Home » Media & Journalism » Ternyata Berita Anggota FPI Mesum Bersumber Dari Agen Judi

Ternyata Berita Anggota FPI Mesum Bersumber Dari Agen Judi

Blog Stats

  • 1,975,335

PERLINDUNGAN HAK CIPTA

Lisensi Creative Commons

Adab Merujuk:
Boleh menyebarluaskan isi blog ini dengan menyebutkan alamat sumber, dan tidak mengubah makna isi serta tidak untuk tujuan komersial kecuali dengan seizin penulis.
=====
Plagiarisme adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan intelektual kita bersama.

Follow me on Twitter

Bila Anda merasa blog ini bermanfaat, silakan masukkan alamat email Anda untuk selalu mendapat artikel terbaru yang dikirim melalui email.

Join 5,848 other followers

Bismillah …

Sejak tanggal 18 Juni 2016, ramai pemberitaan di media sosial tentang tertangkapnya anggota FPI yang berbuat mesum di salah satu hotel di Kota Makassar. Berita yang menyebar secara viral tersebut berasal dari media wahanariau.com , dengan judul: Salah Satu Anggota FPI Tertangkap Mesum di Hotel Melati di Bulan Ramadhan.

FPI difitnah
Apa sedemikian bencinya media ini sehingga menulis berita saja jauh dari prinsip kejujuran dan keadilan? Media seharusnya memberitakan, bukan mencekoki propaganda. Lihat saja dalam paragraf 1, langsung digeber dengan framming yang tendensius, padahal mengandung banyak kejanggalan. Berikut kutipannya:

Salah satu anggota Front Pembelah Islam (FPI) Makassar, Sulawesi Barat tertangkap mesum di salah satu Hotel ternama di Makassar, 13 Juni 2016. Penangkapan tersebut dilakukan setelah ada laporan dari masyarakat yang mengaku jualannya telah dirampas Massa FPI.

Kejanggalan pertama, nama ormas FPI langsung disebut dengan jelas, padahal belum tentu ormas tersebut terlibat. Sampai akhir paragraf, tidak ada bagian cover both side, memberi ruang klarifikasi dari pihak FPI. Kalau mereka belum melakukan cover both side, seharusnya cukup ditulis “salah satu ormas keagamaan” saja.

Kejanggalan kedua, menulis nama ormas Islam dengan kalimat “Front Pembelah Islam (FPI)”, memelesetkan kata “Pembela”. Apa memang ada unsur kesengajaan menciptakan stigma bahwa ormas ini adalah “pembelah” ?

Kejanggalan ketiga, media menulis “Salah satu anggota Front Pembelah Islam (FPI) Makassar, Sulawesi Barat tertangkap mesum …”, tanpa memastikan terlebih dahulu apakah yang ditangkap itu memang anggota FPI atau hanya ngaku-ngaku. Tanpa adanya upaya verifikasi, media bisa diduga sedang melakukan Trial by Press. Seharusnya kalau media belum melakukan verifikasi, namun berita ingin segera dimuat, mereka bisa menggunakan kalimat “seseorang yang mengaku anggota ormas keagamaan”.

Kejanggalan keempat, nama pelaku tidak disebut, meskipun hanya inisial. Aneh.

Kejanggalan kelima, tidak disebutkan lokasi pasti kejadian, hanya dengan menyebutkan “tertangkap mesum di salah satu hotel ternama”. Ormas Islam yang belum tentu terlibat saja disebut dengan jelas namanya, namun hotel yang digunakan sebagai TKP tidak disebutkan namanya. Ini khan aneh.

Kejanggalan keenam, disebutkan ada informasi peristiwa perampasan oleh Massa FPI. Tidak dijelaskan peristiwa tersebut seperti apa, kapan, dimana. Di saat banyak media sekular di Indonesia begitu ‘siaga’ mengawasi setiap langkah FPI, guna menangkap aib sekecil apapun untuk diberitakan dengan dahsyat, … bagaimana mungkin ada peristiwa kriminal yang katanya dilakukan oleh “Massa FPI” tidak ada yang memberitakan? Sampai saat ini media haters mungkin kecewa, karena aktivitas FPI sehari-hari yang ditemui adalah bekerja sama dengan pihak kepolisian memerangi penyakit masyarakat, seperti razia prostitusi, miras, barang ilegal, dll. Juga kegiatan-kegiatan bakti sosial dan turun tangan di lokasi bencana alam. Sulit media-media haters FPI menemukan aib, meski sudah ‘siaga’ membidik. Lha ini ada peristiwa besar tentang “perampasan oleh Massa FPI” kok tidak ada beritanya dari Sabang sampai Merauke.

Kejanggalan ketujuh, penyebutan Kota Makassar seharusnya terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, bukan Sulawesi Barat. Sangat aneh, seorang jurnalis bisa salah dalam penyebutan nama propinsi terkenal ini.

Kejanggalan kedelapan, foto yang digunakan adalah foto bersumber pada Arrahmah.com yang dimuat pada tanggal 15 Februari 2013 dengan judul: FPI Sweeping 4 Pasangan Mesum Di Hari Valentine. Tanpa mengetahui asal foto pun sebenarnya sudah nampak kejanggalannya, antara berita dan foto tidak nyambung. Dalam foto justru terlihat anggota FPI yang melakukan razia, bukan yang terkena razia.

Begitulah… hanya dalam satu paragraf pembuka saja sudah ditemukan DELAPAN KEJANGGALAN!!

Kejanggalan lainnya, banyak sekali kalimat yang salah ketik, salah tanda baca, dan kesalahan tata bahasa lainnya. Sehingga bisa dipastikan betapa rendahnya kualitas jurnalisme media tersebut.

Kejanggalan berikutnya media ini TERNYATA HANYA MENGUTIP dari sebuah BLOG, yaitu LOKKOLEDO.blogspot.or.id, posting tanggal 16/6/2016. Blog Lokkoledo bukan portal berita yang mempunyai izin penerbitan (SIUPP). Karena identitas pemilik dan kantor tidak jelas, maka sulit bisa dipertanggung-jawabkan isinya.

Saya mencoba menelusuri lebih lanjut melalui menu pencari di Twitter, dengan memasukkan kata kunci tertentu, akhirnya diketahui bahwa sumber pertama berita viral ini adalah blog Agen Domino yang diposting pada tanggal 13 Juni 2016, dengan judul: “Kemunafikan FPI Tertangkap Mesum Di Hotel Melati”, dipublikasikan akun @AreaDomino, dan telah di-shared oleh 10 ribu lebih pengguna akun Facebook. Ternyata berita heboh ini bersumber pada blog yang mempunyai tagline: AGEN DOMINO, AGEN CAPSA, AGEN POKER, BANDAR KIU, BANDAR CAPSA ONLINE.
FPI difitnah
Sepertinya berita yang tidak bermutu dari agen judi tersebut di-copas oleh blog Lokkoledo dengan sedikit modifikasi dengan menghilangkan kalimat “menurut sumber agen domino”, kemudian hasil modifikasi blog Lokkoledo tersebut di-copas sama persis oleh media WahanaRiau.com tanpa verifikasi.

ANEHNYA… produk jurnalisme yang begitu tampak nyata bermutu rendah ini dengan mudahnya menjadi viral di berbagai media sosial, membanjiri lini masa Twitter, Facebook, Whatsapp, Youtube, bahkan ke forum-forum diskusi seperti Kaskus, dan forum-forum lainnya. Silakan di-gugling. Mereka yang menyebarkan dan menyantap berita tersebut lewat akun media sosialnya seakan-akan begitu yakin akan kebenaran beritanya. Buktinya, setelah disantap mereka sebar ulang ke berbagai media sosial, hingga menjadi viral.

Beberapa contoh komentar miring yang menyertai penyebaran link berita heboh tersebut, antara lain:

  • Nong Darol Mahmada [@nongandah] : Barusan memposting berita, ada salah satu anggota FPI tertangkap lg mesum di hotel melati di bln ramadan, astaghfirullah”
  • Suryana Tjia [@bunnyrockshow] : “Mesumnya dengan uang hasil palak toko orang selama bulan puasa, sakit bener anggotamu @DPP_FPI”
  • Thariq#FNI (@teh_tariq) : “FPI yg biasa sweeping sok moralis sekarang anggotanya mesum di hotel, tertangkap lagi…,”
  • Agus Sari [@agussari] : “Hehe. Ramadan barokah. FPI barokah.”
  • Indra Setiawan 46 [@indrawan_x] : “Bulan puasa kok tertangkap mesum LOL”
  • Semur Jengkol [@CumiCue] : “Wahh FPI merampok utk foya2 dan mesum nih! Ya iya lahh. Anggotanya pengganguran semua.” @Polisi_R1 @tjahjo_kumolo
  • Legislatif ParGaBus [@m4m4h4k] : “Ini toh “KELAKUAN” salah satu anggota @DPP_FPI. Puasa kok kegerebek di hotel melati. Hbs dpt THR & gak dibawa plg?”

Dan banyak juga selebtwit yang mempunyai puluhan hingga ratusan ribu follower yang membagi link berita heboh tersebut, meski tanpa komentar.

Kalau mereka paham Sepuluh Elemen Jurnalisme, maka pemberitaan tersebut jelas-jelas melanggar prinsip jurnalisme, seperti Elemen Kebenaran, Elemen Disiplin Verifikasi, dan Elemen Komprehensif dan Proporsional.

Kok bisa ya mengaku intelektual muda dan kritis, eh begitu disodori tulisan yang berasal dari AGEN JUDI saja langsung dilahap tanpa dicerna.

FPI beberapa kali disudutkan oleh produk jurnalisme bermutu rendah. Oleh media sekular, yang hitam dibikin putih, yang putih dibikin hitam. Salah satunya pernah saya bahas di sini: SELAMAT DATANG DI REPUBLIK PREMAN .

KLARIFIKASI

Klarifikasi FPIPada tanggal 20 Juni 2016, muncul klarifikasi dari DPW FPI Kota Makassar yang menyatakan bahwa kejadian tersebut tidak pernah ada, atau bisa dikatakan itu merupakan cerita fiksi yang sengaja dibuat untuk memfitnah FPI. Silakan menyimak isi klarifikasi resmi dalam gambar di samping ini. [klik untuk memperbesar]

Menyusul, Manajemen Wahanariau.com, -melalui laman webnya-, akhirnya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besar kepada keluarga besar FPI di seluruh Indonesia atas pemuatan berita bohong tersebut.

Saya lansir dari laman situs resmi FPI mengabarkan bahwa Dewan Pimpinan Pusat (DPP FPI) lewat Badan Hukum Front (BHF) akan menempuh jalur hukum terkait fitnah yang keji ini. Mereka yang terlibat dalam pembuatan dan penyebaran akan diperkarakan.

Salam,
Iwan Yuliyanto
21.06.2016

Advertisements

20 Comments

  1. Ya saya setuju klo pembuat dan pengedar berita bohong itu harus diberi pelajaran keras dan tegas yang setimpal perbuatannya.
    Benar-benar kejam fitnahnya-semoga FPI tetap eksis dalam melaks. amar ma’ruf dan nahi mungkar, amien

    Salam persahabatan selalu dari saya

  2. Sekar says:

    Pak Iwan, saya request ulasan tentang Brexit kalau Bapak berkenan 🙂

  3. Rawins says:

    Jaman dulu, kita suka bingung dalam mencari informasi. Sekarang lebih bingung karena kebanyakan informasi. Repotnya banyak teman kita yang ga suka crosscheck, asal sreg sama isi kepalanya langsung share…

    • Ahmad says:

      Jadinya kita malah terdorong untuk melakukan crosscheck, demi menyelamatkan teman-teman, jangan sampai termakan isu yang tidak benar. Kalau saya, repotnya di situ 😀

    • Rawins says:

      Itu dia, mas. Budaya gumunan sebagian teman kita bikin klarifikasi hasil crosscheck kadang tidak efektif, hoaxnya telanjur viral. Apalagi sekarang demam blogger pencari receh lagi merajalela. Mereka cuma kejar pengunjung banyak dengan berita kontroversial ga peduli benar atau salah. Beruntung blogger yang bisa jadi pencerah semacam mas Iwan masih banyak

    • Ahmad says:

      Yang dimaksud blogger pencari receh, apakah termasuk pembuat situs-situs dan blogspot-blogspot baru dengan isi yang bombastis?
      Contoh judul: “Takut Ketahuan Pacar, Wanita Ini Telan Handphone”.

      Yang saya khawatirkan dengan situs/blogspot semacam itu sebenarnya adalah kemungkinan adanya script malware yang sengaja ditanamkan dalam situs/blogspot. Kepikiran sampai segitu nggak, Mas Rawins?

  4. Aih… sampe segitunya banyak yang sudah share. emang seharusnya FPI ambil langkah hukum, demi kewibawaan FPI sendiri…

  5. alrisblog says:

    Sesekali penyebar berita bohong luar biasa ini perlu diberi shock terapi. Tak perlu melemah karena mereka minta maaf melalui surat terbuka, bawa saja ke pengadilan.

  6. tatty elmir says:

    Biasanya yang nafsu ngeshare sama halnya dengan yang bikin berita.
    Juga nafsu mengumbar kebencian kepada FPI. Meski sasaran utama adalah Islam.

  7. luar biasa, zaman dajjal makin dekat….

    • Betul, Pak Widodo, berita dengan penyajian yang buruk seperti itu saja banyak orang yang kemakan fitnah dan ikut memfitnah. Bagaimana nanti dengan Fitnah Dajjal yang membuat semua manusia menjadi murtad kecuali yang terlindungi dari fitnahnya.

  8. shiq4 says:

    Sekarang ini banyak berita hoax yg dishare. Jadi musti hati2 dan coba nyari beeita di media2 besar saja biar lebih valid.

  9. jampang says:

    dan seperti biasa…. yang nggak baca isi beritanya langsung nyebarin

    • Seringnya yang nyebarin berita, enteng banget berkilahnya saat tahu yang disebarin itu hoax. Padahal dalam UU ITE, pembuat & penerus/penyebar berita kedudukannya sama, yaitu sama-sama penyampai pesan. Konsekuensinya sama dalam hukum.

  10. rayamakyus says:

    Hohoho lucunya media sekarang. Sama kayak kasus warteg ketangkep satpol PP jg ternyata rekayasa media,hihihi..

    wahanariau.com itu asalh riau ya? jauuuh beneeer ngambil berita dari makassar. SUlawesi Barat pulaa!

  11. Dyah Sujiati says:

    Kejanggalan ketujuh, penyebutan Kota Makassar seharusnya terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, bukan Sulawesi Barat. Sangat aneh, seorang jurnalis bisa salah dalam penyebutan nama propinsi terkenal ini. ~> NGAKAK SAMPE ZIMBABWE :”))))

  12. Ahmad says:

    Saya sekarang di Sulbar, Mas. Sudah dua tahun lebih.
    Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada daerah di sini yang bernama “Makassar”.

    Kalau di Jakarta, malah ada, Kampung Makassar 😀 Tapi, di Sulbar benar-benar tidak ada.

Mari Berdiskusi dan Berbagi Inspirasi. Terimakasih.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: