalagi ikan.. yang ada cuma domba dan unta .. harusnya ulama bisa menyesuaikan untuk masing-masing negara sesuai geografinya.” |–

Pada kicauan sebelumnya mereka berdalih menyayangi binatang dengan menyetop ritual ibadah yang dibilang ‘pembantaian’. Padahal bagi manusia daging adalah salah satu dari 4 sehat 5 sempurna. Kebutuhan daging sapi perhari kalau ditotal di seluruh Indonesia bisa mencapai Ratusan Ton. Itu baru sapi. Itu baru setiap hari. Bagaimana dalam setahun? Tapi anehnya yang mereka permasalahkan adalah penyembelihan daging qurban dalam ibadah Islam yang dilakukan sekali dalam setahun. Absurd banget, bukan?!

Beberapa waktu yang lalu, liberalis lainnya, Ade Armando mengusulkan untuk menyetop para muslim di Indonesia melaksanakan ibadah haji di Mekkah, dengan dalih uangnya bisa dipakai untuk meningkatkan perekonomian bangsa yang sedang terpuruk saat ini. Namun Ade MENUTUP MATA betapa banyak uang yang dihambur-hamburkan para pelaku hedonism setiap harinya untuk dugem / clubbing, belanja barang-barang mahal, nonton konser dengan tiket jutaan rupiah. Daripada mempermasalahkan dan menyetop ibadah haji yang penyelenggaraannya sekali dalam setahun, dan sekali seumur hidup bagi muslim yang mampu; mending Ade berkotbah di depan para pelaku hedonism untuk menyetop menghambur-hamburkan uang agar uangnya bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Mau? Ya mungkin Ade lupa bahwa kesejahteraan rakyat adalah tanggung jawab negara dalam pengelolaannya, sedangkan ibadah adalah tanggung jawab masing-masing individu.

Begitulah. Tertutupnya mata para liberalis yang membenci syariat Islam, sehingga yang muncul dalam pikirannya adalah ide jahiliyah yang dituntun oleh nafsu untuk deislamisasi.

Kembali ke pendapat qurban bisa diganti uang cash untuk biaya pendidikan, atau korban bencana alam, atau qurban bisa diganti ayam / ikan. Kalau masalahnya untuk mendapatkan ‘endowment’ guna biaya pendidikan dan sebagainya, mengapa mesti harus jauh-jauh nyinyirin “hewan qurban”?
Mengapa tidak langsung saja mengangkat issue Zakat, Infaq dan Sodaqoh (ZIS)? Yaitu bagaimana caranya menggalakkan ZIS agar lebih optimal. Kalau ZIS bisa dikelola secara optimal di negeri ini pasti tidak ada seorangpun yang akan berpikiran untuk mengganti hewan qurban dengan uang. Jangan lupa, dalam Islam ada banyak sekali model penghimpunan dana sosial, baik yang wajib maupun yang sunnah. Coba deh ngobrol dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang memfokuskan pada pengelolaan ZIS dan wakaf. Ada banyak di negeri ini. Cari tahu berapa banyak dana yang telah mereka himpun untuk membantu biaya pendidikan masyarakat yang tidak mampu.

Qurban adalah bentuk ibadah yang memiliki akar sejarah panjang dan tidak bisa dimodifikasi sesuka hati, karena ada aturan mainnya dalam Al-Qur’an dan Hadits. Ketika kita bicara soal qurban, kita bicara soal Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam. Bicara soal keikhlasan dan keimanannya atas ujian yang begitu hebat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Simak QS Ash-Shaaffat: 102-109. Maka apakah ikatan sejarah dalam qurban ini juga ingin dinafikkan dengan mengganti hewan qurban dengan uang tunai?

Berdasarkan Al-Qur’an, ibadah qurban diperintahkan atas nabi dan ummatnya untuk mengikuti sirah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Jika qurban diganti dengan uang, lalu apa bedanya dengan zakat, infaq, dan sodaqoh? Yang terjadi justru esensi qurban yaitu mengikuti millah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi hilang. Inilah bentuk usaha deislamisasi. Sehingga dari sini bukan amal Islami yang kita dapat tapi amalu ghoiru-Islam yang tidak akan diterima di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan akan banyak orang yang tertipu karena disangkanya Islami padahal bukan dan tidak diterima di sisi-Nya dan itulah yang dinamakan bid’ah.

Kesimpulannya, ibadah adalah menirukan, tidak bisa diusulkan atau dipikirkan. Kita shalat menirukan cara shalat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita ber-qurban menirukan cara ber-qurban Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Sesuai syariat Islam, hewan qurban wajib memenuhi berbagai syarat ketat antara lain: penyembelihannya dilakukan usai puncak ibadah haji, tidak semua hewan bisa dijadikan hewan qurban. Ketentuannya begitu ketat, ditambah beberapa aturan yang telah ditetapkan seputar qurban, misalnya, satu ekor kambing berlaku untuk satu orang, satu ekor sapi / kerbau / unta untuk tujuh orang. Selain itu, hewan qurban hendaknya cukup umur dan tidak memiliki cacat pada tubuhnya. Dari hadits riwayat Ahmad bin Hanbal, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Empat macam hewan yang tidak akan sah dijadikan sebagai binatang untuk berqurban: rusak matanya, dalam keadaan sakit, berfisik pincang, memiliki tubuh kurus dan lemah.”

Dengan ketentuan yang sedemikian ketat, bagaimana mungkin seorang muslim bisa dengan mudah memodifikasi ibadah qurban dengan uang? Bagaimana kita meletakkan ritual kepala hewan menghadap kiblat saat penyembelihan jika semuanya memilih berqurban dengan uang karena alasannya lebih praktis?

Selamat hari raya Idul Adha bagi yang merayakannya, semoga ibadah qurban kita semua diterima amalannya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wallaahu a’lam bish-showab.

Salam #IndonesiaTanpaJIL,
Iwan Yuliyanto
25.09.2015

Advertisements

18 Comments

  1. hamba Allah says:

    ngaco pola pikirnya. Itu ga bertentangan sama sekali, kalo pola pikir kaya orang liberal gitu…bisa2 ga ada tempat jagal sapi, jagal domba,jagal ayam donk, nanti gimana nasib peternak , tukang dagang daging…emang semua orang bisa makan sayur apa……..selalu aja meliat satu sisi orang2 liberal. Gembar-gembor ham, tapi mereka berusaha mematikan hak orang lain untuk tetap beriman, untuk tetap makan daging.

  2. jiyangigu says:

    Super heran saya,mereka mengolok2 ibadah qurban dan menyebutnya sebagai aksi ‘pembunuhan’.Memangnya mereka gak pernah makan daging juga?

  3. emang ngaco pemikiran orang liberalis
    pgn menghancurkan syariat islam

    • hamba Allah says:

      iya bener……..aneh banget……, ngaco pola pikirnya. Itu ga bertentangan sama sekali, kalo pola pikir kaya orang liberal gitu…bisa2 ga ada tempat jagal sapi, jagal domba,jagal ayam donk, nanti gimana nasib peternak , tukang dagang daging…emang semua orang bisa makan sayur apa……..selalu aja meliat satu sisi orang2 liberal. Gembar-gembor ham, tapi mereka berusaha mematikan hak orang lain untuk tetap beriman, untuk tetap makan daging.

  4. anotherorion says:

    Nek selo ak tak melu nulis ttg iki mas

  5. aringan Iblis Laknatullah ini maennya halus ya, bahasanya santun, tapi bahaya nya buat anak-anak kita adalah pendangkalan aqidah..ngeriii, mustinya jangan diberi tempat, contoh malaysia tuh kenceng banget melindungi urusan sensitive seperti ini.

  6. Prita P says:

    Selamat hari raya Idul Adha Pak Iwan, tulisan Bapak nggak pernah luput mengupas alasan logis di balik tiap detail ya.

  7. mysukmana says:

    Mungkin dia blm tau makna pengorbanan dan kisah ibrahim serta ismail. Lebih parah di luar sana.motong sapi di giling hidup2 .liberal bgt kan om..kalo kita kn sesuai syariat

    • Betul, mas Sukmana, di luar sana motong sapi, ayam, digiling hidup-hidup kaya ditaruh di blender (buat bikin pop ice). Seperti dalam video di bawah ini.

      Makanya tujuan penyembelihan di areal publik adalah syiar agama Islam bagaimana menghasilkan daging yang halal dan baik.

  8. kalo kaum pagan setau saya dagingnya ga dibagi2

    yg vegetarian juga knp makan sayur-sayuran, ntar klo semua makan sayur terus hewannya mau makan apa??. sama aja bunuh pelan2, hhe

  9. Namanya juga syaithon dan iblis berwujud manusia mengajak ke neraka dengan memberikan pikiran-pikiran yang melemahkan iman.

  10. kasamago says:

    Yup, Super sepakat pak Iwan. Mantab penjelasannya, smg yg masih pada ‘buta’ dan menjudge Hari Raya Idul Adha sbgai killing field tercerahkan otak dan pikirannya.. kecuali klo mereka benar2 ingin menghapus kemuliaan Islam dari bumi, smg Allah SWT memberikan perlindungan bagi sluruh umat NYA.

    Wajib di share seluas luasnya

  11. ayanapunya says:

    Para liberal ini benar-benar bikin geleng-geleng kepala. Kalau nggak benar-benar memahami agama bakal terpengaruh sama mereka

    • Iya, mbak Antung.
      Berpikir segila mungkin memang tidak dilarang di negeri ini. Tapi alangkah bijaknya jika sebelum menyampaikan pendapat itu terlebih dahulu mencari kebenarannya, berusaha memperluas ilmu, sehingga dengan pikiran gila sebelumnya malah mungkin bisa menemukan hikmah dan kebenaran sejati, sehingga bisa diluruskan kembali. Dan kemudian, pendapat yang di-share ke publik adalah hasil pencarian kebenaran tersebut.

  12. alrisblog says:

    Kalo bagi saya kultwit macam jil & non muslim itu saya anggap angin lalu. Anjing menggongong kafilah berlalu.
    Heran saya, orang sekelas ulil bisa jadi ketua partai, haha…

    • Mungkin kita bisa anggap angin lalu, tapi pemahamannya itu mudah menular dan diamini mereka yg gampang terserang virus sepilis, sok modern, hingga menistakan agamanya sendiri. Seperti kasus mahasiswa UIN Sumut beberapa hari ini.

      Lebih tepatnya Ulil sbg Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan Pengurus Pusat Partai Demokrat

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat