Home » Komunisme » Setumpuk Angka Untuk Demokrasi dan HAM

Setumpuk Angka Untuk Demokrasi dan HAM

Blog Stats

  • 2,052,782

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,852 other followers

komunisme

Bismillah …

Pada tanggal 18-19 April 2016, bertempat di Hotel Aryaduta, Pemerintah Jokowi melalui Dewan Pertimbangan Presiden dan Kantor Koordinator Politik Hukum dan Keamanan menggelar Simposium Nasional bertajuk ‘Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan’.

Di hari kedua simposium tersebut, budayawan Muslim Taufiq Ismail membacakan puisi yang berkisah tentang “Angka-Angka”, meski berakhir dengan insiden pengusiran terhadap beliau. [Isi puisi bisa disimak di halaman dua jurnal ini].
Apa yang dimaksud dengan “angka-angka” tersebut?
Enam belas tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000, beliau telah menulis tentang “angka-angka” di Majalah Forum Keadilan. Informasi tentang “angka-angka” tersebut perlu masif digaungkan sebagai bagian dari edukasi dan penyadaran publik. Mengapa? Karena informasi tentang kebengisan ideologi komunisme di dunia yang penuh dusta-demagogi dan berlumuran darah, termasuk di Indonesia, mulai kabur dalam ingatan bersama. Hingga kini, Palu Arit tua terus berusaha membius Palu Arit muda dan masyarakat awam dengan kedustaan, mengaburkan fakta sejarah, kemudian membungkus ideologi komunis dengan wajah manis, agar ideologi yang sudah hancur berkeping-keping di banyak negara dan tidak laku dijual itu bisa diterima kembali di bumi Pancasila ini.

Inilah fakta tentang “angka-angka” itu …

SETUMPUK ANGKA UNTUK DEMOKRASI DAN HAM
oleh: Taufiq Ismail

Dua kata kunci yang senantiasa disebut-sebut sebagai alasan pembenaran usul pencabutan Tap MPRS no XXV/1966 adalah demokrasi dan hak asasi manusia. Sejak dahulu, PKI, dan kini Marxis, apa pun derivat atau variannya, bukan saja tidak kompatibel dengan kedua kata ini, bahkan menentang (ketika mereka merasa kuat) dan menggilasnya (bila mereka berkuasa).

Mari kita perluas horison pengamatan kita ke 21 negara Marxis, dan kita buka catatan James Nihan (The Marxist Empire, 1987). Di negara-negara tersebut, kepala negara atau presidennya memerintah antara 42 sampai 12 tahun berturut-turut. Di Korea Utara Kim-Il-Sung berkuasa 42 tahun, di Albania Enver Hoxha 42 tahun, dan di Kuba sampai kini Fidel Castro jadi presiden 41 tahun. Yang jadi diktator di atas 30 tahun ada 4 orang, yaitu Joseph Tito di Yugoslavia selama 35 tahun, Snieckus di Lithuania sepanjang 34 tahun, lalu di Bulgaria diktator Zhivkov 33 tahun, kemudian Janos Kadar di Hongaria selama 31 tahun.

Di 7 negara berikut ini diktator Marxis berkuasa lebih dari 20 tahun. Joseph Stalin di Uni Soviet jadi tiran 28 tahun, Le Duan di Vietnam 27 tahun, Mao Tse-tung di RRC 27 tahun, di Guinea Toure 26 tahun, di Jerman Timur Ulbricht 25 tahun, di Mongolia Tsedenbal 25 tahun dan di Rumania Ceaucescu 23 tahun lamanya.

Di 10 negara Marxis lainnya kepala negaranya memerintah antara 19 sampai 12 tahun. Yang terpanjang di kelompok ini adalah Brezhnev di Uni Soviet (19 tahun) dan Nyerere di Tanzania (19 tahun). Di 8 negara lainnya (Cekoslowakia, Benin, Somalia, Jerman Timur, Polandia, Mozambique, RRC dan Ethiopia) diktator Marxis bertahta antara 17 sampai 12 tahun lamanya.

Baik juga dicatat bahwa 10 diktator meninggal ketika masih berkuasa, dan 5 orang digulingkan dengan kekerasan ketika masih dalam jabatan (Kadar / Hongaria, Ulbricht / Jerman Timur, Husak / Cekoslowakia, Honecker / Jerman Timur dan Gierek / Polandia).

Tidak ada satu pun dari negara di atas, yang melaksanakan pemilihan umum dengan peserta lebih dari satu partai, bersih dari ancaman, jujur dalam penghitungan suara dan ada batasan dalam memegang jabatan tertinggi negara. Terbukti pula bahwa pemegang kekuasaan tertinggi di negara-negara Marxis itu, berpuluh tahun mengangkangi kursi kepresidenannya. Klaim bahwa Marxis-Leninis-Maois memperjuangkan demokrasi, dengan demikian sama-sebangun dengan DUSTA BESAR. Klaim usang inilah yang dijajakan lagi di situs Indomarxist di internet kini. Penipuan ini hanya berhasil mengelabui orang yang tidak membaca sejarah.

Kaum Marxis-Leninis-Maois lama dan baru di sini, sangat anti militer Indonesia. Citra yang mereka bentuk adalah bahwa Marxisme di seantero jagat raya, menentang militerisme. Ini lagi sebuah pembohongan. Mereka menentang militer di Indonesia karena militer kita, pasca Madiun 1948 sampai sekarang, anti komunis. Di 18 negara Marxis dunia, kepala negaranya militer, dan tidak ada di sana Marxis yang keberatan, juga di Indonesia tak ada yang mengecam militerisme rekan-rekan mereka itu. Mari kita soroti faktanya.

Dari 18 negara Marxis terpenting berikut ini, kepala negaranya adalah militer, menurut urutan abjad. Afghanistan, Mayor Jenderal Najibullah; Benin, Kolonel Methieu Kerekou; Burkina Faso (dulu Upper Volta) Kapten Thomas Sankara; RRC, Jenderal Yang Shangkun; Cekoslowakia, Jenderal Ludvik Svoboda.

Kemudian di Afrika lagi Ethiopia, Kolonel Mengistu Marlam; Ghana, Letnan Jerry Rawlings; Grenada, Jenderal Hudson Austin; Guinea, Kolonel Lasana Conte; Guinea-Bissau, Jenderal Joao Viera.

Di Asia, Korea Utara, Marsekal Kim Il Sung; Madagaskar Commander Didier Ratsiraka; Nicaragua, Commandante Daniel O. Saavedra; Polandia, Jenderal Wojcieh Jaruzelski (Presiden) dan Jenderal Czeslaw Kiszczak (Perdana Menteri).

Di Somalia, Jenderal Muhammad Barre; Suriname, Kolonel Deserie Bouterse; Uni Soviet, Generalissimo Joseph Stalin dan Marsekal Nikolai A. Bulganin, kemudian Yugoslavia, Marsekal Josip Tito.

Baik dicatat bahwa Jenderal Austin (Grenada) membantai beberapa orang rekan Marxisnya dan mengambil-alih kekuasaan hingga akhirnya digulingkan (Oktober 1983). Di Nicaragua 10 orang pimpinan tertinggi negara Marxis itu militer, dan di Politbiro Partai Komunis Polandia terdapat 3 jenderal. Jenderal Svoboda (Cekoslowakia) dan Marsekal Nikolai Bulganin (Uni Soviet) digulingkan secara paksa dan Kapten Thomas Sankara (Burkina Faso) dibunuh ketika masih berkuasa.

Statistik dari World Almanac and Book of Facts, 1987 membandingkan 13 negara Marxis dan 15 negara non-Marxis. Jumlah penduduk 13 negara Marxis adalah 1,58 milyar dan 15 negara non-Marxis 1,59 milyar. Jumlah militer 13 negara Marxis 19,1 juta, sedangkan militer non-Marxis 6,3 juta. Jadi tentara Marxis 300 % lebih besar, atau tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan tentara negara non-Marxis.

Kesimpulannya jelas bahwa negara-negara Marxis itu bukan saja militeristis, bahkan super-militeristis.

Konsekuensi logis berikutnya dari fakta ini adalah bahwa negara Marxis adalah produsen dan penjual senjata terbesar. Sasaran penjualan senjata adalah negara dunia ketiga. Berikut ini perbandingan angka penjualan senjata, 1983-1986, ke negara-negara dunia ketiga tersebut.

MARXIS NON-MARXIS
Uni Soviet US$ 60,0 M Amerika Serikat US$ 25,5 M
RRC US$ 5,3 M Perancis US$ 16,5 M
Cekoslowakia US$ 2,6 M Jerman Barat US$ 4,0 M
Inggris US$ 2,1 M
Brazil US$ 1,2 M
Jumlah US$ 67,9 M US$ 52,7 M

Tabel Perbandingan Angka Penjualan Senjata

Untuk perang 2 tahun di Somalia, Tigre dan Erithrea, yang menewaskan 30.000 orang di kawasan yang paling miskin dan lapar di dunia itu, Moskow melanggengkan perang saudara di sana dengan menjual senjata ke rezim Marxis Ethiopia seharga 5 milyar dolar. Guna meringankan krisis pangan yang menelan korban sekitar sejuta penduduk yang mati kelaparan (Bank Dunia, 1987), Uni Soviet menyumbang kurang dari seperseribu penjualan senjatanya, yaitu 3 juta dolar saja. Moskow mengeruk keuntungan luarbiasa besar dari penjualan senjatanya untuk Marxis Adis Abeba, dan dengan senjata itu membantai bangsanya sendiri.

Bukti berikutnya bahwa Marxis spesies ini tidak kompatibel dengan demokrasi adalah kenyataan bahwa bagi mereka tujuan utama ideologi adalah perebutan kekuasaan dengan kekerasan menuju kediktatoran proletariat, dengan revolusi berdarah, bukan secara demokratis lewat pemilihan umum yang bersih.

Dalam rentang waktu 70 tahun, dimulai dari Ukraina 1918 sampai dengan Erithrea 1987, kaum Marxis melakukan perebutan kekuasaan di 76 (tujuh puluh enam) negara dan kota di seluruh dunia, yang gagal. Termasuk yang gagal itu Pemberontakan PKI di beberapa tempat di Jawa dan Sumatera Barat (1926), Peristiwa Tiga Daerah di Tegal, Brebes dan Pemalang (1945), Cirebon (1946), Pemberontakan Madiun (1948) dan Pengkhianatan Gestapu (1965).

Kata kunci kedua, yang belakangan ini dipropagandakan habis-habisan oleh Marxis spesies ini adalah HAM. Bila HAM mereka kesenggol, mereka berteriak setinggi apartemen pencakar langit, tapi bila 7 juta petani kulak dibantai Stalin, 2,5 juta rakyat Kamboja digorok Khmer Merah, 6 juta orang dibuang ke Siberia dan Asia Tengah, 450.000 orang dijagal selama Revolusi Kebudayaan di RRC, 1,2 juta rakyat Afghanistan dibantai Marxis Afghan yang dibantu serdadu Uni Soviet, mereka bungkam dalam 21 bahasa.

Enam juta orang itu, yang dipaksa pindah atau dibuang dari tanah kelahiran mereka, adalah golongan minoritas berasal dari Estonia, Latvia, Lithuania, Polandia dan Armenia, dalam jangka waktu 14 tahun, yakni antara 1939-1953. Stalin membuang mereka ke Asia Tengah dan Siberia, gulag neraka dunia tempat kerja paksa yang tak ada tandingan kekejamannya itu.

Warga negara Uni Soviet tidak bebas bepergian di dalam negeri mereka sendiri. Mereka harus memiliki propiska, yaitu paspor dalam negeri, yang mempersulit gerak langkah penduduk. Bepergian ke luar negeri jauh lebih sulit lagi prosedurnya, bahkan tidak mungkin dilakukan warga negara biasa, walau pun punya biaya. Hak asasi warga negara untuk bepergian, dicekik.

Karena penganut Marxisme-Leninisme beroperasi dalam jaringan kerja internasional, setiap Marxis-Leninis yang sadar, di mana pun dia, termasuk di Indonesia, ikut bertanggung-jawab secara tak langsung atas pelanggaran HAM kamerad-kamerad mereka di negeri-negeri lain itu.

Ada baiknya kita melihat masalah ini secara kuantitatif lagi dalam rentang masa sejak revolusi Bolshewik sampai pembabatan Tian An Men dan runtuhnya Tembok Berlin (1917-1991), dengan memperhatikan angka yang ditemukan Rummel (1986) dan Nihan (1987).

Sepanjang abad ini, menurut Rummel*, rezim komunis seantero jagat telah membunuh 95,2 juta manusia, sedangkan menurut Nihan, 105 juta orang. Apabila diambil rata-rata pertengahan 100 juta saja, maka Partai Komunis sedunia, di 76 negara, secara kolektif, di abad ke-20 selama 74 tahun itu (antara 1917-1991), setiap tahunnya telah membantai 1,35 juta manusia. Atau, setiap harinya 3.702 orang. Itu sama dengan 154 orang per jam, atau 2,5 orang per menit. Ini sungguh sebuah adegan pejagalan kolosal-global yang tak ada bandingannya dalam sejarah kemanusiaan sejak zaman batu dahulu kala sampai zaman pentium sekarang.

Angka seratus juta itu, sama dengan gabungan penduduk 10 negara, yaitu Australia, Angola, Austria, Belgia, Irlandia, Israel, Portugal, Senegal, Swedia dan Tunisia digabung jadi satu.

Tangan pemeluk ideologi Marxis-Leninis di seluruh dunia, ikut berlumur darah, paling kurang terpercik, dalam adegan pembantaian kolosal ini. Setiap ada kemenangan kubu Marxis-Leninis di negara mana pun, mereka bertepuk tangan menyambutnya. Tapi setiap ada pembantaian berlangsung yang dilakukan rekan mereka, Marxis-Leninis di negeri lain tutup mata dan mulut, menafikannya dalam sejarah, walau pun mereka secara ideologis ikut bertanggung-jawab.

Hak manusia untuk hidup bernyawa adalah hak asasinya yang paling top. Hak ini yang paling diinjak oleh Marxis spesies ini, terhadap lawan ideologinya, bila mereka berkuasa. Nyawa bagi Lenin, Stalin, Beria, Mao, Pol Pot, Aidit, Honecker, Castro, murah harganya, jauh lebih murah ketimbang harga yang sudah dibanting oleh Hitler dan Mussolini.

Dua kata kunci yang senantiasa disebut-sebut itu, yakni demokrasi dan hak asasi manusia, tidak akan mempan lagi diumpankan ke masyarakat oleh siapa pun yang menginginkan dicabutnya Tap XXV MPRS 1966, karena kini orang ingat kembali kuantifikasi sejarah merah dari masa 1917-1991 di atas.

Kata demokrasi yang mereka sebut itu sama-sebangun, cocok sekali ukuran panjang, lebar dan tingginya dengan dusta besar, dan kata hak asasi manusia mereka berlumuran serta berbau darah. Indonesia tidak sudi, dan pandir betul bila mau ditipu untuk keempat kalinya.

—– (Arsip Majalah Forum Keadilan, no. 11, tahun IX, 18 Juni 2000) —–

*[Tambahan catatan dari saya: Prof.Dr. Rudolph J. Rummel, seorang Guru Besar Ilmu Politik Universitas Hawaii, membuat laporan penelitian tentang korban nyawa manusia akibat komunisme sedunia selama lebih dari setengah abad. Yang dibunuh itu bukan bangsa lain, tapi bangsanya sendiri, yang tidak seideologi. Selama 74 tahun (1917-1991), partai komunis sedunia telah membantai 120 juta manusia di 75 negara. Hasil penelitiannya dituangkan dalam buku “The Black Book of Communism – Crimes, Terror, Repression”, Stephen Courtois (editor), Harvard University Press, 2006]

Politik menghalalkan segala cara yang dilakukan oleh kaum Palu Arit menghasilkan perebutan kekuasaan yang chaos dan berdarah-darah. Upaya merebut kekuasaan yang dilakukan oleh mereka, yang mengatasnamakan “Revolusi Kaum Proletar” untuk menumbangkan kaum borjuis (para pemilik modal, tuan tanah, elit kapitalis, dll), malah justru melahirkan “diktator proletariat”. Karena, politik mereka dibangun dengan dasar “pertentangan kelas”, yang kemudian menjadi seperti mata rantai yang tak pernah putus dalam upaya saling berebut kekuasaan. Kekuasaan yang dianggap “borjuis” tumbang, lalu muncul diktator baru dari kaum “proletar”. Itulah fakta yang terjadi.

Semoga generasi muda penerus bangsa ini tidak buta dengan sejarah dunia dan sejarah bangsanya sendiri. Dan sadar bahwa ideologi komunis adalah ideologi yang berbahaya bagi peradaban manusia.

Salam,
Iwan Yuliyanto
09.05.2016

Advertisements

Pages: 1 2


11 Comments

  1. Sudarmono says:

    Makasih infonya Mas…
    Aku ingin informasi yang lebih adil tentang berita acara simpusium itu
    Mas Yuli apakah hadir dalam acara itu?

    Thanks

  2. Tetap waspada, apapun ideologi import yg tdk sehati dg budaya bangsa, nilai luhur, religi UUD 45, Pancasila hrs di cekal.
    Komunisme tlh msuk liang kubur, sya percaya ad sklompok pihak yg memanfaatkan nama PKI demi kepentinganya, bs jadi asing yg ingin membalkan nkri ato dlm.

    Waspada, kritis dan antisipatif

  3. “Menghitung Korban Nyawa Manusia Akibat Palu Aritisme” oleh R.J. Rummel
    https://www.hawaii.edu/powerkills/COM.ART.HTM

  4. Di negara induknya sendiri, komunis atau marxis justru sudah tumbang ya… tapi masih sangat kuat di cina apalagi korut…

    Di korut kalau saya tidak salah 1/5 dr populasi pria dijadikan tentara…

  5. kicauasmar says:

    Reblogged this on katacamar and commented:

    semoga tetap jernih, membaca sejarah.
    jangan tertipu jargon korban, karena senyatanya korban adalah bukan mereka, mereka pelaku makar jelas sekali madiun, september65

  6. jampang says:

    kenapa mau diputarbalikkan yah? hiks

  7. mhilal says:

    Pak Iwan, kabarnya simposium itu bertujuan mencari jalan resolusi konflik….

    • Sayangnya tidak berimbang, mas Hilal, berat sebelah.
      Dengan kondisi yang tidak berimbang, upaya mencari jalan resolusi konflik seperti digiring untuk memaafkan PKI. Diawali dengan pengadilan Indonesia People Tribunal (IPT) di Belanda 2015

      Padahal… kalau pembasmian terhadap antek2 PKI dituntut untuk diadili, maka pembantaian oleh PKI pada 1948, dan kemudian teror dan pembantaian yang dilakukan PKI terhadap para ulama, santri dan ribuan warga yang anti komunis sepanjang 1950 – 1965 justru lebih dahulu harus diadili.

      Dalam ilmu Fisika, aksi = reaksi. Jelas, tidak ada hal yang berlangsung secara tiba-tiba tanpa sebab. Aksi-aksi teror yang dilakukan PKI sepanjang periode 1946 – 1965 inilah yang coba disembunyikan Komunis Gaya Baru, yang berlindung atas nama HAM. Para loyalis PKI masif bersuara seakan-akan sedang terdzalimi.

      Bicara tentang mereka yang ngaku “korban”, simak ini:
      http://www.repelita.com/letkol-pemberani-surat-terbuka-untuk-gub-lemhannas/

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Let me share my passion
My passion is to pursue and share the knowledge of how we work better with our strengthen.
The passion is so strong it can do so much wonder for Indonesia.

Fight For Freedom!
Iwan Yuliyanto

Kantor Berita Umat

%d bloggers like this: