Home » Komunisme » TEMPO Memutar-balikkan Fakta Killing Fields 1948 di Magetan

TEMPO Memutar-balikkan Fakta Killing Fields 1948 di Magetan

Blog Stats

  • 1,991,190

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,850 other followers

Bismillah …

Apakah masih ingat pelajaran sejarah tentang peristiwa pemberontakan PKI Madiun di tahun 1948?
Hal yang menarik adalah, mengapa belum ada 10 tahun kemudian PKI sudah menjadi parpol dengan kekuatan massa yang besar dalam Pemilu 1955?
Jawabannya bisa kita temukan beserta buktinya pada situs favorit saya, situs yang berfokus pada penelitian jejak-jejak Islam, di sini: Tinta Merah di Lembar Sejarah.

Di dalam artikel tersebut disampaikan bahwa PKI dibawah pimpinan DN Aidit berhasil meracik ulang sejarah Pemberontakan Madiun. Hasil racikan tersebut kemudian dijadikan pukulan balik ke lawan-lawan politiknya (tentu saja berupa fitnah). Hatta, Sukirman, dan Natsir dituding sebagai biang kerok / pihak yang bersalah dalam peristiwa Madiun. PKI kemudian memposisikan diri sebagai pihak yang terzalimi. Bisa Anda bayangkan betapa dahsyatnya upaya mereka dan media-media pendukungnya mencuci otak publik hingga bisa bersimpati dengan ‘perjuangan’ PKI.

Alhamdulillah, setelah kebangkitannya kembali, pemberontakan mereka di tahun 1965 berhasil ditumpas.

Kini, isu seputar komunisme berkembang makin jauh, peristiwa 1965 telah dikemas ulang sebagai isu besar pelanggaran HAM. Beragam wacana seputar peristiwa 1965 muncul. Pembahasannya menunjuk seputar pelanggaran HAM yang terjadi tahun 1965 hingga beberapa tahun sesudahnya, dan mengupayakan rekonsiliasi antara pelaku pelanggaran HAM dan korban. Goals mereka adalah dicabutnya TAP MPRS No. XXV/1966. Goal berikutnya adalah menuntut pemerintah meminta maaf kepada korban PKI.

Dalam membentuk mindset publik, begitu deras dimunculkan opini / wacana di media-media yang tendensinya menyalahkan umat Islam sebagai pelaku pelanggaran HAM dan cenderung menepikan PKI sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam pusaran konflik pada masa itu. Mereka telah menyusun sejarah versi mereka sendiri kemudian dijejalkan pelan-pelan ke publik hingga diterima tanpa penolakan. Mereka pun tidak risih menggunakan atribut PKI. Mungkin tanpa Anda sadari, bahwa mereka pun berhasil mulai membiasakan media dan masyarakat hanya menyebut “G30S”, padahal seharusnya “G30S/PKI”. Tujuannya agar terbangun mindset bahwa PKI bersih dari peristiwa Gerakan 30 September yang menculik para jendral.

Bila berhasil menyuci bersih stempel buruk masa lalu, jangan kaget bila terjadi kebangkitan PKI dengan wajah yang baru. Meniru langkah DN Aidit.

Maka sungguh kasihan betul generasi penerus kita nanti, yang tidak tahu apa-apa, bukan pelaku sejarah, namun karena salah bergaul atau salah bacaannya, otak mereka bisa menerima kembali paham komunis dan membiarkan PKI bangkit dan berkembang di masyarakat.

Melalui jurnal ini, saya menyampaikan sebuah contoh bagaimana pemutar-balikan fakta sejarah PKI oleh media nasional TEMPO, yang awalnya PKI sebagai pihak yang menzalimi, kemudian coba di-twist sebagai pihak yang terzalimi. Semoga bacaan ini bisa menjadi bekal bagi generasi penerus kita agar tidak mudah disesatkan dalam lautan informasi.

Tulisan di bawah ini saya sunting dan susun ulang dari catatan Agus Sunyoto, 4/10/2012, yang aslinya berbentuk dialog.

TEMPO Memutar-balikkan Fakta Killing Fields di Magetan Sebagai Kuburan Massal PKI

Tempo PKI

Pada Liputan Khusus Majalah TEMPO edisi 1-7 Oktober 2012, halaman 65, tentang peristiwa pembantaian 1948 di Magetan. Dikisahkan oleh Tempo bahwa yang dibantai adalah orang-orang PKI kemudian dimasukkan ke dalam sumur neraka. Padahal sebenarnya PKI lah yang membantai orang-orang bukan PKI kemudian dimasukkan ke dalam sumur neraka tersebut. Sungguh keterlaluan, sejarah diputar-balikkan oleh Tempo.

Yang pengen baca Liputan Khusus TEMPO edisi tersebut, bisa di-download di sini.

Kejanggalan 1:
Dalam Liputan Khusus TEMPO tersebut dijelaskan, ”Tentang sumur ‘neraka’ di Dusun Puhrancang, Desa Pragak, Kecamatan Parang, Magetan. Puluhan tahun silam, ratusan orang yang dicap anggota PKI dibantai dan dilemparkan ke dalam sumur itu. Demikian, menurut Sukiman, 47 tahun, pemilik lahan yang ada sumur ‘neraka’ itu.”

Logikanya kalau Sukiman di tahun 2012 usianya 47 tahun, berarti pada tahun 1965 saat orang-orang PKI dibunuh dan dilempar ke sumur ‘neraka’ itu usianya baru beberapa bulan. Apa mungkin bayi usia belum setahun jadi saksi pembunuhan? Menurut TEMPO, Sukiman memperoleh penjelasan tentang sumur ‘neraka’ itu dari mertuanya yang sudah meninggal dunia dua tahun silam. Jadi, ternyata liputan Tempo menerapkan jurnalisme “katanya”. Parahnya lagi, yang mau dikonfirmasi sudah meninggal dunia.

Tambah parah lagi, TEMPO kemudian menyimpulkan bahwa sumur ‘neraka’ itu adalah “Ladang Pembantaian” seolah-olah sama dengan peristiwa genocida di Kampuchea yang dilakukan Khmer Merah di bawah Pol Pot yang sudah diangkat jadi film berjudul Killing Fields (Ladang Pembantaian). Sungguh kesimpulan yang ngawur.

Kejanggalan 2:
Selain Sukiman masih ada narasumber lain, yaitu Kaderun, 69 tahun, Kadus Jombok, Desa Pragak. Kaderun adalah aktivis Pemuda Muhammadiyah yang menjadi Banser. Menurutnya, “Sumur itu dalamnya 27 meter dengan diameter 2 meter. Ada 82 orang yang dimasukkan ke sumur itu setelah dibunuh. Eksekutornya adalah Yunus, tentara yang bertugas di Perwira Urusan Teritorial dan Perlawanan Rakyat (Puterpra) Kecamatan Parang, pangkat terakhirnya pembantu letnan dua. Puterpra itu kini berubah menjadi Komando Rayon Militer alias Koramil.”

Kejanggalannya adalah: apa benar Puterpra sekarang berubah menjadi Koramil?

Ya itulah narasumber TEMPO. Redaktur pelaksananya pun asal muat, tidak kroscek terhadap data apalagi melakukan triangulasi. Sejak zaman kolonial, daerah militer di kabupaten disebut District Militair yang di era kemerdekaan disebut daerah KODIM (Komando Distrik Militer). Di bawah KODIM adalah daerah setingkat kecamatan yang disebut Onder District Militair yang di masa kemerdekaan disebut KODM (Komando Onder Dristrik Militer) yang berubah menjadi Komando Rayon Militer disingkat Koramil. Tidak ada sejarah militer Koramil berasal dari Puterpra.

Kejanggalan 3:
Eksekutor PKI itu adalah Yunus yang melakukannya seorang diri.

Kejanggalan 4:
“Bahkan ada lagi kuburan massal karya Peltu Yunus di hutan Gangsiran di Dusun Gangsiran, Desa Mategal, Kecamatan Parang. Para korban dimasukkan ke sejumlah lubang yang dalamnya tidak sampai dua meter. Jumlah yang tewas belasan sampai puluhan. Begitu penuh langsung diuruk dan ditandai dengan pohon.”

Seperti yang disebutkan diatas, bahwa Kaderun menyatakan jumlah PKI yang dimasukkan sumur ‘neraka’ di Dusun Puhrancang itu 82 orang. Darimana angka itu? Apakah jumlah itu sudah pasti? Padahal TEMPO tegas-tegas menyatakan bahwa “Puluhan tahun silam, ke dalam sumur itulah RATUSAN ORANG yang dicap anggota PKI dibantai dan dilemparkan…”. Manakah yang benar, 82 orang seperti kesaksian Kaderun ataukah laporan semaunya TEMPO yang menyebut angka RATUSAN ORANG?

Kejanggalan 5:
Ada saksi lain lagi bernama Sumarwanto yang memberi angka 700 orang PKI sebagai korban di hutan Gangsiran. Sumarwanto tidak tahu sendiri, Dia diberitahu bapaknya. Jurnalisme “katanya” lagi. Kalau mau akurat, mestinya Tempo kejar informasi dari bapaknya Sumarwanto. Jadi angka pasti berapa isi ‘Ladang Pembantaian’ itu belum jelas, karena belum pernah ada yang menggali dan menghitung jumlah mayat di dalam hutan, … kecuali jika Kaderun, mertuanya Sukiman, dan bapaknya Sumarwanto adalah memang eksekutor PKI sehingga mereka tahu pasti jumlah angkanya, dan lancar diwawancarai. Lazimnya yang membunuh pasti lebih tahu kondisi para korbannya.

KISAH SEBENARNYA PERISTIWA PEMBANTAIAN DI SUMUR NERAKA MAGETAN

Kabupaten Magetan selama ini sudah dikenal di dunia sebagai tempat beradanya lubang-lubang Sumur Pembantaian (Killing Holes) dan “Ladang Pembantaian” (Killings Fields) sebagaimana dicatat dalam buku:

  1. Lubang-lubang Pembantaian: Pemberontakan FDR/PKI 1948 di Madiun ditulis Maksum – Agus Sunyoto – Zainuddin terbitan Grafiti Press (1990);
  2. Peristiwa Coup berdarah PKI 1948 di Madiun ditulis Pinardi terbitan Inkopak-Hazera (1967);
  3. Pemberontakan Madiun: Ditinjau dari hukum negara kita ditulis Sudarisman Purwokusumo terbitan Sumber Kemadjuan Rakjat (1951);
  4. De PKI in Actie: Opstand of Affaire (Madiun 1948: PKI Bergerak) ditulis Harry A.Poeze terbitan KITLV-Yayasan Obor (2011).

Jadi, sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu sejatinya isinya orang-orang yang dibunuh oleh PKI. Itu faktanya! Bukan seperti yang dilaporkan TEMPO. Jangan sampai generasi penerus bangsa ini jadi lebih mengenal kota Magetan adalah tempat pembantaian orang-orang PKI oleh umat Islam yang memusuhi PKI,… hanya berdasarkan jurnalisme “katanya”.

Ada banyak jumlah sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” karya PKI di Magetan itu. Yang sudah ditemukan ada 7 sumur “neraka” dan 2 “Ladang Pembantaian”, yaitu:

  1. Ladang Pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit.
  2. Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit.
  3. Sumur Neraka Desa Dijenan, Kec. Ngadirejo, Kab. Magetan.
  4. Sumur Neraka Desa Soco I Kec. Bendo, Kab. Magetan.
  5. Sumur Neraka Desa Soco II Kec. Bendo, Kab. Magetan
  6. Sumur Neraka Desa Cigrok Kec. Kenongomulyo, Kab. Magetan
  7. Sumur Neraka Desa Pojok Kec. Kawedanan, Kab. Magetan
  8. Sumur Neraka Desa Bogem Kec. Kawedanan, Kab. Magetan
  9. Sumur Neraka Desa Batokan Kec. Banjarejo, Kab. Magetan

Waktu sumur-sumur ‘neraka’ itu dibongkar tahun 1950, yang menyaksikan berpuluh ribu warga kabupaten dari berbagai desa terutama keluarga-keluarga yang mencari anggota keluarganya yang hilang diculik PKI. Begitulah, puluhan ribu warga Magetan menjadi saksi kebiadaban PKI yang memasukkan korban-korban mereka ke sumur-sumur ‘neraka’ itu. Jumlah korban dihitung. Diotopsi. Semua terdata rapi. Sebagian besar masih dikenali keluarga maupun tim dokter.

Siapa saja mereka yang dibantai PKI dan dimasukkan di sumur-sumur ‘neraka’ itu?
Dalam peristiwa biadab itu selain para pejabat kabupaten, juga banyak kyai yang dibunuh PKI.

Inilah data dari sumur “neraka” I di Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan yang berisi 108 mayat, yaitu:
Soehoed; R. Moerti (Kepala Pengadilan Magetan); Mas Ngabehi Soedibyo (Bupati Magetan); R. Soebianto (Sekretaris Kab. Magetan); R. Soekardono (Patih Magetan); Soebirin; Imam Hadi; R. Joedo Koesoemo; Soemardji; Soetjipto; Iskak; Soelaiman; Hadi Soewirjo; Soedjak; Soetedjo; Soekadi; Imam Soedjono; Pamoedji; Soerat Atim; Hardjo Roedino; Mahardjono; Soerjawan; Oemar Danoes; Soehari; Mochammad Samsoeri; Soemono; Karyadi; Soedradjat; Bambang Joewono; Soepaijo; Marsaid; Soebargi Haroen Ismail; Soejadijo; Ridwan; Marto Ngoetomo; Hadji Afandi; Hadji Soewignjo; Hadji Doelah; Amat Is; Hadji Soewignyo; Sakidi; Nyonya Sakidi; Sarman; Soemokidjan; Irawan; Soemarno; Marni; Kaslan; Soetokarijo; Kasan Redjo; Soeparno; Soekar; Samidi; Soebandi; Raden Noto Amidjojo; Soekoen; Pangat B; Soeparno; Soetojo; Sarman; Moekiman; Soekiman; Pangat/Hardjo; Sarkoen B; Sarkoen A; Kasan Diwirjo; Moeanan; ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan orang Magetan.

Inilah data dari sumur “neraka” II Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan yang berisi 22 mayat, yaitu:
R.Ismiadi (Kepala Resort Polisi Magetan); R.Doerjat (Inspektur Polisi Magetan); Kasianto (anggota Polri); Soebianto (anggota Polri); Kholis (anggota Polri); Soekir (anggota Polri); Bamudji (Pembantu Sekretaris BTT); Oemar Damos (Kepala Jawatan Penerangan Magetan); Rofingi Tjiptomartono (Wedana Magetan); Bani (APP.Upas); Soemingan (APP.Upas); Baidowi, Naib Bendo; Reso Siswojo (Guru); Kusnandar (Guru); Soejoedono (Adm PG Rejosari); Kjai Imam Mursjid Muttaqin (Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran); Kjai Zoebair; Kjai Malik; Kjai Noeroen; Kjai Moch.Noor.”

TEMPO mau memutar-balikkan fakta sejarah dan membentuk sudut pandang baru bersifat manipulatif bahwa sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” di Magetan berisi mayat anggota PKI. Bumi Magetan yang dalam fakta sejarah jelas-jelas ditebari sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” hasil kebiadaban PKI dibalik total oleh TEMPO menjadi bumi yang ditebari sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” berisi mayat anggota PKI yang disembelih Banser dan tentara. Demi usahanya menghapus jejak-jejak kebiadaban PKI.

Padahal, rakyat Magetan beserta sejarawan dan ilmuwan sedunia sudah menemukan fakta bahwa sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu adalah hasil karya PKI ketika melakukan gerakan makar tanggal 18 September 1948. Sehingga kemudian pemerintah membangun monumen di tempat tersebut sebagai pengingat sejarah.

Monumen SocoDaftar Nama Korban PKI pada Monumen Soco. Sumur neraka di Soco adalah salah satu dari 7 sumur neraka yang ditemukan.

Begitulah Liputan Khusus TEMPO 1-7 Oktober 2012 yang membentuk Kebenaran Imajiner bahwa PKI adalah organisasi yang sama dengan organisasi umumnya yang beranggotakan orang-orang baik, yang tidak bersalah, kaum lemah tidak berdaya yang teraniaya dan terzhalimi, yang telah menjadi korban kebiadaban kaum beragama haus darah: NU, Ansor, dan Banser. Lalu dengan nada menggurui dalam OPINI-nya Redaktur Senior TEMPO mengimbau pembaca bahwa “tidak selayaknya kita alergi terhadap komunisme … […] … karena itu tidak perlu melarang penyebaran ajaran Komunisme, Marxisme, Leninisme. Ketetapan MPRS tentang itu sebaiknya dihapus saja”.

Astaghfirullah …
Waspadalah bahaya laten komunis!

Bersambung ke pengaburan fakta lainnya …

Salam,
Iwan Yuliyanto
02.10.2015

*************
Keterangan:
Agus Sunyoto adalah peneliti sejarah peristiwa Madiun 1948 yang diterbitkan dalam buku berjudul “LUBANG-LUBANG PEMBANTAIAN: GERAKAN MAKAR FDR/PKI 1948 DI MADIUN” (1990). Beliau peneliti konflik Banser-PKI 1965 di Jawa Tengah yang diterbitkan dalam buku berjudul “BANSER BERJIHAD MENUMPAS PKI” (1995). Beliau peneliti operasi Trisula 1966-1968 di Blitar yang dimuat bersambung di harian Jawa Pos September-Oktober 1995.

Advertisements

29 Comments

  1. paidi says:

    kakek saya hampir jadi target penculikan PKI. Untung sebelum hari H sarwo edi dan pasukannya masuk ke kabupaten dan menangkapi antek antek PKI. Musuh dalam selimut beberapa kali berhianat (mirip syiah ya kelakuannya) Wartawan yg ngeliput anak baru kemaren sore kali kalau pelajaran sejarah kerjaannya tidur. Gw denger sendiri gimana PKI itu biadab mirip binatang dengan orang yang mengalami langsung.

    • randy says:

      permisi mas, maaf sebelumnnya… apakah kakek mas masih bisa menceritakan tentang penculikan PKI pada waktu itu? soalnnya saya butuh bahan riset untuk skripsi saya masnya tinggal dimana? makasih sebelumnnya

    • Mas Randy, untuk bahan riset.. saya sarankan untuk beli buku dalam link di bawah ini sekaligus coba menjalin komunikasi dengan penulisnya:

      http://aksikejipki.com/

      Saya sudah baca bukunya. Bagus untuk bacaan sejarah generasi muda saat ini.

  2. toink says:

    Pak Iwan, sy mgkn tdk mengalami langsung saat peristiwa tsb. Krn br lahir setelah itu. Krn keluarga saya / bpk menjadi korban dari keduanya ! Bpk ikut Masyumi tp bpk diculik krn diangap PKI , jika mengalami hal seperti ini anda mngkin akan berkata sebaliknya dr tulisan anda. Sy tdk ingin gegabah jg tdk ingin mebenarkan. Tp yg jelas bila tdk sesuai dgn keyakinan , itulah yg salah, mgkn anda alami saat saat sekolah di zaman Orba kitaa dicekoki kebencian thdp PKI ! ( demi kekuasaan atau sejarah yg sebenarnya ?) Jd pendapat saya siapapun pihaknya jika melakukan tindakan yg serupa itulah yg mesti kita tentang !

  3. ucu says:

    ambilah sesuatu yang ada di masa lalu sebagai pelajaran, untuk memperbaiki yang salah dan menyempurnakan yang benar sehingga hukum dapat berdiri tegak dengan adil

  4. ava makassar says:

    PKI dan SYIAH sama saja,,dan di international (timur tengah) mereka bekerjasama mbantai warga asli daerah tsb,, dan ada kemungkinan mereka jg bekerjasama di indonesia. hati2 pendatang dari tiongkok dan anteknyayg ada di pemerintahan dan antek2 syiah

  5. shando says:

    Hehehe sblm kau bicara ttg peristiwa madiun coba kau jelaskan ttg kejadian sblm nya ttg peristiwa sarangan (Red Drive Proposal)

  6. jayawww says:

    Tempo dan para sarjana yg teriak2 ham ternyata gampang dibodohin ya. Malu sama biaya kuliah dan toga klo masih bisa dibodohin. Tempo sudah tidak punya greget lagi sebagai media yg independen. Masak wartawan koq nggak ngerti apa2…Klo cuma dongeng murahan mah nggak perlu jadi sarjana….wi

  7. masdhenk says:

    Benar,sumursumr tempat pembantaian itu ada persis yg ditulis diatas, saya orang magetan juga. Dan benar bahwa korban nya para ulama dan tokoh masyarakat yg tak mau tunduk pada pki. Bahkan sampai sekarang ada nama tanah “sisipan”, tanah desa yang dipetak petak ukuran dan besarnya sama di desa saya, siapa yg memetak metak?? Ya pki, karena itu sebagai hadiah bila coup 48 berhasil. Kemudian sawah sisipan ini sampai sekarang masih ada, ukuran dan bentuknya sama , luasnya 17 ru atau sekitar 14m persegi x 17 .
    Pki memangdasarnya licik dan fitnah

  8. Kunarso says:

    Saya perhatikan dari daftar korban mati keganasan PKI tahun 1948 di Madiun tidak tercatat nama Bapak Amadi Lurah Desa Cabean yang pada tahun 1948 masuk dalam wilayah Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, almarhum termasuk yang diculik PKI kemudian diketahui ikut tewas di dalam sumur di daerah Magetan. Mudah-mudahan ada yang dapat memberi informasi, apakah almarhum Bapak Amadi memang tidak termasuk di dalam daftar tersebut tetapi masuk dalam daftar korban di sumur yang lain ataukah termasuk dalam nama 22 orang korban yang tidak dikenal, yang jelas jenazahnya dapat dibawa pulang dan dimakamkan di Desa Cabean, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun.

    • yudhi says:

      klo gak salah dengar dan ingat, dari critane mbahku, almarhum pak Ahmadi ditemukannya di sumur daerah kincang mas.

    • Sampai saat ini sudah ditemukan 2 ladang pembantaian ciptaan PKI, antara lain:
      1. Ladang pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit.
      2. Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit.

      Dan sampai saat ini ditemukan 7 Sumur Neraka ciptaan PKI, antara lain:
      1. Sumur Neraka Desa Dijenan, Kec. Ngadirejo, Kabupaten Magetan.
      2. Sumur Maut Desa Soco I, Kec. Bendo Kab. Magetan, di dalamnya terdapat 108 jenazah.
      3. Sumur Maut Desa Soco II, Kec. Bendo, Kab. Magetan, di dalamnya terdapat 22 jenazah.
      4. Sumur Maut Desa Cigrok, Kec. Kenongomulyo, Kab. Magetan, ditemukan 22 jenazah.
      5. Sumur Maut Desa Pojok, Kec. Kawedanan, Kab. Magetan.
      6. Sumur Maut Desa Bogem, Kec. Kawedanan, Kab. Magetan.
      7. Sumur Maut Desa Batokan, Kec. Banjarejo, Kab. Magetan, di dalamnya terdapat 7 jenazah.

      Tidak semua jenazah yg ditemukan tsb bisa di-identifikasi dgn jelas, mengingat jarak waktu antara pembantaian – ditemukannya sumur neraka tsb adalah begitu panjang. Banyak yg sudah rusak.

      Waktu pembantaian: 17-21 September 1948.
      Waktu ditemukan sumur neraka (dan dilakukan pembongkaran): awal Januari 1950.

      Bisa jadi Bapak Amadi Lurah Desa Cabean termasuk korban yg tidak bisa lagi di-identifikasi. Semoga Allah SWT menerima amal & ibadah bapak Amadi dan korban-korban keganasan PKI lainnya. Aamiin.

  9. mangElan says:

    bismi-lLah wa-lhmadu li-lLah wa shallatu wa sallamu ‘ala rasuli-lLah.
    sama sekali jangan kita lupakan dan kita berkewajiban bersuara agar anak cucu kita juga mengetahui apa yang sebenarnya kejadian sejarah, bukan pemutar balikkan fakta.
    kalau adanya pemutar balikkan fakta itu wajar2 saja oleh media massa yang emang mau mengelabui dan mengarahkan opini masyarakat dan dengan begitu kita berkewajiban lebih giat dan kuat lagi bersuara di mana2 apakah dunia maya ataupun dunia nyata.
    you are the voice!

  10. El-Ansori says:

    Pki (komunis) penghalal segala Cara , Tempo liberal tapi pendukung Komunis, Demi Uang

  11. ulvi says:

    Terimakasih pak Iwan. Saya suka membaca tulisan Bapak krn penjelasannya lugas dan jelas.
    Terkait isu ini jujur saya tidak terlalu memahami, cuma yang jelas sampe saat ini ketika mendengar kata ‘PKI’ yg terlintas di pikiran saya hanya satu kata, “ngeri!”.
    Sekali lagi terimakasih Pak.

  12. Achmad Mahladi says:

    NKRI tegak tanpa komunis yang jelas pelaku pemberontakan

  13. jampang says:

    Sayangnya, media semacam Tempo Kompas Detik yang justru dianggap valid olah khalayak. —> hiks

  14. kasamago says:

    Majalah penuh liputan imajiner.. pantas ketika sy tanya ke atasan, knpa tk langganan Tempo lagi? y karena isi nya begitu dan begini..

    skrg yg jd kewaspadaan, apa tujuan pemutar balikan isu sebenarnya??

    • Dyah Sujiati says:

      Sayangnya, media semacam Tempo Kompas Detik yang justru dianggap valid olah khalayak. 😥

      Tujuannya untuk melegalkan kembali paham komunis dan mereka bisa berkuasa.

  15. alrisblog says:

    Kebenaran sejarah tentu tak akan berpihak pada usaha bodoh Tempo yang oportunis. Sumber datanya didapat Tempo dengan cara “katanya” hahaha…. Bisa diduga kualitas bacaan itu seperti apa.
    Dengan membaca itu minimal berharap oplah meningkat drastis, mungkin begitu pemikiran sipembuat tulisan dan redaksi Tempo. Wallahu A’lam Bishawab.

  16. elok46 says:

    Tgl 30 malam baru liat di tivi tentang hal ini, yang disebut sebagai kudeta tidak berhasil . Dan paginya saya membahas tentang hal ini dengan teman sepemikiran saya dikantor dan tadi pagi ada notofikasi email tentang ini.
    Ya sepertinya ada upaya untuk memutar balikkan fakta yang ada, seperti perubahan dalam penyebutan peristiwa g30s/pki dulu waktu kecil kan harus lengkap menyebutnya pkus menonton filmnya sekarang banyak yg menyebut g30s sebenarnya ada pertanyaan mengapa , tapi ya sudahlah tidak.berfikir jauh
    Untungnya mungkin sudah dari kecil brain wash dari film g30s/pki dan kakek sendiri hampir pernah jadi korban pki sehingga pemberitaan yang sepertinya mencoba membersihkan nama pki tidak masuk dalam logika saya
    Dimana disalah satu acara dua hari kemarin juga disinggung soal ini dan upaya pki untuk mengalahkan sistem sosialis dengan melakukan berbagai cara termasuk membunuh, juga ketakutan pki jika bapak alm. Sukarno keburu meninggal maka yang akan menjadi presiden adalah jelas bapak nasution shg.membuat mereka bergerak cepat ditgl 30 september.
    Ya betul saya setuju dengan mas iwan sudah.seharusnya kita waspada ini bahaya laten dimana kita tidak menyadarinya kita digiring pada satu fakta baru dan tidak benar
    Waspada, seringlah membaca mencari berita.

    Terima kasih mas iwan untuk sharingnya, postingnya selalu saya tunggu.

    • Wah.. sama, mbak Elok, kakek saya juga menjadi korban kebiadaban PKI (yg masih tersisa saat itu) di Magetan hingga meninggal dunia.

      Pasti acara yg mbak Elok maksud adalah ILC di TV One.
      Blak-blakan para pelaku sejarah dalam tayangan tsb patut ditonton oleh generasi sekarang, agar tidak mudah disesatkan oleh informasi yg berkembang liar di internet, buku, novel, film yg menempatkan PKI sbg pihak yang dizalimi.

      Arsip ILC TV One 29/9/2015: YouTube

  17. Ahmad says:

    Astaga! Siapa otak di belakang redaksi Tempo itu?

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat