Home » Leadership

Category Archives: Leadership

[Work Life Balance] Antara Karir dan Kualitas Ibadah

ALIM … ALhamdulillah It’s Monday πŸ™‚

Mari review kembali radar chart Roda Keseimbangan Kehidupan (Wheel of Life) kita masing-masing. Apakah kualitas Spiritual sama baiknya dengan perjalanan Karir di tempat bekerja?

Namun sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa saya pernah membaca tulisan seorang motivator, yang menjelaskan tentang roda keseimbangan (work-life balance), yang baginya berfokus pada soal pembagian waktu yang seimbang antara berbagai kepentingan. Sehingga ia mengatakan bahwa konsep work-life balance adalah suatu kebohongan, karena tidak mungkin bisa dicapai. Yang saya yakini, sang motivator tersebut keliru, work-life balance bukan berfokus pada upaya tercapainya keseimbangan pengaturan waktu untuk semua indikator, tapi menitikberatkan pada kualitas indikator tersebut. Tidak peduli apakah Anda membagi waktunya sama seimbangnya atau tidak (karena faktanya akan dihadapkan pada prioritas kepentingan), namun yang penting adalah menciptakan kreatifitas agar kualitasnya seimbang, sama baik levelnya.

Nah, kembali ke soal dua indikator di atas, yaitu kualitas Spritual dan Karir. Bila ternyata tidak sejalan, mari sama-sama mengambil pelajaran dari dua contoh di bawah ini.
(more…)

Advertisements

Menjadi Singa Dunia Maya dan Kucing Dunia Nyata

Bismillah …

Hari ini saya ingin sharing tentang Kekuatan Fokus dan Sabar.
Mungkin Anda pernah atau sedang dihadapkan pada kenyataan berada di sekeliling pembenci, kemudian Anda sibuk melayani mereka. Atau… bisa jadi Anda berada pada posisi pendengki itu sendiri, yang sibuk mengkritisi gerak langkah orang lain dalam mewujudkan goals-nya.
Cobalah berkaca, apa yang sudah Anda dapat pada kedua kondisi itu bila sudah berlangsung sekian lama?
Kebanyakan jawabannya: Nothing!
Sementara orang yang Anda dengki sudah berada di puncak keberhasilan bahkan memberikan banyak manfaat bagi sesama.

If you’re good at something, then someone will hate you. Aneh ya, … tapi ini nyata! Sebab banyak orang ingin terus eksis, narsis dengan tulisannya yang menguliti ketidaksukaannya terhadap orang yang ia dengki, dengan berbagai argumentasi pembenarannya. Parahnya, ayat-ayat Tuhan ia comot demi dianggap sebagai aktivis dakwah. Padahal, kalau dirinya mau refleksi dengan melebarkan sudut pandang, pasti akan menyadari telah terjebak pada pemikiran yang sempit. Yang penting bagi dirinya adalah satu kata: Eksis!
(more…)

BENJI, Pelajaran untuk Sebuah Cinta Tanpa Syarat

Dear Sahabat MP-ers,

Setelah berdiskusi di jurnalnya mbak Lessy tentang “Sekali lagi karena kebencian itu”, saya kemudian jadi teringat dengan sebuah film lawas yang berkaitan erat dengan tema yang dibahas.

Film Benji The Hunted menceritakan tentang seekor anjing (bernama Benji) dari Oregan yang hilang dan terdampar di sebuah pulau terpencil setelah kecelakaan perahu boat. Film bergenre Family ini diproduksi tahun 1987 oleh Walt Disney Pictures.

Ini adalah salah satu film binatang yang mampu membuat saya ketawa, mata berkaca-kaca, dan mengingatkan saya akan banyak hal tentang bagaimana melihat persepsi di sekeliling, pelajaran tentang kepemimpinan, keberanian, pengorbanan, persahabatan, kesabaran, dan keikhlasan. Untuk itu saya merekomendasikan film ini untuk ditonton bersama keluarga Anda dan mendiskusikan pelajaran yang didapat bersama mereka.

Sinopsis:

Benji adalah seekor anjing pemburu yang sangat setia dengan majikannya. Namun setelah berpisah dengan majikannya pasca kecelakaan itu, Benji terpaksa berjuang untuk bertahan hidup di hutan yang ganas, dengan menghindari kejaran binatang-binatang pemangsa.

Suatu hari, Benji melihat seekor macan ditembak oleh pemburu. Benji mencoba menghibur hewan yang sedang sekarat itu, tapi ia diusir oleh pemburu, yang kemudian si pemburu tersebut membawa macan buruannya itu.

Selepas peristiwa tersebut, ada helikopter yang melintas di atas hutan, yang menyebut-nyebut namanya. Rupanya majikannya sedang mencari-cari dirinya. Benji berusaha menggonggong dengan keras sambil berlari mengikuti suara helikopter tersebut, ia berharap ditemukan mereka dan kemudian dibawa pulang ke majikannya. Namun usahanya sia-sia. Mereka tidak mendengar gonggongan Benji.

Dalam perjalanannya kemudian, Benji menemukan empat ekor bayi macan mungil yang sepertinya ditinggal induknya. Benji lantas teringat dengan macan yang ditembak mati, mungkin dialah induk empat bayi mungil itu, pikir Benji. Iba dengan tatapan mata polos para bayi tersebut, Benji ingin melindungi mereka dari bahaya kelaparan dan incaran binatang predator atau manusia pemburu. Hmm… kalau melihat tatapan polos bayi macan mungil itu, mengingatkan saya dengan si Puss in Boots, si kucing dalam film Shrek πŸ™‚

Dugaan Benji benar, kondisi alam di hutan tersebut sangat liar, begitu banyak hewan pemangsa. Bak seekor induk bagi keempat bayi mungil itu, Benji selalu menggiring dan melindungi keempat anak macan untuk bersembunyi dan menjauhkan mereka dari serangan hewan pemangsa, mulai dari serangan serigala, beruang, burung elang dan macan predator.

Namun, nasib malang menimpa mereka, suatu hari salah satu dari empat bayi tersebut dimangsa oleh burung elang. Sejak saat itu, Benji bertekad untuk sekuat tenaga dan fokus melindungi tiga bayi macan yang tersisa itu dari serangan hewan lain atau manusia pemburu.

Hampir keseluruhan film ini diisi dengan adegan berbagai upaya yang dilakukan seekor anjing yang mempertaruhkan nyawanya demi melindungi para bayi lemah itu -agar tidak kelaparan dan aman dari incaran binatang buas- sungguh sangat mengharukan. Selain itu Benji juga berusaha mencari ibu baru mereka yang bersedia menyusui dan mengasuh ketiga bayi yang masih tersisa itu. Dalam upaya pencariannya itu, terkadang Benji harus menggendong mereka ketika harus menaiki bukit, menuntunnya saat menyeberangi sungai yang mengalir deras, dan lain-lain. Benji merasa itu semua tugas utamanya, selain ia harus berjuang memenuhi kebutuhannya sendiri.

Benji hampir tidak pernah membenci para bayi macan itu, padahal ia sering mendapat perlakuan yang buruk dari hewan sebangsanya yaitu macan predator. Ini pelajaran utama film ini.

Di saat Benji harus berjuang melindungi tiga bayi macan itu dari serangan binatang buas lainnya, lewatlah kembali helikopter yang terdapat sang majikan Benji yang sedang mencarinya. Dalam situasi sulit seperti ini, Benji harus mengambil keputusan yang bijak:
1. Apakah mendatangi helikopter tersebut agar majikannya membawa pulang ke rumahnya, setelah sekian lama tersesat di hutan?
atau
2. Apakah ia harus tetap tinggal di hutan untuk melindungi ketiga bayi yang masih lemah itu dari bahaya kelaparan dan serangan binatang buas?

Keputusan yang diambil Benji sungguh bisa memberi pelajaran bagi kita semua akan pentingnya sebuah prioritas. Silakan menyaksikan bagaimana ia bisa lepas dari dilema yang sulit seperti itu.

Pertanyaan lainnya:
Apakah Benji berhasil menemukan macan betina dewasa yang bersedia menyusui dan mengasuh ketiga bayi macan itu?
Adegan bagaimana Benji melobi calon ibu barunya itu juga menyentuh lho.

Lantas pertanyaan berikutnya:
Bagaimana masa depan Benji, apakah ia selamanya hidup sebatang kara di hutan?

Silakan temukan jawabannya dengan menonton film-nya, yang juga bisa dilihat dan di download di youtube, dengan durasi 01:25:43.
Link Download: Benji The Hunted

Happy watching and getting reflection… πŸ™‚

“Unconditional Love”
Poem by Allison Chambers Coxsey:

A treasure to be cherished, a gift from GOD above
Is the beauty of a friendship,
touched by unconditional love.

A love that asks no questions, believes in all the best.
Never doubting, ever trusting,
with standing any test.

A love that weathers any storm, and yet that love still stands
Through the very darkest hour,
it still reaches out a hand.

There in that hand the sweetest gift, that you can give a friend
A heart that cares, a love that shares,
that will be there till the end.

A treasure to be cherished, a gift from God above
Is what I share with you my friend,
an unconditional love.

Salam hangat tetap semangat,
Iwan Yuliyanto
23.03.2012

Jadilah Kreatif… Jadilah Inovatif

Seorang anak laki-laki tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: “Saya buta, tolong saya.” Hanya ada beberapa keping uang di dalam topi itu.

Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis.

Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, “Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?”

Pria itu berkata, “Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda”

Apa yang ia telah tulis adalah:
“Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.”

Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?

Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?

Moral dari cerita ini:
Bersyukurlah untuk segala yang kau miliki. Jadilah kreatif. Jadilah innovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif.

Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.

Hadapi masa lalumu tanpa sesal.

Tangani saat sekarang dengan percaya diri.

Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.

Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.

Orang bijak berkata, “Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan… Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.”

Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum… Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya !!!

forward dari: Sawitri EU angkatan ke-17