Home » Ghazwul Fikri » Menjawab Tuduhan Islam Biang Terorisme

Menjawab Tuduhan Islam Biang Terorisme

Blog Stats

  • 1,993,582

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,853 other followers

Bismillah …

Sejarah mencatat banyak peperangan yang dijalani kaum muslimin dalam upaya melawan kebatilan dan kezaliman. Namun kemudian, para musuh Islam sibuk mencari celah untuk memojokkan Islam dan kaum muslimin. Mereka bersama para penguasa media, mengaburkan fakta sejarah dan membuat fitnah. Sayangnya, respon sebagian umat Islam begitu lemah, mudah menelan mentah-mentah informasi sesat tersebut, tidak kritis, malas mengkaji agama dan sejarah peradabannya. Akhirnya, orang Islam yang lemah tersebut ada yang terpengaruh dan terbawa arus. Mereka kemudian menjadi kecewa dengan pendahulu-pendahulunya. Malu terhadap sejarah perjalanan agamanya sendiri. Malu dengan teman-teman dalam lingkaran pergaulannya yang majemuk. Hilang kebanggaannya sebagai Muslim. Hingga akhirnya murtad, bahkan berdiri di barisan propaganda Islamophobia. Na’udzubillah..!

islam religion of peace
Di suatu Kamis sore, di penghujung tahun 2015 …..

Setelah meluruskan pandangan Jenny yang menganggap Islam kejam karena menganjurkan perbudakan, Nadia kembali mengajaknya berdiskusi. Kali ini tentang topik yang pada hari itu menjadi headline di berbagai media berita, yaitu tentang ucapan calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, yang mendesak pemerintah AS melarang Muslim memasuki Amerika Serikat. Menurut Trump, ide larangan tersebut datang setelah ia menganggap Islam berakar pada kebencian dan kekerasan. Tergelitik oleh isu sensitif tersebut, Nadia pun ingin mendengarkan pandangan dari temannya yang berbeda kutub.

Nadia: “Menurutmu, kenapa Trump sampe ngeluarin seruan seperti itu?”

Jenny: “Sebagai capres, ia ingin mendongkrak popularitasnya lewat usulan kebijakan yang seolah-olah mewakili banyak orang di negerinya yang jengkel dengan perilaku radikal Islam atas aksi-aksi terorismenya. Politisi seperti Trump, Geert Wilder, Marine Le Pen, dan banyak warga dunia lainnya memang cenderung menginginkan kehidupan di dunia ini tanpa Islam.”

“Apa kamu juga yakin dunia ini akan lebih baik tanpa Islam?”

“Yeah …”

“Jen, Islam berasal dari kata aslam, salaama, yang artinya damai. Maka seseorang yang mengikuti Islam akan menemukan dirinya dilingkupi oleh ajaran luhur yang bertujuan membangun perdamaian antara manusia dengan Allah Sang Maha Pencipta, antara sesama manusia, dan antara manusia dengan makhluk Allah lainnya.”

“Tapi nyatanya? Lihatlah … peristiwa 9/11, Paris Attack, Charlie Hebdo, dan berbagai aksi teror kelompok Al-Qaeda, ISIS. Juga banyak peristiwa teror di Indonesia atas nama jihad Islam”

“Lantas kamu juga ikut menuduh bahwa ajaran Islam adalah penyebabnya?”

“Ya. Karena menurut pengakuannya, mereka melakukannya atas alasan jihad Islam.”

“Jen, Islam gak ngajarin pembunuhan. Criminal is criminal. Dalam Qur’an surat Al-Ma’idah ayat 32 disebutkan:
“… barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. …”
Dari ayat ini aja dah cukup jelas MEMBUKTIKAN bahwa Islam menentang pembunuhan manusia manapun yang tak bersalah, baik Muslim maupun non-Muslim. Islam jelas menantang tindakan terorisme dalam segala bentuk.”

“No.. no. no.. Kenyataannya gak begitu, Nadia. Ayat itu nyatanya gak berlaku bila yang dibunuh adalah orang-orang non muslim. Akui aja lah…”

“Atas dasar apa kamu bilang begitu, Jen?”

“Coba deh.. kamu cek Qur’an surat At-Taubah ayat 5, ada kalimat: “Dimana saja kau menemui orang-orang kafir, bunuhlah mereka”. Ini ayat mengerikan banget. Gimana bisa disebut agama damai kalo yang bukan Muslim diperintahkan untuk dibunuh? Maka jangan nyalahin mereka yang menganggap Islam adalah agama monster.”

“Ya, memang Qur’an mengatakan seperti itu. TETAPI, Jen, yang kamu kutip itu out of context. Bacanya musti utuh doong, mulai dari ayat nomor 1 surat At-Taubah, bahwa ada perjanjian damai antara Muslim dan kaum musyrik Mekkah. “(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).” [QS At-Taubah(9) :1]
… dan ketika firman Allah sampai pada ayat ke-5, Dia memberikan peringatan kepada musyrik Mekkah, yaitu “buatlah segalanya menjadi seperti semula dalam waktu 4 bulan, kalau tidak maka akan ada perang. Dan saat di medan perang, ketika mereka (orang-orang kafir) datang untuk menyerangmu dan membunuhmu, … maka jangan takut, bunuh mereka! Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.”

Jelas, konteks ayat ini adalah bicara soal medan perang. Yaitu ketika musuh melanggar perjanjiannya dan ketika mereka datang di medan perang untuk memerangi Islam. Pesan Qur’an: “Jangan takut! Perangilah mereka balik!”. Ini normal. Jenderal perang mana yang ingin membangkitkan semangat tentaranya, dia akan bilang, “Larilah!” ? … Jenderal pemberani pasti akan berseru, “Jika musuh datang, kamu perangi mereka!”

Setelah sejenak membaca ayat-ayat utuh yang dimaksud Nadia, Jenny berkata, “Hmm.. diperangi memang seharusnya dibalas dengan memerangi. Kalo lari pengecut namanya.”

“Naah, that’s it. And please, jangan seperti kebanyakan orientalis yang suka mengutip ayat ke-5 ini lantas seenaknya ditafsirkan keluar dari konteks. Bacalah ayat-ayatnya secara utuh. Itu petunjuk bagi umat Islam ketika berada di medan perang”

“Jika pasukan Muslim berhasil menang, yang terjadi kemudian adalah membantai lawannya yang sudah kalah itu, karena darah kafir dianggap halal. Ya, khan?”

“Bisa kamu tunjukin bukti perang yang mana kaum Muslim memperlakukannya seperti itu bila sudah menang perang?”

“Banyak video beredar di Youtube yang mempertontonkan bagaimana eksekutornya ISIS menggorok leher tawanannya”

“Jen, apa itu sesuai ajaran Islam? Coba deh simak ayat lanjutannya, yaitu ayat ke-6. Ayat itu selalu disembunyikan orientalis dalam propaganda mereka, karena berisi jawaban atas tuduhan para anti Islam.

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan (perdamaian) kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” [QS At-Taubah(9) :6]

Di zaman sekarang, jenderal perang dari tentara manakah yang bilang semacam ayat ini, Jen? Paling tidak sang jenderal akan bilang ke para tentaranya: “Jika musuh mau damai, biarkan mereka pergi.” Sedangkan Al-Qur’an lebih spesifik perintahnya, “Jika musuh menginginkan damai, berikan pada mereka” kemudian “Jangan biarkan mereka pergi sendiri, kawallah mereka ke tempat yang aman.” Dan hampir semua ayat Qur’an saat bicara tentang medan perang, ayat berikutnya langsung berkata: ‘Kedamaian itu lebih baik’. Disinilah penekanannya.”

“Menurutku, Na, dengan adanya perintah ngebunuhin orang kafir dalam ayat perang itu malah justru memicu Muslim untuk selalu memusuhi Non Muslim lho saat berada dalam situasi apapun, termasuk dalam kehidupan sehari-hari”

“Don’t be prejudice gitulah, Jen… Coba tunjukin, negara mana yang penduduk non-Muslimnya merasa tertekan saat tinggal di negara yang mayoritas Muslim? Ada? Faktanya… mereka yang non-Muslim justru diberikan kebebasan beribadah menurut agamanya masing-masing. Contoh, penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim, membiarkan puluhan ribu rumah ibadah non-muslim dibangun. Kalopun toh ada friksi soal pembangunan rumah ibadah, itupun hanya 0,000 sekian persen saja. Sebab masalah utamanya adalah soal perijinan IMB. Pihak pemda setempat pun sudah memberikan solusi alternatif pembangunannya. Artinya mereka gak dihalangi untuk beribadah.

Jika ada orang yang mengaku Muslim tapi memandang pihak non-Muslim dengan sudut pandang kebencian, fanatisme, dan arogansi, sesungguhnya ia belum mengenal ajaran Islam dengan baik. Kata Allah dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.” Jelas bahwa prinsip Islam sangat menekankan perdamaian dan kasih sayang antar sesama yang ada manfaat di dalamnya ketimbang perang dan permusuhan.”

ISLAM DISEBARKAN DENGAN PEDANG / KEKERASAN?

Jenny kemudian menceritakan sejarah awal bagaimana penyebaran agama Islam yang penuh dengan kekerasan. Dia seperti keracunan forum Atheis FaithFreedom yang sering memberikan informasi sesat seputar dunia Islam. Forum tersebut hanya mengulang-ulang apa yang disampaikan para orientalis terdahulu di abad ke-19. Padahal opini-opini para orientalis tersebut sudah dipatahkan oleh banyak cendekiawan Muslim berpuluh-puluh tahun sebelum pengelola forum itu lahir ke dunia ini. Forum-forum Anti Islam tersebut memang menyasar generasi baru yang buta dengan sejarah agamanya.

Setelah Jenny selesai menyampaikan pemaparan singkatnya, kini giliran Nadia bicara:

“Jen, ketika berbicara soal prinsip dan sikap sebuah agama tentang suatu masalah, maka hal yang perlu diperhatikan adalah sumber ajaran agama tersebut dalam kaitannya dengan masalah tadi, BUKAN perilaku pemeluknya. Dan menurutku sejarah yang kamu sampaikan barusan banyak lho distorsinya, nanti aku tunjukin keanehannya. Sekarang coba pahami baik-baik firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 193 ini”

Nadia menyodorkan smartphone miliknya kepada Jenny, yang sudah terbuka ayat yang dimaksud melalui aplikasi Qur’an digital.

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” [QS Al-Baqarah(2) :193]

“Prinsipnya jelas, bahwa ayat perang dalam Al-Qur’an BUKAN dipakai untuk menyerang duluan tanpa sebab. Islam datang membawa pesan perdamaian, oleh karena itu Islam menentang segala bentuk penindasan. Semoga kamu masih ingat diskusi kita terdahulu tentang perbudakan. Berperang dalam ajaran Islam hanya boleh dilakukan jika dalam keadaan terdesak, misalnya untuk mempertahankan diri, untuk melindungi diri, untuk qital atau melawan kebatilan dan kezaliman.”

Kemudian Nadia mengirimkan sebuah pesan melalui WhatsApp, yaitu sebuah tautan ke artikel: “Was Islam Spread By the Sword?”.

“Jen, itu link ke sebuah artikel yang bagus banget penyampaian argumentasinya dalam membantah opini ‘Islam disebarkan dengan kekerasan’. Artikelnya cukup singkat kok. Bacalah…”

3 menit berselang …

“Gimana, Jen?”

Jenny hanya bergumam, “Hmm … mitos?”
Rupanya ia sedang memikirkan kalimat pembuka artikel tersebut yang mengutip sejarawan terkenal, De Lacy O’Leary. Dalam buku “Islam at The Crossroads”, O’Leary menulis: “Sejarah membuatnya jelas bahwa legenda Muslim fanatik yang menyapu dunia dan memaksakan Islam dengan acungan pedang pada bangsa-bangsa yang berhasil ditaklukkan adalah mitos yang paling tidak jelas dan fantastis yang pernah ditulis sejarah”

“Ya, 1000% mitos. Bayangin aja, Jen, “TODAY the fastest growing religion in America and in Europe is Islam. WHICH SWORD is forcing people in the West to accept Islam in such large numbers? WHICH WAR took place in this century which converted millions of people to Islam?”

Nadia mengutip kalimat pertanyaan di akhir artikel tersebut. Jenny pun terdiam, sepertinya sedang mencoba memikirkan jawabannya. Tak mau menunggu waktu lama lagi, Nadia kemudian mencoba memecah keheningan.

“Jen, kamu tahu Hukum Humaniter Internasional?”

“Tahu. Itu khan hukum perang positif yang terdapat dalam Konvensasi Jenewa 1864.

“Good. Sejauh mana kamu tahu soal hukum tersebut?”

“Setahuku hukum tersebut mengalami penyempurnaan melalui 4 konvensi Jenewa 1949 yang berkenaan dengan perlindungan korban perang, dan kemudian dilengkapi dengan protocol tambahan I dan II di tahun 1977 tentang perlindungan korban perang pada situasi sengketa bersenjata internasional dan non-internasional. Memangnya kenapa nanya soal ini, Na?”

“Hmm… begini, tahu nggak kalo sekitar 13 abad sebelum orang mikirin Hukum Humaniter Internasional itu, Islam yang sebagai agama damai telah membuat aturan tersebut lebih dulu?”

“Wouww… really?!”

“Yeah, really. Coba kamu baca firman Allah dalam surat yang sama kamu baca tadi di ayat sebelumnya, ayat 190”

Nadia menyodorkan kembali smartphone miliknya yang sudah terbuka ayat tersebut via aplikasi Qur’an digital.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [QS Al-Baqarah(2) :190]

“Dalam ayat itu menegaskan bahwa perang dalam ajaran Islam BUKAN dipakai untuk menyerang duluan, atau menindas suatu kaum, apalagi menginvasi negara lain. Bahkan, kepada mereka yang memusuhi Islam, agama damai ini tidak lantas membolehkan bentuk pembalasan yang melampaui batas, karena penghormatan Islam yang tinggi terhadap kesatuan asal manusia yang seharusnya selalu dihiasi oleh kedamaian dan kasih sayang antar mereka.”

“Di situ cuma dibilang “jangan melampaui batas”, lha trus dimana letak aturan detail dalam Islam tentang perlindungan korban perang seperti dalam hukum HHI?”

“Good question. Tunggu sebentar ya!”

Nadia kemudian memainkan smartphone-nya. Tak lama kemudian terdengar bunyi notifikasi pesan masuk di smartphone Jenny.

“Barusan kukirimin gambar via WhatsApp. Bukalah, Jen. Perang dalam Islam sangat bersifat adil, gak boleh sembarangan, gak boleh membunuh non-kombatan, gak boleh merusak rumah ibadah, pepohonan, dan lain-lain yang melampaui batas.”

Melalui layar smartphone miliknya, Jenny melihat gambar tentang etika dan perintah Rasulullah SAW saat perang.

etika perang

“Itu perintah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum muslimin ketika berada dalam medan perang. Begitulah ajaran Islam sesungguhnya, Jen.”

“Gambar ini perlu diuji validitasnya berdasarkan dalil yang kuat. Ada?”

Nadia kemudian mengambil sebuah buku di dalam tasnya.

Islamic Rullings on Warfare“Aku sudah siapin buku ini untuk kupinjamkan padamu. Detailnya ada di sini. Ntar kamu bisa baca di bagian ‘Islamic Code of Conduct in War’,” kata Nadia sambil menyerahkan buku “Islamic Rulings on Warfare” karya Youssef H. Aboul-Enein dan Sherifa Zuhur.

Selanjutnya, Nadia menjelaskan bagaimana perang-perang yang terjadi di masa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan masa sesudahnya. Meluruskan kisah yang disampaikan Jenny sebelumnya. Setelah dijelaskan tentang penyebab peperangan yang terjadi antara umat Islam dan non Islam, Nadia bicara tentang dampak dari perang dilihat dari sisi korban yang berjatuhan.

“Jen, dalam 10 tahun peperangan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, korban yang gugur kurang lebih sejumlah 262 orang dari pihak Muslim (atau sekitar 1% saja dari jumlah seluruh pasukan Islam); dan 1022 jiwa dari pihak musuh (atau sekitar 2% saja dari jumlah seluruh pasukan musuh). Jadi total korban peperangan dari kedua belah pihak adalah 1284 jiwa (atau sekitar 1,5% saja dari jumlah keseluruhan kedua belah pihak).

Coba bandingin dengan perang di zaman sekarang. Semuanya dibunuh, wanita dibunuh, anak-anak dibunuh, orang dewasa dibunuh, semuanya. Rumah ibadah pun di-bom. Di Perang Dunia I, lebih dari 10 juta orang terbunuh. Di Perang Dunia II, jumlah pasukan yang turut serta dalam perang dahsyat ini berjumlah 15,6 juta pasukan, sedangkan jumlah orang yang tewas adalah 54,8 juta jiwa, artinya 351% dari jumlah pasukan. Mengapa bisa demikian? Karena peperangan ini memakan korban sipil yang sangat banyak. Hal ini TIDAK PERNAH terjadi di masa Islam.

Dalam hal penaklukan Islam jelas beda banget dengan kolonialisme oleh Barat. Kolonialisme cenderung menghisap SDA serta SDM secara berlebihan untuk kepentingan ekonomi negara kolonial. Juga kolonialisme memunculkan kelas yang mendiskriminasi bangsa yang terjajah. Lihatlah, ekspansi bangsa Eropa terutama Portugal dan Spanyol. Mereka membawa misi Gold-Gospel-Glory; mereka menguras sumber daya, menguasai, dan mencari kejayaan dari ekspansi tersebut. Terbukti dengan punahnya Suku Indian Maya akibat ekspansi mereka ke benua Amerika. Penjajahan Belanda di Indonesia yang mengeruk SDA di Indonesia dan menjadikan masyarakatnya rakyat kelas bawah. Bahkan sampai sekarang pun, negara-negara adidaya dan sekutunya masih bebas menginvasi negara lemah lainnya, dan disitu mereka banyak melakukan pembunuhan terhadap penduduk sipil yang tidak ikut berperang. Sedangkan dalam sejarah penaklukan oleh pasukan Islam, hal-hal keji tersebut tidak ditemukan. Justru mereka yang berada dalam penaklukan Islam hidup dalam kedamaian. Diberikan kebebasan beribadah menurut agama dan keyakinannya masing-masing.

Jadi, Jen, sebenarnya siapa yang pantas disebut teroris? Jaringan media Anti Islam yang bisa mengubah hitam menjadi putih, dan putih menjadi hitam, malah sibuk menciptakan stigma bahwa: Muslim adalah Teroris”

“Tapi mengapa ada kelompok Muslim yang melakukan tindakan keji dan biadab kepada mereka yang dianggap kafir, melakukan teror sana sini dengan dalih jihad Islam? Padahal kebanyakan yang jadi korban adalah warga biasa yang gak ada hubungannya dengan kepentingan aksi terorisme mereka.”

“Sekarang aku tanya balik… mengapa sudah disediakan traffic light dan rambu-rambu lalin di jalan raya, tapi maaasih ada pengendara yang nekat melanggar hingga terjadi kecelakaan berujung korban jiwa?”

“Hmm… analogimu masuk akal juga sih”.

“Naah… itulah yang kubilang tadi bahwa Criminal is Criminal. Islam itu sudah sempurna, sedangkan orang muslim bisa saja salah dan khilaf, terjebak konspirasi sesat. Manusia yang bisa kita anggap selamat dari kesalahan alias ma’shum hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Islam tidak mengenal istilah “dosa turunan”. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya dan tidak dapat membebaninya ke pundak orang lain, sesuai firman-Nya: “(Yaitu) bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”. [QS. Al-Najm(53) :38]

Oleh karena itu, membunuh warga sipil yang tidak berdosa adalah tindakan yang tidak direstui dalam Islam. Syaikh Yusuf Qaradhawi dan beberapa lembaga Islam Internasional sepakat mengutuk berbagai tindakan terror yang menjadikan warga sipil sebagai sasaran penyerangan, seperti pembajakan pesawat sipil, pengeboman rumah ibadah, objek-objek wisata, gedung sipil, dan aksi-aksi terror serupa.”

“Dalam kasus terorisme di Indonesia, kebanyakan pengakuan dari pelaku teroris adalah karena atas dasar jihad Islam, melawan thogut, Amerika Serikat dan yang dianggap antek-anteknya, sehingga menjadikan infrastruktur yang terkait dengan Amerika Serikat sebagai sasaran peledakan.”

“Jen, apa kamu yakin bahwa berbagai kasus terorisme yang diduga melibatkan Muslim itu memang otak peristiwanya benar-benar Muslim?”

“Ya. Aku percaya hasil investigasi pihak yang berwajib.”

“Ha ha ha … gini ya, Jen. Masa sih kamu gak curiga kalo itu by design alias gak orisinil? Para terduga teroris yang sering ditangkap atau ditembak aparat kepolisian itu rata-rata gimana orangnya? Kalo menurutku, mereka itu jauuuh sekali lho dari kualitas seorang teroris dunia seperti di Irlandia, Amerika, Kanada, Australia dan lainnya. Karakter teroris itu mestinya ya… pintar, cermat, master soal data, sabar nge-hack berbagai sumber informasi data, mengerti konstelasi politik, dan lain-lain. Ya, macam di film-film action gitulah, seperti film seri Jason Bourne. Sedangkan di Indonesia, para teroris itu kok rata-rata kurus-kurus, tinggal di gang, miskin, berwawasan sempit, penguasaan alat minim, bahkan ada yang pengangguran.”

3 alif lam mimNadia kemudian membuka tasnya dan mencari sesuatu di dalamnya. Tak lama kemudian ia mengeluarkan novel berjudul: “Alif, Lam, Mim (3)” dan tiket nonton film-nya.

“Aku pinjamin novel ini padamu. Buku ini bisa melatih kamu agar tidak selalu berpikir dan bersikap lugu mengikuti alur yang disampaikan media mainstream dalam memberitakan kasus terorisme, yang seringnya terkontaminasi opini-opini sepihak yang tidak adil. Terlalu banyak false flag operation dalam berbagai kasus terorisme di dunia ini, Jen.”

Catatan:
Bagi yang sudah pernah menonton film ini hanya lewat televisi di akhir tahun 2015, sebaiknya baca novelnya atau filmnya yang utuh alurnya, karena yang diputar di televisi mengalami banyak potongan bagian-bagian yang sangat penting hingga terasa hilang substansi atau pesan yang disampaikan.

Sebelum mengakhiri pertemuan, Nadia kembali mengirimkan sebuah pesan lewat WhatsApp.

“Jen, barusan aku kirimin sebuah link video Youtube. Videonya dibuka nanti aja. Di akhir video ada 7 pertanyaan untuk dirimu, galilah banyak informasi untuk bisa menjawab semua pertanyaan tersebut.”

****

Kamis, pukul 19.45

Di dalam kamarnya, Jenny membuka link video Youtube yang dikirim Nadia sore tadi.

Betul kata Nadia, film itu memang ditutup dengan 7 pertanyaan dari mualaf asal Jerman Pierre Vogel yang dilontarkan kepada dunia barat yang selama ini menuduh Islam identik dengan Teroris. Apa saja pertanyaannya, silakan sidang pembaca blog ini menonton videonya sampai habis. Durasi hanya 9 menit.

Kamis, pukul 21.15

Ketika sedang asyik membaca novel “3” yang dipinjami Nadia, Jenny kembali menerima pesan WhatsApp dari Nadia.

Nadia: “Hai Jen, apa sudah sempetin nonton videonya?”

Jenny: “Sudah.”

Nadia: “Okey, bentar ya… ku kirimin QuickMemo+ untukmu”

Tak beberapa lama kemudian masuk pesan dari Nadia berupa screenshoot memo yang bertuliskan sebagai berikut:

Jenny, sebenarnya ada 14 pertanyaan yang dilontarkan Pierre Vogel. Berikut ini 7 pertanyaan lainnya yang tidak ditulis dalam video yang kukirimkan padamu:

  1. Siapakan yang selalu menjajah sebuah negara damai, aman, tenteram hanya untuk kepentingan ekspansi?
  2. Siapa yang selalu menyiarkan sebuah ajaran agama dengan cara menjajahnya terlebih dahulu?
  3. Siapa yang selalu tertarik untuk menguasai serta “merampas” minyak suatu negara baik dengan cara mengadu domba negara tersebut, mendanai oposisinya, menyebar fitnah bom, membuat negara tersebut tak kunjung ada kedamaian?
  4. Siapa renternir dunia (IMF) yang justru membuat negara pasiennya jadi tambah sengsara dengan sistem busuk dan kejinya?
  5. Siapa pelaku dan pendukung penjajahan, perampasan lahan masyarakat, pembantaian warga Palestina dari tahun 1948 hingga sekarang?
  6. Siapa pelaku dan pendukung krisis di beberapa negara dengan cara membuat nilai dollar (dengan cara licik) menjadi tinggi hingga negara tersebut tidak sanggup membayar utang dollar dan harus menjual berbagai asetnya?
  7. Siapa pelaku yang selalu menghina dan melecehkan sebuah ajaran agama baik dengan menghina tokoh agamanya atau membakar kitabnya?

Jadi, siapa yang sebenarnya teroris?
Apakah kamu masih yakin bahwa dunia akan lebih damai tanpa Islam?

***** e n d *****

Dialognya sampai di sini dulu ya.
Ayo bantu Jenny (dan orang-orang seperti dirinya) menjawab 14 pertanyaan Pierre Vogel, dan kemudian mengenalkan Islam yang sesungguhnya, yaitu Islam sebagai agama damai. Dan katakan: “Betul, Islam disebarkan dengan pedang, namun pedang yang dipakai adalah pedang intelektual alias pedang pengetahuan, seperti firman-Nya: “Ajaklah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.…..” [QS An-Nahl :125]

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
13.01.2016

————–
Simak juga dialog dan artikel terkait:

Advertisements

25 Comments

  1. pilipuskoka says:

    Yg bilang islam itu agama damai hanya muslim yg kurang paham, semakin islami seseorang cenderung semakin jahat..

  2. Blonco says:

    Tapi nyatanya yang nyebar kebenciaan di dunia tu semuanya atas nama islam itu kenapa ya….?jadi semua yang nyebar teror tu salah ngertiin ayat gitu ya…?

  3. nugroho nova says:

    trims .. ijin share mas iwan

  4. Keke Naima says:

    Sikap seperti Jenny, umumnya berawal dari pemahaman yang setengah-setengah. Hanya kutip sana-sini. Ambil sepotong-sepotong. Lalu termakan provokasi. Menyedihkan memang.

    Berharap semakin banyak yang seperti Nadya. Menghadapi Jenny tidka dengan cara emosi. Tapi berdiskusi secara cerdas

    • Ya. Menyedihkan memang.
      Mengapa negara2 Islam di Timur Tengah terlihat tidak bisa akur?
      Coba pelajari di setiap konflik antar negeri Timur Tengah, selalu saja ada latar belakang siapa yang memanas-manasi. Begitulah konspirasi dari negara2 Barat yg punya otoritas penuh untuk mengadu domba, memecah belah, dan membuat situasi menjadi tidak stabil di negara2 kawasan Timur Tengah.

  5. kasamago.com says:

    Ini semua krn ulah jebakan media mainstrem milik barat n kapitalis, masyarakat dunia seolah digiring utk menuju jurang Islamophobia.

    Publik dunia harus sadar n kritis. Bila ketangkap basa pelaku teror orang eropa/barat, media tk menyebutnya sbg tindakan terorisme.. ex. Bom di Oslo dan Penembakan Pemuda partai di Pulau Utoya, Norwegia.

    http://kasamago.com/menerawang-masa-depan-jet-tempur-interceptor/

  6. ulvi says:

    Bagus sekali pak tulisannya. Dengan model dialog, jadi tidak menggurui dan tidak bosan baca sampe tulisannya habis. Terimakasih sudah membagikan ilmunya. Boleh saya share pak?

    • Silakan dibagikan, mbak Ulvi. Semoga makin banyak yg mengambil manfaat.
      Di blog ini banyak saya sajikan dialog dg tokoh utama Nadia yang mencoba meng-counter opini-opini sesat. Silakan telusuri pada menu blog: ghazwul fikri

    • ulvi says:

      Aaamiiin.. Sudah sy share di facebook dan twitter.
      Iya pak, akan sy telusuri. Terimakasih . 👍☺

  7. meyliya mustaqim says:

    Sedih saat denger ada yg bilang islam itu kejam dan keji,terorislah,apalah..
    Padahal contoh nyata dari islam itu agama yg damai adalah saat ada musuh islam menyerah di depan sayyidina ali, dan sayyidina ali yg saat itu hendak memghempaskan pedangnya berhenti dan berbalik melindunginy..
    Allahu Akbar..
    Islam jelas agama yg penuh rahmat..
    Bukan untuk kaum muslim saja..tp untuk seluruh alam..
    Mohon maaf kalau ada kesalahan saat penyampaian cerita tth sayyidina ali..

  8. tiarrahman says:

    Semoga banyak yang baca. Saya share ya pak.

    • Silakan, Pak Tiar. Terima kasih.
      Masih banyak orang yang menghubung-hubungkan aksi-aksi terorisme di Jakarta kemaren dengan ajaran Islam, mereka mudah banget digiring opini media.

  9. Eti says:

    Terima kasih Pak sudah dipersilahkan mampir. Insya Allah mau bantu sebar tulisan ini. Kelemahan kita, termasuk saya malas atau kurang baca. Seringkali merasa cukup dengan judulnya saja.

    • Pasca serangan bom teroris di Brussels Belgia, Selasa (22/3), seorang sosiolog dan dosen Rice University Houston, Texas, Amerika, Dr. Craig Considine tergelitik untuk melakukan observasi bagaimana media (dunia) memberitakan serangan teroris ISIS.

      Dari hasil observasi ditemukan fakta bahwa justru ISIS lebih banyak membunuh orang-orang Islam dibanding serangan mereka ke negara-negara Eropa, namun media barat ‘menyembunyikannya’ tak menjadikannya sebagai headline.

      Doktor lulusan Trinity College Dublin Irlandia ini dikenal memiliki pandangan obyektif tentang Islam.

      Saat muncul hashtag #StopIslam dan jadi Trending Topic Dunia sesaat setelah serangan teroris Brussels, Dr Craig dengan tegas menyerukan “we don’t need #StopIslam. We need #StopIslamophobia”.

      Sebelumnya, pasca Teror Paris pada November tahun lalu, dimana dampaknya meningkat kebencian terhadap muslim dan Islam, Dr. Craig Considine menyerukan para pembenci Islam tak termakan pemberitaan media dan mengajak mereka mengenal Islam secara langsung bertemu orang-orang Islam.

      “If you watch Fox News, you’ll think Muslims are nuts. Here’s an idea. Turn your TV off. Go to your local mosque. Experience Islam 1st hand.” said Dr Craig

  10. jampang says:

    yang bikin semakin kacau adalah media2 yang memberikan informasi secata tidak vliad… jadinya yang baca jadi salah dapat informasi

  11. Ahmad says:

    Melihat di permalink ada angka 2 di belakangnya, pernah bikin tulisan dengan judul yang sama, Mas?

    • Sebelumnya ada rencana membagi dalam beberapa seri untuk diskusi dg tema yg sama, mas Ahmad. Yang bagian pertama, masih di-draft, fokus pd pembuktian false flag ops nya beberapa aksi terorisme. Tapi sepertinya urutannya jadi meloncat, maka yg seri ini dulu saya keluarin, nyamain frekuensi dulu ttg ajaran Islam yg keliru dipahami pihak seberang.
      Tapi saya lupa ngehapus nomor 2 di permalink-nya 🙂

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: