Home » Success Story

Category Archives: Success Story

[Amazing!] Penderita Lumpuh Otak itu berhasil menjadi Top Salesman !

Bismillah …

Lumpuh otak (cerebral palsy, CP) adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir.

Penyebab lumpuh otak sampai saat ini belum dapat dipastikan, banyak orang beranggapan bahwa CP disebabkan oleh karena:
– Bayi lahir prematur sehingga bagian otak belum berkembang dengan sempurna.
– Bayi lahir tidak langsung menangis sehingga otak kekurangan oksigen saat dalam kandungan.
– Adanya cacat tulang belakang dan pendarahan di otak.

Lantas, bila seseorang menderita penyakit kelumpuhan otak sehingga mengakibatkan syaraf-syaraf lainnya terganggu, apakah juga kemudian masa depan perjalanan hidupnya bisa dikatakan suram?
Tidak juga.
(more…)

Salesman, jangan pernah menyerah !

Ketika saya mengadakan biz-trip ke Bandung beberapa waktu lalu (dalam rangka pertemuan bisnis dengan PT. Telekomunikasi Indonesia), Alhamdulillah, malam sebelum pertemuan itu, saya bisa berkesempatan untuk kopdar dengan beberapa teman dari MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia) yang berada di Bandung. Kami kopdar di The Valley – Bistro Cafe, Komp. Dago Pakar (Dago Highland), sambil menikmati pemandangan malam dari puncak bukit.

Ketika berkumpul di sana, masing-masing dari kami saling sharing tentang success story dan kiat-kiat sukses menjalin kemitraan bisnis. Kebetulan ada diantara yang ikut kopdar itu telah bermitra dengan Telkom sebelumnya. Sehingga malam itu kujadikan ajang berguru pada senior 🙂

Terkait dengan peristiwa yang barusan saya alami di perusahaan, tiba-tiba ingatan saya langsung tertuju pada sebuah kisah yang pernah disampaikan oleh kawan saya, Indra Purnama. Beliau adalah owner dari sebuah perusahaan software developer di Bandung, beliau juga salah satu dari pemilik usaha rumahtawa (hotel, guesthouse, dan homestay). “rumahtawa” itu kependekan dari “rumah taman siswa” 🙂

Indra dalam kopdar tersebut menceritakan kisah yang menarik tentang (alm.) Cacuk Sudarijanto. Cacuk adalah mantan Menteri Restrukturisasi Ekonomi Nasional di era Presiden Gusdur, mantan kepala BPPN, dan sebelumnya pernah menjabat Dirut PT Telkom pada sekitar 1990-an, juga pernah menjabat sebagai Dirut Bank Mega.

Sepertinya Indra sudah terinspirasi ketika mobil kami melewati kampus ITB ketika dalam perjalanan menuju The Valley (Dago Highland), saat itu ia menyebutkan beberapa tokoh Indonesia yg jebolan ITB, salah satunya Cacuk. Indra sendiri alumni ITB.

********

Fokus kisahnya adalah sewaktu Cacuk masih menjadi tenaga sales-nya IBM.

Ceritanya begini, saat itu, Cacuk berusaha menjual sistem komputer keluaran terbaru kepada Garuda Indonesia Airways (GIA). Ia begitu bersemangat untuk bisa mendekati Dirut GIA saat itu, Wiweko Soepono, karena jelas pengambilan keputusan berada di tangannya. Namun fakta yang dihadapi adalah: Wiweko itu susah banget didekati, apalagi oleh orang-orang IBM. Mengapa? Karena Wiweko merasa antipati terhadap perusahaan IBM 🙂

Sebagai sales yang handal, Cacuk mati-matian menempuh berbagai cara untuk bisa bertemu langsung dengan Wiweko, agar bisa menawarkan produk IBM-nya. Ia paham bahwa untuk saat ini Wiweko sangat sulit untuk ditemui secara formal. Berbagai strategi ia analisa. Dan akhirnya ia menemukan cara yang jitu. Apakah itu?

Baiklah, simak baik – baik …

Keesokan harinya Cacuk mulai melaksanakan rencananya. Ia melakukan PDKT dengan sekretaris Wiweko. Lho kok? Ya.. karena sekretaris itu yang paling tahu soal jadwal orang nomor satu di Garuda tsb. PDKT dilakukan secara intens tiap hari dan profesional tentunya. Ya jelas dong… supaya gak kebablasan :))

Hingga suatu Hari, Cacuk berhasil mendapat informasi dari sekretaris itu bahwa Wiweko akan melakukan perjalanan ke Frankfurt, Jerman.

Mendengar informasi ini, Cacuk segera melaksanakan strategi berikutnya. Ia berusaha meyakinkan boss IBM untuk membiayai penerbangan ke Frankfurt p.p., demi bisa bertemu dengan Wiweko. Ia memaparkan confidence level keberhasilan upayanya plus manfaat yang luar biasa ke depannya kalo berhasil. Dan akhirnya sang boss menjawab:

“Cacuk, saya setuju kamu menemuinya, namun perusahaan hanya membiayai tiket pesawat p-p., tidak ada uang saku, dan selebihnya menjadi tanggungan kamu sendiri, karena inisiatifmu ini adalah diluar anggaran”

Singkat cerita… terbanglah Cacuk dengan pesawat yang sama ditumpangi Wiweko menuju Frankfurt. Dan ia berhasil mendapatkan tempat duduk kelas bisnis di dekat Wiweko. Karena Cacuk yakin hanya dengan cara inilah ia ingin ngobrol dengan Wiweko.

Berhasilkah ngobrolnya?

He he he… ternyata sepanjang perjalanan Wiweko tertidur. Cacuk sempat bingung dengan situasi seperti ini, karena kesempatan ngobrol yang ia miliki hanya ada di dalam pesawat. Ia tidak mempunyai rencana untuk stay di Frankfurt. Kemudian, ia terus memperhatikan targetnya itu dan menunggu saat yang tepat untuk ngomong.

1 jam berlalu, Wiweko masih tertidur.

2 jam berlalu, Wiweko juga masih tertidur pulas. Cacuk mulai gelisah.

4 jam belalu, Wiweko juga masih lelap tidurnya.

Cacuk semakin gelisah. Dan ia tetap siaga, sambil berdoa agar keberuntungan menghampiri situasi ini.

Hingga beberapa saat kemudian, Wiweko terbangun dan menuju ke toilet. Melihat hal ini, Cacuk mengangap inilah moment of truth. Sekeluarnya dari toilet, dicegatlah Wiweko sebelum kembali lagi ke tempat duduk.

”Pak Wiweko, perkenalkan saya Cacuk dari perusahaan komputer yang paling dibenci Bapak, senang sekali bisa bertemu dengan Bapak, ini kartu nama saya” ujar Cacuk sambil memberikan kartu nama.

Cukup singkat apa yang Cacuk sampaikan, tidak ada kalimat lagi setelah itu, namun Cacuk puas bisa menyerahkan kartu namanya secara langsung kepada orang nomor satu di Garuda yang kemudian juga dikenal sebagai Bapak Perintis Penerbangan Nasional.

Begitu mendarat di Frankfurt, Cacuk langsung menuju tempat keberangkatan untuk balik kembali ke Jakarta saat itu juga.
Ingat, perusahaan hanya membiayai tiket pesawat p-p 🙂

Beberapa hari kemudian, Cacuk melancarkan strategi berikutnya. Ia menelepon sekretaris Wiweko, apakah Wiweko masih menyimpan kartu namanya. Setelah mendapat kepastian dari sekretaris Wiweko, bahwa bosnya masih menyimpan kartu namanya, maka Cacuk meminta sekretaris itu mau menjadwalkan pertemuannya dengan Wiweko. Dan Wiweko menjawab bersedia.

Agar tidak menyia-nyiakan momen yang sangat berharga ini, kemudian diajaklah orang-orang top dari IBM Asia Pasific. Ketika berada di ruang pertemuan, Wiweko yang tidak suka basa-basi itu membuka perbincangan dengan kalimat:

“Don’t talk about hobby, weather or family. Let’s talk about business!”

Cacuk yang cukup lama mempelajari karakter Wiweko tahu betul bahwa sebagai mantan pilot, Wiweko tergolong sebagai technology enthusiast. Maka, dijelaskannya spesifikasi produk IBM terbaru itu dengan detailnya. Cacuk mengatakan bahwa sistem komputer ini adalah sistem terbaru yang belum pernah digunakan oleh perusahaan lain di Indonesia. IBM memberi kesempatan pada Garuda untuk mengimplementasikan teknologi ini. Singkat cerita, Garuda kemudian membeli sistem komputer terbaru yang ditawarkan IBM.

Kepiawaian Cacuk di ruang meeting mengingatkan saya dengan Bill Gates yang mampu menaklukkan para petinggi IBM.
Kisahnya di sini: Bluffing (bohong)-nya Bill Gates merubah imajinasi menjadi kenyataan

Moral cerita:
(1)Sabar dalam membangun relationship adalah kunci sebuah bisnis.

Membangun relationship itu perlu kesabaran. Seperti yang dilakukan Cacuk ketika mulai mendekati sekretaris orang nomor satu di Garuda itu. Cacuk sabar melakukan follow up yang dilakukan hampir setiap hari yang tentu saja dengan cara yang kreatif dan berbeda, sehingga tidak menimbulkan kebosanan dari yang dituju. Atau istilahnya 4L: Lu Lagi Lu Lagi 🙂

(2). Tenaga penjual harus menguasai product dan customer knowledge.

Dalam memasarkan, pendekatan knowledge-based selling itu perlu. Bukan hanya meyakinkan manfaat produk, tetapi mengedukasi konsumen itu juga menjadi keharusan. Cacuk berani menemui orang nomor satu Garuda itu tentunya karena telah menguasai hal itu, sehingga tidak ada kesan keder atau nervous karena minim ilmu.

(3). Mengidentifikasi karakteristik pengambil keputusan.

Cacuk cukup lama mempelajari karakter Wiweko yang tergolong sebagai technology enthusiast. Maka, dalam memaparkan produknya, Cacuk menyampaikan keunggulan produknya dengan detail dan teknis banget.

(4). Mengidentifikasi karakteristik konsumen.

Mengetahui karakteristik konsumen juga penting, apakah yang satu memberikan tingkat keuntungan yang sama dengan lainnya. Karakteristik konsumen bisa dibedakan menjadi most valuable customer (MVC), most growable customer (MGC), below zero customer (BZC). Pemimpin IBM menyetujui ide gila Cacuk untuk bertemu pemimpin tertinggi Garuda di dalam pesawat, dan mendatangkan tim ahli nomor satu ketika diundang presentasi itu karena sudah mempertimbangkan bahwa pendekatan yang dilakukan itu cocok untuk most valuable customer (MVC).

(5) …. ada yang ingin menambahkan?

Bila ada pelajaran lainnya yang bisa ditambahkan dalam moral cerita di atas, silakan menuliskan di kolom komentar 🙂

Terimakasih.

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto
03.06.2011

Akhirnya, Teknopreneur Cilik itu Juara Asia Pasific ICT Award 2010

Akhirnya sore ini selesai sudah perhelatan akbar “10th International APICTA 2010”, sebuah lomba kreativitas dan inovasi di bidang Teknologi Informasi & Komunikasi (ICT) tingkat Asia Pasific yg berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia sejak 12 Oktober 2010.

Ajang kali ini diikuti oleh delegasi dari berbagai negara di kawasan Asia Pasific, diantaranya: Australia, Brunei, China, Hong Kong, Indonesia, India, Macau, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Singapore, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, Phillipines dan Korea.

Untuk kategori: Best Secondary Student Project, hasilnya sangat mengharukan, Fahma Waluya, 12th, yang tahun ini ditolak masuk ke sekolah negeri, hanya karena ortu-nya menolak memenuhi permintaan oknum kepsek di sekolah tsb (semacam uang bangku tambahan), kemudian memilih masuk secara jujur ke sekolah SMP Salman Al Farisi Bandung, akhirnya ia mampu membawa nama baik Indonesia dan sekolahnya, krn malam ini ia terpilih sebagai WINNER APICTA 2010.

Selamat buat Teknopreneur Cilik, Fahma, yang saat ini sudah menjadi programmer resmi Nokia, dan akan menyusul Google.
Go World Summit USA 2010 !!

Bagaimana hasil yang diraih oleh delegasi Indonesia lainnya?

Inilah daftar selengkapnya, Para Winner APICTA 2010 berdasarkan masing-masing kategori. (more…)

Ia Cerdas, Berprestasi dan menjadi Teknopreneur Cilik, siapa dia?

Fahma Waluya

Fahma Waluya, teknopreneur cilik dan pengembang aplikasi ponsel

Ada yang menarik waktu Bootcamp APICTA 2010 (malam penggemblengan sebelum ajang Asia Pasific ICT Alliances 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia), yaitu sosok Fahma Waluya Rosmansyah, pemenang Inaicta 2010 kategori Student Project – SD, yang menciptakan aplikasi bernama “Ponsel Ibuku untuk Belajar Adikku”. Fahma mengembangkan aplikasinya itu lewat ponsel Nokia seri E71 milik ibunya, Yusi Elsiano (fyi, ibunya ngeblog juga lho disini: http://www.perkembangananak.com, blognya sangat bermanfaat, sharing pengalamannya sebagai ibu yang mendidik anak-anaknya agar soleh dan sholihah). (more…)

Dari Warung Gerobak menjadi Rumah Makan beromzet ratusan juta


Foto di atas yang diambil sepuluh tahun lalu, tampak berbeda ketika saya bertemu dengannya di sebuah kelas EU (Enterpreneur University) beberapa minggu lalu di Batam. Sekarang ia tampak lebih muda dan energik, layaknya motivator, memang ia sekarang sudah jadi pembicara di mana-mana atas keberhasilannya.
Berbekal ijazah SMA, Agus Pramono (akrab dipanggil Mas Mono) mengawali perjuangannya dengan menjadi office boy dan jualan roti pisang keliling. Namun hanya berselang delapan tahun ia mampu menjadi juragan ayam bakar yang omsetnya ratusan juta perbulan. (more…)

[Fragmen] Pengkhianatan Teman menjadi Jembatan Menuju Keberhasilan


Seperti biasa, sebelum persiapan pergi ngantor, aku sempatin baca koran online Okezone.com. Pagi ini aku menemukan sebuah artikel yang pantas untuk dijadikan pembelajaran (terutama buat para pencari Tuhan). Selamat menyimak…

Pengkhianatan Kolega Bisnis jadi Titian Sukses. [klik sumber berita asli]

DIKHIANATI dua kali oleh kawan dekat, tidak mengendorkan semangat wirausaha Fauzan. Justru, dengan menjalankan usaha secara sendiri, kini produk kerajinannya terpajang di 85 pusat pertokoan Jakarta.

Bersama sang istri, Dewi, Fauzan merintis usaha pada Juni 2005. Usaha Fauzan meliputi kerajinan sendok, garpu, sumpit, tempat tisu, nampan. Adapun bahan bakunya antara lain berasal dari kayu jati, kayu sonokeling, dan kayu kelapa.

Kerajinan karyanya tidak hanya sebagai hiasan. Namun juga bisa digunakan untuk keperluan alat makan. Saat ini, dia telah memasarkan produknya di pusat pertokoan Jakarta. Bahkan, sejumlah buyer membawa produknya ke Singapura, Jerman, China, dan Jepang.

Kini Fauzan telah merasakan nikmat berwirausaha. Rasa nikmat Fauzan tidak datang begitu saja. Sebelumnya, dia harus melampaui rasa sakit hati. Fauzan bercerita, kali pertama bergerak di bidang kerajinan pada Agustus 2003, yakni bersama ketiga kawannya.

Namun, kerja samanya ini kandas pada bulan keempat. Lantaran, ketiga temannya itu mengkhianatinya. “Mereka merasa berkuasa,” ceritanya.

Fauzan memaklumi bahwa ketiga temannya itu memiliki modal dan memegang kendali produksi. Sementara, dia hanya betugas sebagai kendali pemasaran. Suatu saat, ketiga temannya itu menurunkan harga jual tanpa sepengetahuannya. Untungnya, Fauzan mengetahui perihal itu secara langsung.

Pada 2004, Fauzan kembali bekerja sama dengan kelima kawannya. Saat itu, dia bersama kawannya menyewa toko di Cempaka Mas untuk menjual kerajinan. Suatu kali, mereka memperoleh pesanan hingga Rp50 juta. Sakit hati Fauzan, saat dia hanya diberi jatah Rp300 ribu.

Pada 2005, Fauzan melangsungkan pernikahan. Rencana merayakan bulan madu di Jakarta pun terhambat. Lantaran, kelima temannya itu menyuruhnya menjaga toko setibanya dia dan sang istri di Jakarta.

Setelah itu, tak disangka temannya memutuskan hubungan kerja dengannya. “Fauzan, kami telah punya modal dan tempat produksi. Jadi kita tidak ada hubungan kerja lagi. Sekarang kamu cari pekerjaan lain,” ujarnya sambil menirukan kata pahit yang dilontarkan kawannya.

Dia terima bulat-bulat perintah itu. Bulan madu di Jakarta berganti kisah kelabu. Dia hanya memegang uang Rp25 ribu. Terpaksa, dia menggali septic tank demi membiayai hidup di Jakarta. Lelaki kelahiran Magelang, 3 Januari 1977 ini selain berkecimpung di usaha kerajinan, juga bergerak di jasa pembuatan kue di Bandung.

Usai dari Jakarta, Fauzan pergi ke Bandung untuk mengambil uang jasa setor kue. Uang jasa itu tak diberikan kepadanya, hingga saat ini. Terpaksa Fauzan menghabiskan malam di terminal Leuwipanjang, Bandung.

Fauzan kembali ke kampung halaman di Magelang. Sebelum menikah, Fauzan telah memesan tempat tidur ke seorang tukang kayu. Ongkos pembuatan seharga Rp400 ribu telah dilunasinya. Tak disangka, si tukang kayu menjual tempat tidur itu. “Sudah jatuh, tertimpa tangga, lalu diinjak- injak,” katanya.

Selama 40 hari masa pernikahan, Fauzan belum bisa tersenyum. Uang senilai Rp9 juta, emas seharga 200 gram dan kalung seberat 30 gram, habis begitu saja. Selama 10 hari di Magelang, Fauzan hanya mengurung diri di kamar. Katanya, dia melakukan meditasi.

Di meditasinya, Fauzan menenangkan diri bahwa kegiatan yang telah dilakukan bersama teman – temannya hanya ibadah. Maka itu, dia harus menyerahkan diri segalanya ke Maha Kuasa.

Semangatnya pun bangkit kembali. Fauzan memutuskan kembali merintis usaha kerajinan bersama sang istri. Singkat cerita, usahanya itu mampu menghasilkan hingga 10 ribu sumpit dan 3 ribu sendok dan garpu. Saat ini, dia telah memiliki 53 karyawan dan dua buah workshop di Jalan Kresno 10 Wirobrajan Yogyakarta dan Jalan Stasiun Karanggeneng, Payaman, Secang, Magelang.

— e o q —

Hope this fragmen will inspiring you for a better tommorow.

Aku jadi teringat sama wise word-nya Oom Billy Lim bahwa “Orang yang berhenti berusaha selepas kegagalan pertama sebenarnya tidak berlaku adil terhadap diri mereka sendiri. Mereka seolah-olah menganggap bahwa kehidupan ini hanya terdiri dari satu peristiwa, jika tidak tercapai, …habis !”.

Salam hangat penuh semangat,
Iwan Yuliyanto