Home » Business Ethic & Tips

Category Archives: Business Ethic & Tips

Berbangga Diri Menista Pekerjaan Orang Lain

Bismillah …

Mungkin Anda pernah berada dalam situasi dimana seorang teman Anda mengajak B (seorang aktivis passive income) untuk bertemu dengan Anda (A) di sebuah cafe, yang kemudian terjadi dialog seperti ini:

B: “Mas mahasiswa ya?”

A: “Nggak, saya sudah bekerja”

B: “Pasti P21 khan ya”

A: “Apaan tuh?”

B: “Pergi Pagi Pulang Petang, Penghasilan Pas-Pasan, Potong Pajak, Potong Pinjaman, Potong Pungli, Plus Pala Pusing, Pinggang Pegal-Pegal, dan Pensiun Penyakitan”
Kata si B sambil tersenyum dengan salah satu ujung bibirnya terangkat. Dan kemudian bla.. bla.. bla.. begitu seterusnya dengan sok tahu tentang pekerjaan Anda yang dianggapnya tidak worth it dilakukan menurut aktivis passive income itu. Si B semangat berapi-api mem-prospek Anda, sambil menunjukkan slip bonus pencapaiannya.

Bisa jadi tabiat sang aktivis tersebut diturunkan dari leader-nya yang membakar audiens di event-event seminar motivasi dengan memandang rendah profesi karyawan sehingga menanamkan mindset bahwa profesi karyawan harus segera ditinggalkan, ambil keputusan berani resign, untuk pindah kuadran sebagai pejuang passive income.
(more…)

Advertisements

[Work Life Balance] Antara Karir dan Kualitas Ibadah

ALIM … ALhamdulillah It’s Monday 🙂

Mari review kembali radar chart Roda Keseimbangan Kehidupan (Wheel of Life) kita masing-masing. Apakah kualitas Spiritual sama baiknya dengan perjalanan Karir di tempat bekerja?

Namun sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa saya pernah membaca tulisan seorang motivator, yang menjelaskan tentang roda keseimbangan (work-life balance), yang baginya berfokus pada soal pembagian waktu yang seimbang antara berbagai kepentingan. Sehingga ia mengatakan bahwa konsep work-life balance adalah suatu kebohongan, karena tidak mungkin bisa dicapai. Yang saya yakini, sang motivator tersebut keliru, work-life balance bukan berfokus pada upaya tercapainya keseimbangan pengaturan waktu untuk semua indikator, tapi menitikberatkan pada kualitas indikator tersebut. Tidak peduli apakah Anda membagi waktunya sama seimbangnya atau tidak (karena faktanya akan dihadapkan pada prioritas kepentingan), namun yang penting adalah menciptakan kreatifitas agar kualitasnya seimbang, sama baik levelnya.

Nah, kembali ke soal dua indikator di atas, yaitu kualitas Spritual dan Karir. Bila ternyata tidak sejalan, mari sama-sama mengambil pelajaran dari dua contoh di bawah ini.
(more…)

Mission Statement yang menggugah [part 1]

[Repost dari blog lama saya di Multiply Video untuk memberikan contoh penyajian typography dalam sebuah video]

Bismillah …,

Ada sebuah video menarik yang diupload oleh shop.holstee.com pada 29 Oktober 2011, video itu berisi mission statement atau pernyataan manifesto yang kini telah menjadi viral ke seluruh dunia (diposting ulang di banyak blog dan social media). Sampai saat ini sudah lebih dari 1 juta yang melihat di YouTube. Itu belum termasuk jumlah yang melihat di blog-blog seperti ini.

Silakan Anda menyimak isi mission statement dalam video ini dengan seksama dan penuh kesungguhan. Setiap pesan yang ditampilkan muncul dalam bentuk typography yang asyik dilihat. Bagi yang terkendala akses youtube, seperti biasa saya sertakan text-nya, termasuk terjemahannya akan otomatis muncul saat kursor diarahkan pada text-nya.

(more…)

Punya Impian Tapi Jangan Lupa dengan Dua Hal

[Entrepreneurship] Mengelola Challenge Dalam Upaya Mewujudkan Impian

Salah satu acara televisi favorit keluarga saya adalah Chatting dengan YM (YM = Ust. Yusuf Mansur). Menjadi favorit keluarga artinya mendiskusikannya bersama istri setelah tayangan usai. Acara ini secara rutin ditayangkan di ANTV setiap hari Kamis dan Jumat, pk 21.30 ~ 22.30.

Dalam episode kemaren yang tayang pada tanggal 14 Desember 2012, mengambil tema: “Kesempatan dalam Kesempitan”, menghadirkan bintang tamu sekaligus teman seperjuangan saya di EU (Entrepreneur University) Batam, Mas Jaya Setiabudi, yang biasa dipanggil Mas J, seorang penulis buku best seller “The Power of Kepepet”, pemilik kampus YEA (Young Entrepreneur Academy) yang menghasilkan banyak entrepreneur muda. Kabarnya, bulan Januari 2013 nanti beliau akan menerbitkan buku yang berjudul “Kitab Anti Bangkrut”.

Berdasarkan kondisinya, kepepet itu ada 2 macam, yaitu: (more…)

The Miracle of Bluffing (Succes Story of Bill Gates)

[Dari blog lamaku: http://fightforfreedom.multiply.com/video/item/22
Posted on Oct 23, ’10 10:16 AM]

Ini adalah cuplikan sebuah film, Pirates of Silicon Valley, dimana diceritakan bahwa Bill Gates (saat itu masih muda banget & culun) berani mendatangi kantor IBM, bertemu dengan para owner untuk menawarkan sebuah solusi bisnis.

Pembicaraan di meeting tersebut antara Bill Gates (BG), Direktur IBM (IBM)
BG: “Kami punya apa yang Anda butuhkan!!”
IBM: “Oke.. itu suatu permulaan”
BG: “Kami tahu IBM harus bangun tempat ini untuk bersaing dengan Apple, dan berpacu untuk membuat personal computer untuk kalahkan mereka. Jadi kami bisa memberimu sebuah sistem kerja”
IBM: “Seperti apa operating sistem yang anda tawarkan”
BG: “Kami memiliki DOS.. Disk Operating System”
(perhatikan adegan pada menit ke-02.59 dan selanjutnya bla..bla..bla.. Bill menjelaskan panjang lebar ttg DOS dan sistem kinerjanya)

Sebenarnya Bill nge-bluffing saat itu, krn kenyataannya ia ngga punya sebuah operating system !, ia bisa menjelaskan itu hanya berdasarkan sebuah imajinasi seakan-akan wujud DOS itu ada dan begitulah cara kerjanya. Maka ya jelas aja.. teman2 si Bill (Paul Allen & Steve Balmer) yg ikut meeting di situ kaget (dalam hati), karena perasaan si Bill ngga pernah ngomongin soal itu dengan timnya, apalagi memiliki sebuah operating system.

Kemudian Direktur IBM bilang: “Baiklah, kalau begitu… besok bawa DOS Anda kemari”

Nah lho… 🙂

Setelah diluar (selesai meeting), teman2nya protes, “Gila loe, Bill, kita khan ngga punya operating system. Kita ngga punya sesuatu untuk ditawarkan. Tamatlah kita”
Bill dg santainya ngejawab, “Ah, loe khan pernah bilang kalo punya teman yg punya OS, kamu beli aja OS-nya dari dia, ntar itulah yg kita tawarin ke IBM. Nah, kamu pergilah ke temanmu sekarang… tawar barangnya berapapun, … udah ngga ada waktu lagi nih, besok kita harus serahin ke IBM”

Berhasilkah?

Besoknya, Bill Gates dan teman-temannya mendatangi lagi kantor IBM mendemokan sistem kerja DOS (yang baru ia beli kemaren) sekaligus membicarakan skema bisnisnya dengan IBM.

Jadi, percaya atau tidak, sebenarnya DOS adalah merek dagang yang diciptakan oleh Bill Gates atas sebuah sistem operasi (OS) yang ia beli dari seorang programmer yang tak diketahui namanya. Kemudian oleh Bill Gates, OS tersebut dijual kembali per-lisensi kepada banyak perusahaan pembuat komputer. IBM adalah perusahaan pertama yang tertarik untuk menggunakan DOS pada produk mereka. Inilah bluffing terindah dalam sejarah Bill Gates yang mengubah sejarah hidupnya menjadi seorang milyuner bersama Microsoft.

Bill Gates terpaksa melakukan bluffing itu karena dalam kondisi kepepet untuk menyampaikan sebuah solusi kepada klien (atau calon klien-nya). Dan bluffing itu menuntun alam bawah sadarnya agar sesuatu yang masih dalam imajinasi itu harus menjadi sebuah kenyataan.

Inilah adegan menarik pada kisah di atas.

Plagiat – Kapan Kita Berhenti Meklaim Hasil Karya Orang Lain?

Plagiat – Kapan Kita Berhenti Meklaim Hasil Karya Orang Lain?

Hari ini saya mengirim teguran tertulis kepada sebuah penerbit di Jakarta karena mereka menerbitkan sebuah buku. Lho, apa hak saya menegur penerbit? Benar, saya tidak berhak menegur mereka jika menjalankan bisnisnya dengan etika. Tetapi, penerbit itu jelas-jelas mengetahui jika buku yang diterbitkannya itu menjiplak sebagian dari isi buku saya yang sudah diterbitkan terlebih dahulu. Tanpa meminta ijin, tanpa menyebutkan sumbernya. Ada bukti kuat yang menunjukkan jika mereka memang melakukannya secara sadar.

Sedih saya dengan perilaku penulis di Indonesia. Bahkan untuk sekedar belajar beretika menulis saja mereka enggan melakukannya. Apa lagi diajak beretika untuk hal-hal yang lebih bernilai dari itu? Lebih sedih lagi saya, karena dalam kasus ini sang jago jiplak itu adalah seseorang yang juga berprofesi sebagai trainer, seperti halnya profesi saya. ‘Jeruk makan jeruk’ ini namanya. Beliau itu bukan trainer sembarangan alias kaliber kelas atas karena; beliau termasuk salah satu dari beberapa trainer yang disebut sebagai pemegang rekor MURI. Barangkali ini adalah salah satu contoh percaya diri seorang pribadi panutan yang kebablasan. Maaf, saya mengatakan demikian karena kita mesti belajar untuk bersikap tegas kepada perilaku tidak beretika. Siapa pun pelakunya.

Pun jika suatu saat nanti Anda menemukan saya yang melakukan penyimpangan. TOLONG. Jangan biarkan saya tersesat dalam jalan yang merendahkan martabat kita sendiri. Baik profesi sebagai Trainer, sebagai pendidik, sebagai penulis, maupun sebagai pribadi seperti halnya pribadi-pribadi lain. Saya juga sama manusianya dengan Anda semua, bisa kepeleset. Bahkan sudah sering kepeleset. Jadi jangan biarkan saya terseret arus sesat. Bantu saya untuk insyaf. Silakan.

Saya sempat berpikir untuk menegur langsung penulisnya. Wake up, man! Dunia penerbitan buku itu berbeda dengan budaya copy paste internet! Apakah sulit untuk sekedar ‘menyebut sebuah nama’ seandainya you tidak sanggup untuk ‘berpermisi’ ria? That’s the universal ethic.

Namun, akhirnya saya urungkan niat itu karena saya percaya penerbit buku yang mewakili saya bisa menjadi ‘representative body’ yang dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah ini.

Sebelum saya menegur penerbit itu, saya berulang kali membaca kalimat-kalimatnya. Hahaha, yakin; kalimat itu gue banget! Lalu saya cocokan dengan buku-buku saya. Bingo! Ternyata memang isi buku baru itu di halaman 8 sampai 17 sama persis dengan isi buku saya yang berjudul “Ternyata Semutnya Ada Di Sini”, kecuali satu atau dua kata yang diganti.

Anda yang pernah membaca buku saya yang berjudul “Ternyata Semutnya Ada Di Sini” atau yang mungkin suatu saat nanti akan membacanya jangan kaget kalau isi buku pada halaman 88-95 telah dijiplak oleh sang penulis buku baru itu. Sekedar Anda tahu saja, penulis buku itu tidak pernah menghubungi saya untuk mengambil bagian isi buku itu untuk buku yang diterbitkan atas namanya. Padahal, kalau saja beliau berbesar hati untuk menyebutkan nama penulis orisinilnya; memang tidak harus minta ijin kok. Kecuali kalau beliau berkenan melakukan yang lebih dari itu.

Mari Berbagi Semangat!

Dadang Kadarusman
Leadership & People Development Training

=======================================

Sabar ya Pak Dadang… budaya copy paste di negeri ini emang sedemikian parahnya. Bahkan seorang trainer papan atas pun ikut membudayakan menjiplak tanpa beretika.

Lanjut ke hal 2: Kaidah ’Fair Use’ Dalam Membuat Karya Tulis

Protected: Step-by-Step membangun STUDIO MUSIK sendiri dari sederhana hingga berkelas

This content is password protected. To view it please enter your password below: