Home » Ghazwul Fikri

Category Archives: Ghazwul Fikri

Negara Menghilangkan Hak Beriman Demi Pro LGBT

Same Sex Marriage
Bagian Kedua – Seri “Pernikahan Sesama Jenis Mengikis Hak Fundamental”

Bismillah …

Pada bagian pertama dalam jurnal sebelumnya, saya mengajak Anda melihat bagaimana kondisi terkikisnya hak asasi warga negara Inggris dan Kanada pasca pelegalan pernikahan sesama jenis. Pada bagian kedua ini, mari kita melihat dampaknya di negara yang jadi kiblatnya paham liberalisme, yaitu Amerika Serikat.

Sebelum dilegalkan di seluruh negara bagian Amerika Serikat, pernikahan sesama jenis hanya legal di 36 negara bagian. Kemudian melalui keputusan 5-4, Mahkamah Agung (MA) mencabut larangan pernikahan sesama jenis yang diterapkan oleh 14 negara bagian. Larangan ini berujung pada pengajuan kasus Obergefell versus Hodges agar MA memutuskan keabsahan larangan pernikahan sesama jenis. Hasil akhirnya, MA Amerika Serikat pada 26 Juni 2015 memutuskan, di bawah Konstitusi, 50 negara bagian tidak boleh melarang pernikahan sesama jenis dan harus mengakui lisensi pernikahan yang dikeluarkan secara sah kepada gay dan lesbian oleh negara-negara lain.

Dengan adanya keputusan MA tersebut, akan banyak warga negara Amerika Serikat yang beragama terpaksa dihadapkan pada dua pilihan:
[1] Melepaskan imannya / agamanya; atau
[2] Menggenggam erat imannya namun dihadapkan dengan konsekuensi yang begitu berat.

Konsekuensinya seperti apa?
Berikut ini contoh kasus, -yang mewakili jenis pekerjaannya-, dari sekian banyak kasus.
(more…)

Advertisements

Makar ‘Kaum Sodom’ Bertopeng HAM

LGBT

Bismillah …

Melanjutkan artikel sebelumnya, ketika “hak asasi manusia” LGBT untuk menikah dilegalkan oleh negara, yang terjadi justru memberangus hak-hak fundamental mayoritas warganya. Bagi yang ketinggalan mengikuti, silakan terlebih dahulu membacanya. Ada surat dari seorang anak dewasa yang dibesarkan oleh orang tuanya yang gay di negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Miris.

Di Indonesia, kelompok LGBT dan aktivis pendukungnya menuntut pemerintah melegalkan pernikahan sesama jenis dengan dalih untuk mengikuti perkembangan zaman, modernisasi, dan tuntutan hak asasi manusia. Namun karena telah mendapat penentangan keras dari berbagai pihak, tuntutan legalisasi same-sex marriage kini dibungkus dengan sangat halus. Isunya kemudian dikemas seolah-olah ada pelanggaran HAM. Itulah gay politics. Dengan tagline “Indonesia Tanpa Diskriminasi”, secara masif mereka bersuara di berbagai media sosial, ruang seminar, goes to campus, aksi simpatik, pawai keliling dengan membawa isu diskriminasi dan pelanggaran HAM terhadap kaum LGBT.

Sesungguhnya HAM yang mana yang dilanggar oleh negara terhadap kaum LGBT ini? (more…)

Pernikahan Sesama Jenis Mengikis Hak Fundamental

Same Sex Marriage

| Bagian Pertama

Bismillah …

Pelegalan pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat pada Juni 2015 yang lalu disambut euforia oleh para pelaku LGBT dan para aktivis pendukungnya di seluruh dunia. Mereka beranggapan pelarangan pernikahan sesama jenis merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) karena mencintai dan hidup bersama dalam bingkai pernikahan, meskipun sesama jenis, adalah hak.

Lantas bagaimana kondisi masyarakatnya kini yang negaranya melegalkan pernikahan sesama jenis?
Apakah menjadi lebih baik dan tidak ada lagi pelanggaran HAM?
Nyatanya, pelegalan ini justru mengikis hak-hak fundamental. Seperti halnya fenomena sebuah gunung es, begitu tampak indah gunung dan pelangi di atas permukaan laut, padahal sebenarnya banyak permasalahan yang tidak tampak di dalamnya.

Pada bagian pertama ini, mari melihat bagaimana kondisi nyata di Inggris dan Kanada.
(more…)

Menjawab Tuduhan Islam Biang Terorisme

Bismillah …

Sejarah mencatat banyak peperangan yang dijalani kaum muslimin dalam upaya melawan kebatilan dan kezaliman. Namun kemudian, para musuh Islam sibuk mencari celah untuk memojokkan Islam dan kaum muslimin. Mereka bersama para penguasa media, mengaburkan fakta sejarah dan membuat fitnah. Sayangnya, respon sebagian umat Islam begitu lemah, mudah menelan mentah-mentah informasi sesat tersebut, tidak kritis, malas mengkaji agama dan sejarah peradabannya. Akhirnya, orang Islam yang lemah tersebut ada yang terpengaruh dan terbawa arus. Mereka kemudian menjadi kecewa dengan pendahulu-pendahulunya. Malu terhadap sejarah perjalanan agamanya sendiri. Malu dengan teman-teman dalam lingkaran pergaulannya yang majemuk. Hilang kebanggaannya sebagai Muslim. Hingga akhirnya murtad, bahkan berdiri di barisan propaganda Islamophobia. Na’udzubillah..!

islam religion of peace
Di suatu Kamis sore, di penghujung tahun 2015 …..
(more…)

Ritual Kaum Liberal ‘Merayakan’ Idul Adha

Bismillah …

Setiap menjelang atau pas Hari Raya Idul Adha, selalu saja bermunculan para pembela HAB (hak asasi binatang). Mereka mengumbar kebencian di media sosial, seolah-olah bicara soal hati nurani, dengan menganggap Idul Adha adalah hari raya pembantaian. Namun ada juga yang menyampaikannya dengan halus mengusulkan memodifikasi bentuk qurban / mengubah syariat-Nya.

Itu semua sudah diprediksi sejak awal syiar Islam. Di antara lafaz takbiran berbunyi: “walau karihal kafiruun, walau karihal munafiquun, walau karihal musyriquun” (walau orang-orang kafir enggan, meski orang-orang munafiq sakit hati, kendati orang-orang musyrik keberatan). Jadi, ya tenang saja lah, .. lanjutkan berqurban, meski kaum liberal sibuk melakukan ritual makan sate sambil berkicau (tweet) menyerang syariat Islam.

Berikut ini sebagian contoh kicauan mereka yang hendak memadamkan cahaya Islam.
(more…)

Menjawab Opini Tokoh JIL Tentang Cara Menyikapi Fatwa MUI

indonesia tanpa jil

Bismillah …

Masih terkait dengan pembahasan jurnal sebelumnya: Menyikapi BPJS Yang Belum Sesuai Prinsip Syariah, kali ini saya sajikan pandangan menarik dari pegiat gerakan #IndonesiaTanpaJIL yang menjawab pandangan tokoh Islam Liberal dan Jaringan Islam Nusantara yang menguji bagaimana kedudukan fatwa ulama dalam negara kita.

Diawali dengan kultwit Akhmad Sahal, yang lebih dikenal sebagai tokoh Islam Liberal dan Jaringan Islam Nusantara, ia memaparkan argumentasi bahwa fatwa ulama itu opini hukum yang tidak mengikat, sehingga umat bebas memilih apakah mau mengikuti / mentaati atau tidak.
(more…)

Jagalah Hati, Jangan Kau Nodai | #LGBT

only you

Bismillah …

Melanjutkan kembali pembahasan tentang pandangan pengunjung blog yang menjawab pandangan dari mereka (komentator) yang pro atau pelaku LGBT. Edisi sebelumnya: Menyikapi Pilihan Bebas.

Diantara ratusan komentar untuk jurnal Runtuhnya Teori ‘Gen Gay’, ada pandangan yang menarik dan layak untuk dibagi di sini. Pandangan tersebut berasal dari ibu Onya, pegiat #IndonesiaTanpaJIL, yang menanggapi komentar Pak Marco yang pro / pelaku LGBT.

Sebelumnya, Pak Marco menulis komentar berikut ini: [jejak komentarnya]
(more…)