Home » Ghazwul Fikri » Pernikahan Sesama Jenis Mengikis Hak Fundamental

Pernikahan Sesama Jenis Mengikis Hak Fundamental

Blog Stats

  • 2,052,773

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

Same Sex Marriage

| Bagian Pertama

Bismillah …

Pelegalan pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat pada Juni 2015 yang lalu disambut euforia oleh para pelaku LGBT dan para aktivis pendukungnya di seluruh dunia. Mereka beranggapan pelarangan pernikahan sesama jenis merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) karena mencintai dan hidup bersama dalam bingkai pernikahan, meskipun sesama jenis, adalah hak.

Lantas bagaimana kondisi masyarakatnya kini yang negaranya melegalkan pernikahan sesama jenis?
Apakah menjadi lebih baik dan tidak ada lagi pelanggaran HAM?
Nyatanya, pelegalan ini justru mengikis hak-hak fundamental. Seperti halnya fenomena sebuah gunung es, begitu tampak indah gunung dan pelangi di atas permukaan laut, padahal sebenarnya banyak permasalahan yang tidak tampak di dalamnya.

Pada bagian pertama ini, mari melihat bagaimana kondisi nyata di Inggris dan Kanada.

Kondisi di negara Inggris

Kantor berita Telegraph mengabarkan bahwa administrasi pemerintahan Inggris MENOLAK MEMBERIKAN JAMINAN bagi guru yang menuntut tidak akan dikenai sanksi disiplin jika mereka tidak mendukung pernikahan sesama jenis dalam agenda pengajarannya di kelas.

Sejak dilegalkannya pernikahan sesama jenis di Inggris, sekolah mempunyai kekuatan hukum untuk memberhentikan staf pengajarnya jika sengaja tidak menggunakan buku pelajaran yang mempromosikan pernikahan sesama jenis. Ketika sebuah Sekolah Dasar meminta guru menggunakan buku berjudul “KING & KING”, sebuah kisah tentang seorang pangeran yang menikahi seorang laki-laki, dan membuat sebuah drama berdasarkan cerita itu; jika guru tersebut menolak maka hal itu dapat menjadi alasan pemecatan dari pekerjaannya. Guru tidak dapat menggunakan hukum HAM guna menentang keputusan tersebut karena Pengadilan HAM Eropa di Strasbourg sebelumnya tidak membuka peluang bagi para pekerja meminta perubahan kondisi kerja mereka untuk alasan agama.

Hak asasi seorang guru yang salah satunya adalah hak kebebasan dalam menjalankan agamanya menjadi terkikis hingga hilang sama sekali. Guru yang mematuhi ajaran agama tidak mungkin akan menyetujui pernikahan sesama jenis apalagi mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya di depan kelas.

Coba renungkan, hak asasi apa saja lainnya yang terkikis (hingga hilang) pada para tenaga pendidik, murid-muridnya, dan para wali muridnya? Padahal itu baru satu ruang lingkup kecil di dunia pendidikan.

Kondisi di negara Kanada

Kita bisa memahami kondisi di negara Kanada lewat sebuah surat yang dipublikasikan oleh The Public Discourse yang mencakup beberapa perspektif oleh mereka yang dibesarkan dalam keluarga LGBT. Surat yang dipublikasikan dua bulan sebelum Amerika melegalkan “same-sex marriage” ini dulu sudah saya share saat berdiskusi dengan banyak aktivis dan pelaku LGBT yang berkomentar dalam jurnal “Runtuhnya Teori Gen Gay”. Sekarang saya coba terjemahkan agar makin mudah dipahami secara luas, dengan harapan mereka (non LGBT) yang masih ngasal mendukung upaya pelegalan pernikahan sesama jenis bisa berpikir ulang setelah memahami dampaknya yang begitu dahsyat di berbagai sendi kehidupan.

Selamat menyimak.

Surat Peringatan dari Kanada:
Pernikahan Sesama Jenis Mengikis Hak Fundamental

oleh Dawn Stefanowicz

Saya, salah satu dari enam anak dewasa dari orang tua gay, baru saja mengajukan amicus curiae ke Mahkamah Agung (MA) AS, meminta MA menghormati otoritas warga dalam menjaga definisi asli dari pernikahan, yaitu: ikatan suci antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan mengesampingkan orang lain, sehingga anak-anak bisa mengenal dan dibesarkan oleh orang tua kandung mereka. Saya tinggal di Kanada, dimana pernikahan sesama jenis telah dilegalkan pada tahun 2005.

Saya anak perempuan dari seorang ayah gay yang meninggal karena AIDS. Saya telah menuliskan pengalaman saya di buku: OUT FROM UNDER: The Impact of Homosexual Parenting. Lebih dari lima puluh anak dewasa yang dibesarkan oleh orang tua LGBT telah berkomunikasi dengan saya dan berbagi keprihatinannya tentang pernikahan sesama jenis dan parenting. Banyak dari kami berjuang melawan gangguan identitas seksualitas dan gender karena pengaruh dalam lingkungan keluarga selama tumbuh dewasa.

Kami memiliki kasih sayang yang besar kepada orang-orang yang berjuang (memelihara keaslian) identitas seksualitas dan gender. Dan kami mencintai orang tua kami. Namun, ketika kami menyampaikan kisah-kisah kami ke publik, kami sering menghadapi pengucilan, pembungkaman, dan ancaman.

Saya ingin memperingatkan Amerika bahwa akan terjadi pengikisan parah yang menyangkut kebebasan-kebebasan dalam Amandemen Pertama jika Mahkamah Agung AS melegalkan pernikahan sesama jenis. Konsekuensi ini telah dirasakan di Kanada selama sepuluh tahun sampai sekarang, dan mereka benar-benar dalam dunia Orwellian.

Pelajaran dari Kanada

Di Kanada, kebebasan berbicara, pers, beragama, dan berkumpul begitu memprihatinkan karena adanya tekanan pemerintah. Perdebatan pernikahan sesama jenis, secara hukum tidak bisa dilakukan di Kanada sampai hari ini. Karena adanya larangan dalam penyampaian pendapat, jika Anda mengatakan atau menulis apa pun yang bisa dianggap “homophobic” (termasuk mengkritisi / mempertanyakan pernikahan sesama jenis), Anda bisa dikenai sanksi disiplin, pemutusan hubungan kerja, atau tuntutan oleh pemerintah.

Mengapa polisi mengadili ujaran / pendapat dengan dalih memberantas “hate speech” padahal sudah ada hukum pidana dan perlindungan terhadap fitnah, pencemaran nama baik, ancaman, dan serangan yang diberlakukan untuk semua orang Amerika? Kebijakan penetapan jenis kejahatan kebencian (hate-crime) terhadap penggunaan istilah “orientasi seksual” dan “identitas gender” ternyata menciptakan bentuk perlindungan yang tidak sama dalam hukum, di mana kelompok yang dilindungi menerima perlindungan hukum yang lebih dibandingkan kelompok lain.

Setelah menyaksikan bagaimana histeria massa di Indiana yang menyebabkan badan legislatif kembali pada Religious Freedom Restoration Act, banyak orang Amerika mulai menyadari bahwa beberapa aktivis Kiri menginginkan adanya kendali negara atas setiap lembaga dan kebebasan. Dalam skema ini, kewenangan pribadi dan kebebasan berekspresi menjadi tidak lebih dari pipa mimpi-mimpi, dan anak-anak menjadi terkomodifikasi.

Anak-anak bukanlah komoditas yang dapat dibenarkan untuk dipisahkan dari asal usul mereka dan diperdagangkan oleh antar orang dewasa (di luar rantai keturunannya). Anak-anak dalam keluarga pernikahan sesama jenis sering menyangkal kesedihannya dan mereka berpura-pura tidak kehilangan orang tua kandungnya, padahal mereka merasa tertekan untuk berbicara yang sebenarnya dalam keluarga LGBT tersebut. Ketika anak-anak kehilangan salah satu dari orang tua kandungnya karena kematian, perceraian, adopsi, atau teknologi rekayasa reproduksi, mereka mengalami kekosongan jiwa yang menyakitkan. Ini persis kondisinya dengan kami ketika orang tua gay kami membawa pasangan sesama jenisnya ke dalam kehidupan kami. Pasangan sesama jenis tidak akan pernah bisa menggantikan hilangnya orang tua kandung kami.

Negara Memiliki Kewenangan Lebih dalam Parenthood

Berulang-ulang, kami mendapati pernyataan bahwa “mengizinkan pasangan sesama jenis menuju pernikahannya tidak akan mencabut hak-hak siapa pun.” Itu adalah DUSTA belaka.

Begitu pernikahan sesama jenis dilegalkan di Kanada pada tahun 2005, “parenting” segera didefinisikan ulang. Hukum pernikahan gay Kanada, Bill C-38, mengandung ketentuan untuk menghapus istilah “orang tua kandung” dan menggantinya dengan gender netral “orang tua sah” dalam hukum federal. Kini semua anak hanya memiliki “orang tua sah” seperti yang didefinisikan oleh negara. Dengan regulasi seperti ini, negara mengabaikan hak utama anak-anak yaitu: ketetapan mereka, kerinduan intrinsik dalam rasa ingin tahu, dan dibesarkan oleh orang tua kandung mereka sendiri.

Biasanya para ibu dan ayah membawa hadiah yang unik dan saling melengkapi untuk anak-anak mereka. Namun, hal ini bertentangan dengan logika pernikahan sesama jenis, padahal jenis kelamin orang tua itu penting untuk perkembangan anak-anak yang sehat. Ayah kandung bisa mengarahkan, mengajarkan disiplin, mengajarkan batasan-batasan (baik dan buruk), dan petualangan untuk belajar mengambil risiko, serta memberikan teladan seumur hidup bagi anak-anak. Tetapi ayah tidak bisa mengasuh anaknya di dalam rahim atau melahirkan dan menyusui bayinya. Sedangkan ibu mampu mengasuh anaknya dengan cara unik dan penuh manfaat yang tidak dapat diduplikasi oleh ayah.

Tidak perlu kajian ilmiah yang mendalam untuk bisa mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan secara anatomi, biologis, fisiologis, psikologis, hormon, dan neurologis berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan unik ini memberikan manfaat seumur hidup kepada anak-anak yang tidak bisa diduplikasi oleh sesama jenis “orang tua sah” yang memerankan peran gender yang berbeda atau mencoba untuk menggantikan panutan sebagai seorang laki-laki atau perempuan yang hilang di dalam rumah.

Akibatnya, pernikahan sesama jenis tidak hanya menghalangi anak-anak atas hak-hak mereka sendiri terhadap garis keturunannya, hal ini membuat negara memiliki kewenangan lebih atas orang tua kandung, yang berarti hak orang tua dirampas oleh pemerintah.

Pengadilan (Kejahatan) Kebencian telah Tiba

Di Kanada, Anda akan dianggap diskriminatif bila mengatakan: “pernikahan adalah ikatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan” atau “setiap anak harus dibesarkan oleh orang tua kandungnya”. Tidak hanya tidak dibenarkan mengatakan seperti itu di Kanada; Anda pun harus membayar puluhan ribu dolar untuk biaya proses hukum dan denda, juga diharuskan mengikuti pelatihan tentang hal-hal yang sensitif.

Siapa saja yang tersinggung dengan apa yang Anda katakan / tuliskan dapat mengajukan keberatannya ke Komisi dan Pengadilan HAM. Di Kanada, ada komisi kepolisian yang khusus menangani ujaran kebencian (hate speech), mereka bisa menghukum warga yang dalam menyampaikan ekspresinya menyerang perilaku seksual tertentu atau kelompok yang dilindungi. Dibutuhkan hanya satu laporan untuk bisa membawa seseorang ke pengadilan, biaya proses hukumnya bisa puluhan sampai ribuan dolar. Komisi tersebut mempunyai wewenang untuk memasuki rumah pribadi dan menghapus semua hal yang terkait dengan penyelidikan mereka, dan memeriksa ujaran kebencian.

Segala biaya proses hukum si penggugat dalam penyampaian pengaduannya sepenuhnya dibayar oleh pemerintah. Namun tidak demikian dengan tergugat / terdakwa. Jika tergugat dinyatakan tidak bersalah, ia tidak dapat dibebaskan dari biaya proses hukumnya. Padahal, jika dia terbukti bersalah, ia harus membayar denda kepada orang yang menyampaikan pengaduan.

Jika keyakinan, nilai-nilai, dan opini politik Anda bertentangan dengan negara, Anda berisiko kehilangan lisensi profesi, pekerjaan, atau bisnis, dan bahkan anak-anak Anda. Contoh kasus seperti yang dialami Sekte Lev Tahor, sebuah sekte Yahudi Ortodoks. Banyak anggotanya mulai meninggalkan Chatham, Ontario, menuju Guatemala pada Maret 2014. Mereka melarikan diri dari tuntutan yang mengadili keyakinan agamanya, yang bertentangan dengan aturan pemerintah provinsi dalam hal pendidikan agama. Dari dua ratus anggota sekte, kini hanya setengah lusin keluarga yang masih menetap di Chatham.

Para orang tua (mau tidak mau) menerima intervensi negara dalam hal nilai-nilai moral, parenting, dan pendidikan-yang tidak hanya didapat di sekolah. Negara memiliki akses ke rumah Anda untuk mengawasi Anda sebagai orang tua, dan menilai kesesuaian. Jika negara tidak menyukai bagaimana Anda mengajar anak-anak, maka negara akan turun tangan dan mengendalikannya.

Para guru tidak boleh berkomentar di media sosial mereka, menulis di surat kabar, atau debat publik. Mereka bisa dikenakan sanksi disiplin atau kehilangan kesempatan kepemilikan. Mereka pun diharuskan mengikuti kembali kelas edukasi atau pelatihan sensitivitas, bahkan bisa dipecat akibat beropini yang tidak benar (tentang LGBT).

Ketika pernikahan sesama jenis dilegalkan di Kanada, istilah gender-neutral menjadi resmi secara hukum. Newspeak menyatakan bahwa adalah sikap diskriminatif bila menganggap manusia adalah sosok laki-laki atau perempuan, atau heteroseksual. Jadi, untuk menjadi inklusif, istilah khusus non-spesifik gender wajib digunakan di media, pemerintah, tempat kerja, dan terutama sekolah-sekolah untuk mencegah munculnya sikap jahil, homophobic, atau diskriminatif. Sebuah kurikulum khusus digunakan di banyak sekolah untuk mengajari siswa bagaimana menggunakan istilah gender-neutral yang tepat. Tanpa diketahui banyak orang tua, penggunaan istilah gender untuk menggambarkan suami dan istri, ayah dan ibu, Hari Ibu dan Hari Ayah, dan “he” dan “she” sedang terus diupayakan hilang di sekolah-sekolah di Kanada.

Mana Yang Lebih Penting: Otonomi Seksual atau Amandemen Pertama?

Baru-baru ini, seorang profesor Amerika (nama dirahasiakan) diwawancarai oleh American Conservative, beliau mempertanyakan apakah otonomi seksual adalah harga yang harus dibayar untuk kebebasan Anda. “Kita sekarang pada titik di mana dibolehkan untuk bertanya apakah otonomi seksual lebih penting daripada Amandemen Pertama?”

Di bawah Canadian Charter of Rights and Freedoms, warga negara Kanada seharusnya dijamin: (1) kebebasan hati nurani dan beragama; (2) kebebasan berpikir, berkeyakinan, berpendapat, dan berekspresi, termasuk kebebasan pers dan media komunikasi lainnya; (3) kebebasan berkumpul secara damai; dan (4) kebebasan berserikat. Namun pada kenyataannya, semua kebebasan tersebut dikebiri dengan adanya legalisasi pernikahan sesama jenis.

Perencana pernikahan, pemilik rental gedung, pemilik usaha catering, toko karangan bunga, fotografer, dan pembuat kue pernikahan merasakan kebebasan mereka terkikis, hak hati nurani diabaikan, dan kebebasan beragama diinjak-injak di Kanada. Tapi ini bukan hanya dirasakan pada industri pernikahan saja. Siapa saja yang memiliki bisnis mungkin hati nuraninya tidak mengizinkan untuk menginformasikan praktik atau keputusan bisnisnya jika tidak sejalan dengan keputusan pengadilan dan hukum pemerintah dalam hal orientasi seksual dan non-diskriminasi identitas gender. Pada akhirnya, negara lah yang menentukan apa dan bagaimana warga mengekspresikan diri.

Kebebasan berkumpul dan berbicara tentang pernikahan laki-laki dan perempuan, keluarga, dan seksualitas kini dibatasi. Kebanyakan komunitas agama hanya sebagai alat pembenaran agar terhindar dari denda dan hilangnya status proyek amal. Media-media di Kanada (ruang geraknya) dibatasi oleh Komisi Radio, Televisi, dan Telekomunikasi Kanada (CRTC), mirip dengan FCC. Jika ada media yang terbukti diskriminatif, maka lisensi penyiaran terancam dicabut, dan “lembaga HAM” bisa mengajukan denda serta membatasi ruang geraknya di masa yang akan datang.

Kasus Bill Whatcott adalah contoh kasus hukum di Kanada yang menyinggung soal homoseksualitas. Ia ditahan pada bulan April 2014 karena menyebarkan pamflet yang mengkritisi homoseksualitas. Apakah Anda setuju atau tidak dengan apa yang dia katakan, yang jelas negara telah menjatuhkan sanksi padanya. Buku, DVD, dan materi lainnya juga disita di Kanada jika dianggap mengandung materi “ujaran kebencian”.

Rakyat Amerika harus menyiapkan semacam surveillance-society di Amerika jika aturan MA melarang pernikahan yang didefinisikan sebagai ikatan suci antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ini berarti bahwa tidak peduli apa keyakinan Anda, pemerintah akan bebas mengeluarkan regulasi yang mengatur pendapat, tulisan, dan asosiasi Anda, dan (tidak peduli) apakah Anda dapat atau tidak dapat mengekspresikan hati nurani. Rakyat Amerika juga perlu menyadari bahwa ujung dari beberapa gerakan hak-hak LGBT adalah melibatkan kekuasaan negara -dan ini akhir dari kebebasan-kebebasan dalam Amandemen Pertama.

=== akhir surat ===

Catatan:
Dawn Stefanowicz adalah pembicara dan penulis yang diakui secara internasional. Ia adalah anggota dari Testimonial Committee of the International Children’s Rights Institute. Bukunya, Out From Under: The Impact of Homosexual Parenting, tersedia di http://www.dawnstefanowicz.org
Dawn, seorang full-time licensed accountant, menikah dan memiliki dua anak remaja.

Sungguh aneh memang, paham liberalisme yang meng-kampanyekan kebebasan tapi nyatanya memberangus hak-hak individu dalam prakteknya, bahkan cenderung menindas.

Bersambung …..

Sebelum menyimak fakta kondisi di negara lainnya, silakan baca juga: Makarnya Kaum Sodom di NKRI.

Salam,
Iwan Yuliyanto
28.01.2016

*ilustrasi / banner: marriagealliance.com.au/

———————
Lanjut bagian kedua: Kondisi di Amerika Serikat

Advertisements

28 Comments

  1. Gajah Susanto says:

    Pro kontra dalam kehidupan selalu ada. Lalu bandingkan pelanggaran di negara maju seperti Kanada dan Inggris dengan pelanggaran yang terjadi di negara negara yg katanya sangat beragama. seperti di timur tengah.

    Lebih parah mana pelanggaran hak asazi dan hak fundamentalnya. Nggak usah jauh jauh negara negara di Timur Tengah, di negara kita Indonesia tercinta ini saja, yg katanya masyarakatnya sangat agamis, pelanggaran hak hak fundamental masih terjadi , bahkan lebih parah karena disertai tindak kekerasan.

    Coba tengok kasus Ahmadiah, syiah, aliran kepercayaan, mau beragama yg merupakan hak fundamental saja dipersulit, ditekan, bahkan diintimidasi melalui kekerasan .

    Lebih baik kita introspeksi diri. Jangan merasa paling benar sendiri dan hanya bisa melihat kesalahan orang lain. Kita sering menjadi seperti kata pepatah : semut diseberang lautan tampak, tapi gajah di pelulpuk mata tak tampak.

    Kita belum bisa introspeksi diri, kita belum bisa melihat dan menyadari kesalahan kita sendiri yg jauh lebih besar, tapi ribut dengan kesalahan kecil orang lain.

    Kalau cara berpikir dan perilaku kita seperti ini, kapan kita bisa maju, tertib, aman dan damai.

    Saya pikir kemajuan, kedamaian dan ketertiban bisa dicapai bila kita saling menghargai pada pihak lain, walaupun kita berbeda. Kita hargai yg berbeda, selama perbedaan itu tidak saling merugikan. Jangan anggap yg berbeda sebagai musuh atau sesat yag harus dibenci, dimusuhi dan dianggap bathil sehingga harus ditumpas.

    Dalam kasus LGBT, Diantara para ahli agama sendiri khan beda pandangan soal LGBT, ada yg pro dan ada anti LGBT. Kalau ada rakyat yg meyakini pandangan pro LGBT ya mestinya dihargai sama seperti kita menghargai yg anti LGBT. Biarlah masing masing ssesuai dengan keyakinan pandangan yg diikuti, karena keyakinan itu tidak bisa dipaksa.

    Kita tidak perlu sewot dengan yg pro LGBT, karena itu hak dia untuk meyakininya. Kalau kita sewot berarti kita merasa paling benar sendiri dan siapapun yg tidak sepaham harus dibasmi. Weleh weleh..kalau begini cara berpikirnyya..ya hidup ini akan selalu konflik karena selalu terbakar oleh cara pikir kita sendiri.

    Hidupnya pro LGBT adalah hidup mereka sendiri, ngapain mesti kita ributi.

    Lebih baik kita introspeksi diri bro..berlomba lombalah untuk selalu menjadi lebih baik dan lebih baik dari hari kehari, gak perlu kepo dengan urusan ranjang orang lain.

  2. […] Melanjutkan artikel sebelumnya, ketika “hak asasi manusia” LGBT untuk menikah dilegalkan oleh negara, yang terjadi justru […]

  3. […] Melanjutkan artikel sebelumnya, ketika “hak asasi manusia” LGBT untuk menikah dilegalkan oleh negara, yang terjadi justru […]

  4. TYRANNY OF THE MINORITY
    Doc: ‘Gender neutral’ bathrooms are dangerous [link]

    VIDEO: Sexual predators take advantage of transgender laws [link]

    • Membaca alasan dalam curhat tersebut terkait LGBT dan pandangan dia terhadap Quran & Negeri Sodom, membuat saya heran. Mungkin dia tidak membaca QS Al-Ankabut 35: “Sesungguhnya kami meninggalkan satu tanda yang NYATA bagi orang-orang berakal”.

      Di QS Al-A’raf 80, Nabi Luth berkata mengapa kamu mengerjakan perbuatan yang belum pernah dikerjakan seorang pun didunia sebelumnya?
      Artinya dizaman itulah muncul LGBT, karena sebelumnya belum pernah ada. Jelas sekali bukan?
      Di Surat itu juga Nabi Luth berkata sesungguhnya kamu melepaskan nafsu bukan kepada wanita, kamu ini kaum yg melampaui batas.
      Kaumnya menjawab, usirlah Luth dan pengikutnya, sesungguhnya mereka orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.

      Di QS Al-Ankabut, Nabi Luth berdoa, meminta kepada Allah untuk menimpakan azab atas kaum yang berbuat kerusakan itu. Setelah itu barulah turun malaikat dgn membawa kabar bahwa mereka akan menghancurkan Negeri Sodom, karena penduduknya orang2 zalim.

      Jadi Quran menjelaskan secara detail prosesnya. Dari beliau diutus sebagai nabi, beliau berusaha sadarkan kaum itu sampai meminta azab. Memberikan tanda dengan jelas bagi umat setelahnya bahwa perbuatan itu muncul dizamannya dan perbuatan itu sangat dilaknat.
      Itu sangat jelas, dan meninggalkan tanda bagi orang-orang berilmu. Tanpa perlu penafsiran, Quran sudah berikan gambaran yg jelas.

  5. Baru tau ada ORANG TUA SAH

  6. katacamar says:

    Reblogged this on katacamar and commented:

    semoga tulisan pak Iwan Yulianto ini menyadarkan kita akan bahaya LGBT

  7. tatty elmir says:

    Saya melihat pergerakan masyarakat yang menyebut dirinya “TOLERAN” dan pejuang HAM di dunia ini, ternyata sangat TIDAK TOLERAN terhadap sesuatu yang berada di luar pahamnya. Dan punya kecenderungan melanggar HAM orang lain.

    Untuk para pendukung LGBT ini ada sesuatu yang menarik untuk dibaca; http://scribol.com/anthropology-and-history/pompeii-buried-sin-city-of-the-roman-empire

    • Betul, bu Tatty. Mereka menuntut toleransi satu arah. Padahal seharusnya toleransi itu ya berlangsung dua arah. Yang setuju homo menikah harus menghormati pendapat yang gak setuju homo menikah begitu juga sebaliknya.

      Terima kasih atas berbagi link-nya. Semoga peninggalan bersejarah bencana di Pompeii menjadi pelajaran bagi generasi kita saat ini dan sesudahnya.

      Sayangnya, ada film layar lebar dg judul “Pompeii” yang dirilis tahun 2014, kisahnya tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya. Pesan moralnya yang berkaitan dengan homoseksual pun tidak ada. Malah seperti mengaburkan fakta yang ada selama ini. Ya maklumlah industri film yang penuh dengan propaganda.

    • Indah says:

      Ketika sy nonton pompeii, sy lgs ingat ttg azab yg diberikan utk kaum sodom. Walaupun film itu tdk menyinggung bahwa kejadian di pompeii adalah azab atas kemaksiatan termasuk prilaku kaum Sodom, tapi kedahsyatan peristiwa hancurnya negeri pompeii, ketakutan, dan usaha mereka yg sia2 untuk menyelamatkan diri, bola2 api dari gunung berapi yang menghujani, air laut yang menggulung, subhanallah, benar2 tidak ada yg bisa selamat. Semuanya mati, dan Allah awetkan jasad mereka sehingga masih terlihat pada saat kematiannya mereka sedang dlm kondisi yang bagaimana.

      Saya jadi ingin tahu bagaimana kisah sebenarnya, bisa di share pak Iwan? Biar sy bs share jg sama temen2. Soalnya mereka ga tahu ttg Pompeii.

    • tatty elmir says:

      Terimakasih Mba Indah. Silakan Mas Iwan merespon. Salam. TE

  8. tatty elmir says:

    Reblogged this on Tatty Elmir.

  9. Rini says:

    semoga di negara kita, tidak sampai melegalkan pernikahan sejenis ini.

  10. Di Indonesia lagi ada isu tuk melegalkan LGBT ya pak?
    Allah musta’an

    • Bisa ditelusuri di internet bagaimana visi dan misi Dede Oetomo, kemudian media Suara Kita / Our Voice, arahnya adalah melegalkan same-sex marriage.

      Sudah sangat masif gerakan kelompok LGBT itu yang seolah-olah dibungkus atas nama perjuangan Indonesia Tanpa Diskriminasi, gembar-gembor soal HAM. Padahal dibalik semua itu ada gerakan yang mengerikan, sebuah gerakan penularan. Menyasar mahasiswa / lingkungan akademis. Akhir2 ini pun saya sering melihat iklan aplikasi kencan online yang bersliweran di medsos.

      Target gerakan kelompok LGBT ini adalah mendorong pranata hukum agar eksistensi mereka sah secara legal. Untuk itu mereka membutuhkan beberapa prasyarat:

      1) Jumlah mereka harus signifikan secara statistik, sehingga layak untuk mengubah asumsi, taksonomi dan kategorisasi.

      2) Keberadaan mereka telah memenuhi persyaratan populatif, sehingga layak disebut sebagai sebuah komunitas.

      3) Perilaku mereka telah diterima secara normatif menurut persyaratan kesehatan mental dari WHO

      Mereka belajar dari negara-negara yang begitu cepat membalikkan keadaan, yang tadinya usulan legalisasi pernikahan sesama jenis ditolak oleh parlemen, namun beberapa tahun kemudian usulan mereka diterima oleh parlemen karena pertimbangan 3 hal di atas.

      Pak Adian Husaini telah menyusun bagaimana gerakan kelompok LGBT ini merangsek di semua bidang, beliau tuangkan dalam buku “LGBT di Indonesia”. Secara singkat poin-poinnya bisa dilihat di sini 1 dan di sini 2.

  11. jampang says:

    mengerikan kalau sampai itu terjadi, pak.

    intinya…. penyakit kalau dibiarkan akan menimbulkan penyakit yang lebih besar.

    • Nah, betul, mas Rifki. Manusia seharusnya belajar dari hukum alam tersebut. Manusia tidak bisa merdeka dari gravitasi bumi. Tidak akan bisa. Maka hukum alam jangan dilawan.

      Masalah utamanya adalah mereka tidak menyadari kalo sedang menyimpang, karena ada pembenaran palsu yang dibungkus seolah-olah ilmiah.

  12. winnymarlina says:

    disahkan pula di usa sana ya pak

    • Seperti halnya di Inggris dan Kanada dalam contoh di atas, saya akan coba paparkan di edisi mendatang bagaimana pengikisan hak-hak fundamental masyarakatnya yang sudah lama menjaga norma-norma dengan baik.

  13. alrisblog says:

    Saya setuju, kaum lgbt adalah orang sakit. Perlu upaya penyembuhan mereka dengan usaha yang lebih keras.

    • Betul. Menunjukkan jalan yang benar adalah bentuk kepedulian yang baik. Tidak dengan menjerumuskannya ke jurang kesengsaraan (baik di dunia maupun di akherat). Kesadaran akan jalan mana yang benar dan mana yang salah adalah awal terbaik

      Hidup ini memang bukan cuma urusan pribadi masing-masing. Hidup ini tentang saling menjaga, saling menasehati, dan saling meluruskan.

  14. Apa yang terjadi di Kanada sampai segitunya ya Mas Iwan… Betapa perlindungan terhadap LGBT malah justru membahayakan yang non LGBT…

    • Selama ini kelihatannya indah. Dianggap sebagai kemajuan peradaban. Padahal sejatinya kemajuan yang mundur. Mundur kembali ke jaman jahiliyah.

      Sudah jelas LGBT ini menyalahi fitrah kehidupan. Kalo penyimpangan fitrah ini diakomodir, dilegalkan pernikahannya, bukan disembuhkan (dikembalikan menuju fitrahnya) yang terjadi adalah mencederai hak-hak mayoritas masyarakat yang sudah lama menjaga norma-norma peradaban yang baik. Atas dalih HAM, mereka (melalui otoritas negara) akan menindas hak-hak masyarakat yang normal.

    • Fenomena LGBT ini semakin membesar di negara kita karena banyak acara2 tv yang sangat permisive ya Mas Iwan. Para cowok berdandan ala cewek… Supaya terlihat lebih seru dan kocak…

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: